NovelToon NovelToon
Miracle

Miracle

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Epik Petualangan / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:458
Nilai: 5
Nama Author: Ayyasy Asy-Syaif

Miracle. menceritakan Ayyasy dan teman-temannya yang hanya siswa biasa melihat bintang jatuh yang jatuh ke arah gunung belakang komplek mereka. mereka menyentuh batu itu dan mendapatkan kekuatan. setelah mereka mendapatkan kekuatan, ancaman ancaman dari monster monster mulai berdatangan. mereka pun harus menjadi penjaga dunia.
bersamaan dengan itu, mereka juga mulai bertemu dengan pahlawan pahlawan dari kota lain yang memiliki nama tim yang sama yaitu, Miracle

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayyasy Asy-Syaif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sadar

Malam hari yang tenang di markas Zenith. Setelah melalui pertarungan sengit di area perbatasan, para anggota Miracle dari empat kota berkumpul di ruang tengah yang luas.

Suasana terasa begitu hangat. Ada yang sedang menikmati camilan, ada yang sibuk main game, dan ada pula yang saling melempar candaan ringan tanpa ada lagi sekat gengsi di antara mereka.

Namun, di tengah keriuhan dan gelak tawa itu, Dimas yang sedang duduk bersandar di sudut sofa menatap lurus ke arah cangkir tehnya. Wajahnya yang biasa tenang kini berubah menjadi sangat serius.

"Kalian sadar gak sih?" celoteh Dimas tiba-tiba, memotong gelak tawa Sintia dan Vikka di sebelahnya.

Seluruh ruangan mendadak hening. Semua mata tertuju pada anggota Miracle Kosmik pemilik kekuatan waktu tersebut.

"Semenjak kita punya kekuatan dari bintang jatuh itu, banyak banget monster yang muncul ngga tau darimana asalnya," lanjut

Dimas dengan nada suara berat.

Arunnaqa yang tadinya sibuk mengetik di laptop holografiknya langsung menghentikan jemarinya. "Maksud lu, keberadaan monster-monster ini ada hubungannya sama meteorit yang kita temuin?"

"Bukan cuma ada hubungannya, Naq," timpal Tasya sambil melipat tangan di dada. "Analisis energi gue juga menunjukkan hal yang sama. Sebelum batu meteorit itu jatuh di empat kota kita, gak pernah ada catatan sejarah tentang serangan monster kayak gini."

"Berarti..." Ayyasy yang duduk di dekat jendela mulai mencerna arah pembicaraan. "Monster-monster itu muncul bukan karena kebetulan?"

"Tepat," sahut Davi penuh penekanan. "Bisa jadi, batu meteorit itu sebenarnya bukan sekadar 'hadiah' kekuatan buat kita. Tapi sebuah 'pemanggil' atau sinyal navigasi bagi mereka."

Night yang bersandar di dinding kegelapan menyipitkan matanya. "Atau mungkin... batu itu adalah pecahan dari inti kekuatan mereka yang jatuh ke bumi, dan monster-monster itu datang buat merebutnya kembali dari tangan kita."

Serafe yang mendengarkan dengan polos langsung memiringkan kepalanya. "Lho, kalau mereka cuma mau ngambil batu itu, kenapa harus merusak kota dan nyerang warga? Kan bisa ngomong baik-baik..."

Sintia menepuk jidatnya pelan, lalu merangkul bahu Serafe. "Serafe sayang... mereka itu monster, bukan tetangga yang mau pinjam piring."

Meskipun candaan Sintia sempat mencairkan suasana sejenak, wajah para pemimpin tim tetap terlihat tegang.

"Teori kalian masuk akal," ujar Azkailah sambil menggenggam erat gagang pedang halilintarnya. "Setiap kali kita ngeluarin kekuatan full power, gelombang energi yang dihasilkan seolah-olah bikin jalur buat monster yang lebih kuat untuk datang."

"Kalau gitu..." Gita membetulkan posisi senjatanya dengan raut cemas. "Makin sering kita bertarung dan pakai kekuatan ini, bakal makin banyak monster level tinggi yang terancam menyerbu kota kita?"

Arunnaqa berdiri, lalu memproyeksikan peta digital empat kota di tengah ruangan.

"Artinya, kita gak boleh cuma bertahan dan nunggu monster datang," tegas Arunnaqa sambil menatap 31 kawannya. "Kita harus cari tahu dari mana asal muasal meteorit itu sebenarnya. Sebelum ancaman yang lebih besar benar-benar melahap empat kota kita."

Ayyasy tersenyum tipis, berdiri di samping Arunnaqa, Tasya, dan Davi. "Gak peduli dari mana monster itu berasal atau sekuat apa ancaman berikutnya... kita udah terikat sebagai satu kesatuan. Kita bakal hadapi ini bareng-bareng."

Seluruh anggota Miracle dari Zenith, Cyber, Kosmik, dan Harvest mengangguk mantap. Kesadaran baru itu tidak membuat mereka takut, melainkan mempererat tekad mereka untuk melindungi dunia.

Dimas mulai beranjak dari tempat duduknya dan mengajak Tasya dan Arunnaqa untuk pergi ke ruang kendali.

Di ruang itu terdapat banyak teknologi canggih dari Cyber. Di depan ada sebuah layar besar yang menampilkan data-data Miracle, monster, rekaman serangan, bahkan radar untuk mendeteksi monster. Di tengah ruangan terdapat meja besar berbentuk bundar yang bisa menciptakan hologram.

Mereka bertiga mulai mencari tahu lebih lanjut tentang bintang jatuh dan monster.

Mereka mengambil DNA monster yang terbunuh dan menyelaraskannya dengan kekuatan dari 4 kota. Ternyata keduanya berbeda. Di energi DNA monster seperti ada energi gelap yang kuat.

"Lihat ini," ujar Arunnaqa sambil menunjuk proyeksi hologram yang berputar di atas meja bundar. "Struktur molekul energi kita murni dan stabil, bersumber dari pancaran kosmik meteor. Tapi energi monster ini... ada partikel kegelapan yang merusak dan invasif."

Tasya mendekati layar besar, jemarinya menari di atas panel kontrol holografik untuk menganalisis rekaman gelombang energi serangan monster beberapa waktu lalu.

"Energi gelap ini bukan sekadar mutasi alamiah. Polanya terlalu rapi, seperti sengaja diciptakan untuk menyerap dan menghancurkan."

"Sintesis datanya bikin gue makin yakin," timpal Dimas sambil menggeser grafik waktu ke masa lalu di layar monitor. "Setiap kali meteor jatuh, energi gelap ini mendadak melonjak tajam beberapa saat setelahnya.

Artinya, kekuatan bintang jatuh itu sebenarnya bertindak seperti 'umpan' atau 'kunci' yang memancing entitas kegelapan ini datang ke bumi."

Arunnaqa menarik napas panjang, menatap dua rekannya dengan raut muka serius. "Jadi monster-monster yang kita hadapi selama ini cuma pasukan pion. Ada 'dalang' atau sumber energi gelap raksasa di luar sana yang mengendalikan mereka dan menargetkan kekuatan Miracle kita."

Dimas mengangguk setuju. Ia mengunci data hasil analisis tersebut ke dalam memori server utama. "Kita harus bagikan temuan ini ke Ayyasy, Davi, dan seluruh tim besok pagi. Kita gak cuma bertarung lawan monster liar, tapi kita lagi berhadapan sama ancaman kegelapan yang terorganisir."

Malam semakin larut. Para Miracle satu per satu mulai tertidur. Ada yang tidur di kamar, di ruang tamu, bahkan sampai di ruang TV dengan posisi yang berantakan karena kelelahan setelah beraktivitas seharian.

Namun, Dimas masih berada di ruang kendali. Tatapannya menatap kosong ke arah layar monitor yang masih menyala redup. Rasa penasaran yang mendalam tentang asal muasal energi gelap itu terus mengusik pikirannya. Perlahan, ia mengangkat tangannya dan memutar jemarinya di udara.

Sebuah portal emas bercahaya redup terbentuk di depannya. Tanpa ragu, Dimas melangkah masuk ke dalam portal tersebut.

SREEEET!

Portal terbuka di sebuah sudut gang yang sepi dan gelap. Dimas keluar, lalu segera merogoh saku celananya untuk melihat layar HP-nya. Di layar tertera tanggal 18 Agustus 2026. Ia berhasil melompat kembali ke masa lalu—tepat pada hari di mana meteor bintang jatuh itu pertama kali menghantam bumi.

Dimas mengambil posisi di tempat tersembunyi di Kota Zenith. Dari kejauhan, ia menyaksikan momen bersejarah itu: bagaimana Ayyasy dan teman-temannya tidak sengaja bertemu, kepolosan Serafe yang mengundang senyum, hingga detik-detik ledakan cahaya saat kekuatan elemen mereka pertama kali bangkit. Ia mengamati semuanya dengan saksama sampai Ayyasy dan kawan-kawan akhirnya pulang ke rumah masing-masing.

Namun, saat Dimas hendak menyapukan pandangannya ke sekeliling tempat ledakan, ia menemukan sebuah keanehan yang tidak pernah terdeteksi sebelumnya.

Dari balik semak-semak yang gelap, muncul bayangan sosok tinggi besar yang diselimuti jubah hitam pekat. Sosok itu tidak memiliki wajah yang jelas, namun aura energinya terasa sangat dingin dan mencekam.

"Kau kembali ke masa lalu untuk mengetahui kebenaran, bukan?" ucap sosok bernada berat itu secara mendadak.

Belum sempat Dimas merespons atau melayangkan serangan, sosok misterius itu melenyapkan dirinya begitu saja menjadi asap hitam. Dimas tersentak kaget, jantungnya berdegup sangat kencang karena tekanan aura yang luar biasa mendadak itu.

Tanpa berpikir panjang, Dimas langsung membuka portal emasnya secepat mungkin dan melompat kembali ke masa sekarang.

Keesokan harinya.

Pagi yang cerah menyapa markas Zenith. Setelah seluruh anggota Miracle terbangun, sarapan bersama, dan mandi, mereka berkumpul di halaman belakang untuk bersiap melanjutkan latihan rutinitas.

Saat semua sudah bersiap dalam barisan, Tasya menyapu pandangannya ke sekeliling dan baru menyadari ada satu orang yang kurang.

"Lho, Dimas mana?" tanya Tasya heran. Ia kemudian menoleh ke arah Tsalwa. "Tsalwa, tolong samperin Dimas ke kamarnya dong,

panggil dia buat latihan."

"Oke, Sya," sahut Tsalwa lalu berjalan menuju area kamar.

Tidak lama kemudian, Tsalwa kembali ke lapangan belakang dengan raut wajah panik dan tergesa-gesa. "Guys! Dimas gak bisa latihan... dia sakit! Badannya panas banget!"

Mendengar kabar itu, Ayyasy, Tasya, Arunnaqa, Davi, dan seluruh anggota Miracle dari empat kota langsung berhamburan menuju kamar Dimas.

Saat pintu dibuka, terlihat Dimas terbaring lemah di atas kasur dengan wajah pucat dan keringat dingin membasahi dahinya. Efek dari memaksakan kekuatan perjalanan waktu dan paparan aura kegelapan semalam rupanya menguras habis daya tahannya.

Ayyasy mendekati tepi ranjang. "Dimas, lu

kenapa? Kok bisa mendadak demam tinggi begini?"

Dimas berusaha duduk bersandar dibantu oleh Serafe yang langsung mengalirkan sihir cahaya penyembuh hangat ke tubuhnya. Dimas menarik napas panjang, menatap wajah kawan-kawannya yang dipenuhi rasa cemas.

"Maaf... semalam gue ngelakuin hal nekat," bisik Dimas dengan suara serak.

Ia kemudian menceritakan semuanya secara jujur: tentang portal waktu yang ia buka, perjalanannya kembali ke tanggal 18 Agustus 2026 di Kota Zenith saat meteor jatuh, hingga kemunculan sosok tinggi berjubah hitam yang sudah menunggunya di sana.

Suasana kamar mendadak berubah menjadi sangat hening dan tegang.

"Jadi... sejak awal bintang itu jatuh, sosok berjubah hitam itu memang sudah ada dan mengawasi kita?" tanya Arunnaqa dengan dahi berkerut tajam.

Dimas mengangguk lemah. "Iya. Dia tahu gue datang dari masa depan. Energinya... jauh lebih mengerikan dari monster mana pun yang pernah kita lawan."

Ayyasy mengepalkan tangannya rapat-rapat, lalu menatap seluruh anggotanya dengan penuh keyakinan. "Artinya musuh utama kita sudah mulai menampakkan diri. Istirahatlah Dimas, lu udah dapat informasi yang sangat berharga. Sekarang tugas kita semua buat bersiap menghadapi apa pun yang bakal datang!"

Keesokan harinya, suasana markas Zenith terasa sedikit lebih lengang setelah kesibukan beberapa hari terakhir. Pertemuan dan latihan bersama yang intensif telah usai, dan kini saatnya bagi para pahlawan untuk kembali ke rutinitas harian mereka sebagai pelajar.

Di halaman markas, para anggota Miracle dari Cyber, Kosmik, dan Harvest sudah bersiap dengan tas sekolah dan perlengkapan mereka masing-masing.

"Makasih banyak ya buat tempatnya dan latihannya beberapa hari ini," ujar Davi sambil menepuk bahu Ayyasy hangat. "Meskipun awalnya penuh drama, kita pulang dengan ikatan yang jauh lebih kuat."

"Sama-sama, Dav. Hati-hati di jalan. Jangan lupa pelajari lagi kombinasi serangan yang kemarin," balas Ayyasy sambil tersenyum mantap.

Sintia dan Vikka juga saling melambaikan tangan, meski Vikka masih menampakkan sedikit gengsi dengan menyilangkan tangan di dada. "Awas ya kalau latihan berikutnya gerakan lu melambat, Sin!" seru Vikka melambai tipis.

"Lu yang harusnya latihan refleks biar gak kepojok lagi!" sahut Sintia tertawa kecil.

Setelah berpamitan hangat dengan tim Miracle Zenith, rombongan dari tiga kota tersebut berjalan bersama meninggalkan area bukit markas Zenith. Mereka menuju ke stasiun kereta cepat bawah tanah—sebuah jalur transportasi canggih yang menghubungkan antar-kota dengan sangat cepat.

Setibanya di peron stasiun, kereta futuristik berkecepatan tinggi meluncur halus dan membuka pintunya. Satu per satu anggota Miracle Cyber, Kosmik, dan Harvest melangkah masuk. Mereka melambaikan tangan terakhir kali saat pintu kereta perlahan tertutup, melesat menembus terowongan bawah tanah menuju kota asal mereka masing-masing untuk kembali duduk di bangku sekolah sebagai siswa-siswi biasa.

Tanpa mereka sadari, sesuatu yang lebih besar sedang menunggu mereka.

1
Ayyasying
waduh!! siap yang jadi next villain?
Ayyasying
yahh kepisah kelasnya😢
Ayyasying
balik rumah malah disuruh ujian😭
Ayyasying
Akhirnya plot armor turun juga
Ayyasying
terusin bang seru banget
Ayyasying
lu ngasih villainnya OP banget bang. di combo ga mati
Ayyasying
kacau villainnya terlalu farming aura🔥🔥🔥
Ayyasying
sangar euy villainnya
Ayyasying
gacorrrr
Ayyasying
Sedih banget bang masa lalunya di night 😭😭😢
Ayyasying
GG Gaming😍😍
Ayyasying
keren banget bang miracle Harvest kuat kiat💪💪💪
Ayyasying
💪💪💪
Polaris 03
Lanjutkan
Herman Syah
kerenn
Guzzie
💪💪💪
Guzzie
serafe cowok apa cewek?
Ayyasying: cewek
total 1 replies
Guzzie
💪💪💪
Ayyasying: subscribe atuh yah
total 1 replies
Guzzie
lanjutan
Guzzie
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!