"Arya Pratama adalah mahasiswa miskin yang hidup pas-pasan. Satu-satunya kebanggaannya adalah Kirana, pacar tercantik di kampus.
Namun segalanya hancur saat Kirana datang dengan kabar: ""Aku hamil."" Keluarga Kirana yang kaya raya menghina dan mengusirnya.
Dunia Arya runtuh—hingga sebuah sistem misterius aktif di kepalanya: [Sistem Ayah Level Dewa]. Setiap langkah tanggung jawabnya sebagai ayah diganjar hadiah luar biasa: uang miliaran, saham, teknologi canggih.
Kini Arya berjuang melawan preman, fitnah, dan musuh politik, sambil membangun kerajaan bisnis. Bisakah ia membuktikan bahwa menjadi ayah muda bukanlah akhir—melainkan awal dari segalanya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Surya Mandala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Bab 017 - Preman di Gang Sempit
Tiga hari setelah pulang dari Malang, Arya kembali ke kampus sendirian.
Kirana tetap di apartemen bersama Sari. Jadwal kontrol berikutnya sudah dekat, dan Arya tidak ingin ia berjalan terlalu banyak sebelum kondisi emosinya benar-benar stabil.
Komisi disiplin kampus belum mengambil keputusan. Setelah menerima dokumen nikah siri, surat dokter, dan laporan awal akun anonim, mereka menunda sidang sampai pekan depan.
Itu memberi Arya waktu.
Waktu untuk kuliah.
Waktu untuk mengurus KUA.
Waktu untuk mengumpulkan bukti.
Sore itu ia keluar dari ruang administrasi fakultas membawa tanda terima berkas. Profesor Sudarso sempat menepuk bahunya.
"Saudara Arya, hati-hati. Masalah kampus kadang lebih panjang dari materi kuliah."
"Saya mengerti, Prof."
"Saya bicara sebagai dosen. Jangan terpancing."
Arya mengangguk.
Sebelum meninggalkan gedung, ia berhenti di bawah tangga dan mengirim foto tanda terima berkas ke grup kecil: Dimas, Rizky, Bayu, Sari.
Dimas langsung membalas.
Aman?
Arya mengetik: Aman. Aku ambil mobil dulu.
Rizky mengirim file baru. Backup bukti akun anonim sudah naik ke cloud. Link cadangan ada di emailmu.
Bayu menambahkan: Kalau ada apa-apa, share lokasi.
Arya sempat ingin menekan tombol share live location. Ia melihat jam. Parkiran hanya beberapa menit dari sana.
Nanti saja, pikirnya.
Keputusan kecil itu terasa biasa.
Beberapa menit kemudian, ia sadar harus lebih percaya pada firasat sahabatnya.
Kalimat itu teringat lagi saat ia berjalan melewati gerbang belakang kampus.
Parkiran tempat ia meninggalkan GR Supra berada di sisi lain. Jalur tercepat melewati sebuah gang sempit di belakang deretan warung. Biasanya ramai. Hari itu agak sepi karena hujan baru berhenti.
Lampu jalan belum menyala.
Aroma tanah basah bercampur asap rokok kretek.
Arya berhenti di tengah gang.
Empat orang muncul dari depan.
Dua orang lagi menutup jalan dari belakang.
Mereka jelas orang luar kampus.
Celana jeans sobek, sandal kulit, jaket kusam, dan tatapan yang terlalu lama menempel di wajah Arya.
Pria botak di depan menjentikkan puntung Gudang Garam ke selokan.
"Arya Pratama?"
Arya memasukkan map ke dalam tas.
"Siapa yang tanya?"
Pria itu tersenyum. Giginya kuning.
"Ada orang titip salam."
Tiga orang di belakangnya bergerak menyebar.
Arya melihat tangan mereka.
Satu membawa kunci roda pendek.
Satu memegang pisau lipat.
Satu lagi menyelipkan rantai di lengan.
Panel sistem menyala.
【Ancaman fisik terdeteksi.】
【Jumlah lawan: 6.】
【Tingkat bahaya: sedang.】
【Prioritas: perlindungan diri, bukti hukum, hindari luka fatal pada lawan.】
Arya menarik napas.
Tubuhnya terasa ringan.
Sejak sistem memperkuat fisiknya, ia tahu tenaganya berubah. Ia bisa berlari lebih cepat. Refleksnya lebih tajam. Namun selama ini kekuatan itu hanya angka.
Hari ini ada pisau di depannya.
Pria botak maju satu langkah.
"Pesannya gampang. Tinggalkan Kirana. Keluar dari Surabaya. Berhenti cari masalah sama orang besar."
Arya menatapnya.
"Denny yang kirim?"
Wajah pria botak bergerak sedikit.
Cukup.
Arya mendapat jawabannya.
"Jawabannya?" tanya pria itu.
"Sampaikan ke bosmu. Dia sudah melewati batas."
Pisau lipat melesat lebih dulu.
Serangan itu mengarah ke perut.
Bagi mata Arya, gerakannya lambat.
Ia memiringkan badan. Pisau lewat beberapa sentimeter dari kemejanya. Tangan kanan Arya menangkap pergelangan penyerang, memutar, lalu menekan ke bawah.
Pria itu menjerit.
Pisau jatuh.
Arya menendang pisau ke bawah tumpukan kardus.
Kunci roda datang dari samping.
Arya menunduk.
Besi itu menghantam tembok dan memercikkan serpihan semen.
Arya menghantam ulu hati orang kedua dengan siku pendek.
Orang itu jatuh terduduk, tidak bisa bernapas.
Pria botak menerjang.
Arya tidak mundur.
Ia masuk setengah langkah, menahan bahu lawan, lalu memberi pukulan pendek ke rahang.
Tubuh pria botak roboh ke genangan air.
Tiga orang lain berhenti.
Mereka baru sadar situasinya salah.
"Maju," kata Arya.
Suaranya rendah.
Salah satu dari mereka mengayunkan rantai.
Arya mengambil tasnya sebagai tameng. Rantai melilit tali tas. Ia menarik keras. Pria itu ikut tertarik ke depan, lalu menerima lutut Arya di perut.
Dua sisanya berbalik.
Mereka lari ke arah ujung gang.
Arya mengejar.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Ia menendang kaki orang pertama hingga jatuh. Orang terakhir terpeleset saat menoleh, lalu menghantam gerobak kosong.
Semua selesai dalam waktu kurang dari setengah menit.
Arya berdiri di tengah gang.
Napasnya masih teratur.
Jantungnya berdetak cepat, namun kepalanya dingin.
Ia mengambil ponsel.
Pertama, ia memotret wajah mereka satu per satu.
Kedua, ia merekam pisau, kunci roda, rantai, dan posisi gang.
Ketiga, ia menelepon polisi.
"Halo, Polsek terdekat? Saya Arya Pratama. Saya baru diserang enam orang di gang belakang Universitas Surya Laut. Ada senjata tajam. Saya butuh petugas dan ambulans ringan. Saya tetap di lokasi."
Pria botak mengerang.
"Mas... selesai, Mas. Kami cuma disuruh."
Arya menyalakan perekam suara dan mendekat.
"Disuruh siapa?"
Pria itu menutup mulut.
Arya berjongkok, menjaga jarak.
"Kamu membawa pisau ke dekat kampus. Kalau kamu diam, semua salah ini kamu pikul sendiri."
Pria botak menelan ludah.
"Orang Hartono."
"Nama."
"Saya tidak tahu nama lengkap. Ada orang kantor properti. Dia bilang anak bosnya kesal."
"Anak bos siapa?"
Pria itu memejamkan mata.
"Hartono."
Arya menyimpan rekaman itu.
Ketika polisi datang, ia menyerahkan semua barang bukti tanpa mengubah posisi apa pun. Dua saksi dari warung dekat gang juga datang setelah mendengar keributan.
Di Polsek, petugas memutar CCTV dari toko fotokopi di ujung gang. Rekamannya cukup jelas: enam orang mengepung Arya lebih dulu, salah satunya mengeluarkan pisau.
"Ini pembelaan diri," kata petugas jaga.
Arya menandatangani berita acara.
Ia meminta petugas mencatat semua senjata yang disita satu per satu. Pisau lipat, kunci roda, rantai, dan dua helm yang dipakai untuk memukul. Ia juga meminta nama dua saksi warung ditulis lengkap.
Petugas sempat terlihat malas.
Arya menatap kertas di meja.
"Pak, saya ingin laporan ini rapi. Kalau besok ada orang datang mengubah cerita, saya punya salinan."
Petugas itu mengangkat alis.
"Mas sudah pernah urusan seperti ini?"
"Baru pertama kali. Karena itu saya belajar cepat."
"Saya minta salinan laporan dan nomor registrasi."
Petugas menatapnya.
"Mas ini mahasiswa hukum?"
"Teknik informatika."
"Kok rapi sekali?"
Arya memasukkan pulpen ke saku.
"Saya sedang belajar. Kalau bukti hilang, masalah jadi panjang."
Petugas itu tertawa pendek, lalu mencetak tanda terima.
Malam sudah turun saat Arya keluar dari Polsek.
Panel sistem muncul di depan matanya.
【Terdeteksi: host berhasil melindungi diri tanpa tindakan berlebihan.】
【Hadiah: kemampuan bela diri Lv.3.】
【Analisis lanjutan: sumber serangan terhubung dengan jaringan informal Hartono Group.】
【Saran: kumpulkan bukti berlapis sebelum konfrontasi terbuka.】
Arya membaca pesan itu.
Lalu ia membuka WhatsApp.
Kirana sudah mengirim tiga pesan.
Kamu di mana?
Sudah makan?
Aku mulai khawatir.
Arya mengetik sebentar.
Di jalan pulang. Malam ini mau makan apa?
Ia tidak menceritakan gang, pisau, atau darah di knuckles-nya.
Belum.
Ia masuk ke GR Supra dan menyalakan mesin.
Di kaca spion, wajahnya terlihat tenang.
Terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja diserang enam orang.
Arya menggenggam setir.
Denny Hartono, pikirnya.
Kamu sudah melewati batas.