NovelToon NovelToon
Dibuang Mertua, Ternyata Pewaris Triliunan

Dibuang Mertua, Ternyata Pewaris Triliunan

Status: sedang berlangsung
Genre:Menantu Pria/matrilokal / Kaya Raya / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ardana Bayu

Hendry Pratama, menantu keluarga Mahendra di Kota Biru, sudah tiga tahun menjadi bahan hinaan.

Mertua perempuannya, Mama Ayu, setiap hari memaki dan menuntut perceraian. Istrinya, Jessica, bersikap dingin. Satu-satunya yang menyayanginya hanyalah putri kecilnya, Daun.

Sampai suatu hari, telepon misterius mengubah segalanya.

"Pak Hendry, semua aset atas nama Anda sudah siap. Total: 576 miliar Rupiah."

Ternyata, Hendry adalah putra tunggal Hartanto Pratama — konglomerat terbesar yang pernah menguasai seluruh Asia Tenggara. Dia bukan menantu miskin. Dia adalah pewaris kerajaan bisnis triliunan.

Sekarang, semua orang yang pernah meremehkannya... akan berlutut.

"Kau pikir aku cuma sopir? Lihat baik-baik siapa yang sebenarnya menguasai kota ini."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16

Bab 16: Balapan Melawan Si Kaya

Mobil baru meninggalkan gerbang Imperial Garden Club ketika deru mesin rendah terdengar dari belakang.

Satu Lamborghini hitam memotong jalan di depan mereka dan berhenti melintang di area parkir luar.

Bagus langsung menginjak rem.

Jessica yang duduk di kursi belakang terkejut. "Apa lagi?"

Hendry menatap kaca depan.

Vincent Hadiprana turun dari Lamborghini itu.

Jas putihnya masih rapi. Senyum di wajahnya sudah hilang. Di belakangnya, beberapa mobil sport lain berhenti, membawa penonton yang tadi masih berada di pesta.

Brandon dan Kevin juga keluar dari gedung, wajah mereka berubah serius.

"Dia tidak bisa diam," gumam Brandon.

Hendry membuka pintu.

Jessica langsung menahan lengannya. "Jangan keluar. Kita pulang saja."

"Kalau kita pulang sekarang, dia akan mengejar dengan cara lain."

Jessica menggigit bibir.

Hendry turun.

Angin malam membawa bau bensin halus dan hujan yang belum turun. Lampu parkir membuat garis tajam di wajah Vincent.

"Sopir," panggil Vincent.

Hendry berjalan mendekat.

"Kamu ingin apa?"

"Kamu tadi banyak bicara di dalam. Berani bicara di luar juga?"

"Aku sudah selesai."

"Aku belum."

Vincent menunjuk Lamborghini di belakangnya.

"Balapan. Satu putaran di Sirkuit Bukit Utara. Lintasan privat. Legal. Tidak ada polisi lalu lintas, tidak ada alasan."

Beberapa tamu langsung berbisik.

Sirkuit Bukit Utara adalah lintasan pribadi di pinggir Kota Biru, biasa dipakai anak-anak konglomerat untuk mencoba mobil mahal mereka. Untuk masuk saja perlu kartu anggota.

Vincent mengangkat satu jari.

"Taruhan Rp 1 Miliar."

Jessica turun dari mobil. "Hendry, jangan."

Vincent tertawa dingin.

"Takut? Wajar. Sopir biasanya hanya bisa membawa majikan pulang, bukan melawan Lamborghini."

Hendry menatapnya.

"Bisa."

Satu kata.

Pendek.

Tenang.

Jessica langsung membelalak. "Hendry!"

Vincent tersenyum puas. "Mobilmu mana?"

Hendry belum menjawab ketika sebuah benda kecil melayang di udara.

kunci mobil.

Hendry menangkapnya.

Kevin Saputra berjalan mendekat.

"Pakai punyaku."

Di sisi parkir, sebuah Ferrari merah menyala di bawah lampu. Garis bodinya rendah, mesin di belakangnya seperti binatang yang sedang tidur.

Vincent menatap Kevin. "Kamu ikut campur lagi?"

"Aku meminjamkan mobil. Balapan tetap urusan kalian."

Kevin menatap Hendry.

"Mobil ini ringan di tikungan. Remnya agak sensitif. Jangan terlalu sayang."

Brandon hampir tersedak. "Kevin, itu Ferrari-mu."

"Kalau rusak karena dipakai orang menarik, setidaknya ceritanya bagus."

Hendry menatap kunci di tangannya.

"Aku akan kembalikan utuh."

"Aku percaya."

Konvoi mobil sport bergerak ke Sirkuit Bukit Utara.

Bagus mengemudi membawa Jessica, sementara Hendry duduk diam di Ferrari Kevin. Ia menyesuaikan kursi, memegang setir, lalu mendengar mesin menyala.

Raungan rendah memenuhi kabin.

Untuk sesaat, ingatan lama bergerak di tubuhnya.

Latihan reaksi.

Kendali napas.

Membaca jarak.

Merasakan berat kendaraan seperti bagian dari tangan sendiri.

Kecepatan bukan soal berani menekan gas.

Kecepatan adalah tahu kapan tidak menekan.

Sirkuit Bukit Utara terang oleh lampu sorot. Lintasan aspal hitam melingkar di kaki bukit, lengkap dengan tikungan tajam, straight pendek, dan area runoff. Karena kabar menyebar dari pesta, belasan mobil mewah sudah berdatangan.

Mereka ingin menonton.

Sopir miskin melawan Vincent Hadiprana.

Cerita seperti itu terlalu mahal untuk dilewatkan.

Jessica berdiri di dekat garis start bersama Brandon dan Kevin. Wajahnya tegang.

Angelica Permata berada di tribun kecil, masih mengenakan gaun malam. Ia tidak mendekat. Matanya mengikuti Ferrari merah yang dikemudikan Hendry.

Vincent memakai sarung tangan balap.

Ia menurunkan kaca Lamborghini.

"Masih sempat mundur."

Hendry menoleh.

"Kamu sudah siapkan uang?"

Wajah Vincent mengeras.

Seorang panitia lintasan berdiri di depan dua mobil.

Lampu start menyala merah.

Satu.

Dua.

Tiga.

Hijau.

Lamborghini Vincent melesat lebih dulu.

Raungannya memecah malam.

Ferrari Hendry bergerak setengah detik kemudian, tidak meledak seperti Vincent, tetapi menempel rapat seperti bayangan.

Tikungan pertama datang cepat.

Vincent mengambil jalur luar dengan percaya diri. Mobilnya kuat, stabil, dan mahal.

Hendry justru masuk lebih lambat.

Penonton mulai tertawa.

"Dia takut!"

"Ferrari bagus disia-siakan!"

Jessica mengepalkan tangan.

Kevin tidak tertawa.

Ia melihat posisi ban Ferrari.

Melihat cara Hendry menahan gas.

"Bukan takut," gumamnya.

Brandon menoleh. "Apa?"

"Dia sedang membaca lintasan."

Tikungan kedua lebih tajam.

Vincent mempertahankan keunggulan. Ia melirik kaca spion dan mencibir.

"Sopir tetap sopir."

Namun di belakangnya, Ferrari tiba-tiba berubah.

Hendry menurunkan gigi.

Mesin meraung.

Mobil merah itu masuk ke tikungan dengan sudut yang hampir mustahil, bagian belakangnya sedikit terlempar, lalu ditangkap kembali oleh tangan Hendry.

Drift pendek.

Bersih.

Tidak liar.

Ban menjerit di aspal.

Penonton yang tadinya tertawa langsung diam.

Ferrari keluar dari tikungan dengan hidung mengarah lurus ke sisi dalam Lamborghini.

Vincent membelalak.

"Apa..."

Hendry tidak melihatnya.

Matanya hanya pada garis lintasan.

Tikungan ketiga adalah kesempatan.

Vincent mencoba menutup jalur.

Hendry membiarkannya.

Lalu tepat sebelum apex, ia memindahkan berat mobil, menyentuh rem, melepas, dan menekan gas lagi.

Ferrari menyelinap dari sisi dalam.

Setipis napas.

Di tribun, seseorang berteriak.

"Dia menyalip!"

Jessica tanpa sadar melangkah maju.

"Hendry..."

Lamborghini meraung marah di belakang Ferrari. Vincent menekan gas seperti orang yang ingin mematahkan pedal.

Jarak mengecil di straight terakhir.

Mesin Lamborghini lebih brutal.

Ferrari lebih ringan.

Dua mobil itu hampir sejajar.

Garis finis terlihat.

Satu detik.

Setengah detik.

Jessica tidak lagi peduli siapa melihat.

Ia berteriak sekeras yang ia bisa.

"Suamiku, semangat!"

Suara itu menembus deru mesin.

Di dalam Ferrari, tangan Hendry di setir bergetar sangat halus.

Suamiku.

Kata itu seperti cahaya yang masuk ke tempat paling gelap.

Sudut bibirnya naik.

Ferrari melesat setengah badan di depan.

Melewati garis finis.

Satu tarikan napas kemudian, Lamborghini lewat di belakangnya.

Sirkuit meledak.

Sorakan, peluit, teriakan, suara ponsel merekam.

Brandon meloncat seperti anak kecil. "Gila! Mas Hendry gila!"

Kevin tertawa pelan, matanya bersinar.

"Ferrari-ku baru saja mendapat harga cerita."

Jessica berdiri kaku setelah sadar apa yang ia teriakkan.

Wajahnya perlahan memerah.

Hendry keluar dari mobil.

Vincent juga keluar, tetapi wajahnya gelap seperti langit sebelum badai.

"Taruhan," kata Hendry.

Vincent menatap sekeliling.

Semua orang menunggu.

Jika ia tidak membayar, Hadiprana akan kehilangan muka.

Ia mengeluarkan ponsel dan menekan layar dengan keras.

Notifikasi masuk di ponsel Hendry.

Rp 1.000.000.000.

Vincent mendekat, suaranya rendah.

"Ini belum selesai."

"Aku tahu."

"Kamu akan menyesal."

Hendry memasukkan ponsel ke saku.

"Orang yang kalah biasanya berkata begitu."

Vincent berbalik dan masuk ke Lamborghini. Mobil itu pergi dengan raungan kasar, meninggalkan bau ban panas.

Penonton masih ramai ketika Hendry mengembalikan kunci kepada Kevin.

"Utuh."

Kevin menerima kunci itu. "Lebih dari utuh. Mulai malam ini, orang akan bertanya siapa kamu."

"Biarkan mereka bertanya."

Dalam perjalanan pulang, mobil terasa terlalu sunyi.

Bagus mengemudi di depan dengan wajah lurus, tetapi telinganya tampak lebih siaga daripada biasa. Jessica duduk di belakang bersama Hendry, memandang keluar jendela.

Lampu kota bergerak mundur.

Setelah lama diam, Jessica berkata pelan, "Tadi itu..."

Hendry menoleh.

"Aku cuma terbawa suasana."

"Aku tahu."

Jessica menggigit bibir. "Jangan senyum begitu."

"Aku tidak senyum."

"Kamu senyum."

Hendry melihat ke depan.

"Sedikit."

Jessica menoleh ke jendela lagi, tetapi telinganya merah.

Hendry tidak mengatakan apa-apa lagi.

Namun sampai mobil memasuki Taman Indah Residence, sudut bibirnya tidak turun.

1
Marchel
Seneng banget liat Yanto membeku seperti itu🤣🤣🤣
Marchel
Pasti Yanto punya niat terselubung
Marchel
Bagus Hendri kamu harus tegass
Marchel
Hendri mulut mertuamu lemesss bangetttt pengen aku sumpel pake baju cucian/Panic//Panic//Panic/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!