4 tahun lalu, Naomi Liem dipaksa meninggalkan satu-satunya orang yang pernah dicintainya.
Dia hampir mati karenanya.
4 tahun kemudian, Darren Wijaya kembali — pewaris konglomerat terkaya, pria dengan mata rubah yang berbahaya, dan senyum yang bisa menghancurkan dunianya.
"Aku sudah menunggu 4 tahun. Kali ini, aku tidak akan melepaskanmu."
Yang tidak Naomi ketahui: Darren sudah diam-diam mencintainya selama 10 tahun. Sejak bangku SMA. Tanpa pernah goyah.
Yang tidak Darren ketahui: Ada rahasia gelap di balik perpisahan mereka — dan musuh yang jauh lebih berbahaya dari yang mereka bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Bab 31
Teh Sore Helena
Keesokan siangnya, Helena mengundang Naomi ke teh sore keluarga.
Undangan itu disampaikan melalui pelayan dengan nada terlalu resmi untuk acara yang katanya santai. Darren langsung ingin menolak, tetapi Naomi menahan tangannya.
"Aku bisa datang," katanya.
"Dengan bahu dibalut dan leher masih sakit?"
"Justru karena itu. Kalau aku terus disembunyikan, Helena akan bilang aku tidak sanggup duduk di meja keluarga."
Darren menatapnya lama. "Aku ikut."
"Ini teh sore perempuan."
"Aku bisa minum teh."
Naomi tertawa pelan. "Kamu bisa menunggu di luar."
"Delapan langkah."
"Sepuluh. Ruang teh kecil."
"Sembilan."
"Deal."
Ruang teh berada di sisi taman, penuh cahaya sore dan aroma bunga melati. Helena duduk di kursi utama, dikelilingi beberapa kerabat perempuan yang datang entah dari mana begitu cepat. Felicia berdiri di belakang ibunya dengan senyum tipis. Ada kain batik mahal, perhiasan mutiara, dan tatapan ingin tahu yang disembunyikan di balik cangkir porselen.
Naomi masuk dengan gaun sederhana warna abu-abu muda, syal lembut menutupi bekas di leher, dan bahu kiri yang masih kaku.
"Naomi," Helena menyapa. "Kami hanya ingin mengenalmu lebih dekat."
"Terima kasih sudah mengundang saya, Tante."
Seorang tante jauh langsung bertanya, "Keluarga Liem dari cabang mana?"
Felicia menunduk, jelas menahan senyum.
Naomi mengambil cangkir teh. "Cabang kecil yang tidak masuk buku silsilah keluarga besar mana pun."
Beberapa orang saling pandang.
Helena tersenyum. "Jangan tersinggung. Di keluarga kami, asal-usul penting."
"Saya tidak tersinggung." Naomi menyesap teh sedikit. "Di pekerjaan saya juga begitu. Asal kain, asal jahitan, asal ide. Kalau salah asal, hasilnya terlihat murah meski bahannya mahal."
Salah satu kerabat yang memakai kebaya modern langsung tertarik. "Kamu benar-benar mendesain sendiri?"
"Iya."
"Aku lihat foto gaun birumu di Instagram Darren. Itu rancanganmu?"
"Betul."
Percakapan yang tadinya disusun untuk mengupas latar belakang Naomi pelan-pelan berubah arah. Kerabat perempuan mulai bertanya tentang potongan leher yang cocok untuk bahu lebar, warna gaun untuk pesta sangjit, dan kenapa beberapa satin mahal justru terlihat berat di kamera.
Helena mencoba menarik kembali kendali. "Kita sedang bicara keluarga, bukan toko."
Naomi tersenyum. "Maaf, Tante. Saya pikir keluarga besar juga perlu tahu apakah menantu baru bisa berguna."
Seorang tante tertawa kecil. "Berguna sekali. Aku butuh gaun untuk gala bulan depan."
Felicia tidak tahan. "Maison de Belle masih menerima pesanan kecil begitu? Kupikir setelah menikah dengan Darren, Naomi tidak perlu menjahit lagi."
Naomi menatapnya. "Menjahit bukan hukuman, Felicia. Untuk saya, itu cara membangun nama."
"Tapi sekarang namamu Wijaya."
"Nama suami tidak menghapus tangan saya."
Ruangan hening sebentar, lalu kerabat yang tadi bertanya tentang gala mengangguk. "Bagus jawabannya."
Wajah Felicia merah.
Mungkin karena malu, mungkin karena kebiasaan, Felicia mengambil teko teh terlalu cepat. Ujung teko menyenggol buku sketsa kecil yang Naomi bawa. Teh melati tumpah ke atas meja, mengalir menuju halaman sketsa gaun bayi Natalia.
Naomi bergerak cepat, mengangkat buku itu dengan tangan kanan. Bahu kirinya tertarik dan sakit, tetapi ia berhasil menyelamatkan sketsa.
"Aduh," kata Felicia, suaranya terlalu manis. "Maaf. Tanganku licin."
Darren sudah bergerak di luar pintu, tetapi Naomi mengangkat tangan kecil, menghentikannya.
"Tidak apa-apa," kata Naomi. "Sketsanya selamat."
Kerabat yang tadi ingin memesan gaun menatap Felicia dengan ekspresi tidak nyaman. "Felicia, hati-hati. Itu tangan kirinya masih sakit."
Felicia makin merah.
Helena berkata dingin, "Kecelakaan kecil. Jangan dibesar-besarkan."
Naomi mengambil tisu, menyerap teh di meja, lalu tersenyum pada Felicia. "Benar, Tante. Kecelakaan kecil bisa terjadi pada siapa saja. Yang penting setelah itu orang belajar memegang sesuatu dengan benar."
Kalimat itu terdengar seperti bicara tentang teko. Semua orang tahu bukan hanya itu.
Ponsel Helena bergetar di meja. Ia melirik layar, dan wajahnya berubah. Entah siapa yang mengirim pesan, tetapi beberapa detik kemudian Olivia masuk ke ruang teh dengan langkah tenang.
"Aku dengar ada teh sore," kata Olivia.
Helena memaksakan senyum. "Kau datang terlambat."
"Tidak. Aku datang saat perlu."
Olivia berdiri di samping Naomi, melihat noda teh di meja dan buku sketsa yang diselamatkan. Ia tidak bertanya apa yang terjadi. Ia hanya mengambil buku itu, membukanya sebentar, lalu berkata pada kerabat lain, "Naomi mendesain ini untuk calon putri Natalia. Cantik, bukan?"
Para tante langsung mendekat.
Dalam satu kalimat, Olivia mengubah sketsa yang hampir disiram menjadi pusat perhatian.
Naomi menatapnya, dada terasa hangat.
Olivia mengembalikan buku itu. "Jangan biarkan teh buruk merusak gambar bagus."
Darren di luar pintu menunduk, bahunya bergerak kecil karena menahan tawa.
Helena meletakkan cangkirnya. "Kamu pandai bicara."
"Saya belajar karena dulu tidak ada yang bicara untuk saya."
Darren yang berdiri di luar pintu kaca mendengar kalimat itu. Naomi melihat bayangannya bergerak sedikit, mungkin ingin masuk, tetapi ia tetap di tempat. Untuk sekali ini, ia membiarkan Naomi menyelesaikan pertarungannya sendiri.
Teh sore itu berakhir dengan tiga calon klien baru untuk Maison de Belle dan Helena yang hampir tidak menyentuh kue di piringnya.
Saat Naomi keluar, Darren menyodorkan jaket tipis ke bahunya yang sehat.
"Menang?" tanyanya.
"Tidak. Aku hanya tidak kalah."
"Itu definisi menang di Rumah Besar."
Naomi menatap ruang teh di belakangnya. Helena masih duduk tegak, tetapi jemarinya mencengkeram cangkir terlalu kuat.
"Dia tidak akan berhenti," kata Naomi.
"Aku tahu."
Naomi menggenggam tangan Darren. "Bagus. Aku juga belum selesai."