NovelToon NovelToon
Menantu, Tolong Ampuni Aku

Menantu, Tolong Ampuni Aku

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Balas Dendam / Menantu Pria/matrilokal / Kaya Raya / Tamat
Popularitas:10.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ardana Bayu

"Arga Pratama menjalani dua tahun sebagai menantu paling dihina di Jakarta. Keluarga istrinya memperlakukannya seperti benalu. Dia menanggung semuanya dalam diam.

Yang tidak ada yang tahu: dia adalah Acrux, investor anonim di balik Cakra Capital — kekayaan ratusan triliun dan masa lalu militer yang dirahasiakan pemerintah.

Sekarang, satu per satu, mereka akan tahu kebenarannya — dan menyesal."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32

Bab 032: Dewi Busana

Papan nama Dewi Busana dipasang pada pagi yang panas di awal Mei.

Tidak besar.

Tidak mewah.

Hanya huruf hitam di atas papan putih, ditempel di depan sebuah studio kecil di kawasan desain Jakarta yang lebih sering dilewati kurir kain daripada mobil pejabat.

Kiara berdiri di trotoar, menatap papan itu lebih lama daripada yang diperlukan.

Dewi Busana.

Namanya sederhana. Dewi, karena ia ingin perempuan yang memakai busananya merasa punya martabat tanpa harus meminta izin. Busana, karena ia tidak ingin bersembunyi di balik istilah asing sebelum benar-benar membuktikan kualitas.

Di belakangnya, tiga orang staf baru membawa gulungan kain masuk ke studio. Salah satunya adalah perempuan muda yang dulu pernah ia pilih dalam proses rekrutmen PT Hartono Group, kandidat yang CV-nya tidak paling mengilap tetapi jawabannya jujur. Setelah mendengar Kiara keluar dari Hartono, perempuan muda itu datang membawa surat lamaran baru.

Saya ingin bekerja di tempat yang tidak menertawakan orang biasa.

Kalimat itu membuat Kiara menerimanya sebelum ia selesai membaca halaman kedua.

Studio Dewi Busana berukuran kecil.

Ada meja pola di tengah ruangan, dua mesin jahit industri, rak kain yang masih setengah kosong, papan mood berisi potongan warna, dan satu ruangan kecil yang akan dipakai sebagai kantor sekaligus ruang fitting. Cat dindingnya belum sempurna. AC kadang berbunyi terlalu keras. Lantai kayunya punya satu bagian yang sedikit berderit.

Namun ketika Kiara masuk, matanya menyala.

Arga melihat itu dari pintu.

Ia datang tanpa rombongan, membawa dua kotak makan siang dan kopi. Kemejanya digulung sampai siku. Tidak ada tanda bahwa ia bisa membeli seluruh blok studio itu jika mau.

"Kamu datang terlalu pagi," kata Kiara.

"Papan nama dipasang pagi ini."

"Kamu ingin melihat papan?"

"Aku ingin melihat wajahmu ketika melihat papan."

Kiara berhenti sebentar, lalu pura-pura sibuk merapikan gulungan kain agar senyumnya tidak terlalu jelas.

Staf muda itu mendekat dengan tablet.

"Bu Kiara, supplier kain linen dari Bandung minta DP hari ini kalau kita mau warna natural tetap disimpan."

"Berapa?"

Angka yang disebut membuat Kiara menghitung cepat.

Ia membuka catatan keuangan.

Modal awal: Rp 110 miliar dari tabungan pribadi dan pencairan beberapa investasi miliknya.

Sewa studio.

Renovasi ringan.

Mesin.

Gaji awal.

Kain.

Biaya legal dan izin usaha.

Produksi sampel.

Cadangan operasional enam bulan.

Angka Rp 110 miliar terdengar besar bagi orang biasa. Dalam bisnis mode yang ingin masuk kelas premium, membuka toko, membangun produksi, menjaga kualitas, dan memasarkan tanpa nama keluarga Hartono di depan, angka itu bisa habis dengan kecepatan yang tidak sopan.

"Bayar DP," kata Kiara. "Tapi negosiasikan termin sisanya setelah sampel pertama disetujui."

"Baik."

Perempuan muda itu berlari ke meja lain.

Arga meletakkan kopi di dekat Kiara.

"Kamu sudah punya gaya bos baru."

"Aku sudah lama jadi bos."

"Beda. Yang ini matamu lebih hidup."

Kiara pura-pura tidak mendengar, tetapi telinganya memanas sedikit.

Hari itu bergerak cepat.

Seorang desainer muda membawa sketsa jaket kerja perempuan dengan potongan bersih. Kiara mengoreksi garis bahu dan meminta saku dalam yang benar-benar bisa dipakai, jauh dari hiasan kosong. Penjahit senior yang disewa paruh waktu menunjukkan contoh jahitan. Kiara membalik kain, memeriksa bagian dalam, lalu berkata bahwa pakaian bagus tidak boleh hanya rapi di tempat yang dilihat orang.

Arga berdiri di sudut ruangan, mengamati.

Selama dua tahun di Rumah Anggrek, ia sering melihat Kiara duduk dalam rapat keluarga dengan wajah tenang dan mata lelah. Ia melihatnya membaca laporan seperti seseorang yang membaca perintah. Ia melihatnya menahan diri agar tidak terlihat terlalu muda, terlalu perempuan, terlalu anak, terlalu apa pun yang bisa dipakai orang untuk meremehkannya.

Di studio ini, ia bergerak berbeda.

Ia masih tegas.

Masih menghitung.

Masih menuntut kualitas.

Tetapi ada napas di dalam semua itu.

Seperti seseorang yang akhirnya bekerja dengan tangan sendiri, lepas dari tugas menjaga warisan orang lain agar tidak runtuh.

Menjelang siang, izin usaha dan dokumen pendirian perusahaan datang melalui kurir. Staf muda menerima amplop cokelat itu dan membawanya kepada Kiara.

Kiara membuka perlahan.

Akta pendirian.

Nomor Induk Berusaha.

Dokumen legal Dewi Busana.

Ia memegang kertas itu dengan hati-hati.

Di Rumah Anggrek, ia pernah menandatangani kontrak triliunan rupiah tanpa jantung berdebar.

Hari itu, sebuah dokumen perusahaan kecil membuat tangannya hampir gemetar.

"Selamat," kata Arga.

Kiara mengangkat wajah.

"Ini baru kertas."

"Semua kerajaan mulai dari sesuatu yang bisa dilipat."

"Kamu terdengar seperti orang yang pernah melipat banyak kertas mahal."

"Aku pernah melipat faktur listrik."

Kiara tertawa.

Suara itu membuat beberapa staf melirik, lalu cepat-cepat kembali bekerja dengan senyum kecil. Mereka belum lama mengenal Kiara, tetapi mereka tahu tawa pendiri perusahaan pada hari pertama adalah pertanda baik.

Sore hari, ketika staf lain mulai membereskan studio, perempuan muda itu mendekati Kiara dengan wajah cemas.

"Bu, boleh bicara?"

"Tentu."

Ia menunjukkan proyeksi kas sederhana.

"Kalau target sampel mundur dua bulan, dan kita tetap bayar gaji penuh, modal kerja aman. Tapi kalau produksi pertama gagal atau retail partner menunda pembayaran, cadangan bisa cepat turun. Kita perlu investor atau fasilitas kredit sebelum peluncuran besar."

Kiara membaca angka itu.

Ia sudah tahu, tetapi mendengarnya dari orang lain membuat risiko terasa lebih nyata.

"Kita belum akan mengambil investor sembarangan," katanya.

"Saya mengerti. Saya hanya takut kita terlalu cepat percaya modal sendiri cukup."

Kiara mengangguk.

"Takut yang tepat berguna. Terima kasih sudah bilang."

Di dekat rak kain, Arga mendengar percakapan itu.

Ia tidak bergerak.

Tidak menawarkan cek.

Tidak menyebut Cakra.

Ia hanya mencatat dalam kepalanya: Dewi Busana perlu ruang bernapas, tetapi Kiara tidak boleh merasa sayap pertamanya dibeli orang lain sebelum sempat terbang.

Malamnya, setelah studio mulai kosong, Kiara berdiri di bawah papan nama lagi. Lampu luar menyinari huruf-huruf hitam itu dengan sederhana.

"Aku takut," katanya tanpa menoleh.

Arga berdiri di sampingnya. "Bagus."

Kiara menatapnya. "Itu bukan jawaban yang menenangkan."

"Orang yang takut biasanya lebih teliti."

"Kalau gagal?"

"Kamu belajar."

"Kalau rugi?"

"Kamu hitung ulang."

"Kalau keluargaku tertawa?"

Arga melihat papan nama Dewi Busana.

"Mereka sudah sering tertawa dan tetap salah."

Kiara menunduk, lalu tersenyum pelan.

Di dalam studio kecil itu, mesin jahit belum sepenuhnya panas, rak kain belum penuh, dan rekening perusahaan belum cukup kuat untuk menyebut dirinya aman.

Namun Dewi Busana sudah ada.

Untuk pertama kalinya, Kiara membangun sesuatu dari pilihannya sendiri.

Dan Arga, yang bisa membeli jalan pintas apa pun, memilih berdiri di sampingnya tanpa mengambil alih langkah pertama itu.

1
Solardy Lardy
joooss👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!