Anya gadis muda 18 tahun harus mengahadapi kenyataan pahit saat Pria yang selama ini disukainya dijodohkan dengan kakak Anya, Joana. Anya berusaha untuk menghalanginya namun dia masalah diasingkan oleh Ayahnya. Anya yang patah hati akhirnya berusaha melepaskan perasaanya dan fokus akan study nya. 4 tahun berlalu saat kelulusan Anya, Edgae yang selama ini Alya coba melupakan malah datang membawa seikat bunga. apakah dia datang sebagai kakak Ipar atau ada hal lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eureka Irene, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lembaran Baru di Kota Pahlawan
Bunyi gemuruh mesin pendingin ruangan tua menjadi latar belakang yang menemani pagi pertama Anya di Surabaya. Kota ini menyambutnya dengan udara yang terasa jauh lebih menyengat ketimbang Jakarta. Sinar matahari timur menerobos masuk melalui celah gorden tipis, menerangi sebuah kamar apartemen tipe studio yang teramat sederhana. Tidak ada kasur ukuran king size dengan seprai sutra, tidak ada lampu gantung kristal, dan tidak ada pelayan yang mengetuk pintu untuk mengantarkan sarapan hangat.
Anya terbangun dengan tubuh yang terasa remuk. Dia duduk di tepi kasur busa tunggalnya, memandangi ruangan berukuran empat kali empat meter itu dengan pandangan kosong. Di sudut ruangan, dua koper besarnya masih tergeletak separuh terbuka. Di atas meja dapur kecil, terletak sebuah kartu ATM baru yang diberikan papanya sebelum keberangkatan—sebuah modal hidup yang sengaja dibatasi agar Anya jera.
Gadis delapan belas tahun itu menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya dengan perlahan. Rasa sesak di dadanya belum sepenuhnya hilang, namun air matanya rasanya sudah habis terkuras sepanjang penerbangan semalam. Dia berdiri, berjalan menuju cermin kecil yang tertempel di pintu kamar mandi.
"Kamu sudah berjanji, Anya," bisiknya pada pantulan dirinya sendiri. "Jangan menengok ke belakang lagi."
Langkah pertama yang Anya lakukan pagi itu adalah merogoh ponsel dari dalam saku jaketnya. Dengan tangan yang sedikit gemetar, dia melepas casing belakang ponsel, mengeluarkan kartu SIM lama yang berisi ratusan kontak dari kehidupannya di Jakarta, lalu mem patahkannya menjadi dua bagian tanpa ragu. Krek. Bunyi patahan plastik kecil itu terdengar begitu memuaskan sekaligus menakutkan di dalam kesunyian kamar. Anya melempar serpihan kartu itu ke dalam tempat sampah.
Dia kemudian memasukkan kartu SIM baru dengan nomor area Surabaya yang dibelinya di bandara semalam. Dengan nomor baru ini, dia resmi menghilang. Dia menghapus semua aplikasi media sosial lamanya, membuat akun baru dengan nama samaran yang bersih tanpa foto profil, dan memastikan tidak ada satu pun celah bagi keluarganya untuk melacak aktivitasnya secara personal. Dia benar-benar telah mengisolasi diri di dalam kepompong pengasingannya.
Tantangan sesungguhnya dimulai saat Anya harus mendaftarkan diri secara langsung ke kampus barunya. Berbekal berkas-berkas kepindahan yang sudah diatur oleh sekretaris Papanya, Anya berjalan kaki menembus trotoar jalanan Surabaya yang terik menuju halte bus kota. Tanpa fasilitas mobil mewah beserta sopir pribadi, kulitnya yang biasa terawat di dalam ruangan ber-AC kini mulai merasakan sengatan matahari yang membakar.
Sesampainya di kampus swasta ternama di kawasan Surabaya Timur itu, Anya merasa seperti alien. Semua orang tampak berbicara dengan logat bahasa Jawa Timuran yang lugas, cepat, dan asing di telinganya. Anya mengantre di biro administrasi akademik dengan kepala tertunduk, mencoba tidak menarik perhatian.
"Anya Kirana Bramantyo?" panggil petugas administrasi, seorang wanita paruh baya dengan kacamata yang bertengger di ujung hidung.
"Iya, Bu, saya," jawab Anya sopan.
Petugas itu memeriksa berkas kepindahan Anya dari salah satu universitas seni di Jakarta. "Oh, berkasmu sudah lengkap semua. Kamu masuk ke semester tiga jurusan Desain Komunikasi Visual mulai minggu depan. Ini kartu tanda mahasiswamu, tolong dijaga baik-baik."
"Terima kasih, Bu," Anya menerima kartu plastik tersebut. Dia memandangi foto dirinya yang tertera di sana. Wajah di foto itu tampak tersenyum, namun Anya tahu senyuman itu diambil beberapa bulan lalu, saat dia masih menjadi gadis bodoh yang mengemis cinta Edgard di Jakarta. Anya mengantongi kartu itu dengan perasaan campur aduk.
Saat berjalan keluar dari gedung rektorat, Anya tidak sengaja menabrak seorang mahasiswi yang sedang membawa tumpukan tabung gambar.
Bruk!
Tabung-tabung plastik itu menggelinding di atas lantai selasar. "Aduh, sepurane! Maaf, maaf, aku enggak lihat jalan tadi!" seru mahasiswi itu panik, langsung berlutut untuk memunguti barang-barangnya. Gadis itu berambut pendek sebahu dengan gaya kasual, mengenakan kemeja flanel longgar dan sepatu bot kain.
Anya ikut berlutut, membantu mengambilkan salah satu tabung gambar yang menggelinding dekat kakinya. "Enggak apa-apa, saya juga kurang hati-hati."
Mahasiswi itu mendongak, menerima tabung gambarnya dari tangan Anya. Matanya berbinar ramah saat mendengar aksen bicara Anya yang kental dengan gaya anak Jakarta. "Eh, anak baru ya? Logatmu bukan asli sini. Kenalin, namaku Ririn. Anak DKV angkatan dua dua."
Anya tertegun sejenak, ragu untuk membuka diri pada orang asing. Namun, senyum tulus Ririn meruntuhkan sedikit dinding pertahanannya. "Aku Anya. Iya, aku mahasiswa pindahan... seangkatan sama kamu di DKV."
"Wah, kebetulan banget! Berarti kita bakal sekelas minggu depan!" Ririn menjabat tangan Anya dengan penuh semangat. "Kalau kamu butuh bantuan buat keliling kampus atau cari tempat beli alat gambar yang murah di Surabaya, bilang aku aja, ya. Ini nomor ponselku."
Anya tersenyum tipis—sebuah senyuman tulus pertama yang muncul di wajahnya setelah berhari-hari. Dia mencatat nomor Ririn di ponsel barunya. Kehadiran Ririn seolah menjadi secercah cahaya kecil di tengah kegelapan yang menyelimuti langkah awal Anya di kota ini.
Malam harinya, Anya duduk di lantai apartemennya, dikelilingi oleh lembaran kertas sketsa dan cat air yang baru dibelinya bersama Ririn sore tadi. Di Surabaya, dia memutuskan untuk menenggelamkan seluruh energinya ke dalam perkuliahan. Dia tidak ingin menyisakan ruang sedikit pun di otaknya untuk melamun atau mengingat masa lalu.
Ponsel barunya bergetar di atas meja. Anya tersentak, mengira keluarganya berhasil melacak nomor barunya. Namun ternyata, itu hanyalah pesan otomatis dari operator seluler. Anya menghela napas lega, namun di saat yang sama, sebuah rasa sunyi yang teramat pekat tiba-tiba menyergap dada ringkihnya.
Dia melirik ke arah tempat sampah, di mana serpihan kartu SIM lamanya berada. Di sana, di dalam kartu yang telah hancur itu, tersimpan memori tentang Papa yang membentaknya, Joana yang menangis bersalah, dan Edgard yang menatapnya dengan pandangan dingin tanpa arti. Anya memeluk lututnya, menyandarkan kepalanya di dinding apartemen yang lembap.
Dia tahu, di Jakarta saat ini, kehidupan pasti terus berjalan tanpa dirinya. Papa mungkin sedang sibuk mengurus saham, Joana mungkin sedang mendiskusikan konsep pernikahan yang megah, dan Edgard... Edgard pasti sedang duduk di ruang kerjanya yang mewah, menikmati secangkir kopi hitam tanpa pernah sedetik pun memikirkan gadis delapan belas tahun yang telah dia buang ke kota ini.
Anya memejamkan mata erat-erat, menghalau setetes air mata yang nekat keluar di sudut matanya. Dia mengepalkan jemarinya kuat-kuat hingga kukunya memutih.
"Aku tidak akan pernah pulang," bisiknya pada kegelapan malam Surabaya. "Kalian yang membuangku, maka kalian juga yang harus siap kehilangan aku selamanya."
Anya tidak pernah tahu, bahwa keputusannya untuk memutus kontak total malam ini akan menjadi awal dari sebuah dinding pemisah yang teramat tebal. Dinding yang akan terus berdiri kokoh selama bertahun-tahun ke depan, mengubah rasa sakit hatinya menjadi sebuah kemandirian yang dingin, hingga hari di mana seseorang dari masa lalu datang menembus badai demi meruntuhkan dinding tersebut.
semangat nulisnya 💪