NovelToon NovelToon
TEROR!

TEROR!

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Hantu
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Maple_Latte

Sinopsis

Sabrina, seorang gadis desa yang cerdas, berhasil meraih impiannya berkuliah di kampus elite ibu kota lewat jalur beasiswa.

Namun, kehidupan barunya yang tampak sempurna hancur berantakan ketika sebuah tragedi tak terduga terjadi: Sabrina nekat melompat dari lantai atas gedung kampus dan tewas seketika.

Kematian tragis tersebut menyisakan tanda tanya besar bagi orang-orang di sekitarnya. Apa yang sebenarnya terjadi di balik tembok kampus megah itu hingga mendorong Sabrina mengambil langkah se-ekstrem itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bau amis darah!

Adrian terperanjat hebat.

"AAAARGH!" teriaknya, napasnya memburu cepat seraya kedua kakinya refleks bergerak mundur, menjauhi wastafel dan bayangan mengerikan di cermin tersebut.

Matanya melotot lebar, menatap liar ke sekeliling ruangan yang terasa kian mencekam dan temaram.

Bau amis darah yang sangat pekat kini memenuhi seluruh udara di dalam toilet, menyengat hidung dan memicu rasa mual yang teramat sangat.

Belum sempat Adrian menguasai rasa syoknya atau mengambil langkah untuk berlari keluar menuju keramaian diskotik, hawa dingin yang membekukan mendadak merayap tepat di belakang tengkuknya.

Hembusan napas berbau busuk dan amis menerpa kulit lehernya dari belakang.

Srettt!

Tanpa ada waktu untuk mengelak, dari arah belakang, sepasang tangan pucat berlumuran darah dengan kuku-kuku hitam yang panjang dan tajam meluncur cepat, menutup rapat kedua mata Adrian dari belakang!

"AAAARGH!"

Sekali lagi Adrian berteriak ketakutan, suaranya pecah menembus kegelapan.

Namun, bukannya rasa dingin dari kuku-kuku tajam atau bau amis darah yang menyengat, yang menyambutnya justru guncangan lampu stroboskop yang menyilaukan dan benturan dentuman bass keras yang menggetarkan dadanya.

Adrian tersentak hebat. Matanya membelalak lebar, napasnya memburu cepat seperti orang yang baru saja tenggelam. Ia menoleh ke sekeliling dengan penuh kepanikan, dadanya naik-turun tak beraturan.

Ternyata semua itu hanya mimpi.

Dia terbangun dengan dentuman yang keras dari diskotik, ternyata dia ketiduran di sofa itu. Musik electronic dance*masih meraung-raung memenuhi setiap sudut Diskotik.

Botol-botol minuman keras yang sudah kosong dan gelas-gelas berisi es yang meleleh masih berserakan di atas meja VIP di hadapannya.

Sementara Rian dan Fano, sedang berada di dance floor, menari liar dengan cewek-cewek seksi di bawah paparan lampu warna-warni.

Mereka tertawa-tawa, menikmati malam yang riuh tanpa peduli pada Adrian yang baru saja terbangun dari mimpi buruk yang mengerikan.

Adrian mengusap wajahnya dengan kasar, keringat dingin memenuhi pelipisnya.

Telapak tangannya bergetar hebat saat menyentuh kulit mukanya sendiri, memastikan bahwa tidak ada darah pekat yang menempel di sana.

Sensasi dingin dari kuku-kuku panjang yang mencengkeram matanya tadi terasa begitu nyata, hingga menyisakan rasa perih di pelipisnya.

Ia meneguk sisa minuman keras di gelasnya hingga kandas dalam satu tegukan, mencoba mengusir rasa tercekat di tenggorokan.

Melihat Adrian sudah bangun, Fano yang tadinya berada di lantai dansa langsung menghampirinya.

Ia melambaikan tangan pamit pada cewek seksi pasangan menarinya, lalu berjalan gontai mendekati meja VIP sembari memegang botol minumannya yang tinggal separuh.

"Lah, udah bangun lo, Yan?" tanya Fano seraya melempar tubuhnya ke sofa di samping Adrian. Suaranya agak berteriak menyaingi dentuman musik keras di sekeliling mereka.

Fano terkekeh pelan memandangi raut wajah Adrian yang masih tampak linglung dan berantakan.

"Lagian lo aneh-aneh aja," lanjut Fano menggeleng-gelengkan kepala.

"Jauh-jauh datang ke diskotik, bayar meja VIP mahal-mahal, bukannya menikmati waktu malah tidur! Kaya nggak ada kasur aja lo di rumah."

Adrian tak langsung menjawab. Ia masih mengendalikan napasnya yang belum sepenuhnya stabil. Keringat dingin yang membasahi dahi dan lehernya diusap lagi dengan ujung lengan kemeja.

"Gue... gue ketiduran banget, ya?" sahut Adrian parau, suaranya terdengar tidak fokus.

"Parah, sejam lebih lo meram di sini," timpal Fano seraya meneguk minumannya.

"Rian tuh yang masih betah meliuk-liuk di depan panggung. Mumpung malam masih panjang, mending lo cuci muka dulu dah di toilet biar segar. Wajah lo pucat banget kaya habis ketemu setan."

Mendengar kata toilet dan setan dari mulut Fano, tubuh Adrian seketika merinding hebat. Bayangan kran yang mengalirkan darah pekat dan kuku-kuku panjang yang membutakan matanya di dalam mimpi tadi kembali menghantam ingatannya dengan sangat jelas.

"Nggak... Nggak usah," potong Adrian cepat dengan nada sedikit panik, membuat Fano menatapnya heran.

"Gue... gue minum aja."

Adrian bergegas meraih botol minuman keras yang masih terisi, menuangkannya ke dalam gelas dengan tangan yang bergetar tipis, lalu meneguknya kasar, berusaha keras menutupi ketakutan yang kian mencengkeram dadanya.

Setelah membasahi tenggorokannya yang kering dengan minuman keras itu, Adrian meletakkan gelasnya dengan dentuman pelan di atas meja.

Rasa hangat dari alkohol menyengat tenggorokannya, namun rasa dingin di tengkuknya enggan menghilang.

"Julian mana? Dia belum datang juga?" tanya Adrian seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling pintu masuk diskotik.

Fano menanggapi santai, mengibaskan tangannya seraya melirik jam di pergelangan tangan.

"Mungkin masih di perjalanan. Sebentar lagi dia pasti sampe."

Fano menyandarkan punggungnya ke sofa empuk, lalu melanjutkan dengan nada sedikit berbisik.

"Lo tahu sendiri kan, semenjak kejadian Sabrina bunuh diri, ayahnya Julian sedikit mengekang Julian."

Adrian mengangguk pelan, memahami betul situasi sahabatnya itu. Sejak tragedi melompatnya Sabrina dari lantai 12 dua bulan lalu, Pramudiya menjadi jauh lebih protektif dan ketat mengawasi gerak-gerik Julian.

Sebagai pengusaha besar dan donatur utama kampus, Pramudiya tak ingin ada celah sekecil apa pun yang bisa menyeret nama keluarganya ke dalam pusaran rumor.

Jadwal kuliah, kegiatan luar, hingga jam pulang Julian benar-benar dibatasi dan diawasi ketat oleh sang ayah.

Tak lama kemudian, Rian pun turun dari lantai dansa mengapit teman menarinya. Perempuan bergaun ketat itu terkekeh manja sembari bergelayut mesra di lengan Rian. Dengan wajah berhias peluh dan senyum lebar yang puas, Rian berjalan menghampiri Adrian dan Fano.

Begitu sampai di meja VIP, Rian mendaratkan bokongnya di sofa, lalu menarik lembut pinggang perempuan itu hingga ia duduk santai di pangkuan Rian.

Perempuan itu melingkarkan tangannya di leher Rian, membiarkan Rian merengkuh pinggangnya dengan santai di hadapan kedua sahabatnya.

"Gila, pecah banget malam ini!" seru Rian heboh. Ia menyambar botol minuman yang tersisa di meja dengan tangan kirinya, meneguknya langsung dari mulut botol tanpa diolah lagi.

Rian mengalihkan pandangan dan tertawa geli melihat ekspresi Adrian.

"Wajah lo kenapa dah, Yan? Muka lo tegang amat kaya habis ditempeleng satpol PP," goda Rian seraya mengelus paha teman menarinya di pangkuan, tak menyadari ketakutan yang masih tersisa di mata sahabatnya itu.

"Gue cuma... capek aja," balas Adrian singkat, memaksakan senyum tipis yang tampak sangat garing.

Rian mengibaskan tangan, tak terlalu memusingkan respons Adrian. Ia menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa sembari membiarkan cewek di pangkuannya bisik-bisik manja di telinganya.

"Hah... padahal kalau si Julian ada di sini, makin seru nih. Tapi ya mau gimana lagi, semenjak si Sabrina tewas, bokapnya makin kaya sipir penjara. Kasihan juga si Julian, ruang geraknya dibatasi total."

Fano menyikut lengan Rian pelan.

"Udah, santai. Tadi gue bilang Julian lagi di jalan. Bentar lagi juga mendarat di sini."

"Nah, cakep!" Rian mengacungkan gelasnya ke udara, sementara cewek di pangkuannya ikut tertawa kecil dan mengusap dada Rian.

"Malam ini kita bikin Julian lupa sebentar sama masalah kampus dan tekanan bokapnya?"

Adrian hanya terdiam mendengarkan penuturan kedua sahabatnya. Ia kembali menatap cairan alkohol di dalam gelasnya.

1
Nurr Tika
apa teman"julian ada hubunganya dengan kematian sabrina
Nurr Tika
julian km ga akan hidup tenang
Nurr Tika
kayanya sabrina hamil terus julian ga mau tanggung jawab
Nurr Tika
nanti km menyesal sabrina
Nurr Tika
sabrina knpa langsung suka sih harusnya selidiki dulu
Nurr Tika
ternyata julian palayboy
Siti Yatmi
nah kan..bener 1 lagi test pack menghancurkan wanita bodoh....sabrina kamu sadar ga sih...kamu itu cinta bukan budak nafsu, setiap ketemu ko pasti anu2..ya hamil lah...
Siti Yatmi
test pack.....jawaban yg selalu membuat hancur wanita bodoh....
Siti Yatmi
ya Tuhan sabrina..kasian banget kamu, terlalu naif kamu jd cwe....
Siti Yatmi
nah..kan hamidun...deh...hadehhh..sabrina oon amat sih..ga selamanya itu pil bisa cegah kehamilan...astogeeeee....
Siti Yatmi
masih abu2 sementara..menerka nerka...😄
Siti Yatmi
ya Tuhan sabrina..lo mah bukan polos, tapi begoooo....pacaran aja belom lama, udh mau aja di anu anu..haduhh
Siti Yatmi
hadehhh .julian....kamu mah bukan cinta, tapi nafsu....harus nya sabrina jgn mau...
Siti Yatmi
ngga ada caption nya thor..🤣
Siti Yatmi
thor...itu flash back kah???sumpah..ga mudeng aku...😄
Maple latte: iya itu flashback🤭 aduhh🤣
total 1 replies
Siti Yatmi
kaya lagu kotak...🤭
Siti Yatmi
masih teka teki banget..hemmmm...ayo thor...jadi penasaran tingkat dewa...wk2
Maple latte: 🥰🥰 Sabar ya, pelan2 aja🤭
total 1 replies
Siti Yatmi
ya ampun julian....org mah ikut kata hati, bukan kata temen, ya kali temen lu mati, lu juga ikut..dablek banget ih...
Siti Yatmi
kaya nya julian cinta sama sabrina,tapi ego nya terlalu tinggi, kasian sabrina ..
Riska Salahudin
masih penasaran apa yg membuat sabrina bundir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!