NovelToon NovelToon
Angsa Cantikku

Angsa Cantikku

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Myz Pena

​"Tak ada yang lebih menyakitkan daripada melihat orang yang kau cintai,
ragu memilihmu demi seseorang yang paling kau benci.
​Dan di antara amarah yang membakar serta air mata yang bengkak,
dua jiwa yang terluka dipaksa melangkah di jalan yang sama...
tanpa sadar, bahaya sebenarnya justru sedang mengintai dari jarak paling dekat"

​Bagi Lulu, menjadi sosok culun dan tak kasat mata di kantor adalah hal biasa. Namun, di balik penampilannya yang sederhana, senyum hangat dan ketulusannya justru menjadi "racun" paling mematikan bagi dua pria kelas atas.

​Angga, manajer berdingin hati yang membenci kesalahan, mendadak kehilangan fokus tiap kali Lulu berada di dekatnya.

Sementara Riko, CEO angkuh yang awalnya
memandang Lulu sebelah mata, malah terjatuh paling dalam akibat sebuah insiden tak terduga. Ketika dua pria berkuasa ini saling berhadapan demi merebut satu perhatian...

siapakah yang akhirnya memenangkan hati Lulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myz Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23 : BAYANGAN CINTA PERTAMA

Di dalam ruang kerja pribadinya yang megah dengan lampu temaram, Riko berdiri menyandarkan tubuhnya pada meja kayu jati.

Di hadapannya, Ivan berdiri tegap dengan gestur tenang dan patuh yang sempurna topeng kepercayaan yang selalu ia kenakan dengan rapi di hadapan sang bos.

​Ivan membuka map hitam elegan yang dibawanya, menyodorkan lembar demi lembar laporan hasil penelusurannya.

​"Sesuai perintah Anda, Pak. Semua penyelidikan sudah selesai saya selesaikan satu per satu" Ucap Ivan dengan suara rendah dan teratur.

​Ivan menunjuk foto pertama yang terlampir di dalam map.

​"Pertama, soal wanita bernama Anna. Lewat orang-orang bayaran saya di lapangan, keberadaannya sudah berhasil kita lacak secara presisi. Dia saat ini bekerja sebagai dokter dan berdomisili tidak jauh dari pusat kota"

​"Ternyata kamu sudah kembali" Ucap Riko hanya mengangguk dan tersenyum tipis. Namun, raut wajahnya berubah total saat Ivan membalik halaman berikutnya dan menyodorkan berkas kedua.

​"Dan ini yang kedua... mengenai identitas Lulu" lanjut Ivan.

"Gadis itu hanya orang biasa. Dia berasal dari Desa X, dibesarkan dalam keluarga yang sangat sederhana. Ayahnya seorang petani kecil, ibunya berjualan sayur di pasar lokal dan dia punya dua adik yang masih sekolah berumur 12 dan 15 tahun" Riko terpaku seketika. Ia mengambil lembaran biodata Lulu, membaca baris demi baris detail latar belakang keluarga gadis itu dengan mata berbinar.

Terkejut? Tentu saja. Riko tidak menyangka gadis yang belakangan ini menarik perhatiannya atau bahkan berani bersikap jual mahal padahal ia berasal dari latar belakang sekelas rakyat jelata.

​Namun, rasa terkejut itu dengan cepat berganti menjadi kepuasan yang luar biasa. Senyum culas dan miring perlahan mengembang di bibir Riko.

​"Petani dan pedagang sayur?" kekeh Riko pelan, melemparkan berkas itu kembali ke meja dengan gaya meremehkan.

"Keluarga yang sangat rawan dan mudah dihancurkan"

Riko meneliti kembali lembar dokumen di tangannya, lalu pandangannya tertahan pada satu baris informasi tambahan yang ditulis Ivan di bagian bawah berkas.

​"Satu hal lagi, Pak" potong Ivan seraya menunjuk poin tersebut dengan ujung pulpennya.

"Di kantor tempatnya bekerja, Lulu hanyalah staf biasa. Dia merupakan bawahan langsung Pak Angga yang tugasnya sehari-hari hanya menerima dan menjalankan perintah dari Angga" Tambah Ivan memperjelas hubungan antara Lulu dan saudara tirinya tersebut hanya sebatas rekan kerja.

​Riko menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kulitnya, lalu meledakkan tawa kecil yang sarat akan rasa puas dan penghinaan.

​"Cuma bawahan yang selalu disuruh-suruh Angga?" Riko menggeleng-gelengkan kepala dengan seringai culas yang makin lebar.

"Gadis kampung dari keluarga miskin dan di kantor pun posisinya cuma pesuruh Angga... Sungguh kombinasi yang sangat sempurna"

​Rasa puas di dada Riko makin meluap.

Fakta bahwa Lulu hanya seorang staf rendahan di bawah kendali Angga membuat Riko merasa gadis itu benar-benar tak berdaya. Di matanya, Lulu tak punya posisi, tak punya pengaruh dan tak punya pelindung yang cukup kuat.

​"Ini makin memudahkan permainan kita Ivan," bisik Riko dengan mata berkilat licik.

"Orang seperti dia akan sangat mudah ditundukkan. Kita lihat sejauh mana dia bisa bertahan saat gempuran dari kita mulai masuk dari segala arah"

​Ivan mengangguk patuh dengan wajah tanpa ekspresi, menyembunyikan kilat dingin di matanya sendiri saat menyaksikan Riko yang kini merasa di atas angin.

Bagi Riko, informasi mengenai latar belakang Lulu adalah senjata emas. Dengan keluarga yang begitu lemah dan bergantung pada ekonomi sederhana, Riko merasa memiliki kendali penuh.Ia bisa dengan mudah menekan, memanipulasi, atau membeli kehidupan Lulu kapan saja ia mau agar ia bisa menghancurkan kehidupan saudara tirinya yang begitu ia benci.

​"Kerja bagus, Ivan" puji Riko seraya menepuk bahu sekretaris kepercayaannya itu dengan penuh kepuasan, sama sekali tidak menyadari bahwa di balik wajah patuh Ivan, sang sekretaris juga sedang menghitung setiap langkah untuk kepentingannya sendiri.

Setelah merasa puas dengan berkas identitas Lulu, Riko mengalihkan pembicaraan. Ia kembali menatap Ivan dengan pandangan menuntut.

​"Soal bunga yang aku pesan untuk adiknya Ami... apa sudah dikirimkan?" tanya Riko santai.

"Gimana respon dia?"

"Sudah dikirimkan tepat waktu sesuai instruksi Anda, Pak. Soal responnya... Ami menerima bunga itu, tapi seperti biasa, dia tidak banyak bicara dan terkesan biasa saja." Ivan membungkuk kaku, menjawab dengan nada yang amat teratur.

"Begitu rupanya" Gumam Riko.

"Sepertinya aku harus segera menghubunginya, agar Ami tidak berlarut - larut dalam prasangka buruk tentang ku" Batin Riko begitu takut dan sedikit cemas jika Ami adik kesayangannya tersebut ikut membenci dirinya.

​Riko hanya menderu napas tipis, sebelum berpindah ke topik utama yang paling krusial bagi bisnisnya.

​"Lalu, bagaimana perkembangan tentang investor asing itu?"

​"Mengenai investor asing" pangkas Ivan cepat seraya membuka lembar dokumen bisnis di mapnya.

"Konsorsium yang akan datang ini berasal dari Amerika, Pas. Jadwal kedatangan mereka resmi dipastikan dua bulan lagi dan titik pertemuan utama dipusatkan di Jakarta"

Riko mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja kayu jati, mencerna informasi tersebut. Dahi dan alisnya bertaut tajam saat ia teringat pada agenda rapat luar kantor hari ini.

​"Satu hal lagi, Ivan..." Riko menatap tajam ke arah sekretaris kepercayaannya itu.

"Apakah kamu sudah memberitahukan seluruh jajaran divisi di kantor terutama para manajer mengenai rapat pembahasan investor asing siang ini? Atau belum sama sekali?"

​Ivan menatap Riko tanpa berkedip, mempertahankan raut wajahnya yang tenang dan profesional untuk menyampaikan laporan berikutnya.

​"Sudah, Pak... Pemberitahuan resmi dan pengumuman terkait rapat siang ini sudah saya sampaikan ke seluruh jajaran divisi, khususnya kepada para manajer di kantor"

Ucap Ivan mengangguk mantap, menjawab pertanyaan Riko tanpa ragu.

​Riko mengangguk puas seraya memutar-mutar pulpen ballpoint berlapis emas di jemarinya. Kejelasan informasi dari Ivan selalu membuat pekerjaannya terasa berjalan mulus.

​"Bagus..." ujar Riko tegas.

"Kalau begitu, atur jadwal rapat itu sebaik dan serapi mungkin. Pastikan semua manajer siap dan paham kalau pembahasan investor asal Amerika dua bulan lagi ini adalah pertaruhan besar untuk perusahaan kita" Tambahnya.

​"Siap, Pak.... Segera saya susun agenda dan persiapannya" sahut Ivan cepat, jarinya dengan cekatan mencatat instruksi tersebut.

​Riko menyandarkan punggungnya ke kursi kulit mewahnya, pandangannya menerawang menatap foto Anna yang tadi disodorkan oleh Ivan di atas meja. Raut wajahnya yang tadinya keras dan penuh ambisi bisnis, mendadak melunak berubah menjadi tatapan yang dipenuhi obsesi dan kerinduan mendalam.

​"Dan satu lagi, Ivan..." kata Riko, suaranya berubah lebih pelan namun penuh penekanan.

"Setelah urusan rapat kantor ini beres, buatkan saya jadwal khusus untuk bertemu dengan Anna" Ucap Riko mengetukkan jemarinya perlahan di tepi foto Anna, menatap lekat wajah wanita itu.

​"Sudah terlalu lama aku menunggu. Buat rencana yang rapi agar aku bisa bertemu kembali dengannya" Tambahnya dengan penuh lirih.

​Ivan memperhatikan gestur Riko sejenak, mengunci rapat-rapat ekspresi wajahnya agar tak terbaca, sebelum akhirnya membungkukkan badan dengan hormat.

​"Baik,Pak.... Akan saya atur waktu dan tempat terbaik agar Anda bisa bertemu dengan Dokter Anna tanpa ada gangguan"

​Rapat pun berlangsung dengan melibatkan seluruh manager divisi di kantor Riko. Ruang rapat utama di lantai teratas gedung kantor Riko memancarkan aura dingin dan serba presisi. Meja kaca panjang berbentuk oval dikelilingi kursi-kursi kulit hitam yang kini diisi penuh oleh para manajer dari seluruh divisi mulai dari Divisi Keuangan, Operasional, Pemasaran, hingga Hukum. Di ujung meja, Riko duduk di kursi utamanya dengan gestur tubuh yang begitu dominan dan percaya diri.

​Di samping kanan Riko, Ivan berdiri tegap, siap mengendalikan jalurnya presentasi digital dan mencatat setiap poin penting.

​Keheningan yang menegang menyelimuti ruangan sebelum Riko akhirnya menegakkan posisi duduknya. Ia memutar-mutar pulpen emas di jemarinya, melemparkan pandangan tajam yang menyapu seluruh wajah manajer di hadapannya.

​"Saya yakin Ivan sudah menyampaikan latar belakang rapat siang ini ke kalian semua" Ucap Riko dengan suara berat dan tenang, namun sanggup mengunci perhatian seluruh isi ruangan.

"Dua bulan lagi, konsorsium investor skala besar dari Amerika akan mendarat di Jakarta. Ini bukan sekadar proyek ekspansi biasa. Ini adalah batu loncatan yang akan menentukan posisi perusahaan kita di level internasional" Ucapnya kembali memberi isyarat kecil pada Ivan. Dengan gerakan cepat dan cekatan, Ivan menekan remote, menampilkan bagan alur proyek, analisis risiko, serta proyeksi keuntungan bernilai fantastis di layar proyektor besar.

​"Seperti yang Anda sekalian lihat di layar" potong Ivan dengan nada profesional nan datar.

"Investor Amerika ini menerapkan standar yang sangat tinggi. Mereka tidak hanya melihat angka dividen, tapi juga efisiensi sistem, akuntabilitas audit dan kesiapan tim eksekutor di lapangan".

Manager Keuangan berdehem pelan sebelum memberanikan diri membuka suara

"Ekhm,,, Izin, Pak Riko. Berdasarkan draf awal, penyelarasan sistem dan alokasi modal membutuhkan penyesuaian anggaran yang cukup masif dalam kurun waktu delapan minggu ini. Apakah kita akan memfokuskan seluruh likuiditas ke proyek ini?" Ucap Manager tersebut

​"Tentu saja" jawab Riko cepat tanpa ada keraguan sedikit pun di wajahnya.

"Saya tidak mau mendengar kata tidak siap atau anggaran terbatas. Semua divisi wajib memangkas birokrasi yang lambat. Saya mau semua laporan audit, pemetaan jalur operasional dan draf presentasi final sudah bersih sebelum mereka mendarat di Jakarta"

​Riko mengetukkan pulpen emasnya dua kali ke meja kaca, menimbulkan suara ctak-ctak yang nyaring dan mengintimidasi.

​"Ingat, proyek ini adalah pertaruhan nama besar kita. Siapa pun manajer yang terbukti ceroboh, lambat atau menjadi celah kegagalan dalam dua bulan ke depan... saya pastikan posisi kalian akan digantikan hari itu juga tanpa toleransi" Ucapnya memberikan ancaman secara halus namun mematikan dari Riko membuat atmosfer ruangan mendadak makin mencengkeram.

Para manajer saling melempar kerlingan cemas, mengangguk patuh sambil mencatat poin-poin penting di agenda masing-masing. Tidak ada yang berani membantah atau mencari alasan.

​"Ivan" panggil Riko lirih.

​"Siap Pak.." sahut Ivan seraya membungkuk sedikit.

​"Bagi draf tugas spesifik untuk tiap-tiap divisi. Saya beri waktu sampai akhir pekan ini untuk melihat hasil breakdown rencana kerja dari masing-masing manajer"

​Riko berdiri dari kursinya, merapikan kancing jas mewahnya. Tatapannya dingin, mencerminkan ambisi besar yang tak tersentuh.

Rapat resmi ditutup, meninggalkan para manajer yang langsung diliputi kepanikan dan kesibukan tinggi untuk mengejar tenggat waktu yang ditetapkan oleh bos mereka yang bertangan dingin tersebut.

​Setelah seluruh manajer berhamburan keluar ruangan rapat dengan raut cemas, Riko kembali ke meja kerjanya. Pandangannya langsung tertuju pada layar ponsel yang menampilkan detail jadwal malam ini.

​"Ivan" panggil Riko tanpa menoleh jemarinya mengetuk-ngetuk meja.

"Bagaimana rencana untuk Anna? Semua sudah berjalan sesuai instruksi?"

​"Sudah, Pak...Pesan singkat sudah dikirimkan ke ponsel Dokter Anna melalui perantara kontak rekannya sesuai skenario yang Anda minta. Mengajaknya bertemu untuk makan malam melepaskan penat di restoran mewah dekat area rumah sakit, selepas jam tugasnya"

​"Bagus. Dia tidak boleh tahu kalau aku yang menunggu di sana. Kalau dia tahu sejak awal, Anna pasti akan langsung mencari seribu alasan untuk menghindar, seperti yang selalu dia lakukan selama ini" Senyum tipis yang sarat akan dominasi terukir di bibir Riko.

​Riko sangat paham betul tabiat Anna. Wanita itu selalu memajang benteng tinggi dan terus menjauhinya, padahal Riko tahu pasti bahwa Anna juga menyukainya. Namun malam ini, Riko tidak akan membiarkan Anna lari lagi.

​Beberapa Jam Kemudian , tepat di sebuah Restoran Mewah dekat Rumah Sakit. Dimana

​Suasana restoran tampak begitu privat dan elegan dengan pencahayaan temaram serta alunan musik klasik yang lembut.

Anna yang baru saja menyelesaikan shift malamnya yang melelahkan di rumah sakit melangkah masuk menembus pintu kaca restoran.

​Dengan tas tangan yang tersampir di bahu dan raut wajah yang masih menyimpan sisa-sisa kegalauan memikirkan Angga, Anna mengedarkan pandangan.

Setelah Anna selesai mengobrol dengan Siska mengenai Angga, Anna menerima pesan dari Ibu Direktur Rumah Sakit. Karena yang mengundang adalah atasan penting di tempatnya bekerja, Anna merasa penasaran sekaligus tidak curiga sama sekali yang akhirnya membuat jebakan Riko berjalan sangat mulus.

​Pelayan restoran menyapa halus, mengantarnya menuju area VIP Booth yang agak tersembunyi di sudut ruangan.

​Namun, begitu langkah kaki Anna sampai di balik penyekat ruangan, pijakannya mendadak terhenti.

Jantungnya serasa berhenti berdetak seketika. Di balik meja bundar berbahan marmer itu, bukannya sang kawan yang duduk menunggu... melainkan seorang pria berjas rapi yang sedang menatapnya dengan binar mata penuh kemenangan.

"Riko.." Batin Anna dengan tatapan bingung.

​"Selamat malam, Anna" sapa Riko dengan suara berat nan tenang, berdiri dari kursinya seraya menyunggingkan senyum hangat namun amat mengintimidasi.

"Tolong duduk. Kamu kelihatan capek sekali malam ini"

​Darah Anna mendadak berdesir dingin. Rasa lelahnya berganti menjadi gelombang keterkejutan dan kemurkaan yang tertahan. Ia sadar, ia baru saja dijebak secara halus.

​"Riko...?" desis Anna sekali lagi suaranya tercekat di tenggorokan.

Kehadiran pria di hadapannya benar-benar di luar nalarnya. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa Riko mengetahui bahwa ia sudah kembali ke Indonesia dan bertugas sebagai dokter di sini? Padahal, selama ini Anna sudah berusaha setengah mati menutup rapat-rapt jejak keberadaannya.

​Tapi kemudian, rasa terkejut itu perlahan berganti menjadi kesadaran yang pahit.

​Ya... dia adalah Riko Putra Mahenra.

​Sang pewaris tunggal dari keluarga Mahenra yang kaya raya.

Pria dengan jaringan kekuasaan, uang, dan pengaruh bisnis yang seolah tanpa batas. Bagi seorang Riko, melacak keberadaan seorang dokter muda di Jakarta bukanlah hal yang mustahil. Bahkan memanipulasi ajakan Ibu Direktur Rumah Sakit pun tentu perkara mudah baginya.

​"Kenapa kamu kelihatan sekaget itu, Anna?" suara Riko mengalun rendah, sangat tenang namun sarat akan keangkuhan yang terselubung. Riko menggeser kursi di hadapannya, mengisyaratkan Anna untuk duduk.

"Kamu pikir kamu bisa sembunyi selamanya dari aku setelah kembali ke tanah air?"

​Anna mencengkeram tali tas tangannya makin erat, enggan melangkah mendekat.

​"Riko... jadi pesan dari Ibu Direktur tadi..." suara Anna bergetar, menatap Riko dengan tatapan dingin penuh kewaspadaan.

"Kamu yang mengatur ini semua?" Tanya Anna dengan memastikan.

Riko menyunggingkan senyum tipis senyuman khas milik seorang Mahenra yang selalu tahu cara mendapatkan apa yang ia inginkan.

​"Kalau aku tidak pakai cara ini, apa kamu mau menemui aku secara sukarela, Dokter Anna?" sahut Riko santai, menatap lekat wajah wanita yang selama ini menjadi obsesi terbesar dalam hidupnya.

"Duduklah. Kita punya banyak hal yang harus dibicarakan"

1
-Thiea-
kenapa wanita itu bisa sampai dibunuh? Apa yang menjadi dasar dari tindakannya itu kira-kira?"
ginevra
astaga!!! tokoh utamanya meninggal dari episode pertama.
Myz Pena: penasaran kan.. ?? 🤭
total 1 replies
ginevra
ada apa ini? awal udah disuguhi adegan bekap membekap.
sinnox
Hayoloh lulu🫢
Myz Pena: Lulu OTW kerja keras 💪
total 1 replies
Wawan
Salam kenal untuk Lulu 💪✍️
Wawan
Waow /Toasted/
Myz Pena: ini karya pertama ku,, mohon selalu dukungannya ya... dan mari kita saling mendukung 🥹❤️❤️❤️❤️
total 1 replies
ciber ara
makin suka sama ceritanya
semangat thor
Myz Pena: mohon dukungannya ya,, jalan ceritanya akan tetap mendebarkan hanya saya menyesuaikan bab2 sebelumnya karena terlalu panjang..terimah kasih sudah memberi banyk dukungan 🥹❤️❤️
total 2 replies
Anisa Nur Afifah
haii kak mampir lagi nih aku, semangat yaa . jngan lup mampir lagi di novelku🥰
Myz Pena: siap 🤩🤩
total 2 replies
Myz Pena
terimah kasih 😍❤️❤️❤️
Anisa Nur Afifah
seruu banget kaa, aku balik lagiii nih🥰
ciber ara
lnjut💪
Myz Pena: siap, updatenya setiap hari ya.. 😍
total 1 replies
Nisaicha
wah menarik kak ada visualnya juga 😍
jadi penasaran nih lanjut baca..
Myz Pena: di tunggu ya... updatenya tiap hari 😍
total 1 replies
Anisa Nur Afifah
lanjut kakkk
Myz Pena: terimah,, kasih ❤️❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!