Louisa Hartono tidak pernah menyangka bahwa malam terburuk dalam hidupnya akan menjadi awal dari segalanya.
Setelah sepuluh tahun mengejar cinta yang tidak pernah berbalas, dia mabuk — dan tanpa sadar melamar seorang pria yang bahkan tidak dia kenal dengan baik.
Nathanael Susanto. CEO muda dari keluarga konglomerat Susanto. Dingin, misterius, dan... langsung bilang "iya."
Mereka menikah dengan perjanjian: satu tahun, tanpa perasaan, bisa cerai kapan saja.
Tapi Nathanael selalu pulang tepat waktu. Selalu menyiapkan bunga di meja kerjanya. Selalu tahu makanan favoritnya tanpa pernah bertanya.
Dan Louisa mulai bertanya-tanya — apakah suami kontraknya ini... sudah mengenalnya jauh lebih lama dari yang dia kira?
Sementara itu, Kevin Tanuwijaya — pria yang Louisa kejar selama sepuluh tahun — akhirnya sadar bahwa dia sudah kehilangan satu-satunya orang yang benar-benar mencintainya.
Tapi sudah terlambat.
Karena Nathanael Susanto sudah menunggu sepuluh tahun untuk momen ini.
Dan dia tidak akan melepaskannya.
🌹 Nikah kontrak. Cinta rahasia sepuluh tahun. Mantan yang menyesal seumur hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Bab 005
Tanda Tangan di Catatan Sipil
Tiga hari setelah Darren keluar dari Polsek Kelapa Gading, Louisa berdiri di depan Kantor Catatan Sipil Jakarta Selatan dengan map dokumen di tangan dan perasaan seperti sedang menonton hidup orang lain.
Pagi itu Jakarta panas sejak pukul sembilan.
Langit bersih, terlalu terang, membuat kaca gedung memantulkan cahaya yang menyilaukan. Louisa mengenakan dress putih sederhana dan blazer tipis warna krem. Bukan baju pengantin. Bukan gaun pesta. Hanya pakaian rapi yang bisa ia gunakan untuk meeting kantor jika hari ini bukan hari ia akan mendaftarkan pernikahan.
Di sampingnya, Nathanael memakai kemeja putih dan jas abu gelap.
Ia tampak seperti datang untuk menandatangani akuisisi perusahaan, bukan menikah.
Louisa menatap pintu masuk kantor itu. "Masih bisa mundur?"
Nathanael menoleh. "Kamu mau mundur?"
Pertanyaan itu kembali kepadanya tanpa tekanan.
Louisa menggenggam map lebih erat. Di dalamnya ada KTP, akta lahir, kartu keluarga, surat keterangan dari notaris tentang perjanjian pranikah pisah harta, dan formulir yang sudah mereka isi semalam. Semua kertas itu terlalu rapi, terlalu sah, terlalu nyata.
"Aku cuma memastikan pintunya masih ada," jawabnya.
"Ada." Nathanael menatapnya dengan tenang. "Sampai sebelum tanda tangan terakhir, kamu bisa bilang berhenti."
"Kalau aku bilang berhenti sekarang?"
"Kita pulang."
Louisa menatapnya, mencari tanda kecewa, marah, atau tersinggung. Tidak ada. Justru karena tidak ada, dadanya terasa makin sulit.
Orang yang tidak memaksa sering kali membuat keputusan terasa lebih berat. Tidak ada siapa pun yang bisa ia salahkan jika ia tetap berjalan.
Di belakang mereka, sebuah mobil berhenti. Sepasang laki-laki dan perempuan turun sambil tertawa. Perempuan itu memakai kebaya modern warna dusty pink, rambutnya dihiasi jepit mutiara. Laki-lakinya membawa buket kecil bunga baby breath dan terus menggenggam tangan calon istrinya.
"Sayang, nanti foto di tangga dulu ya," kata perempuan itu.
"Iya. Habis tanda tangan, aku upload. Caption-nya apa?"
"Akhirnya sah."
Mereka tertawa lagi, ringan sekali, seperti dunia memang dibuat untuk mendukung kebahagiaan mereka.
Louisa menunduk melihat map di tangannya.
Ia tidak punya buket. Tidak punya caption. Tidak punya keluarga yang menunggu di luar. Bahkan Steven hanya tahu ia "mengurus dokumen penting" karena Louisa belum sanggup menjelaskan lebih jauh.
Yang ia punya adalah perjanjian satu tahun dan seorang pria yang baru tiga hari ini memasuki hidupnya dengan cara yang tidak masuk akal.
"Louisa."
Suara Nathanael membuatnya mengangkat wajah.
"Aku di sini," katanya.
Hanya tiga kata.
Tidak romantis. Tidak berlebihan. Namun cukup untuk membuat langkah Louisa bergerak.
***
Di dalam, prosesnya jauh lebih singkat daripada ketakutan Louisa.
Petugas memeriksa dokumen satu per satu. KTP. Akta lahir. Kartu keluarga. Surat keterangan domisili. Dokumen perjanjian pranikah yang sudah ditandatangani di hadapan notaris. Dua saksi yang disiapkan oleh pihak kantor notaris ikut menunggu di kursi belakang, rapi dan profesional.
"Agama?" tanya petugas perempuan berkacamata.
"Buddha," jawab Louisa.
"Buddha," jawab Nathanael setelahnya.
Petugas itu menandai formulir. "Baik. Semua dokumen lengkap. Setelah tanda tangan, pencatatan selesai. Akta nikah sementara dan tanda terima saya cetak hari ini, hard copy legalisir bisa diambil sesuai jadwal."
Louisa mengangguk.
Pernikahan dalam bayangannya dulu tidak seperti ini.
Dulu, ketika masih SMA dan diam-diam menyukai Kevin, ia pernah membayangkan hal bodoh. Bukan pesta besar. Bukan gaun mahal. Hanya Kevin berdiri di sampingnya, mengeluh karena antrean terlalu lama, lalu tetap menggenggam tangannya saat ia gugup.
Bayangan itu sekarang terasa seperti lukisan lama yang warnanya luntur terkena hujan.
"Ibu Louisa Hartono?"
Panggilan petugas membuatnya tersadar.
Kata ibu membuat punggung Louisa menegang. Ia belum pernah dipanggil begitu dalam konteks seperti ini. Bukan Bu Louisa sebagai pekerja kantor. Bukan Ibu sebagai pelanggan. Melainkan perempuan dewasa yang sebentar lagi memiliki status hukum baru.
"Iya," jawabnya.
"Silakan tanda tangan di sini, sini, dan sini."
Louisa mengambil bolpoin.
Tangannya sedikit gemetar pada tanda tangan pertama. Pada tanda tangan kedua, ia menahan napas. Pada tanda tangan ketiga, ia mendengar tawa pasangan di meja sebelah.
"Aku gugup banget," kata perempuan berkebaya itu.
"Pegang tanganku," jawab calon suaminya.
Louisa tidak sengaja menoleh.
Laki-laki itu benar-benar menggenggam tangan perempuan itu di bawah meja. Mereka tersenyum satu sama lain, malu, bahagia, tidak peduli dunia.
Ada rasa ngilu kecil di dada Louisa.
Ia tidak cemburu kepada mereka. Tidak juga menyesal. Ia hanya merasa hidupnya terlalu aneh. Tiga hari lalu ia masih menjawab pesan Kevin tentang file vendor. Hari ini, ia duduk di kursi plastik kantor pemerintah, menandatangani dokumen pernikahan dengan Nathanael Susanto.
Satu tahun.
Hanya satu tahun.
Ia mengulang kalimat itu dalam hati, seperti orang memegang pegangan tangga saat turun di tempat gelap.
"Selesai," ucap petugas.
Louisa meletakkan bolpoin.
Nathanael menerima dokumen itu dari petugas, lalu menandatangani bagian miliknya. Tanda tangannya tegas, rapi, tidak bergetar sama sekali. Namun Louisa melihat ibu jarinya menekan bolpoin sedikit lebih kuat dari sebelumnya.
Apakah dia juga gugup?
Pertanyaan itu datang tanpa izin.
Setelah tanda tangan selesai, petugas memberi mereka salinan tanda terima, akta nikah sementara, dan jadwal pengambilan hard copy legalisir. Suaranya datar, profesional. Tidak ada musik. Tidak ada bunga. Tidak ada ucapan panjang.
"Selamat, ya," kata petugas itu akhirnya, dengan senyum singkat.
Kata selamat itu jatuh di antara mereka.
Louisa menatap kertas tanda terima di tangannya.
Selamat atas apa?
Atas pernikahan yang dimulai dari patah hati? Atas kontrak satu tahun? Atas keberanian yang mungkin hanya bentuk lain dari kelelahan?
"Terima kasih," jawab Nathanael.
Louisa terlambat setengah detik. "Terima kasih."
Mereka keluar dari ruangan bersama.
Di koridor, pasangan berkebaya tadi sedang mengambil foto. Perempuan itu memegang buket kecil di depan dada, sementara laki-lakinya mencium punggung tangannya. Teman mereka menghitung, "Satu, dua, tiga!"
Klik.
Louisa berjalan melewati mereka sambil menatap lurus.
"Kamu mau foto?" tanya Nathanael tiba-tiba.
Louisa hampir tersandung langkahnya sendiri.
"Apa?"
"Untuk dokumen pribadi. Atau kalau suatu hari kamu perlu bukti."
Tentu saja. Bukti. Bukan kenangan.
Louisa menggeleng. "Nggak perlu."
"Baik."
Tidak ada desakan.
Mereka sampai di lobi. Nathanael membuka pintu kaca lebih dulu. Panas langsung menyambut, membuat Louisa otomatis menyipitkan mata.
Ia masih memegang map di depan dada. Di dalam map itu ada tanda terima yang menyebut namanya dan nama Nathanael dalam satu urusan yang sama. Ia ingin menatapnya lagi, tapi terlalu takut kertas itu akan terasa makin nyata.
"Hari ini kamu mau ke kantor?" tanya Nathanael.
"Mungkin."
"Kamu baru mencatatkan pernikahan."
"Justru karena itu aku butuh melakukan sesuatu yang normal."
Nathanael terdiam sebentar. "Kalau normal bagimu berarti kembali diminta mengurus file Kevin, mungkin hari ini kamu bisa memilih normal yang lain."
Louisa menoleh.
Kalimat itu tidak tajam, tapi tepat.
Ia ingin membantah. Tidak bisa.
Ponselnya sejak pagi memang sengaja ia silent. Entah berapa pesan kantor yang masuk. Entah apakah Kevin bertanya di mana file lain, jadwal lain, kebutuhan lain.
Louisa menarik napas. "Aku akan pulang dulu."
"Ke apartemen?"
"Iya."
"Aku antar."
"Nathanael."
"Aku tahu. Kamu bisa sendiri." Ia menatapnya. "Tapi hari ini panas."
Alasan itu begitu sederhana sampai Louisa tidak tahu harus menolak dari sisi mana.
Mereka menuruni tangga depan Kantor Catatan Sipil. Matahari jatuh tepat di atas kepala. Louisa mengangkat tangan hendak menahan silau, tetapi sebelum telapak tangannya sampai ke dahi, bayangan abu gelap sudah menutupi wajahnya.
Nathanael berjalan setengah langkah di sampingnya, sedikit lebih dekat dari biasanya. Ia mengangkat map kulitnya, menahan cahaya matahari agar tidak mengenai mata Louisa.
Louisa tidak langsung sadar.
Ia hanya merasa silau itu berkurang.
Di tangannya, kertas tanda terima bergerak pelan tertiup angin.
Di sebelahnya, Nathanael terus menahan map itu sampai mereka tiba di mobil, tanpa mengatakan apa pun.