NovelToon NovelToon
Dikira Miskin: Ternyata Suamiku CEO

Dikira Miskin: Ternyata Suamiku CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:985
Nilai: 5
Nama Author: fareva

Larasati, wanita pekerja keras yang sudah lelah hidup dalam kesulitan dan pernah terluka oleh orang yang hanya mementingkan harta, jatuh hati pada Agung—pria sederhana yang tampak tidak memiliki apa-apa, namun selalu menyayanginya dengan tulus dan penuh perhatian. Meski diperingatkan kerabat dan teman agar tidak membuang waktu pada pria yang dianggap tidak mampu mensejahterakannya, Larasati tetap teguh memilih Agung. Mereka menikah dengan sangat sederhana, berjanji untuk membangun kehidupan bersama dalam suka maupun duka.

Selama berbulan-bulan mereka berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan gaji yang pas-pasan, namun kasih sayang Agung tak pernah berkurang sedikitpun. Hingga suatu hari, kedatangan seorang pria tua berwibawa dengan mobil mewah mengubah segalanya. Larasati akhirnya mengetahui kenyataan yang disembunyikan Agung selama ini: suaminya bukanlah orang miskin, melainkan pewaris tunggal keluarga konglomerat Wijaya yang sengaja menyamar menjadi orang biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Sidang Rakyat di Lereng Gunung

Hari ketiga sejak kotak besi terbuka, udara di desa lereng Gunung Sumbing terasa lebih panas dari terik matahari di atas kepala. Lapangan luas di depan balai desa sudah penuh sesak oleh lebih dari dua ribu orang: warga desa dari penjuru gunung, aktivis tanah yang didatangkan dari kota, para wartawan yang berdesakan membawa kamera, serta ratusan massa bayaran yang membawa spanduk besar bertuliskan KEMBALIKAN TANAH HARDO, TURUNKAN KELUARGA SARASWATI PENCURI.

Di panggung kayu yang didirikan di tengah lapangan, Kevin Darmawan berdiri gagah dengan kemeja putih lengan digulung, wajahnya tampak penuh simpati palsu. Di sampingnya duduk Mbah Hardo yang memegang tongkat kayu erat-erat, mata tua itu menyala dendam yang telah dipendam empat generasi.

“Saudara-saudara sekalian!” seru Kevin melalui pengeras suara, suaranya lantang menggema ke seluruh penjuru lapangan. “Selama seratus tahun keluarga Saraswati hidup mewah di atas tanah curian! Mereka membangun kerajaan bisnis triliunan rupiah dari keringat kita, dari tanah milik leluhur keluarga Hardo yang dirampas dengan cara licik! Bahkan mereka tega membunuh Ratu, putri tunggal keluarga Hardo, hanya supaya kejahatan mereka tidak terbongkar! Hari ini kita tuntut keadilan! Tanah kembali ke pemilik sah! Saraswati Group harus bubar!”

Teriakan massa meletus bersamaan. Sebagian mengamuk, sebagian lagi ragu-ragu, tapi hasutan yang disebarkan selama tiga hari terakhir lewat pesan berantai dan orang-orang bayaran sudah cukup memecah belah kepercayaan warga yang selama ini setia pada keluarga Saraswati. Beberapa petani tua yang dulu pernah ditolong Bu Wulan pun kini tampak bingung, tidak tahu harus percaya pada siapa.

Tepat saat Kevin mengangkat tangan memimpin teriakan tuntutan, deru mesin mobil mewah masuk dari ujung jalan desa. Satu mobil pengawal di depan dan belakang, satu mobil hitam besar di tengah. Semua mata tertuju ke sana.

Pintu mobil terbuka. Agung turun lebih dulu, lalu mengulurkan tangan membantu istrinya turun. Ia mengenakan kemeja putih polos dan celana kain hitam sederhana — persis seperti pakaian yang biasa ia pakai sebelas tahun lalu saat masih hidup serabutan di kontrakan kumuh, bukan setelan mahal CEO konglomerat. Di belakang mereka menyusul Ibu Saras, Aditya, Arif yang wajahnya kini lebih tegap, serta Lala dan Bagas yang berjalan berani meski ribuan mata tertuju pada mereka.

Tidak ada pengawal yang mendorong massa. Tidak ada sikap sombong. Agung justru berjalan mendekat, bersalaman dengan satu per satu warga tua yang ia kenal, menanyakan kabar anak dan kebun mereka seolah ini bukan medan perang, tapi kunjungan rutin seperti yang biasa ia lakukan setiap bulan.

“Lihat itu! Mereka datang mau menyuap kita lagi!” teriak salah satu orang bayaran Kevin dari tengah kerumunan. “Jangan percaya pada janji manis mereka!”

Massa kembali ricuh. Beberapa orang melemparkan botol plastik kosong yang mendarat tidak jauh dari kaki Larasati. Agung segera melangkah berdiri di depan istrinya, melindunginya dengan tubuhnya sendiri tanpa ragu sedikit pun. Tatapannya dingin menyapu seluruh kerumunan, membuat orang-orang yang tadinya berteriak perlahan diam satu per satu.

“Cukup,” suara Agung rendah, tapi terdengar jelas sampai ke ujung lapangan berkat mikrofon yang diambilnya dari tangan petugas acara. “Kalau kalian datang untuk menuntut keadilan, baiklah. Kita bicara adil-adilan. Tidak ada teriakan, tidak ada kebohongan. Hanya fakta.”

Ia melangkah ke tengah panggung, berdiri tepat berhadapan dengan Kevin dan Mbah Hardo. Wartawan mulai memotret dengan rakus. Ini momen yang ditunggu seluruh negeri: konfrontasi langsung antara pewaris konglomerat terbesar melawan keluarga yang menuduhnya pencuri tanah.

“Saya Agung Pratama Saraswati,” mulainya tenang. “Banyak dari kalian yang mungkin baru tahu nama saya sepuluh tahun terakhir, sebagai pemimpin Saraswati Group. Tapi mungkin tidak banyak yang tahu: sebelas tahun lalu, saya hidup di kontrakan seluas tiga kali empat meter di pinggir kota, makan sehari sekali kalau sedang beruntung, kerja serabutan dari angkat barang sampai cat rumah, dan sering tidak punya uang bayar listrik sampai istrinya yang harus lembur tambahan untuk menutupi kekurangan.”

Kerumunan terkejut bergumam. Mereka tidak menyangka CEO sebesar Agung pernah hidup seburuk itu.

“Saya sengaja hidup seperti itu atas perintah almarhumah nenek saya, Bu Wulan,” lanjut Agung, matanya menatap tajam ke arah Kevin yang mulai gelisah. “Beliau mau saya tahu rasanya menjadi rakyat kecil, tahu rasanya ditindas, tahu rasanya tidak punya siapa-siapa untuk berpaling. Dan selama tiga tahun menjalani itu, satu-satunya yang tidak pernah meninggalkan saya adalah istri saya di sini — Larasati. Dia tidak tahu siapa saya sebenarnya. Dia mencintai saya saat saya tidak punya sepeser pun harta. Dia yang menopang saya saat saya jatuh. Dan karena itulah, saya tahu persis bagaimana rasanya ditipu, bagaimana rasanya janji yang diingkari, bagaimana rasanya orang kuat menindas yang lemah.”

Agung berhenti sejenak, lalu melepas cincin jabatan CEO dari jarinya, meletakkannya di atas meja panggung dengan bunyi klik yang jelas.

“Hari ini saya pertaruhkan semua ini. Jabatan saya, seluruh saham saya di Saraswati Group, seluruh harta pribadi saya. Jika nanti terbukti saya dan keluarga saya benar-benar mencuri tanah ini, benar-benar terlibat hilangnya Ratu seratus tahun lalu, saya akan mundur dari jabatan hari ini juga, serahkan seluruh aset perusahaan pada negara, dan saya sendiri yang akan menyerahkan diri ke pihak berwajib untuk dihukum seberat-beratnya.”

Suasana menjadi hening total. Tidak ada yang menyangka Agung akan bertaruh sebesar itu. Bahkan Mbah Hardo pun tertegun, tidak menyangka musuh bebuyutan keluarganya punya nyali sebesar itu.

“Tapi,” lanjut Agung suaranya mengeras, tajam seperti pisau yang dihunus ke arah Kevin. “Kalau nanti terbukti semua tuduhan ini hanyalah kebohongan rekayasa kalian untuk merebut tanah ini demi kepentingan serakah kalian sendiri — saya tidak akan segan memproses kalian secara hukum sampai ke akar-akarnya. Tidak ada ampun.”

Kevin berkeringat dingin. Ia berusaha tetap tenang, tertawa sinis.

“Omong kosong besar! Apa buktinya kalian tidak bersalah? Surat perjanjian pinjam tanah ada di tangan kami! Tanda tangan kakek buyutmu ada di sana!”

Saat itu, Larasati melangkah maju mengambil alih mikrofon dari tangan suaminya. Ia mengenakan dress biru tua sederhana, rambutnya diikat rapi, wajahnya cantik namun tegas — wajah wanita yang dulu pernah berani menghadapi preman pasar sendirian demi melindungi dagangannya, wajah wanita yang kini menjadi otak paling cerdas di balik seluruh kejayaan Saraswati Group selama sepuluh tahun terakhir.

“Kalian benar, Kevin. Memang ada surat itu,” jawab Larasati tenang, membuat semua orang terkejut. “Tapi kalian sengaja tidak menceritakan seluruh kebenaran di balik surat itu.”

Ia lalu bercerita perlahan, lantang dan jelas, mengulang semua yang mereka temukan di kotak besi: tentang pemberontakan zaman kolonial, tentang ancaman penguasa yang akan menyita seluruh tanah dan membuang keluarga Hardo ke pulau pembuangan, tentang pengorbanan kakek buyut Saraswati yang menjual seluruh harta keluarganya demi membeli tanah itu secara resmi dari pihak kolonial, tentang surat pinjam palsu yang dibuat semata-mata supaya tanah itu tidak disita negara. Tentang bagaimana kakek buyut mereka rela dicap sebagai pencuri, rela dikutuk seumur hidup, demi menyelamatkan nyawa Ratu dan seluruh keluarga Hardo.

“Dan tentang hilangnya Ratu…” Larasati berhenti sejenak, lalu memberi isyarat. Arif melangkah maju ke tengah panggung, berdiri tepat di hadapan Mbah Hardo yang menatapnya bingung. Arif melepas kalung perak liontin huruf R dari lehernya, lalu menunjukkan foto bayi Ratu yang ditemukan di kotak besi.

“Saya Arif,” suaranya parau namun tegas. “Anak kandung Ratu. Cucu dari keluarga Hardo sekaligus cucu angkat Bu Wulan. Selama empat puluh tahun saya hidup di tengah keluarga Saraswati, tidak tahu siapa diri saya sebenarnya. Tapi sekarang saya tahu: takdir saya bukan untuk melanjutkan perang saudara. Takdir saya untuk mengakhirinya.”

Mbah Hardo terhuyung mundur. Tangan tuannya gemetar memegang foto itu, lalu membandingkan wajah Arif dengan wajah Ratu yang tergambar dalam lukisan tua yang selalu ia simpan di rumah. Kesamaannya tidak mungkin disangkal. Air mata tua itu akhirnya menetes juga.

“Ratu… cucuku…” gumamnya lirih.

Larasati melanjutkan pidatonya, kali ini suaranya bergetar karena emosi, menggetarkan hati setiap orang yang mendengar:

“Saya bukan lahir dari keluarga kaya. Sebelum menikah dengan suami saya, saya cuma anak karyawan swasta yang hidup dari gaji ke gaji. Saya tahu betul rasanya bangun pagi-pagi sekali bekerja keras hanya supaya bisa makan layak. Dan karena itulah saya tahu: semua keributan ini bukan soal tanah, bukan soal dendam keluarga lama. Ini soal segelintir orang serakah yang mau memanfaatkan penderitaan kalian demi menguasai emas raksasa yang ada di bawah tanah perkebunan ini! Emas yang nilainya ratusan triliun, yang kalau jatuh ke tangan mereka — bukan kalian yang akan menikmati hasilnya. Mereka akan mengusir kalian semua dari desa ini, menambang tanah sampai gundul, lalu pergi meninggalkan kalian dengan lingkungan yang rusak dan nasib yang lebih buruk dari sekarang!”

Ia menunjuk Kevin dengan tegas.

“Tanya pada dia! Berjanji memberi kalian harga beli kopi lebih tinggi? Modal tanam gratis? Itu semua omong kosong! Selama ini kelompoknya Kevin sudah membeli tanah di lima desa lain di sekitar gunung ini. Apa yang terjadi pada warganya? Diusir paksa, tidak diberi ganti rugi sepeser pun! Dan sekarang mereka mau melakukan hal yang sama pada kalian — dengan memecah belah kita, membuat kita saling membenci, supaya mereka mudah masuk mengambil semuanya!”

Massa mulai bergemuruh. Kini bukan lagi teriakan menghina keluarga Saraswati, tapi teriakan kaget dan marah yang mulai mengarah ke arah Kevin. Beberapa warga yang sempat dihasut mulai menyadari kebohongan. Mereka ingat betul bagaimana keluarga Saraswati selalu ada saat kesulitan: saat gagal panen, saat anak sakit butuh biaya, saat jalan desa rusak. Tidak pernah sekalipun mereka diusir atau ditinggalkan.

“Bohong! Semua itu bohong!” teriak Kevin panik, mencoba berteriak menenggelamkan suara kerumunan. Ia memberi isyarat pada orang-orang bayarannya untuk mulai menciptakan kekacauan lagi.

Tapi sebelum sempat terjadi, Dimas berlari masuk ke tengah panggung membawa laptop yang terhubung ke layar besar. Di layar itu, diputar rekaman percakapan tersembunyi antara Kevin dengan anak buahnya — di mana mereka tertawa membicarakan cara mengusir warga, cara memalsukan bukti, dan berapa banyak uang yang akan mereka dapatkan setelah emas di bawah tanah berhasil mereka ambil. Juga ada bukti transfer jutaan rupiah dari rekening Kevin ke rekening orang-orang bayaran yang kini berdiri di tengah massa.

Kebenaran terbongkar telak.

Massa meledak dalam amarah yang sesungguhnya kali ini. Mereka berbalik menyerbu ke arah panggung, memaki Kevin dan antek-anteknya yang kini pucat pasi ketakutan. Beruntung tim keamanan yang dibawa Agung segera bertindak, mengevakuasi Kevin keluar dari lapangan sebelum ia dihakimi massa. Mbah Hardo tetap berdiri di tempatnya, tidak lari. Ia mendekati Arif, lalu memeluk cucunya yang baru ditemukannya itu erat-erat sambil menangis penyesalan, meminta maaf pada seluruh keluarga Saraswati atas semua tuduhan yang ia lontarkan.

Sore itu, sidang rakyat berakhir dengan kemenangan telak bagi kebenaran. Warga yang tadinya terpecah kini bersatu kembali, berjanji akan menjaga tanah dan desa ini bersama-sama dari tangan-tangan serakah.

Malam harinya, suasana kembali tenang di penginapan desa. Lampu minyak berkelap-kelip di dalam kamar, memantulkan bayangan bergoyang di dinding kayu. Larasati baru saja selesai mandi, rambutnya masih basah terurai panjang di punggung, ia mengenakan kemeja putih tua milik Agung yang terlalu besar untuk badannya — kebiasaan yang ia lakukan sejak masa kontrakan dulu, sampai sekarang tidak pernah berubah.

Agung duduk di tepi tempat tidur, masih memikirkan kejadian seharian. Pikirannya berputar pada satu pertanyaan: kalau Kevin cuma boneka, siapa sebenarnya otak besar di balik semua konspirasi ini? Orang yang punya kekuatan cukup untuk membiayai semua ini, yang tahu betul ada emas di bawah tanah, yang mau menunggu seratus tahun demi mendapatkannya.

Tiba-tiba sepasang tangan dingin melingkar dari belakang, memeluk pinggangnya erat. Dada hangat Larasati menempel di punggungnya, napas wanita itu berhembus pelan di lehernya, langsung menghilangkan semua penat dan pikiran berat yang ada di kepala Agung.

“Berhenti berpikir dulu, Yang,” bisik Larasati lembut. Bibirnya menyapu pelan cuping telinga suaminya, membuat Agung sedikit menggigil. “Kita sudah menang hari ini. Biarkan besok menyelesaikan masalahnya sendiri.”

Agung menarik tubuh istrinya berputar, sampai Larasati duduk di pangkuannya menghadapnya. Ia menatap wajah wanita itu dalam-dalam, masih tidak percaya betapa beruntungnya dia. Wanita yang dulu mau menerima dia apa adanya saat tidak punya apa-apa, wanita yang hari ini berdiri di depan ribuan orang menyelamatkan nama baik keluarganya dengan pidato yang menggetarkan dunia.

“Kamu luar biasa tadi, Laras,” ujar Agung parau. Tangannya yang besar mengusap lembut pipi istrinya, lalu turun membelai rambut basah itu. “Aku bangga sekali. Sangat bangga.”

Larasati tersenyum tipis, senyum yang hanya ada untuk suaminya. Ia mengaitkan kedua tangan di leher Agung, mendekatkan wajah mereka sampai napas saling bersentuhan.

“Kamu juga hebat. Berani mempertaruhkan semua yang kamu perjuangkan bertahun-tahun hanya demi membuktikan kejujuran. Ingat tidak dulu di kontrakan, kamu pernah bilang kalau suatu saat kamu akan membuktikan pada dunia bahwa kamu tidak akan pernah mengecewakanku?”

“Ingat,” jawab Agung cepat. “Dan aku belum selesai membuktikannya sampai sekarang.”

Ciuman yang terjadi setelah itu bukan ciuman penuh gairah liar seperti malam-malam sebelumnya. Ini ciuman yang lembut, penuh syukur, penuh penghormatan satu sama lain. Lidah mereka bertemu perlahan, berbagi rasa lelah dan lega setelah seharian berperang. Tangan Agung menjelajahi tubuh istrinya di balik kain kemeja tipis itu, menyentuh setiap lekuk yang sudah hafal di luar kepala, memastikan bahwa ini semua nyata — bahwa wanita terkuat yang pernah dia kenal benar-benar ada di sini, menjadi miliknya seutuhnya.

Ia membaringkan Larasati perlahan di atas tempat tidur, tubuhnya menindih lembut tubuh wanita itu tanpa pernah melepaskan ciuman mereka. Setiap sentuhan adalah janji. Setiap desahan adalah pengakuan. Saat mereka akhirnya bersatu, perlahan namun dalam, Larasati menggigit bahu suaminya menahan erangannya agar tidak terdengar ke kamar sebelah, sementara Agung membenamkan wajahnya di lekukan leher istrinya, bergumam nama wanita itu berulang kali seperti mantra yang menenangkan jiwanya.

Di luar, jangkrik berkicau bersahutan. Angin malam berhembus lembut membawa aroma tanah basah dan bunga kopi dari perkebunan di kejauhan. Tidak ada lagi teriakan massa, tidak ada lagi kebohongan, tidak ada lagi dendam yang mengganjal. Yang ada hanya mereka berdua: Agung dan Larasati — dua orang yang dipertemukan oleh ketidaktahuan akan harta, diuji oleh kebohongan identitas, dan akhirnya disatukan oleh cinta yang jauh lebih kuat dari semua nama besar dan kekayaan di dunia ini.

Ketika semuanya selesai, mereka tetap saling berpelukan telanjang di bawah selimut tipis. Larasati bersandar di dada bidang suaminya, mendengarkan detak jantung Agung yang teratur dan menenangkan. Jemarinya menggambar pola tak beraturan di kulit pria itu.

“Kevin lari,” bisik Larasati pelan. “Dia tidak akan diam. Dia pasti akan lapor pada orang yang ada di balik layar semua ini.”

Agung mengangguk pelan, mengecup ubun-ubun istrinya dalam-dalam.

“Aku tahu. Biarkan mereka datang. Semakin banyak musuh yang muncul, semakin jelas siapa kawan sejati kita. Dan yang terpenting…” Ia mengencangkan pelukannya. “…kita tidak pernah berjalan sendirian lagi. Dulu kita cuma berdua melawan dunia. Sekarang kita punya keluarga lengkap, ribuan petani yang berdiri di belakang kita, dan kebenaran di pihak kita. Apa pun yang mereka lempar besok, kita hadapi bersama. Seperti selalu.”

Larasati mengangkat wajah, mencium bibir suaminya sekali lagi sebentar namun penuh makna.

“Bersama,” ulangnya mantap.

Mereka tidak tahu bahwa di tempat yang jauh, di sebuah gedung pencakar langit tertinggi di Jakarta, seseorang sedang menonton rekaman sidang rakyat tadi siang dari layar besar di ruang kerjanya. Pria itu tersenyum tipis dingin, lalu menekan tombol interkom.

“Rencana A gagal. Aktifkan Rencana B. Targetkan titik terlemah keluarga Saraswati. Kali ini kita main lebih kasar. Kita serang anak-anak mereka.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!