Bagi dunia, Hades Sterling adalah pengusaha kejam yang tak tersentuh. Namun bagi Persephone Sinclair, dia adalah suami posesif yang memanggilnya "Ma chérie". Percy suka petualangan dan kegilaan keliling dunia, sementara Hades suka membiarkannya bebas, dalam pengawasan ratusan pengawal bayangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon you see me, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
Pintu kamar utama terbuka tanpa suara. Hades melangkah masuk dengan langkah kaki yang diredam, sementara sosok istrinya terbaring di atas ranjang dengan selimut yang menutupi separuh tubuhnya.
Pria berdarah Yunani-Italia itu mendekati sisi tempat tidur. Ia duduk perlahan di tepi ranjang, membuat matras di samping Percy sedikit bergeser. Dengan tangan besarnya yang hangat, Hades mengelus rambut chesnut brown sang istri dengan sangat lembut, merapikan beberapa helai helai rambut yang menutupi dahi Percy.
"Bangun, Ma chérie," bisik Hades parau dan lembut. "Kau belum makan apa pun sejak kemarin."
Percy, yang merasakan pergerakan di sampingnya serta suara berat yang begitu ia kenali, perlahan membuka mata ambernya yang masih tampak sedikit sembab. Ia mengerjap pelan, menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya lampu kamar yang temaram.
Melihat mata sang istri terbuka, Hades menunduk lalu mengecup kening Percy dengan penuh kasih sayang dan rasa bersalah yang teramat dalam.
"Ayo bangun dulu, hmmm? Kasihan perutmu belum diisi makanan," bujuk Hades sabar, menatap lekat ke dalam mata amber istrinya. "Mau makan apa, hmmm?"
Dengan gerakan lambat dan kaku, Percy bangkit dari baringnya, menyandarkan punggungnya pada kepala tempat tidur yang empuk. Ia masih terdiam seribu bahasa, menatap lurus ke depan tanpa membalas tatapan suaminya sedikit pun.
Hades tidak marah melihat kebisuan itu. Ia tahu Percy masih butuh waktu untuk meredakan amarah dan rasa sakitnya. Pria itu beranjak sebentar menuju sudut ruangan untuk mengambil kotak P3K, lalu kembali duduk di tepi ranjang.
Dengan sangat teliti, Hades membuka kotak tersebut, mengambil kapas dan antiseptik, lalu mulai membersihkan goresan luka kecil di telapak tangan Percy yang sempat terluka akibat pecahan kaca semalam. Ia menempelkan plester kecil dengan lembut pada luka tersebut.
"Apa yang kau inginkan, hmmm?" tanya Hades lembut sambil menutup kotak P3K. "Ingin keluar menghirup udara malam sambil makan di luar, Ma chérie?"
Sesaat, Percy mendongak. Matanya menatap wajah tegas sang suami yang kini memancarkan kelembutan mutlak khusus untuk dirinya. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Percy mengangguk pelan. Ia masih belum berniat untuk berbicara, dan Hades sama sekali tidak mempermasalahkannya ia tahu, untuk malam ini, kedekatan tanpa kata adalah cara terbaik untuk menyembuhkan luka di antara mereka berdua.
Tidak butuh waktu lama bagi Hades untuk menyiapkan segalanya. Tanpa harus memanggil pelayan atau membuat keributan, ia sendiri yang membantu Percy mengenakan mantel kasmir hitam berbulu lembut di lehernya untuk menghalau angin malam kota New York yang mulai menusuk.
Sebuah sedan hitam mewah beratap panorama telah disiapkan di depan lobi mansion. Hades membukakan pintu mobil dengan tangannya sendiri, membimbing Percy masuk ke kursi penumpang belakang, lalu duduk di samping istrinya. Mobil itu meluncur mulus membelah jalanan Manhattan yang mulai berpendar oleh jutaan lampu kota.
Suasana di dalam kabin mobil terasa begitu sunyi. Tidak ada alunan musik dari radio, dan tidak ada percakapan di antara keduanya. Percy menyandarkan kepalanya pada kaca jendela mobil, menatap kosong ke luar pada deretan gedung pencakar langit yang berlalu dengan cepat. Tangannya yang terplester diletakkan begitu saja di atas pangkuannya. Hades, di sisi lain, tidak memaksanya untuk berbicara. Pria itu hanya merengkuh bahu ramping Percy, menarik sang istri agar bersandar nyaman di dada bidangnya. Percy tidak menolak, namun ia tetap memilih untuk mengunci rapat bibirnya.
Mobil tidak berhenti di restoran komersial mana pun yang ramai dikunjungi orang. Hades membawa istrinya menuju sebuah penthouse pribadi milik keluarga Sterling di jantung kota, yang memiliki area rooftop terbuka dengan pemandangan langsung ke seluruh lanskap Manhattan yang berkilau.
Begitu pintu lift terbuka di lantai paling atas, udara malam yang segar langsung menyambut mereka. Sebuah meja makan kecil bergaya minimalis dengan lilin aromaterapi yang menyala temaram telah disiapkan di tengah rooftop, menghadap langsung ke panorama kota dari ketinggian.
Hades menarik kursi kayu berbalut bantalan empuk untuk Percy, memastikan istrinya duduk dengan nyaman sebelum ia mengambil tempat di kursi seberangnya.
Seorang pelayan pribadi datang dengan langkah nyaris tak bersuara, menyajikan hidangan malam hangat yang dipilih khusus oleh Hades sup jamur truffle hangat, pasta daging sapi lembut dengan saus jamur, serta segelas warm apple cider kesukaan Percy.
"Makanlah sedikit, Ma chérie," ucap Hades lembut, memotongkan sepotong daging di piring Percy. "Biar tubuhmu kembali bertenaga."
Percy menatap piring di hadapannya. Aroma makanan yang lezat itu seketika membangkitkan selera makannya yang sempat hilang. Dengan sendok kecil di tangannya, Percy mulai menyuap sup hangat tersebut pelan-pelan. Ia makan dalam kebisuan yang panjang, mengabaikan tatapan penuh perhatian dan kelembutan yang terus dilemparkan oleh suaminya sepanjang malam itu.
Hades tidak mempermasalahkan sikap dingin Percy. Ia tahu, di balik kebisuan sang ratu malam ini, ikatan di antara mereka perlahan-lahan sedang merajut kembali jalan pulang dari badai yang baru saja mereda.
Makan malam di atas rooftop privat itu berlanjut dalam keheningan yang menenangkan. Terpaan angin malam Manhattan yang dingin seolah diredam oleh kehangatan dari secangkir warm apple cider yang digenggam Percy di kedua tangannya.
Setelah menghabiskan sebagian besar makanannya, Percy mengalihkan pandangannya dari piring ke arah hamparan lampu kota yang berpendar bagai lautan bintang di bawah sana. Bahunya yang tadinya kaku perlahan-lahan mulai mengendur. Ia bisa merasakan tatapan lekat dan penuh perhatian dari Hades, yang sejak tadi duduk diam tanpa menyentuh makanannya sendiri, hanya mengawasi setiap gerak-gerik sang istri.
Hades meletakkan serbet kain di atas meja, lalu beranjak dari kursinya. Pria itu berjalan mendekat, mengambil kursi miliknya, dan memindahkannya tepat di samping kursi Percy, memperkecil jarak di antara mereka.
Tanpa sepatah kata pun, Hades merengkuh pinggang Percy, mengangkat tubuh mungil istrinya dengan mudah, dan memindahkannya untuk duduk di pangkuannya.
Percy terkesiap kecil, matanya melebar sejenak karena terkejut. "Hades..." cicitnya pelan suara pertama yang akhirnya keluar dari bibirnya setelah seharian penuh mengunci rapat mulutnya.
Hades menyembunyikan wajahnya di lekukan leher Percy, menghirup aroma sabun mandi dan vanila yang melekat di kulit istrinya. Pelukan tangan kokoh pria itu melingkar erat di pinggang Percy, seolah menyalurkan seluruh kehangatan dan rasa memiliki yang begitu mendalam.
"Masih marah padaku, Ma chérie?" bisik Hades parau di dekat telinganya, nada suara baritonnya terdengar begitu lembut, jauh berbeda dengan bentakan dingin atau cengkeraman kejam yang terjadi beberapa malam lalu.
Percy menunduk, menatap jemari Hades yang melingkar di perutnya. Plaster kecil di tangannya tampak kontras dengan kulit sawo matang suaminya. Rasa sesak dan amarah yang sempat membatu di dalam dadanya perlahan-lahan mencair, tergerus oleh kelembutan dan perhatian mutlak yang ditunjukkan pria itu malam ini.
Percy tahu persis, melawan Hades dengan cara mendiamkannya seperti ini bukanlah solusi yang panjang. Ia juga tahu bahwa pria di hadapannya tidak akan pernah melepaskannya, betapa pun keras ia memberontak.
Dengan helaan napas panjang yang terdengar pasrah namun tulus, Percy perlahan mengangkat tangannya, merapikan helai rambut hitam suaminya yang berantakan tertiup angin malam, lalu menyandarkan kepalanya di dada bidang Hades.
"Jangan lakukan itu lagi..." bisik Percy lirih, suaranya terdengar serak namun sarat akan kelegaan. "...jangan pernah mencekikku lagi, Hades."
Hades mengecup puncak kepala Percy dengan penuh rasa syukur yang teramat dalam, mengeratkan dekapannya seolah ingin menyatu dengan jiwa sang istri.
"Tidak akan pernah lagi, Ma chérie," jawab Hades tegas, berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan pernah membiarkan amarahnya lepas kendali hingga menyakiti ratunya separah itu. "Asalkan kau tidak pernah mencoba lari dariku lagi."
Di bawah langit malam Manhattan yang megah, badai yang sempat merobek dinding pernikahan mereka akhirnya mereda, meninggalkan ikatan yang jauh lebih erat dan posesif dari sebelumnya.