Zakia tak pernah membayangkan hidupnya bisa berubah total karena fitnah yang ia dapatkan. Di usia yang masih muda yakni 22 tahun, Zakia terpaksa melewati jalan hidupnya dengan cara bekerja tanpa kenal lelah, semua itu ia lakukan demi membantu keluarganya. Bahkan, keinginannya untuk melanjutkan kuliah terpaksa ia urungkan demi membantu keluarga untuk mencicil motor.
Zakia selalu menatap langit dan berharap bisa mendapatkan setitik kebahagiaan di sela-sela kesengsaraan yang ia Terima. Namun siapa sangka, harapan kecil itu terpaksa runtuh dalam satu hari. Sebuah fitnah yang tidak pernah ia bayangkan menghancurkan nama baiknya, mulut manusia lebih cepat menyebarkan fitnah dari pada fakta, hal itu membuat hidup penuh dengan penenakan.
Akhirnya, demi menyelamatkan kehormatan kedua mempelai keluarga, Zakia dan pria itu terpaksa menjalan pernikahan. Akankah mereka akan menjadi pasangan yang penuh cinta? Atau hanya menjadi pasangan suami istri di atas kertas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oceanluv_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Bugh!
Tangan yang terkepal kuat dan memiliki tenaga sekeras baja itu menyentuh sudut bibir Daren sampai mengeluarkan darah. Pria yang bernama Daren itu diam, tidak membalas dan tidak mencela.
Sedangkan bu Lili sudah menahan tangan suaminya agar tidak memukuli anak mereka lagi. Hati seorang ibu mana yang tidak sakit saat anaknya dihakimi tanpa mendengarkan penjelasan.
"Kalau kamu masih diam, papa anggap kamu mencelakai Zakia," ujarnya dingin.
Daren mendongakkan kepalanya, "Darena ga ngelakuin itu."
"Daren sedikitpun ga ada nyentuh dia, foto yang papa lihat itu sebetulnya jauh dari cerita yang disebarkan ibu itu, Zakia itu hampir diperkosa di gudang!" jelasnya.
Lili terkejut, karyawan wanita mereka satu itu hampir diperkosa? Bahkan kejadian itu hampir terjadi di tempat aman seperti itu?
"Papa kalau ga percaya, silahkan tanya langsung sama Zakia, biar dia yang ngejelasin semuanya, Daren ga bohong atau ga lihat aja cctv, biar ada bukti juga," jelasnya lagi.
"Buk Lili, kak Zakia udah sadar. "
Pandangan ke tiga orang dewasa itu beralih ke arah pintu, itu Dinda dan akhirnya kabar menggembirakan itu terdengar di telinga mereka. Bu Lili yang tadi ya memegang lengan suaminya langsung pergi meninggalkan mereka berdua, Zakia, bagaimanapun dia kunci semuanya, penjelasan ada padanya dan lebih parah lagi anak itu pasti terkejut dengan situasi yang baru saja dia alami.
"Zakia, Nak? Kamu gapapa?"
Pelukan hangat langsung Lili berikan, kepala gadis itu ia letakkan di bawah dagunya dan mengusapnya pelan. Zakia pasti tidak menyangka dengan semua ini, saking tidak sangkanya dia bahkan tidak menangis, tidak berbicara dan tidak mengatakan apa-apa, dia hanya diam. Tapi raut wajah dan tatapan mata sudah bisa menjelaskan semuanya.
"Kak Zakia minum dulu," tawar Dinda. Segelas air putih ia minum dibantu oleh Dinda, karena memang saat ini tubuhnya terlalu lemah untuk melakukan apapun.
"Zakia, kamu gapapa?" Itu suara pak Jamrud yang juga terdengar gelisah dan khawatir, kepala yang tadi sedang menunduk langsung mendongar begitu mendengar suara pak Jamrud.
Namun pandangan Zakia bukan ke arah pak Jamrud, melainkan ke arah pria di belakangnya, pria yang hanya diam dan tidak berekspresi sehingga Zakia bingung ingin menanggapinya seperti apa.
"M-makasih," ujarnya pelan.
Pak Jamrud dan Bu Lili saling pandang.
"Makasih? Makasih untuk apa Nak?" tanya bu Lili.
"Makasih karena udah nyelametin gue," jawabnya tanpa mengalihkan pandangan dari Daren. Daren yang diajak berbicara tidak mengatakan apapun
"Zakia, tolong kasi tau yang sebenarnya," bujuk bu Lili memohon.
"Bapak emang ada nyuruh Daren ke gudang karena mau ngambil barang, tapi tiba-tiba ada ibu-ibu yang marah, ngomong yang tidak-tidak sama kami tentang kalian berdua," jelas pak Jamrud.
Zakia menunduk, sekilas ia kembali teringat bagaimana kejadian pria tak dikenalnya itu bisa masuk dan tiba-tiba berniat memperkosanya, dia tidak kenal dan bahkan tidak pernah bertemu, tapi bisa berbuat jahat kepadanya.
"Bu Lili, mamanya kak Zakia ada di luar." Reza tiba-tiba datang dengan segelas teh di tangannya, teh hangat yang sengaja dibuat agar kepala Zakia lebih tenang karena kejadian itu.
"Suruh masuk aja," suruh bu Lili. Reza mengangguk dan pergi ke depan, satu bilah pintu ia buka pelan dan ibu Zakia langsung menerobos masuk diikuti dengan Rega di belakangnya.
"Zakia, Nak, siapa yang membuat kamu kayak gini!"
Air mata tak bisa lagi dibendung, apalagi saat melihat kaki Zakia yang lebam dan wajahnya tergores serta rambutnya berantakan, bisa dipastikan kondisi Zakia jauh dari kata baik-baik saja.
"Ya Allah Nak." Tubuh Zakia ditarik ke pelukan ibu kandungnya, Zakia yang sedari tadi menahan tangis begitu mendengar tangisan ibunya, air mata yang ia tahan langsung turun tanpa permisi.
"Kak Zakia, siapa yang bikin lo kayak gini, kasi tau gue!"
Itu Rega, adik satu-satunya yang walaupun mereka sering berkelahi tapi jika dalam situasi seperti ini Rega tidak bisa tenang, Zakia menatap adiknya lalu menggeleng. Zakia tau, Rega jika sudah marah maka orang yang bersangkutan akan dihajarnya habis-habisan.
"Kak," panggilnya pelan. Intonasi suaranya semakin lemah, dirinya yang tadinya berdiri kini jongkok guna bis sejajar dengan sang kakak, tangan kecil sang kakak digenggam dan ia menjatuhkan kepalanya diatas tangan Zakia.
"Kak, oke kalau lo ga mau kasi tau orangnya, tapi maaf ya, kali ini gue ga bisa nahan diri, gue bakal cari orang yang udah buat lo kayak gini, jangan halangi gue," katanya tegas.
"Gue ga tau orangnua Rega, gue hampir diperkosa sama dia, syukurnya bang Daren ada di situ dia bantu gue, kalau dia ga ada mungkin tubuh gue udah kotor karena disentuh sama dia," sahut Zakia.
"Enggak Nak, anak mama sampai kapanpun ga bakal kotor, sekalipun kamu tadi sempat disentuh sama dia ga membuat kamu kotor, kamu tetap anak mama." Bu Sinta mencoba menenangkan anaknya walaupun dia sendiri masih terpukul atas kejadian ini.
"Zakia, jadi kamu benar tidak dicelakai oleh Daren?" Pak Jamrud akhirnya bersuara, sedangkan yang dituduh hanya bisa membuang nafas lelah. Tidak sengaja terlibat tapi selalu dituduh jadi pelaku utama.
"Zakia tolong ceritain semuanya dengan benar, biar tidak ada kesalah pahaman di sini," kata bu Lili.
Zakia meneguk ludah, "Tadi kan Zakia disuruh sama pak Jamrud ke gudang buat nge cek stok sirup karena ini bentar lagi puasa, Zakia masuk ke dalam gudang tapi lupa nutup dan ngunci pintu, jadi pas Zakia nge cek barang Zakia memang dengar ada suara langkah kaki, Zakia ga liat karena mikirnya Reza yang masuk, suaranya sempat hilang, perasaan Zakia ga enak dan langung melihat ke belakang ga taunya dia ..."
Nafas Zakia tercekat, dadanya begitu sesak, susah rasanya ingin melanjutkan cerita ke bagian selanjutnya, bagian yang membuat ia merasa trauma dan terkejut.
"Dia apa Nak? Cerita pelan-pelan aja, kami ga akan ngehakimi kamu, karena kamu di sini korban," kata bu Lili dan mengusap bahunya.
"Dia buka paksa kancing kemeja Zakia, Zakia ngelawan dan ngelempar dia pakai botol sirup, tapi pecahan botol sirup itu digoreskan di pipi Kia dan kaki Kia dipukul pakai balok kayu sebanyak tiga kali, m-mulut Kia dibekap sama tangannya, alhasil Kia ga bisa ngelawan lagi," lanjutnya.
Semua orang yang berada di situ meringis ngilu, membayangkan betapa ketakutannya dirinya saat itu, kalah tenaga, kalah properti yang akhirnya membuat Zakia terdiam lemah tanpa tenaga sedikitpun.
"Terus ga berapa lama bang Daren datang narik dia, karena tangan dia udah buka kancing celana Zakia dan udah mau diturunin," lanjutnya lagi.
Jangan tanya muka Rega semerah apa saat ini, rasanya dia ingin meninju apapun yang ada didekatnya untuk melampiaskan emosinya.
"Terus ga berapa lama bang Daren datang dan nonjok dia, pegangan dia sama Kia lepas, abistu Kia jatuh dan ga tau apa-apa lagi," lanjutnya lagi.
Zakia menceritakan itu semua dengan intonasi tenang, tapi air matanya tak berhenti turun, dirinya terlalu lelah untuk. sekedar terisak, biarkan air mata dan intonasi suaranya yang menjelaskan semuanya.