Rangga Hidayat, anak tunggal konglomerat properti, kehilangan kedua orang tuanya dalam pembunuhan berencana yang dikamuflase sebagai kecelakaan. Ia sendiri hampir tewas, lalu dibuang di tepi hutan dekat Desa Sumbermulyo. Seorang nenek miskin, Saroh, menemukannya dan merawatnya dengan penuh kasih. Di desa terpencil itu, Rangga belajar hidup sederhana: bertani, beternak, bermain, dan berteman. Ia mengalami ejekan, candaan, persahabatan, dan cinta pertama. Perlahan ia tumbuh menjadi pemuda tang gigih. Ketika dewasa, ia merantau ke kota untuk bekerja, menyelidiki kematian orang tuanya, dan menghadapi konflik batin antara balas dendam dan pengampunan. Novel ini mengikuti perjalanan emosionalnya dari anak manja menjadi lelaki dewasa yang bijaksana, dengan latar pedesaan yang hangat dan intrik kota yang kelam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thomaz3235, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: RANGGA SANG JUARA KELAS DAN UCOK YANG BERUBAH
Kehilangan Joko memang menyisakan luka yang dalam di hati Rangga. Namun, seperti kata Nenek Saroh, waktu adalah penyembuh yang paling ampuh. Perlahan tapi pasti, Rangga mulai menerima kenyataan bahwa sahabatnya telah pergi ke Jakarta, dan ia harus melanjutkan hidup tanpa kehadiran Joko di sisinya. Ia tidak membiarkan kesedihan menguasai dirinya. Sebaliknya, ia mengalihkan semua energi dan perasaannya pada hal-hal yang produktif—terutama belajar.
Setiap malam, setelah membantu Nenek Saroh di kebun dan menyelesaikan semua pekerjaan rumah tangga, Rangga duduk di bawah lampu minyak tanah yang redup, membaca buku-buku yang dipinjamnya dari perpustakaan kecil milik Bu Siti. Buku-buku itu sudah usang, dengan sampul yang robek dan halaman yang menguning, tetapi bagi Rangga, itu adalah jendela menuju dunia yang lebih luas. Ia membaca tentang matematika, tentang sejarah, tentang geografi, dan tentang cerita-cerita petualangan yang membawanya melayang ke tempat-tempat yang belum pernah ia kunjungi.
Bu Siti sangat terkesan dengan semangat belajar Rangga. Ia sering memberi Rangga buku-buku tambahan, bahkan kadang mengajarinya pelajaran yang lebih tinggi dari tingkat kelasnya. "Rangga, kau punya otak yang cerdas," kata Bu Siti suatu hari setelah Rangga menjawab semua soal matematika dengan benar dalam waktu singkat. "Kau bisa menjadi apa saja kalau kau terus belajar. Jangan sia-siakan bakatmu. Kau punya potensi yang luar biasa."
Rangga tersenyum mendengar pujian itu, tetapi di dalam hatinya ia tahu persis mengapa ia belajar begitu keras. Ia ingin menjadi pintar, ingin menjadi kuat, ingin suatu hari bisa kembali ke kota dan mengungkap kebenaran tentang kematian orang tuanya. Ia tidak pernah melupakan pria botak berkacamata hitam yang mengarahkan pistol ke dahinya, nama Pak Hartono yang dikatakan ayahnya sebagai mitra bisnis, atau keluarga Dharma yang disebut-sebut sebagai saingan. Ia menyimpan semua itu di sudut hatinya yang paling dalam, seperti api kecil yang terus menyala meskipun tidak terlihat oleh siapapun. Api itu memberinya motivasi, memberinya tujuan, dan membuatnya terus melangkah meskipun lelah.
Suatu hari, Bu Siti mengumumkan sesuatu yang membuat seluruh kelas bersorak. "Anak-anak, bulan depan akan ada ujian semester. Nilai terbaik akan mendapat beasiswa dari yayasan pendidikan kecamatan. Beasiswa ini mencakup biaya sekolah sampai lulus SMP. Ini adalah kesempatan besar bagi kalian semua, terutama bagi yang keluarganya kurang mampu."
Mata Rangga berbinar-binar. Ini adalah kesempatan yang tidak boleh ia lewatkan. Ia tahu Nenek Saroh tidak akan mampu membiayai sekolahnya ke jenjang SMP. Nenek sudah tua, penghasilannya hanya dari menjual sayuran dan telur ayam, dan itu pun hanya cukup untuk kebutuhan makan sehari-hari. Beasiswa ini adalah jawaban dari doa-doanya selama ini. Ia bertekad untuk meraihnya dengan segala kemampuan yang ia miliki.
Sejak hari itu, Rangga belajar dengan lebih giat lagi. Ia berlatih setiap hari, mengerjakan soal-soal latihan yang diberikan Bu Siti, bahkan membuat catatan sendiri dari buku-buku yang ia baca. Ia sering begadang sampai larut malam, menulis dan menghitung di bawah cahaya lampu minyak yang berkedip-kedip. Nenek Saroh kadang terbangun dan melihat cucunya masih duduk di meja kayu dengan mata sembab karena kantuk.
"Nak, istirahatlah. Besok kau bisa belajar lagi," kata Nenek suatu malam, suaranya penuh kekhawatiran.
"Sebentar lagi, Nek. Aku mau selesaikan ini dulu," jawab Rangga tanpa mengalihkan pandangannya dari buku.
Nenek hanya menggelengkan kepala, tetapi di matanya ada kebanggaan yang tidak bisa ia sembunyikan. Ia tahu cucunya memiliki tekad yang luar biasa, dan ia tidak mau menghalanginya.
Teman-temannya, terutama Ucok, memperhatikan perubahan pada Rangga. Ucok yang dulu sering mengejek Rangga kini mulai menunjukkan rasa hormat yang tulus. Suatu sore, saat mereka bermain di bawah pohon beringin, Ucok melihat Rangga membawa buku ke mana-mana, bahkan saat mereka sedang bermain layangan.
"Rangga, kok kau belajar terus sih? Nanti otakmu panas!" canda Ucok sambil melempar layangannya ke udara.
"Aku mau menang ujian, Ucok. Aku butuh beasiswa," jawab Rangga serius, matanya masih tertuju pada buku di tangannya.
Ucok mengerutkan dahi. "Beasiswa? Buat apa? Kan kau bisa sekolah di sini gratis. Sekolah kita kan negeri. Tidak ada biaya."
"Untuk SMP, Ucok. Orang tuaku tidak punya biaya. Nenekku sudah tua dan sakit-sakitan. Aku tidak mau membebaninya. Aku harus mandiri," jelas Rangga, kali ini ia menutup bukunya dan menatap Ucok dengan tatapan yang serius.
Ucok terdiam. Untuk pertama kalinya, ia melihat keseriusan di mata Rangga—bukan keseriusan seorang anak kecil yang sedang bermain, tetapi keseriusan seorang anak yang sudah memikirkan masa depannya. Ucok yang biasanya suka bercanda dan usil, kini menatap Rangga dengan rasa hormat yang tulus. "Rangga, aku… aku boleh bantu? Aku memang bodoh di pelajaran, tapi kalau kau mau, aku bisa temani kau belajar. Mungkin aku juga jadi pintar sedikit. Dan kalau kau capek, aku bisa bawakan singkong rebus untukmu."
Rangga terkejut. Ucok, anak paling usil di desa, yang lidahnya selalu tajam dan suka mengejek, menawarkan diri untuk belajar bersama? Ia tersenyum, merasa hangat di hatinya. "Tentu, Ucok. Aku akan ajari kau matematika. Tapi kau harus janji tidak usil selama belajar. Kalau kau usil, aku akan lapor ke Nenek Saroh!"
"Berdebat!" Ucok mengangkat tangan kanannya seperti sumpah. "Kalau aku usil, aku kasih kau semua gasingku! Aku serius, Rangga. Aku ingin berubah. Aku ingin menjadi lebih baik seperti kau."
Sejak hari itu, mereka mulai belajar bersama setiap sore setelah bermain. Awalnya, Ucok memang sulit fokus. Ia sering melamun, main-main dengan pensil, atau tiba-tiba menceritakan lelucon konyol yang membuat Rangga tertawa. Namun Rangga sabar mengajarinya. Ia menjelaskan soal matematika dengan cara yang sederhana, menggunakan contoh-contoh dari kehidupan sehari-hari—seperti menghitung jumlah telur ayam di kandang, mengukur luas ladang untuk menanam sayuran, atau menghitung uang hasil jualan di pasar.
"Lihat, Ucok. Kalau kau punya sepuluh telur dan kau memberi tiga ke ibumu untuk dimasak, berapa sisa telurmu?" tanya Rangga sambil menulis angka di tanah dengan sebatang kayu.
"Ya tujuh lah, gampang!" jawab Ucok dengan percaya diri.
"Nah, itu sama dengan pengurangan. Sepuluh dikurangi tiga sama dengan tujuh. Kalau kau mengerti itu, kau bisa mengerti semua matematika. Semua angka itu seperti telur, Ucok. Kau hanya perlu membayangkannya dalam kehidupan sehari-hari."
Ucok tertawa terbahak-bahak. "Kalau begitu, matematika itu enak! Aku suka telur! Tapi Rangga, aku masih bingung kalau angkanya banyak. Bagaimana kalau seratus dikurangi dua puluh tujuh?"
Rangga tersenyum sabar. "Kita pelajari pelan-pelan. Nanti kau pasti bisa. Yang penting kau mau belajar."
Karti dan Dullah yang mendengar percakapan mereka juga ikut bergabung. Mereka membentuk kelompok belajar kecil di bawah pohon beringin, dengan Rangga sebagai guru dadakan. Ucok yang dulu terkenal sebagai anak nakal dan suka membuat onar kini mulai berubah drastis. Ia lebih rajin datang ke sekolah, lebih sopan kepada guru-guru, dan lebih peduli pada teman-temannya. Bahkan ibunya, Bu Parni, sampai menangis haru saat melihat nilai Ucok mulai membaik.
"Rangga, kau benar-benar mengubah anakku," kata Bu Parni suatu hari saat bertemu Rangga di pasar kecamatan. "Dulu Ucok susah sekali disuruh belajar. Ia lebih suka bermain gasing dan berkelahi. Sekarang ia malah minta dibelikan buku dan pulang-pulang langsung belajar. Aku tidak tahu harus berterima kasih bagaimana padamu."
Rangga tersenyum malu, merasa tidak layak menerima pujian setinggi itu. "Sama-sama, Bu. Ucok teman baik saya. Saya senang bisa membantu. Lagipula, Ucok sendiri yang mau berubah. Saya hanya membantunya sedikit."
Ucok yang mendengar percakapan itu dari kejauhan hanya tersenyum canggung, tetapi matanya berkaca-kaca. Ia mendekati Rangga setelah ibunya pergi, lalu memeluknya erat. "Rangga, kau tahu? Dulu aku benci sama kamu. Aku pikir kau anak kota yang sombong. Tapi ternyata kau baik sekali. Kau adalah sahabat sejatiku setelah Joko pergi. Terima kasih sudah mengajariku. Terima kasih sudah tidak menyerah padaku."
Rangga menepuk pundak Ucok dengan hangat. "Kau juga sahabatku, Ucok. Dan kau akan menjadi orang hebat, aku yakin. Aku percaya padamu."
Hari ujian akhirnya tiba. Rangga datang dengan percaya diri, membawa pensil dan penghapus yang sudah ia siapkan semalaman. Soal-soal ujian terasa mudah baginya—ia sudah berlatih berkali-kali. Ia menjawab semua dengan tenang dan teliti, bahkan sempat memeriksa ulang jawabannya beberapa kali sebelum waktu habis. Ia tidak ingin membuat kesalahan sekecil apapun.
Beberapa hari kemudian, Bu Siti mengumumkan hasil ujian di depan kelas. Semua anak menahan napas, menunggu dengan tegang. "Anak-anak, aku bangga dengan kalian semua. Nilai kalian meningkat dibanding semester lalu. Namun ada satu siswa yang meraih nilai sempurna—nilai seratus untuk semua mata pelajaran! Dia adalah… Rangga Hidayat!"
Seluruh kelas bersorak. Ucok berteriak paling keras, "Rangga! Rangga! Juara!" Karti dan Dullah bertepuk tangan dengan semangat. Rangga berdiri dari bangkunya, menerima pujian dari Bu Siti dan tepuk tangan teman-temannya. Hatinya bergetar—ini adalah pencapaian yang benar-benar ia raih dengan usahanya sendiri, tanpa bantuan orang tua atau uang. Ini adalah kemenangan pertamanya sebagai Rangga, anak asuh Nenek Saroh dari desa Sumbermulyo.
"Rangga, kau akan mendapat beasiswa untuk SMP. Selamat!" kata Bu Siti sambil menyerahkan selembar surat resmi bersegel. "Ini surat rekomendasi dari yayasan. Kau berhak mendapat biaya penuh sampai lulus SMP. Dan kau juga berhak mendapat uang saku setiap bulan untuk biaya transportasi dan makan siang. Kau sudah membuktikan bahwa kemiskinan bukan penghalang untuk berprestasi."
Rangga menerima surat itu dengan tangan gemetar. Air mata mengalir di pipinya—air mata haru, air mata syukur, air mata kebahagiaan yang tidak bisa ia tahan. Ia memeluk surat itu erat-erat, seolah itu adalah harta paling berharga di dunia. Malam harinya, ia menunjukkan surat itu kepada Nenek Saroh dengan penuh kebanggaan.
"Nenek, aku dapat beasiswa! Aku bisa sekolah sampai SMP tanpa biaya! Nenek tidak perlu khawatir lagi!" serunya dengan penuh kegembiraan, suaranya meledak-ledak.
Nenek Saroh membaca surat itu perlahan, matanya berbinar-binar. Ia membaca setiap kata, setiap kalimat, seolah ingin menghafalnya. Kemudian ia memeluk Rangga, menangis bahagia. "Nak, Nenek bangga padamu. Nenek selalu tahu kau anak istimewa. Teruslah belajar, Nak. Jangan pernah berhenti. Nenek akan selalu mendoakanmu."
Rangga berjanji dalam hatinya. Ia akan terus belajar, terus berusaha, dan terus menggapai mimpinya. Dan di sampingnya, Ucok berdiri dengan senyum lebar, siap mendukung sahabatnya dalam setiap langkah.
---
[Bersambung...]
---