NovelToon NovelToon
Cinta Paksa Berujung Bahagia

Cinta Paksa Berujung Bahagia

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Sci-Fi
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ketoprak Encok

Di mata publik, Rania hanyalah anak bungsu Keluarga Baskara yang manja, dan menjadi beban keluarga. Semua orang lebih memuja kakaknya, Resti, yang merupakan model sukses. Padahal di balik layar, Rania adalah gadis mandiri yang membangun toko rotinya sendiri dari nol tanpa bantuan siapa pun.Malam pernikahan megah tiba, namun Resti justru kabur ke Prancis demi karier modelnya. Demi menyelamatkan nama baik Keluarga Baskara, Rania dipaksa menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Rangga, CEO dingin pewaris Pratama Group.
Rangga murka karena merasa ditipu. Dia mengira Rania adalah gadis manja yang sengaja menjebak kakaknya demi harta. Namun, saat Rangga mulai tahu kemandirian Rania—dan aroma roti buatan Rania justru menyembuhkan penyakit mag kronisnya—sang CEO mulai cemburu buta dan gengsi untuk mengaku bucin.Sanggupkah Rania membungkam mulut semua orang yang dulu meremehkannya?

UP SETIAP HARI JAM 06.00

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Suasana di Penthouse mewah lantai atas Hotel Pratama mendadak terasa begitu kontras setelah ledakan negosiasi finansial pagi itu. Rania berdiri di hadapan Rangga dengan senyuman paling manis yang pernah ia ukir sepanjang hidupnya. Uang senilai lima ratus juta rupiah yang baru saja mendarat mulus di rekening ponselnya berhasil mengubah total gestur tubuh sang gadis garang menjadi sesosok istri teladan yang sangat berbakti setidaknya di permukaan.

"Baiklah, suamiku tersayang dan paling dermawan," ucap Rania dengan nada suara yang sengaja dilembut-lembutkan, membuat siapa pun yang mendengarnya tahu persis bahwa ada motif tersembunyi di balik keramahan mendadak itu. "Karena modal operasional awal sudah resmi cair dan tercatat rapi di sistem perbankan, aku izin berangkat lebih awal ke toko roti Sweet Crumb. Jadwal produksi kue kering untuk minggu ini sedang padat-padatnya."

Rangga, yang masih duduk bersidekap di sofa ruang tengah sambil memegang secangkir kopi hitam hangat, mengangkat sebelah alisnya. Pria itu menatap Rania dari atas sampai bawah.

Gadis itu kini sudah berganti pakaian dengan balutan kemeja flanel kotak-kotak bergaya kasual yang dibalut celana jeans skinny rapi, serta rambut panjangnya yang dicepol longgar namun tetap memancarkan aura profesional. Tidak ada lagi sisa-sisa amarah atau tatapan mematikan seperti singa betina; yang ada hanyalah wajah berseri-seri penuh semangat bisnis.

"Hm. Pergilah," jawab Rangga singkat dengan nada dingin yang sengaja ia jaga agar tetap berwibawa. "Jangan buat keonaran di luar sana yang bisa mencoreng nama baik keluarga Pratama. Dan ingat laporan pertanggungjawaban dana yang kukatakan tadi."

"Siap laksanakan, Tuan CEO!" balas Rania dengan gestur hormat ala militer yang setengah main-main, sebelum akhirnya berbalik dan melangkah ringan meninggalkan ruang utama menuju lift pribadi.

Pintu lift tertutup rapat, menyisakan keheningan kembali di dalam Penthouse yang luas itu.

Begitu derap langkah kaki Rania benar-benar hilang dari pendengaran, ekspresi wajah Rangga berubah drastis. Sisa-sisa senyum tipis yang sempat hampir terukir di bibirnya lenyap seketika, digantikan oleh garis rahang yang kembali mengeras dan sorot mata tajam penuh perhitungan.

Pria itu meletakkan cangkir kopi hitamnya ke atas meja marmer dengan bunyi dentingan pelan. Rangga meraih ponsel pintar berlapis emas miliknya dari atas meja, lalu mencari sebuah kontak penting di daftar panggilan cepat. Tanpa buang-buang waktu, ibu jarinya menekan tombol panggil.

Hanya butuh tiga dering sebelum sambungan telepon itu terangkat dari ujung sana.

"Halo, Pak Darma," suara bariton Rangga menggelegar tegas, memecah kesunyian ruangan.

"Ya, Tuan Rangga? Ada instruksi penting pagi ini?" jawab suara di seberang, seorang asisten pribadi senior sekaligus tangan kanan kepercayaan Rangga yang selalu sigap di kantor pusat Pratama Group.

Rangga menarik napas sejenak, mengatur intonasi suaranya agar terdengar mutlak dan tanpa bantahan. "Batalkan seluruh agenda rutin saya jam sembilan nanti, geser ke jam sebelas. Tapi bukan itu alasan saya meneleponmu sepagi ini, Darma."

"Baik, Tuan. Lalu apa yang bisa saya kerjakan untuk Anda?"

"Aku ingin kau melakukan investigasi kilat dan menyeluruh," perintah Rangga dengan nada suara yang merendah namun penuh penekanan dingin. "Cari tahu segala detail tentang toko roti milik istriku... toko roti kecil bernama Sweet Crumb di kawasan distrik bisnis pusat kota. Selidiki status kepemilikan tanahnya, perizinan usahanya, hingga kondisi finansial internal mereka."

Di ujung telepon, Pak Darma terdengar sedikit terkejut namun langsung profesional menjawab, "Menyelidiki toko milik Nyonya Resti, Tuan? Maaf nyonya Resti tidak memiliki toko roti tuan."

"Maksudnya Rania dia sekarang istriku...." Rangga pun menjelaskan apa yang terjadi dan Darma mengangguk pelan dan mengiyakan.

"Apakah nyonya Rania memiliki masalah hingga Tuan mau saya menyelidikannya?"

"Tidak ada masalah besar, hanya saja..." Rangga menyipitkan matanya, menatap lurus ke arah pemandangan kota di luar jendela kaca, "...aku ingin tahu seberapa kuat fondasi toko roti itu bertahan tanpa bantuan dana eksternal. Dan dengar, Darma... kumpulkan semua data celah hukum atau hambatan perizinan yang ada di sana."

Pak Darma terdiam sejenak menangkap maksud terselubung dari sang bos muda. "Apakah Anda berencana... mengambil alih atau menekan operasional toko tersebut, Tuan?"

Sudut bibir Rangga terangkat membentuk seringai tipis yang dingin. "Tepat sekali. Gadis itu terlalu keras kepala dan arogan. Selama dia masih memiliki tempat berlindung dan kebanggaan pada toko roti kecilnya itu, dia tidak akan pernah mau tunduk sepenuhnya di bawah kendaliku dalam pernikahan ini. Cari celahnya, Darma. Buat laporan lengkapnya di mejaku sore ini juga."

"Baik, Tuan Rangga. Segera saya laksanakan."

Rangga meletakkan kembali ponselnya ke atas meja. Ia menyandarkan punggungnya yang tegap ke sandaran sofa, memijat pelipisnya yang mendadak terasa sedikit berdenyut akibat terlalu memikirkan tingkah absurd istri dadakannya itu sejak kemarin sore.

Pikiran pria itu perlahan melayang, membandingkan kejadian demi kejadian yang berputar di sekitarnya dalam kurun waktu kurang dari 24 jam terakhir.

Ia teringat kembali pada sosok Resti—kakak kandung Rania yang selama tiga tahun terakhir mengisi hari-hari asmaranya. Di ingatan Rangga, Resti adalah lambang keanggunan yang sempurna. Wanita itu selalu berbicara dengan nada lembut, mengenakan pakaian berstandar tinggi, tidak pernah membentak, selalu tersenyum manis, dan begitu patuh serta menghormati setiap keputusan keluarga besar Pratama. Resti adalah tipikal wanita idaman para konglomerat kelas atas untuk dijadikan pendamping hidup di atas karpet merah sosialita.

Namun, apa yang terjadi sekarang? Wanita anggun berdarah lembut itu justru kabur melarikan diri ke Paris demi ambisi setengah matang menjadi seorang supermodel, meninggalkan rasa malu luar biasa di hari pernikahan mereka.

Dan sebagai gantinya?

Rangga mendengus pelan, membayangkan sosok Rania—adik kandung Resti yang digantikan secara paksa di atas altar. Wanita itu jauh dari kata lembut. Rania adalah perwujudan dari badai kekacauan: garang, blak-blakan, tidak punya rasa takut sedikit pun pada gertakan seorang CEO, sangat perhitungan soal uang, bermulut tajam, dan memiliki refleks menolak yang luar biasa menyebalkan.

Meskipun keduanya lahir dari rahim orang tua yang sama dan tumbuh di lingkungan keluarga yang setara, perbedaan karakter di antara kedua saudari itu bagaikan bumi dan langit. Resti adalah topeng kemewahan yang rapuh dan penuh kepalsuan di balik pelariannya, sementara Rania adalah duri tajam yang jujur pada ambisi materialistisnya namun memiliki ketangguhan mental baja dalam mempertahankan apa yang menjadi miliknya.

Sadar dirinya sedang memikirkan wanita yang baru saja ia caci maki pagi tadi, Rangga tiba-tiba menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Pria itu menegakkan duduknya, menepis bayangan wajah melotot penuh amarah bercampur mata jeli milik Rania dari dalam kepalanya.

'Kenapa aku jadi membandingkan mereka berdua?' batin Rangga membatin kesal pada dirinya sendiri, mengerutkan keningnya dalam-dalam.

Rangga berdiri dari sofa, merapikan jubah mandinya, lalu melangkah tegas menuju kamar mandi untuk bersiap pergi ke kantor pusat Pratama Group. Di dalam hatinya, sebuah keyakinan tertanam kuat: dengan laporan investigasi dari Pak Darma nanti sore, ia akan segera menemukan kelemahan telak toko roti Sweet Crumb, memaksa sang istri tunduk pada aturan mainnya, dan mengendalikan sepenuhnya pernikahan kontrak yang penuh dengan intrik ini.

1
fanny tedjo pramono
mampir baca guys
Rian Moontero
lanjuutt,,👍🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!