Johan Pranata, CEO tampan yang belum di karuniahi seorang anak dari pernikahannya yang sudah tujuh tahun. Keadaan sang istri yang tidak memungkinkan untuk mengandung karena penyakit yang di deritanya, membuat Johan harus mencari wanita yang mau mengandung benih anaknya.
Semua itu Johan lakukan hanya karena tuntutan sang Ibu. Karena dia harus melahirkan pewaris dari bisnis dan juga perusahaannya.
Lestari sang Ibu menemukan wanita yang tepat, yaitu Lilian. Karena perusahaan sang ayah mengalami kebangkrutan akhirnya Lilian mau menerima tawaran dari Lestari.
Lilian akhirnya menikah secara diam-diam dan tersembunyi dengan Johan. Tapi semenjak itu hidup Lilian menjadi susah, karena Johan banyak mengatur hidupnya.
Bertemu setiap hari dengan Johan membuat Lilian menaruh rasa kepadanya.Lalu, apakah Johan juga menaruh rasa terhadap Lilian? Atau dia tetap setia dengan istrinya? Simak ya😉😉😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risna afrianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sepupu
Kecanggungan terjadi di meja makan pagi ini. Hanya Stevia yang terlihat ceria diantara mereka bertiga. Lilian tidak berani menatap wajah Johan, Lilian hanya sekilas melirik ke arah Johan.
"Loh, Li. Ko makannya sedikit banget sih." Stevia memperhatikan nasi yang Lilian ambil ke dalam piringnya.
"Eh, iya Stev. Aku lagi ngak selera aja." Lilian menyunggingkan sedikit bibirnya, hingga terulas senyum tipis yang terlihat terpaksa.
"Kamu sakit?" tanya Stevia lagi.
"Eh enggak Stev, aku baik - baik aja," jawab Lilian.
"Yang bener, kelihatannya kamu lemes banget soalnya. Dan kamu juga Mas, kamu sakit? Lesu banget kayaknya?" Stevia mencoba mencairkan suasana dingin yang mencekam di meja makan. Tapi usaha Stevia kelihatannya sia - sia, suasana justru semakin canggung.
"Aku berangkat dulu ya," ucap Johan setelah menyudahi sarapannya.
"Kamu hati - hati ya." Stevia mencium tangan Johan sebelum suaminya itu berangkat.
Lilian hanya melirik mereka, dirinya hanya bisa berangan suatu saat bisa mencium tangan suaminya.
"Apaan sih aku ini, issh." Lilian menggelengkan kepalanya dengan cepat, dia menepis bayangan anehnya.
"Li, ko ngelamun?" tanya Stevia.
"Eh, enggak ko. Kamu ngak lanjutin sarapannya?" Lilian melirik ke arah piring Stevia yang masih menyisahkan sebagian makannya.
"Iya ini mau aku habiskan, kamu juga tuh habisin makannya. Jangan dipandang aja, nanti naksir loh."
Gludak..
Hati Lilian terasa menggelinding jauh dari tempatnya. Kata - kata yang Stevia ucapkan rasanya sangat mengena di hati Lilian.
Karena Stevia memang sudah tahu apa yang terjadi dengan mereka semalam, jadi dia tidak kaget dengan kecanggungan ini. Ditambah dengan lirikan Lilian dan Johan yang terlihat malu - malu, membuat Stevia bersemangat sekali untuk menggoda Lilian.
"Li, aku nanti ada urusan. Kamu mau ngak nganter bekal makan siang Mas Johan?" Dalam hati Lilian dia ingin sekali berkata tidak, tapi mulutnya tidak bisa melakukan hal itu.
"Eh apa, eh iya aku mau," jawab Lilian dengan senyum yang dipaksakan.
"Makasih ya Li, maaf jadi ngerepotin kamu," ucap Stevia tulus.
Stevia memang akan pergi kontrol ke rumah sakit hari ini. Tapi sebenarnya dia melakukan ini untuk mendekatkan mereka berdua. Tentu saja Stevia tidak ingin kecanggungan ini terus terjadi.
Biasanya Stevia akan mengantarkan bekal makan siang Johan sebelum dia pergi ke rumah sakit. Tapi hari ini dia sengaja meminta Lilian yang mengantarkan karena Stevia ingin mendekatkan mereka.
Di kantor, Johan merasa pikiranya tidak fokus. Bayangan wajah polos Lilian masih membayangi ingatannya. Johan merasa bersalah saat teringat wajah polos Lilian yang memohon kepada saat malam itu.
"Sial, kenapa aku jadi memikirkan wanita itu." Gerutu Johan.
"Pak, Pak," panggil Helen sekretaris Johan yang tidak mendapatkan respon dari bosnya itu.
"Pak." Helen melambaikan tangannya di depan wajah Johan, hingga membuat laki - laki itu tersentak kaget dan sadar dari lamunannya.
"Hey, ada apa? Kamu ini tidak sopan sekali kepada atasan," ucap Johan berusaha mempertahankan wibawanya sebagai seorang presdir.
"Maafkan saya Pak. Habis tadi Bapak saya panggil - panggil tapi tidak ada respon, malah asik melamun." Helen sedikit terkekeh saat mengingat wajah tampan Johan yang sedang melamun.
"Ada apa?" tanya Johan dingin.
"Ada scedule meeting sama klien di hotel." Helen menjelaskan.
"Iya saya tahu, jam berapa?" tanya Johan lagi tanpa ekspresi.
"Sepuluh menit lagi, Pak," jawab Helen santai.
"Apa? Sepuluh menit lagi? Yasudah cepat siapkan berkas yang perlu dibawa, saya akan menmui Dani terlebih dulu." Helen hanya mengangguk mengiyakan perintah dari Johan.
Johan mengambil jasnya, kemudian dia berjalan cepat menuju ruang kerja Dani.
"Hallo Tante," sapa Dani kepada seseorang yang ada di sebrang telfon.
"....."
"Apa? Beneran Tan. Wah bagus dong kalo gitu," jawabnya penuh dengan ceria.
"...."
"Oke tante, senang bisa membantu." Dani mematikan sambungan telfon setelah mengucapkannya.
"Ehem." Deheman itu berhasil membuat Dani hampir saja menjatuhkan ponselnya.
"Suka banget bikin orang kaget." Dengus Dani kesal.
"Lagian lo seirus banget, telfonan sama siapa lo? Tante - tante?" tanya Johan dengan nyolot.
"Gue masih normal Jo. Dari pada tante - tante, mending gue sama bini lo yang kedua. Ha ha ha ha ha." Dani tertawa lepas membuat Johan menatapnya dengan tajam.
"Enggak Jo, gue bercanda. Ada apa lo kemari?" tanya Dani.
"Itu tolong cek data yang aku kirim lewat email. Gue mau keluar sebentar bertemu klien." Johan berlalu dari ruang kerja Dani, tanpa menunggu sahabatnya itu memberikan jawaban.
"Ko wajah Johan biasa aja ya?" Guman Dani sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Di kediaman Johan, Stevia sedang berdebat kecil dengan Lilian. Perdebatan itu diawali dari Stevia yang memaksa Lilian untuk memaksak.
"Ayolah Li, aku tahu kamu pasti bisa masak." Stevia mencoba meyakinkan Lilian.
"Masakan aku ngak seenak masakan kamu, Stev. Aku takut nanti Johan justru ngak jadi makan siang karena tahu ini masakan aku." Lilian masih berusaha membela diri.
"Aduh Li, aku udah terlambat nih. Sebisa kamu aja, aku yakin Mas Johan pasti suka. Cuminya udah aku bersihin, aku taruh di kulkas. Inget ya Li, cumi saus padang sama sambel goreng kentang. Itu permintaan Mas Johan." Stevia melambaikan tangannya meninggalkan Lilian di dapur sendiri dengan wajah bingungnya.
"Aduh, gimana nih. Nanti kalo Johan ngak suka gimana, aku takut. Lagian Stevia ada - ada aja, diakan bisa makan di kantin perusahaan." Lilian masih menggerutu tidak jelas.
Akhirnya dengan terpaksa Lilian mengambil bahan - bahan yang Stevia maksud. Dia mulai mengulek bumbu dan menyiapkan bahan yang lain.
Jika saja bukan paksaan dari Stevia, Lilian tidak akan mau mengantarkan makanan ke kantor Johan. Lilian takut jika ditanya siapa dirinya oleh orang - orang disana, dia harus berkata apa nanti.
Kurang dari satu jam, Lilian sudah menyelesaikan tugas memasaknya. Dengan cekatan Lilian memasukkan makanan itu kedalam kotak makan yang sudah Stevia siapkan.
Lilian mengupas sebuah jeruk yang berukuran sedang, lalu ia masukkan ke salah satu kotak makan. Stevia memang tidak menyuruhnya, itu hanya inisiatif Lilian sendiri.
Diantar oleh Pak Ari, Lilian menuju kantor Johan. Stevia memang sengaja naik taksi supaya supirnya bisa mengantar Lilian ke kantor.
"Sudah sampai, Non." Lilian tidak menanggapi ucapan Pak Ari, dia masih sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Non," panggil Pak Ari lagi.
"Eh iya Pak," jawab Lilian.
"Sudah sampai, saya tunggu disini ya."
Lilian turun dari mobil yang berhenti di lobi. Dia melangkahkan kakinya dengan ragu untuk masuk ke dalam gedung yang sangat besar ini.
Ketakutan Lilian kini menjadi kenyataan, di meja resepsionis Lilian di tahan oleh dua orang gadis cantik.
"Maaf Mbak, ada perlu apa ya?" tanya salah satu gadis itu.
"Eh ini mau mengantarkan makan buat Mas Johan." Lilian tidak sadar jika lidahnya menyebut Johan dengan sebutan 'mas'.
"Maaf sebelumnya, Mbak ini siapanya Pak Johan ya?"
Deg..
Lilian tidak bisa berkata, dia tidak tahu apa yang harus ia katakan. Sampai akhirnya sebuah suara berat menjawab pertanyaan resepsionis itu.
"Dia sepupu Pak Johan." Kata laki - laki itu dengan lantang membuat kedua resepsionis dan juga Lilian menatap ke arah pemilik suara.