Di saat dunia memilih memihak yang kuat, Seline hadir bersama Sistem Balas Dendam untuk menghukum mereka yang lolos dari hukum.
Ia akan merayu pria yang paling dicintai targetnya, meruntuhkan kepercayaan, mematahkan kesetiaan, lalu membiarkan para pelaku menyaksikan kebahagiaan yang mereka bangun di atas penderitaan orang lain runtuh dengan tangan mereka sendiri.
Ia bukan malaikat. Bukan pula iblis.
Ia adalah keadilan yang gagal diberikan dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ucum_alattas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9
Tok ... Tok ...
“Max, bisakah aku masuk?” tanya Helena dariluar.
Tapi tak ada tanggapan sama sekali. Merasa tak bisa menahan diri lagi, Helena langsung mebuka pintu ruang kerja itu.
“Max?”
Helena tampak kebingungan saat melihat ruang kerja yang kosong itu. Ia melangkah masuk, mencari di setiap sudut ruang kerja, berharap bisa menemukan suaminya itu.
“Max, kau di mana?” tanyanya bingung. Suaranya bahkan sedikit keras, berharap, jika Max masih berada di ruang kerja, pria itu bisa mendengarnya dan keluar untuk menemuinya.
Namun, hanya ada kesunyian. Tak ada jawaban yang ia harapkan.
“Kemana dia pergi?” gumamnya yang merasa gelisah.
Ia bahkan tak lagi mempedulikan keinginannya untuk menyempurnakan pernikahannya itu. Langkahnya semakin cepat untuk meninggalkan ruang kerja itu.
Ia menuruni tangga, dengan suara yang keras, ia berusaha memanggil Maxime.
“Max,” panggilnya dengan suara yang mengema di mansion megahnya itu.
Beberapa saat, pelayan yang mendapatkan shift malam itu muncul. Terlihat jelas wajah pelayan itu yang setengah mengantuk.
“Nyonya, apa anda membutuhkan sesuatu?” tanya pelayan itu dengan hati hati.
Helena menatap pelayan itu dengan tatapan dingin. Tak ada tatapan hangat yang biasa ia tunjukan.
“Dimana suamiku? Apa kau tahu?” tanyanya tanpa basa basi.
Pelayan itu terdiam. Matanya bahkan berkedip bingung.
“Saya tidak tahu, Nyonya.”
Alis Helena berkerut.
“Apa saya perlu mencari keberadaan Tuan?” tanyanya hati hati.
Helena mengangguk. “Cari tuanmu!” perintahnya dingin.
Pelayan itu langsung keluar. Ia membangunkan beberapa pelayan yang mendapatkan shift malam. Meminta mereka mencari keberadaan Maxime yang entah mengapa menghilang tiba tiba.
Helena yang juga tak tinggal diam berjalan keluar. Kali ini, tatapannya tertuju pada post satpam.
“Apa kau melihat tuanmu keluar?” tanya Helena pada satpam yang berjaga.
Satpam itu langsung berdiri tegap. Ia cukup terkejut saat melihat kemunculan nyonyanya itu.
“Maaf, Nyonya. Saya baru saja berjaga satu jam, tapi, dalam satu jam ini, saya tidak melihat Tuan keluar.”
Alis Helena berkerut. Tangannya mengepal. Kukunya kembali menusuk telapak tangannya dengan kuat.
“Panggil satpam yang menjaga sebelumnya!” perintahnya tegas.
Satpam yang kebingungan itu mengangguk. Ia langsung menghubungi satpam yang saat ini sudah pasti sudah terlelap.
Melihat wajah Helena yang sedingin es, dan nada dering yang tak kunjung tersambung, lututnya terasa lemas.
“Maaf, Nyonya. Sepertinya, satpam sebelumnya sudah tidur_”
“Bangunkan!” selanya dingin tanpa mau mendengar bantahan.
Satpam itu tertegun. Wajahnya terlihat kaku. “Ini ... rumah satpam itu cukup jauh Nyonya. Jika saya berkunjung untuk membangunkannya, siapa yang menjaga di post malam ini.”
Alis Helena menukik tajam. Ia baru tahu jika satpam di rumah ini tidak menetap. Selain itu, apa hanya ada satu satpam?
Ia tahu, di area ini, keamanan benar benar terjamin. Tapi, untuk mansion mewah seperti ini, hanya memiliki satu satpam benar benar tidak masuk akal.
Tak lama kemudian, suara langkah kaki berderap terdengar di belakang Helena.
Helena yang mendengar itu segera menolehkan kepala. Wajahnya yang dingin semakin dingin saat melihat wajah pelayan pelayan itu yang pucat.
“Kalian tidak menemukannya?” tanyanya yang membuat pelayan pelayan itu menunduk
Wajah Helena berubah memucat. Jika Maxime tidak ditemukan, lalu di mana dia?
Dan, pria yang sedang berada di kamar Selina? Apa mungkin ....
“Tidak mungkin. Selina tidak mungkin menusukku seperti ini. Selain itu, dia terlihat ketakutan setiap bertemu dengan Maxime,” gumamnya dalam hati yang menyangkal pemikirannya yang menurutnya di luar logika.
Sementara itu, Maxime yang sama sekali tak tahu tentang kegaduhan di luar menikmati tidurnya bersama dengan Selina. Tubuhnya yang polos dengan tenang memeluk tubuh Selina yang lembut itu. Suasanya bahkan terasa begitu hangat, berbeda dengan suasana di luar, dimana Helena merasakan perasaan kehilangan kendali untuk pertama kalinya dalam masalah percintaan.
***
Ceklek!
Suara pintu yang terbuka itu membuat Helena yang terjaga semalaman langsung mendongak.
Maxime yang tak menyangka Helena sudah bangun di jam seperti ini tertegun. Namun, sebelum ia sempat berbicara, Helena lebih dulu menodongnya dengan pertanyaan.
“Dari mana saja kau?” tanya Helena tak bisa mempertahankan kelembutannya.
Alis Maxime berkerut. “Dari mana lagi, aku tidur di ruang kerja.”
Helena yang mendengar itu tak bisa menahan tawa mencemooh. Ia berdiri, sedikit terhuyung karena kurang tidur, dan terlalu banyak pikiran.
Maxime yang melihat Helena hampir terjatuh itu sedikit terkejut. Namun, Helena dengan cepat menegakkan tubuhnya.
“Ruang kerja? Kau yakin?”
Maxime sedikit terdiam. Matanya melihat penampilan Helena yang jauh dari kata rapi. Ia bahkan bisa melihat lingkaran di bawah mata Helena, membuat ia merasa tak nyaman.
“Ya.”
Helena menunduk. Tawa mengejek tak bisa ia tahan, membuat Maxime mengerutkan kening dan mulai merasa tidak sabar.
“Kalau kau lelah, istirahat saja. Tidak perlu memaksakan diri seperti ini,” ucap Maxime yang langsung bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
Helena yang mendengar itu mendongak. Matanya memerah. Hatinya terasa teremas. Ia bahkan merasakan perasaan sesak yang tidak bisa dijelaskan.
Tanpa sadar, bayangan bagaimana para wanita yang diam diam suaminya menjalin hubungan dengannya muncul.
“Tidak, aku tidak akan menjadi seperti mereka. Mereka hanya tidak bisa mempertahankan suami mereka sendiri, karena itu, mereka ditinggalkan begitu saja. Aku berbeda!” gumamnya menolak mengakui jika saat ini, ia mulai terlihat seperti wanita wanita yang ia sakiti.
***
Di meja makan, Helena terus mengamati wajah Selina. Melihat pipi Selina yang bersemu, kemudian tanda samar yang tidak bisa ditutupi dengan sempurna itu, pikiran buruk tak bisa ia tahan.
“Makan yang banyak. Kau butuh banyak tenaga untuk belajar,” ucap Maxime penuh perhatian.
Selina yang mendengar itu menolehkan kepala. Senyum manis muncul di wajahnya yang cantik. Membuat Maxime juga ikut tersenyum.
Helena yang melihat pemandangan itu memejamkan mata. Emosinya benar benar tidak stabil.
Prak!
Suara sendok yang dibantin di atas piring membuat selina terkejut. Maxime yang melihat itu mengerutkan kening tak puas.
“Apa yang kau lakukan? Sudah aku katakan, jika kau merasa tidak nyaman, kau hanya perlu istirahat,” ucapnya dingin. Sangat berbeda dengan perhatian Maxime pada Selina tadi.
Helena yang mendengar itu menatap Maxime tak percaya. Sementara Selina hanya menunduk, terlalu takut untuk melihat kebencian di mata kakaknya yang entah sejak kapan tertuju padanya.
“Ayo, aku akan mengantarmu kuliah,” ucap Maxime yang langsung berdiri.
Namun, sebelum diiyakan oleh Selina, Helena kembali berbicara.
“Biarkan aku yang mengantarnya. Kau langsung berangkat ke kantor saja,” ucap Helena kembali bersikap lembut.
Maxime menolehkan kepala. Matanya menyipit, tanda tak menyetujui keputusan Helena.
Namun, Helena tak memberi Maxime waktu untuk menolak.
“Selina, ayo. Pergi bersama kakak. Kebetulan, ada yang ingin kakak bicarakan.”
Selina terdiam. Namun, matanya melirik ke arah Maxime yang tampak memasang wajah tak suka.
Sementara itu, sistem yang sudah memantau helena sejak semalam berseru cemas. [“Tuan, Helena sudah mencurigai anda. Anda harus berhati hati.”]