NovelToon NovelToon
Istriku yang Pernah Kutinggalkan

Istriku yang Pernah Kutinggalkan

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Pelakor jahat / Menikahi tentara / Tamat
Popularitas:309.6k
Nilai: 5
Nama Author: Chandria

Nadira menghabiskan empat tahun menunggu suami yang hanya ia temui saat akad nikah. Saat Arga akhirnya pulang, ia datang bersimbah darah ke IGD, dan Nadira sendiri yang mengoperasinya. Tapi Arga tidak pulang sendirian. Ada nama perempuan lain di bibirnya, dan anak kecil yang memanggilnya Papa. Di tengah luka tembak, gugatan cerai, dan rahasia masa lalu yang mulai terkuak, Nadira memilih pergi. Arga baru sadar bahwa istri yang ia tinggalkan bukan sekadar nama di buku nikah. Tapi mengejar Nadira berarti ia harus rela terbakar oleh penyesalan yang selama ini ia hindari. Dan saat dua keluarga, dua rahasia, dan dua nama Alya bertabrakan, siapa sebenarnya cinta sejati Arga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5

Bab 5 - Rumah yang Ditinggalkan

Arga tidak pernah suka merasa tidak berdaya.

Sejak remaja ia terbiasa memaksa tubuhnya melewati batas. Latihan fisik, luka, operasi lapangan, penyamaran berbulan-bulan, tidur di lantai gudang, makan seadanya. Semua bisa ia tahan.

Tapi berbaring di ranjang rumah sakit sambil tahu Nadira sedang pergi dari rumahnya, itu membuatnya hampir gila.

"Komandan, jangan cabut infus."

Bima berdiri di samping ranjang dengan wajah putus asa.

Arga sudah duduk meski perban di dadanya menarik kulit setiap kali ia bergerak. "Ambilkan bajuku."

"Tidak."

Arga menatapnya.

Bima menegakkan punggung. "Maaf, Komandan. Untuk kali ini saya berani tidak patuh. Dokter bilang Komandan belum boleh turun."

"Dokter siapa?"

"Dokter Nadira."

Nama itu membuat Arga diam setengah detik.

Bima memanfaatkan celah itu. "Kalau Komandan memaksa keluar lalu jahitan terbuka, Dokter Nadira bukan tambah luluh. Beliau mungkin tambah ingin mengubur Komandan hidup-hidup."

"Mulutmu..."

"Saya tahu. Masih terlalu sehat."

Arga mengembuskan napas kasar.

Ponselnya tergeletak di meja. Ia sudah menelepon Nadira berkali-kali. Nomornya kini tidak aktif untuknya. Bukan tidak aktif, sebenarnya. Ia tahu bedanya. Nadira memblokirnya.

Istrinya sendiri memblokirnya.

Mantan istri, suara kecil di kepalanya mengoreksi.

Arga meraih ponsel dan menelepon rumah. Mama Renata mengangkat pada dering pertama.

"Mama."

"Jangan panggil Mama dulu kalau cuma mau bikin Mama darah tinggi."

Arga memejamkan mata. "Nadira pergi?"

"Menurut kamu?"

"Ma, aku bisa jelaskan."

"Jelaskan ke istrimu. Bukan ke Mama."

"Dia blokir aku."

"Bagus."

Arga terdiam.

Bima menunduk, menahan senyum.

Mama Renata melanjutkan dengan suara tajam, "Kamu baru sadar dari operasi, bukannya sujud syukur dan minta maaf, malah mengusir istrimu dari rumah. Siapa yang ajari kamu jadi laki-laki seperti itu?"

"Aku tidak tahu dia Dokter Nadira."

"Kalau dia bukan dokter yang kamu suka, berarti boleh kamu usir?"

Arga seperti ditampar.

"Ma..."

"Empat tahun, Arga. Empat tahun Nadira tinggal di rumah ini. Dia menemani Mama ke dokter. Dia mengurus obat Papa. Dia ikut acara keluarga, menjawab pertanyaan orang-orang yang kepo tentang kamu, menahan malu sendirian. Kamu pulang-pulang membawa nama perempuan lain dan anak yang memanggilmu Papa, lalu kamu marah karena dia minta cerai?"

Arga menggenggam ponsel lebih erat.

"Laras bukan..."

"Mama tahu siapa Laras. Tapi Nadira tidak tahu. Kamu tidak memberi dia kesempatan tahu."

Arga tidak punya jawaban.

Mama Renata menurunkan suara. "Kalau kamu masih punya sedikit otak, pikirkan dulu luka Nadira sebelum memikirkan egomu."

Telepon terputus.

Arga menatap layar.

Bima berdehem pelan. "Mama Renata benar."

Arga menoleh.

"Kau mau ikut memarahiku?"

"Saya prajurit Komandan. Kalau di lapangan saya ikut perintah. Tapi ini bukan lapangan. Ini rumah tangga Komandan yang sudah hampir jadi puing."

Arga menatapnya lama. "Kau makin berani."

"Saya ikut Komandan terlalu lama. Ketularan tidak tahu diri."

Biasanya Arga akan menendang kursi Bima. Sekarang ia hanya bersandar, terlalu lelah untuk marah.

"Laras di mana?"

"Di ruang tunggu."

"Suruh dia pulang."

Bima ragu. "Beliau pasti menolak."

"Suruh pulang, Bima."

"Siap."

Bima keluar.

Beberapa menit kemudian, Laras masuk tanpa menunggu izin. Wajahnya tampak tersinggung, tapi begitu melihat Arga duduk, ekspresinya berubah cemas.

"Mas Arga, kamu belum boleh duduk."

Arga menatapnya. "Kenapa Kendra memanggilku Papa?"

Laras membeku.

"Mas..."

"Jawab."

Laras meremas tali tas. "Dia masih kecil. Bayu meninggal waktu dia bayi. Kamu yang paling sering membantu kami. Dia dekat sama kamu."

"Aku bertanya kenapa dia memanggilku Papa."

Mata Laras mulai berkaca-kaca. "Karena dia butuh figur ayah."

"Figur ayah bukan berarti aku ayahnya."

"Aku tahu." Laras mendekat satu langkah. "Tapi kamu sendiri yang selalu datang saat dia sakit. Kamu yang bayar sekolahnya. Kamu yang janji membelikan sepeda. Apa salah kalau anak itu merasa kamu papanya?"

"Salah kalau itu membuat istriku mengira aku punya keluarga lain."

Wajah Laras berubah.

"Istrimu?"

"Nadira."

Laras menatapnya seolah baru mendengar kabar buruk. "Dokter itu?"

"Dia istriku."

"Tapi kalian sudah cerai."

Arga menatapnya dingin. "Prosesnya belum selesai."

"Mas sendiri yang setuju."

"Aku belum tahu dia siapa."

Laras tertawa kecil. Ada getir dan panik di sana. "Jadi kalau bukan dia, Mas tidak peduli?"

Pertanyaan itu sama seperti yang Mama Renata katakan. Arga benci karena jawabannya membuat dirinya terlihat buruk.

"Aku akan tetap bertanggung jawab pada kesalahanku."

"Bagaimana dengan tanggung jawab Mas pada aku dan Kendra?"

"Kendra anak Bayu. Aku akan memastikan dia tidak kekurangan. Tapi mulai hari ini, batasnya jelas. Aku bukan suamimu. Aku bukan ayahnya. Jangan biarkan dia memanggilku Papa lagi."

Air mata Laras jatuh.

"Mas tega."

"Yang tega itu membiarkan anak percaya pada kebohongan."

Laras menatapnya lama. "Semua berubah karena Dokter Nadira?"

"Semua berubah karena aku akhirnya sadar sudah menyakiti istriku."

Laras menggigit bibir. "Mas selalu begini. Bayu mati menyelamatkan kamu, dan kamu merasa hidupmu harus membayar semuanya. Tapi begitu ada perempuan lain, kamu langsung membuang kami."

Arga menegang.

Nama Bayu selalu menjadi luka yang tidak pernah kering.

Bayu Mahendra adalah sahabatnya. Orang yang mendorong Arga keluar dari reruntuhan sebelum tembakan menghantam tubuhnya. Sebelum meninggal, Bayu hanya sempat berkata, "Tolong Laras dan anakku."

Arga menepati itu.

Tapi ia tidak pernah berjanji menggantikan Bayu sebagai suami.

"Aku tidak membuang kalian," katanya pelan. "Aku mengembalikan posisi yang benar."

Laras menghapus air mata. "Dan kalau aku tidak mau?"

Arga menatapnya.

Untuk pertama kalinya, Laras melihat komandan yang biasa ditakuti anak buahnya. Bukan pria yang selama ini ia datangi saat butuh pertolongan.

"Jangan paksa aku membuat batas dengan cara yang lebih keras."

Laras mundur.

Ia keluar tanpa pamit.

Arga menutup mata. Kepala dan dadanya sama-sama sakit.

Sore itu dokter jaga mengizinkannya dipindah ke ruang rawat VIP. Bukan karena ia sudah pulih, tetapi karena pengawasan bisa lebih tenang dan keluarganya mulai berdatangan.

Papa Surya datang menjelang magrib.

Arga belum pernah merasa takut melihat ayahnya sendiri. Tapi kali ini, begitu Papa Surya masuk, ia tahu yang datang bukan hanya seorang ayah. Yang datang adalah orang yang selama empat tahun menyayangi Nadira sebagai anak.

"Pa."

Papa Surya duduk tanpa menjawab salam.

"Kamu tahu di mana Nadira?"

Arga menggeleng.

"Bagus. Kamu memang tidak berhak tahu dulu."

Arga menunduk.

Papa Surya meletakkan sebuah amplop di meja.

"Itu salinan buku nikah dan beberapa dokumen yang kamu perlukan untuk proses pengadilan. Nadira meninggalkan semuanya dengan rapi. Bahkan saat pergi, dia masih memikirkan agar prosesmu tidak repot."

Arga menatap amplop itu.

"Pa, aku mau memperbaiki."

"Kamu baru mau setelah tahu dia perempuan yang menarik hatimu."

Arga tidak bisa membantah.

"Kalau Dokter Nadira bukan istrimu, apa kamu akan tetap merasa bersalah sudah mengusir istrimu dari rumah?"

Pertanyaan yang sama, untuk ketiga kalinya.

Arga akhirnya menjawab dengan jujur.

"Mungkin tidak secepat ini."

Papa Surya menatapnya lama.

"Setidaknya kamu masih bisa jujur."

Arga menelan pahit.

"Aku salah."

"Iya."

"Aku mau minta maaf."

"Minta maaf itu mudah, Arga. Membuat orang percaya lagi itu yang sulit."

Papa Surya berdiri.

"Sembuh dulu. Setelah itu kalau kamu mau mengejar Nadira, lakukan sebagai laki-laki yang sadar sudah menghancurkan hati orang. Bukan sebagai Mayor Arga, bukan sebagai anak keluarga Wijaya, bukan sebagai pria yang terbiasa memberi perintah."

Arga mengangguk.

Setelah Papa Surya pergi, Arga membuka amplop itu.

Buku nikah ada di dalam.

Ia melihat foto mereka.

Nadira muda di foto itu tampak gugup, tapi matanya jernih. Ia berdiri di samping Arga yang bahkan tidak menoleh ke arahnya.

Arga menyentuh foto itu dengan ibu jari.

"Bodoh," gumamnya pada diri sendiri.

Pintu terbuka. Bima masuk membawa bubur.

"Komandan harus makan."

"Cari tahu Nadira tinggal di mana."

Bima meletakkan bubur. "Saya sudah tahu."

Arga menatapnya.

"Apartemen milik Papa Surya di Kemang. Tapi beliau pesan, kalau saya kasih tahu Komandan sebelum Komandan bisa berdiri tanpa infus, saya akan dipindahkan jadi penjaga gudang seumur hidup."

Arga hampir tertawa.

"Kau takut pada ayahku?"

"Saya lebih takut pada Mama Renata."

Untuk pertama kalinya hari itu, sudut bibir Arga bergerak.

Tapi senyum itu cepat hilang saat ia kembali melihat buku nikah.

Ia pernah meninggalkan Nadira tanpa menoleh.

Kali ini, kalau ia ingin perempuan itu kembali, ia harus belajar berjalan ke arahnya pelan-pelan.

Dan mungkin, ia harus siap terbakar dulu.

1
Katherina Ajawaila
vania pasti teropsesi dgn kevin 🤑
Katherina Ajawaila
itu dramanya laras sm vania kgn percaya kalian kan aparat jgn terkecok. sm alasan pepesan , 😡
Katherina Ajawaila
dasar janda gatel maksa in kehendak nya ngk mikir, ada istrinya kemana aja rasa malunya 🤑
Katherina Ajawaila
Vania bodok sibuk urusin Rmh tangga org bikin soe jeblosin in aja kn rodeo rencana cekokolin org dgn alkohol 😡
Katherina Ajawaila
unutung ada Arga mh orsinil cuiiiii, dasar laras penjaht kelamin🤑
Katherina Ajawaila
yg fi tolong lupa daratan, di ksh hati minta empela, dasar pelskor main. cak rata aja 😡
Katherina Ajawaila
gampang benar Agra mentang" aparat anggap gampang perempuan. sombong😡
Katherina Ajawaila
laki" edan sana sini. tebar pesona, SMP anak. org bisa panggil PP, keren bae, perempuan yg bukan, istri bisa mau menguasai 🤑
Katherina Ajawaila
awal cerita yg. sangat menarik, yg buat greget yg baca 🤭
Riski Afriansyah
judulnya bab 41 tapi kok isinya bab 51
Jetva
Setuju..
Jetva
MENOLONG BUKAN BERARTI MEMILIKI APALAGI MENIKAHI.....DITOLONG MALAH NGELUNJAK...
Eka
semoga secepatnya kebongkar kalao memang vania dalang semua kejahatan nya,arga semoga zecepatnya bisa bongkar kalau nadira memang cucunya pak aditya👍👍👍
Eka
reza salah lawan kamu akan menyesal ssh mengusik nadira lihat saja vania paati benyar lagi hancur
Eka
lanjut tjor makin seru
Eka
nadira buktikan kamu kuat bikin arga menyesal dan menangis darah,kamu masih panjang masa depan mu semangat nadira
𝒯𝒽𝒾𝒶𝒶
bagus nadira pergi aja , ditinggal 4 tahun itu lama
Hadi Mulyono
kata bahasa terlalu kaku formal banyak argumen ..bukan dgn bahasa sehari hari yg mudah di fahami
Hadi Mulyono
untungnya Arga gak yg cowok main celap celup atau playboy
Hadi Mulyono
nyebelin banget arga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!