WARNING!! HANYA UNTUK DEWASA!!
Cecilia tidak menyangka, baru saja pindah jiwa ke tubuh wanita lain malah terjebak jadi simpanan Tuan Douglas yang dingin.
Cecilia pun berpikir untuk bisa kabur dari jeratan Tuan Douglas, semakin Cecilia menjauh maka semakin kuat juga Tuan Douglas ingin memilikinya.
"Kau hanya milikku sayang, sampai kapanpun akan tetap menjadi milik ku!" Douglas
"Enak saja! Lebih baik aku mati saja daripada jadi simpanan!" Cecilia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kue dan Kesalahpahaman
Suasana di dalam mansion mewah milik keluarga Essen mendadak terasa berbeda dari biasanya. Hari ini, mobil sedan hitam eksklusif milik sang pemilik rumah sudah terparkir rapi di halaman depan bahkan jauh sebelum jam makan malam tiba. Biasanya, Douglas paling cepat baru akan menginjakkan kakinya di mansion pada pukul sepuluh malam. Namun kali ini, pria berdarah dingin itu sudah pulang saat matahari bahkan belum sepenuhnya terbenam di ufuk barat.
Dorothy menyambut kedatangan sang tuan muda dengan senyuman hangat di lobi utama. Di tangan wanita paruh baya itu, tergantung sebuah paper bag berukuran sedang dari salah satu brand makanan penutup yang sedang viral dan paling diburu oleh para wanita di kota ini. Dorothy tersenyum kecil penuh arti, menebak di dalam hatinya bahwa kedatangan Douglas yang lebih awal dan kantong belanjaan itu sengaja disiapkan untuk menghibur Cecilia yang sedang berduka.
"Selamat sore, Tuan Essen," sapa Dorothy sopan, membungkuk hormat.
Douglas melepas jas kerjanya, menyerahkannya kepada pelayan lain, lalu menatap Dorothy dengan sorot mata menyelidik.
"Apakah hari ini Cecilia keluar kamar?" tanyanya datar.
Meskipun sebenarnya Douglas sudah tahu persis jawabannya karena sepanjang hari di ruang kantornya, ia kerap kali melirik layar monitor komputer yang terhubung langsung dengan kamera CCTV mansion, mengawasi gerak-gerik Cecilia yang asyik memandangi tanaman di taman indoor, ia tetap ingin mendengarnya langsung.
"Iya, Tuan," jawab Dorothy antusias.
"Hari ini Nona Cecilia keluar kamar dan berjalan-jalan di sekitar area dalam mansion. Beliau bahkan sangat menyukai taman indoor di sayap barat, terutama bunga Lavender biru. Nona memandangi dan menjelaskan maknanya dengan sangat antusias tadi."
Douglas terdiam sejenak. Manik matanya berkedip pelan mendengar fakta bahwa Cecilia menyukai lavender biru.
"Lalu, di mana dia sekarang?" tanya Douglas lagi.
"Nona sepertinya merasa kelelahan, Tuan. Tadi beliau meminta diantar kembali ke kamar untuk beristirahat," jelas Dorothy.
Douglas menganggukkan kepala sekilas. Tanpa membuang waktu, ia langsung bergegas melangkah menuju tangga, berjalan cepat menuju kamar utamanya dengan rasa penasaran yang menggelitik di dada seolah bertanya apa yang sedang dilakukan wanita itu di dalam kamar?.
Begitu pintu utama kamar dibuka, suasana di dalam tampak gelap gulita. Selama Cecilia berada di tempat itu, tirai dan pintu balkon memang tidak pernah dibuka lebar, membiarkan kamar itu diselimuti nuansa suram. Douglas lantas menekan saklar lampu. Sinar terang langsung menyinari ruangan, dan pandangannya langsung tertuju pada Cecilia yang kembali duduk meringkuk di atas sofa sudut ruangan.
"Lagi-lagi seperti itu," batin Douglas menghela napas berat.
Douglas meletakkan paper bag di atas meja nakas, lalu melangkah menghampiri Cecilia. Tanpa meminta izin, ia mengangkat tubuh mungil wanita itu dalam gendongannya dan membawanya berpindah ke atas ranjang.
Cecilia terkejut bukan main. Ia menatap tajam ke arah Douglas dengan sorot mata penuh ketus, namun sedetik kemudian ia langsung membuang mukanya ke arah samping, seolah enggan menatap wajah pria itu barang sedetik pun.
Douglas ikut duduk di tepi ranjang, memperhatikan paras Cecilia lekat-lekat. Jika diperhatikan lebih saksama, wanita itu nampak jauh lebih kurus dibandingkan saat pertama kali ia menjemputnya dari apartemen murah dulu. Mata coklat itu tampak cekung, dikelilingi kantong mata yang besar dan kehitaman, padahal Cecilia selalu menghabiskan waktu berjam-jam untuk tidur.
Douglas menghela napas panjang. Ia meraih paper bag yang dibawanya tadi, lalu menyerahkannya kepada Cecilia.
"Makanlah ini," ucap Douglas dingin namun menyiratkan perhatian.
Cecilia menatap bergantian antara paper bag tersebut dan wajah Douglas dengan kening berkerut.
"Ini apa?" tanya Cecilia lirih, suaranya terdengar parau.
"Itu cake dan coklat yang sedang viral," jawab Douglas kaku.
"Pabriknya hanya memproduksi sebanyak dua puluh buah setiap hari. Aku sudah berusaha keras untuk mendapatkannya."
Dengan gerakan ragu, Cecilia membuka paper bag itu dan mengeluarkan kotaknya. Seketika, matanya berbinar kecil dan ia sempat terpukau melihat bentuk kue tersebut yang tampak sangat lezat dan cantik.
Perubahan ekspresi kecil itu tidak luput dari pengamatan mata biru Douglas. Bibir pria itu sempat terangkat membentuk senyuman tipis, senang melihat Cecilia menunjukkan ketertarikan.
Namun, senyuman di wajah Cecilia seketika lenyap tak bersisa saat matanya tak sengaja membaca sebuah catatan kecil (note) yang terselip rapi di atas kotak kue tersebut. Tertulis di atas kertas itu dengan tinta elegan.
"Semoga kamu suka, sayang." dan di bawahnya tertera jelas nama sang pengirim untuk penerima, dari Douglas untuk Adara.
Cecilia mendongak, menatap lurus ke dalam manik mata Douglas dengan sorot mata yang mendadak berubah dingin dan penuh luka. Tanpa ragu, ia mengambil secuil kue itu, mencicipinya sedikit, lalu dengan kasar menutup kembali kotaknya dan mendorongnya menjauh ke pangkuan Douglas.
Douglas tertegun, alisnya bertaut bingung.
"Kenapa? Tidak enak?"
Cecilia tersenyum sinis, menatap Douglas dengan tatapan mengejek.
"Lain kali, kalau tunanganmu Adara tidak menyukai barang pemberianmu, tidak perlu repot-repot membuangnya ke hadapanku," ucap Cecilia tajam dengan suara bergetar.
"Aku sudah cukup tahu diriku berada di posisi mana. Aku tidak butuh barang sisa atau barang bekas yang dibeli untuk wanita lain."
Mendengar ucapan blak-blakan itu, dada Douglas mendadak disergap rasa kesal yang luar biasa. Ia sudah bersusah payah mengantre, bahkan harus mengeluarkan uang empat kali lipat lebih banyak dari harga normal karena stok hari itu sudah habis, demi mendapatkan kue itu khusus untuk Cecilia. Dan sekarang, lihat bagaimana wanita ini menuduhnya dengan begitu kejam dan tidak menghargai usahanya!
"Apa maksud dari ucapanmu itu, Cecilia?!" bentak Douglas tertahan, sorot matanya menajam.
"Siapa yang bilang ini untuk Adara?"
Cecilia menunjuk kertas kecil di atas kotak kue dengan dagunya. "Tulisan itu sudah menjelaskan semuanya, Tuan Douglas yang terhormat. Berhenti memperlakukanku seolah aku ini orang bodoh yang bisa disogok dengan makanan sisa tunanganmu!"
Douglas mengerutkan keningnya dalam-dalam. Penasaran, ia langsung merogoh kotak tersebut dan mengambil secarik kertas catatan yang dimaksud Cecilia.
Seketika itu juga, manik mata biru Douglas membelalak lebar, dan warna di wajahnya menggelap mengerikan.
Ia membaca tulisan di atas note tersebut. Sialan! Jelas-jelas ia tidak pernah menulis pesan gombal seperti itu, apalagi membubuhkan nama Adara di sana!.
Douglas langsung teringat kejadian di toko tadi sore. Beberapa hari lalu, Adara memang sempat merengek meminta kue viral itu kepadanya, namun ditolak oleh pihak toko karena stoknya sudah habis. Dan hari ini, saat pegawainya melayani pembelian Douglas, pegawai toko atau mungkin manajer butik tersebut pasti berasumsi bahwa kue edisi terbatas itu dibeli untuk sang tunangan tersohor, mengingat seluruh penjuru kota tahu bahwa Douglas Michael Essen telah bertunangan dengan Adara.
Pihak toko berinisiatif memberikan catatan manis tersebut tanpa diminta, mengira mereka sedang menyenangkan hati sang Nona Adara!.
Douglas melirik sekilas ke arah Cecilia yang kini sudah membaringkan tubuhnya, membelakangi dirinya dengan napas tersengal menahan tangis.
"Pantas saja..." batin Douglas menggeram kesal pada kesalahpahaman fatal ini.
"Pantas saja dia bicara begitu padaku tadi!"
"Cecilia, dengar dulu..." panggil Douglas dengan suara yang melunak, mencoba menjelaskan keadaan.
Namun, tidak ada respons. Cecilia memilih menutup matanya rapat-rapat, membiarkan keheningan malam dan rasa sakit hati kembali menenggelamkan dirinya. Douglas mengepalkan tangannya erat-erat. Malam ini, ia bersumpah akan membereskan kesalahpahaman itu, tetapi untuk saat ini, ia harus memikirkan cara agar wanita keras kepala di hadapannya mau mendengarkannya.
Bersambung...
Salah sendiri tidak memeriksa sebelum memberikannya pada Cecilia.🙄
ati2 cecil🤭🤭🤭
ati2 doughlas klo cecilia kabur🤣🤣🤣🤣
thor plis kasih doughlas pelajaran dong,jdi gemes nih🤣🤣🤣🤣
mungkin methong kedua kali cil baru bebas