Pernikahan Aurora dengan Jonathan Carser—menjadi neraka saat ia menjadi korban pengkhianatan dan manipulasi.
Puncaknya, ia dipaksa menghadapi keraguan sang suami atas bayi laki-laki nya yang terlahir dengan paras begitu mirip dengan mantan kekasih masa lalunya, Braxley Valerio-Desmon.
Ketika kebenaran mulai terkuak dan Jonathan semakin brutal meluapkan amarahnya, Siapkah Aurora menghadapi kenyataan pahit, menerima kebenaran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
021
Di saat lonceng katedral dinasti Valerio-Desmon bergema megah dan ribuan kelopak bunga mawar melayang membalut kebahagiaan Aurora dan Braxley di panggung pesta tak bertepi, atmosfer yang bertolak belakang seratus delapan puluh derajat mengendap pekat di lorong-lorong dingin Rumah Tahanan Negara Kelas Satu.
Udara di dalam ruang isolasi tempat Jonathan Carser ditahan terasa menyesakkan. Bau besi berkarat dan kelembapan lantai semen yang dingin menusuk hingga ke tulang.
Namun malam ini, kegelapan di dalam sel berjeruji itu mendadak terusik oleh sebuah tawa yang pecah secara berkala—sebuah tawa yang sarat akan intrik, kepuasan beracun, dan kegilaan yang membakar habis sisa-sisa kemanusiaan.
Jonathan duduk melipat kakinya di atas ranjang besi yang tipis.
Pakaian tahanannya yang berwarna oranye kusam tampak longgar melingkupi tubuhnya yang kian kurus. Wajahnya yang tirus dipenuhi oleh bayang-bayang kelelahan, tetapi manik matanya yang memerah liar kini menyala-nyala oleh pendar kejahatan yang baru.
Di hadapannya, melalui celah kecil pintu sel yang dijaga ketat, sebuah surat rahasia berisikan dokumen transfer dan instruksi terikat rapi dalam lipatan saputangan hitam—oleh-oleh dari Brenda yang berhasil diselundupkan melalui sipir sewaan.
Ternyata, isakan histeris Brenda dan bentakan kasar Jonathan di ruang kunjungan beberapa hari lalu hanyalah sandiwara panggung yang sengaja mereka mainkan untuk mengelabui kamera pengawas dan pendengaran agen rahasia keluarga Desmon!
"Hahaha... Hahahahaha!"
Jonathan tertawa pelan, tawanya bergema memantul di dinding beton yang lembap. Pria itu mencengkeram erat surat rahasia di tangannya, membusungkan dadanya yang kurus dengan napas yang memburu ketagihan.
Kabar kehamilan Brenda bukanlah sebuah musibah, melainkan sebuah senjata utama yang paling sempurna!
Kebenaran bahwa Brenda mengandung darah dagingnya adalah kekuatan baru yang membakar kembali semangat hidup Jonathan yang sempat mati di dasar sel.
"Lahirkan putri kita, Brenda..." bisik Jonathan parau, matanya mendelik lebar menatap langit-langit sel yang gelap, penuh dengan bayangan obsesi jahat. "Gunakan seluruh uang penyimpanan rahasia yang kupunya di Swiss. Bawa dia pergi, besarkan dia di Eropa! Ayah dan ibuku di sana yang akan menanggung seluruh fasilitas dan perlindungannya!"
Jonathan menyunggingkan senyuman iblis yang luar biasa mematikan. Urat-urat di lehernya menegang tegang saat membayangkan rencana jangka panjang yang kini telah tersusun amat rapi di dalam otaknya yang beracun.
"Aku mencintaimu, Brenda..." gumam Jonathan penuh kepuasan yang dingin. "Terima kasih... terima kasih karena tidak mengkhianatiku seperti pelacur murahan itu!"
DUARRR!
Suara petir menyambar di luar gedung penjara, seolah-olah alam ikut bergetar menyaksikan bangkitnya sebuah dendam baru yang tak kenal takut.
Janji dan sumpah Jonathan untuk meratakan hidup Aurora, Braxley, dan seluruh keturunan dinasti Desmon tidak pernah mundur satu milimeter pun! Pria itu sama sekali tidak gentar menghadapi hukuman dua puluh tahun penjara yang membayanginya.
Bagi Jonathan, dinding besi penjara ini hanyalah tempat peristirahatan sementara sebelum ia memetik buah dari dendamnya yang paling manis.
Di dalam kegelapan sel, rencana gila itu mulai digariskan dengan sangat teratur dan cermat.
Jonathan melangkah pelan mendekati dinding semen, menggoreskan kuku jarinya yang kotor ke atas permukaan beton untuk membentuk sebuah bagan alur pembalasan dendam. Dan di titik paling tengah dari seluruh bagan kejahatannya, sebuah nama tertulis paling jelas, menjadi target utama dari pembalasan terencana dan teraturnya:
DRACO.
Bayi yang disebut-sebut sebagai hasil persentase 99,99% murni Braxley Valerio-Desmon—bayi yang di mata Jonathan adalah pengkhianatan paling nyata yang pernah dilakukan Aurora di belakang punggungnya selama Satu tahun pernikahan mereka.
"Kau pikir anak itu adalah pangeran kecilmu, Braxley?!" bisik Jonathan dengan nada penuh kutukan yang mengerikan, menancapkan kukunya hingga berdarah tepat di atas coretan nama Draco di dinding. "Kau pikir anak haram itu akan tumbuh dengan aman semasih aku hidup?!"
Jonathan menyeringai lebar, membayangkan masa depan yang sedang ia rancang dari dalam sel tahanan.
Strategi pembalasan dendam ini tidak dirancang untuk diselesaikan dalam hitungan hari atau bulan.
Ini adalah sebuah permainan panjang yang terencana. Brenda akan terbang ke Swiss minggu depan menggunakan identitas palsu yang telah dibeli oleh jaringan lama keluarga Carser.
Di sana, di bawah pengawasan orang tua Jonathan yang bersembunyi dari jeratan hukum internasional, putri mereka akan dibesarkan dengan satu tujuan murni: menjadi senjata pembunuh dingin yang ditanamkan rasa benci mutlak pada dinasti Desmon.
Sementara itu, dari balik penjara ini, Jonathan akan memanfaatkan sisa koneksi dunia bawah tanah di Eropa dan Amerika Latin untuk membangun jaringan mata-mata yang secara konstan mengawasi setiap gerak-gerik Draco.
"Aku akan membiarkan kalian membesarkannya dulu..." bisik Jonathan dengan kekehan serak yang memilukan. "Aku akan membiarkan kalian memanjakannya dengan harta, memberikan cinta, dan membentuknya menjadi calon penguasa Desmon... Dan tepat saat anak itu berada di puncak kebahagiaannya, aku akan merebutnya! Aku akan mengubah pangeran kecil kalian menjadi monster yang akan membunuh orang tuanya sendiri demi cinta!"
Jonathan memejamkan matanya, meresapi rasa manis dari rencana gilanya yang mulai berdenyut.
Di luar sana, di Mansion Valerio-Desmon, pesta kebahagiaan mungkin sedang mencapai puncaknya di bawah sinar rembulan. Aurora mungkin sedang tertidur lelap dalam dekapan hangat Braxley, merasa bahwa seluruh neraka hidupnya telah berakhir secara total.
Namun di sini, di balik jeruji besi yang dingin, benih kejahatan baru telah tertanam rapat di dalam rahim Brenda—siap bertumbuh menjadi badai kehancuran yang akan menagih janji darah di masa depan.
Jonathan mengusap darah di ujung kukunya, lalu menempelkan telapak tangannya di dinding beton.
"Nikmatilah kebahagiaan sementara kalian, Braxley... Aurora..." desis Jonathan parau dalam kegelapan malam. "Karena drama yang sesungguhnya... baru saja dimulai."
Pencahayaan temaram dari lampu pendar di luar sel membiaskan bayangan jeruji besi yang melintang tebal di atas wajah Jonathan. Setiap detak jarum jam yang terdengar dingin di sepanjang koridor lapas tidak lagi dirasakannya sebagai siksaan, melainkan sebagai hitungan mundur menuju hari pembalasan yang sempurna.
Pria itu melangkah mundur dari dinding semen, menatap mahakarya coretan dendamnya dengan pendar mata yang kian liar.
Pengalaman pahit ditinggalkan oleh rekan-rekan bisnisnya, asetnya yang disita habis oleh aksi akuisisi agresif Desmon Group, hingga vonis penjara yang menghancurkannya, kini bertransformasi menjadi kalkulasi kejahatan yang sangat dingin.
"Dunia mengira aku sudah kalah," gumam Jonathan, suaranya pelan namun sarat akan racun. "Braxley... kau mengira telah meratakan seluruh kerajaanku hingga tak berbekas. Tapi kau lupa satu hal. Seorang musuh yang tidak lagi memiliki apa pun untuk dipertaruhkan adalah musuh yang paling berbahaya."
Ia meraba saku pakaian tahanannya, memastikan lipatan dokumen rahasia yang diselundupkan Brenda telah tersembunyi aman di balik lipatan kain di area pinggangnya.
Dokumen itu bukan sekadar catatan transaksi finansial, melainkan peta jaringan akun di beberapa bank internasional yang tidak pernah tersentuh oleh tim pelacak keuangan milik keluarga Desmon. Selama satu tahun menikahi Aurora, Jonathan secara bertahap telah mengalihkan sebagian dana taktis Carser Corporation ke dalam entitas cangkang atas nama Brenda.
"Aset itu tidak akan cukup untuk membangun kembali bisnis Carser," bisik Jonathan pada kegelapan di dalam selnya. "Tapi dana itu lebih dari cukup untuk membiayai operasi jangka panjang... untuk membeli loyalitas, membungkus identitas baru, dan memelihara dendam ini hingga putriku cukup dewasa untuk memegang senjatanya."
Ia membayangkan wajah Brenda—wanita yang bersedia mempertaruhkan seluruh nama baik dan masa depannya demi bertahan di sisinya.
Kehamilan Brenda adalah sebuah variabel yang sama sekali tidak diperhitungkan oleh sistem intelijen Braxley maupun analisis psikologis dari tim terapi Aurora. Keluarga Desmon terlalu fokus merayakan kemenangan hukum mereka, merasa telah mengunci seluruh celah hingga lupa bahwa sebuah ancaman baru bisa lahir dari puing-puing musuh yang mereka anggap telah musnah.
"Anakmu akan tumbuh dalam gelimang harta dan kemewahan yang membutakan, Aurora," desis Jonathan dengan senyuman miring yang mengerikan. "Kau akan membentuk Draco menjadi pemuda yang lembut, penuh kasih, dan percaya bahwa dunianya sangat aman. Dan di saat ketahanan mentalnya berada pada titik paling lemah, keturunanku akan hadir... menyusup ke dalam hidupnya sebagai sosok yang paling ia percayai."
Ia melangkah mendekati jeruji besi, memegang batangan logam dingin itu dengan kedua tangannya. Pikirannya melayang membayangkan wajah Braxley Valerio-Desmon—sosok pria yang selalu memandang rendah dirinya dari ketinggian takhta kekuasaan Desmon.
"Kau menang di babak pertama, Braxley," ujar Jonathan dengan keheningan yang tajam. "Kau merebut Aurora dari tanganku, kau membersihkan namanya di hadapan media, dan kau memenjarakanku di tempat terhina ini. Tapi pernikahan megahmu itu hanyalah tirai pembuka. Kau baru saja membesarkan anak yang kelak akan menjadi celah terbesar dalam benteng kokohmu."
Suara langkah kaki sipir yang sedang melakukan ronda malam terdengar mendekat dari ujung koridor. Sepatu laras tebal itu menghentak lantai semen dengan irama yang teratur.
Jonathan dengan cepat memutar tubuhnya, kembali duduk di atas ranjang besi dengan posisi membungkuk, berpura-pura menjadi seorang tahanan yang frustrasi dan telah kehilangan seluruh daya juangnya.
Langkah sipir berhenti sejenak di depan celah sel Jonathan. Sorot lampu senter menyala terang, mengarah tepat ke wajah Jonathan yang tampak kusam dan lesu.
"Masih belum tidur, Carser?" tegur sipir itu dengan nada dingin dan tak peduli. "Jangan bermimpi bisa keluar dari sini. Berkas kepolisianmu sudah terkunci rapat."
Jonathan mendongak pelan, menampilkan raut wajah yang hancur, mata yang kusam tanpa harapan, dan bibir yang bergetar seolah-olah dipenuhi penyesalan mendalam—sebuah akting sempurna yang telah diasahnya untuk memastikan pihak otoritas dan mata-mata Desmon percaya bahwa jiwa dan semangat bertarungnya telah mati sepenuhnya.
"Aku... aku sudah tidak punya apa-apa lagi, Sir..." bisik Jonathan dengan suara serak yang dibuat-buat pudar. "Semuanya sudah hancur."
Sipir itu menyeringai mengejek, mematikan lampu senternya lalu melanjutkan langkah rondanya menuju ujung lorong yang lain. "Memang begitu seharusnya akhir dari orang seperti dirimu."
Begitu langkah kaki sipir tersebut menjauh dan menghilang di balik pintu besi utama, raut wajah hancur Jonathan seketika menguap tanpa bekas. Wajahnya kembali membeku menjadi topeng kejahatan yang dingin. Ia menyunggingkan senyuman sinis dalam kegelapan.
Pihak Desmon, kepolisian, dan media boleh percaya bahwa kasus Carser Corporation telah ditutup secara permanen. Mereka boleh menikmati masa-masa keemasan dan kedamaian di Mansion Valerio-Desmon. Namun jauh di dalam bayang-bayang kegelapan, sebuah fondasi balas dendam yang lebih terstruktur, lebih sistematis, dan jauh lebih beracun telah selesai dibangun.
Jonathan menyandarkan kepalanya ke dinding semen yang dingin, memejamkan mata sembari menikmati ketenangan malam pertama dari masa hukumannya.
Di dalam pikirannya, ia tidak lagi melihat dinding penjara yang mengurungnya, melainkan sebuah gambaran masa depan di mana dinasti Desmon runtuh dari dalam—bukan oleh serangkaian pertempuran media atau hukum, melainkan oleh benturan darah dan dendam yang diwariskan kepada generasi berikutnya.
😔
makin prokdutif banget thor bulan ini udh baru lgi muncul🥳