Rian Prasetyo dapat sistem gila: rugi = uang pribadi.
Masalahnya, setiap kali dia mencoba bangkrut, bisnisnya malah meledak sukses. Gaji karyawan selangit? Mereka jadi super loyal. Jual murah-murah? Pelanggan membludak.
Bikin game asal? Jadi bestseller dunia. Semua orang yakin dia jenius. Padahal dia cuma mau rugi.
Dari sarjana pengangguran dengan Rp 15.000 di kantong, Rian terpaksa menjadi bos konglomerat terkaya se-Indonesia — dan dia BENCI setiap rupiahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Bab 023: KPK Turun Tangan
Telepon dari Jakarta itu tidak berlangsung lama.
Suara di seberang hanya memperkenalkan diri dengan tenang, meminta konfirmasi identitas Rian Prasetyo, lalu meminta pihak Garuda Emas menyiapkan dokumen asli terkait laporan kekerasan, penutupan operasional, dan rekaman komunikasi dengan Kepala Dinas Suharto.
Tidak ada janji besar.
Tidak ada kalimat heroik.
Hanya prosedur.
Tetapi ketika Rian menutup telepon, Bagas langsung berdiri.
"Bos, itu beneran KPK?"
Rian melihat layar ponselnya.
"Sepertinya."
Teguh Prasetya tidak terlihat terkejut. Ia hanya membuka folder dokumen dan berkata, "Berarti kita kirim semua bukti dalam bentuk paling rapi. Jangan tambah opini. Fakta saja."
Rian mengangguk.
Malam itu, rekaman telepon Suharto, CCTV Joko Anwar, laporan polisi, sertifikat keselamatan lama, surat penutupan baru, foto pemeriksaan, dan daftar saksi disusun seperti peluru yang masuk ke magasin.
Lalu tiga hari kemudian, Kota Tanjung Emas melihat mobil-mobil hitam masuk ke halaman kantor dinas.
Awalnya hanya beberapa pegawai yang menyadari.
Kemudian satu orang merekam dari warung kopi seberang.
Lima menit setelah video itu diunggah, seluruh kota tahu.
KPK datang.
Kantor Kepala Dinas Suharto biasanya tidak pernah sunyi. Selalu ada orang menunggu tanda tangan, kontraktor membawa map, pemilik toko kecil menunduk sambil membawa berkas. Di gedung itu, suara Suharto sering menjadi penentu apakah usaha orang bisa buka atau mati.
Hari itu, suara yang paling terdengar adalah langkah sepatu penyidik.
Beberapa petugas KPK masuk bersama aparat pendamping. Mereka membawa surat resmi. Tidak ada teriakan. Tidak ada dorongan. Justru karena semuanya begitu tenang, para pegawai dinas tampak semakin pucat.
Suharto keluar dari ruangannya dengan wajah keras.
"Ada apa ini?"
Seorang penyidik menunjukkan dokumen.
"Kami melakukan penggeledahan terkait dugaan tindak pidana korupsi, penyalahgunaan wewenang, dan pemerasan."
Suharto tertawa pendek.
"Hati-hati bicara. Saya kepala dinas."
Penyidik itu tidak berubah ekspresi.
"Justru karena itu kami datang."
Kalimat pendek itu menyebar ke seluruh ruangan seperti petir tanpa suara.
Laci-laci dibuka. Lemari arsip diperiksa. Komputer disalin datanya. Map-map lama diturunkan dari rak. Di salah satu lemari besi, penyidik menemukan buku catatan yang tidak tercatat dalam administrasi resmi.
Di sampulnya tidak ada judul.
Di dalamnya, ada daftar nama toko, tanggal, dan angka.
Beberapa nama diberi tanda centang.
Beberapa diberi catatan pendek.
Belum setor.
Naikkan pemeriksaan.
Tekan lewat izin.
Nama Garuda Mart muncul di halaman terakhir, ditulis dengan tinta baru.
Di bawahnya ada catatan:
Anak muda keras kepala. Pakai jalur pemadam.
Saat halaman itu difoto oleh penyidik, salah satu pegawai dinas menutup mulutnya.
Suharto mulai kehilangan warna wajah.
"Itu bukan milik saya."
Penyidik menatapnya.
"Nanti Bapak jelaskan dalam pemeriksaan."
Dari kantor dinas, penggeledahan bergerak ke rumah pribadi Suharto.
Rumah itu berada di kompleks elite yang pintunya dijaga satpam. Untuk ukuran seorang pejabat daerah, bangunannya terlalu besar, garasinya terlalu penuh, dan halamannya terlalu rapi. Kamera televisi sudah menunggu di luar pagar, bersama warga yang makin lama makin banyak.
Ketika pintu garasi dibuka, orang-orang berbisik.
Dua mobil mewah.
Satu motor besar.
Brankas kecil di ruang kerja.
Map sertifikat tanah.
Amplop-amplop berisi uang tunai.
Penyidik mengeluarkan semuanya satu per satu. Bukan untuk tontonan, tetapi kamera menangkap cukup banyak untuk membuat publik memahami satu hal: gaji resmi seorang kepala dinas tidak mungkin melahirkan semua itu.
Di rumah Rian, televisi menyala sejak pagi.
Bagas duduk di lantai, terlalu tegang untuk duduk normal di sofa. Setiap kali reporter menyebut temuan baru, ia memukul pahanya sendiri.
"Bos! Lihat itu! Mobilnya aja bisa buat buka cabang baru!"
Rian duduk diam.
Di layar, Suharto yang dulu menelepon dengan suara dingin kini berjalan di antara penyidik dengan wajah tertutup masker. Matanya tidak lagi tenang. Ia masih berusaha menjaga dagu tetap terangkat, tetapi bahunya sudah turun.
Rian tidak merasa kasihan.
Orang itu melindungi Joko, menekan karyawan, dan memakai negara seperti tongkat pribadi. Kalau hukum akhirnya datang, tragedi tidak terjadi; tagihan yang terlambat akhirnya dibayar.
Masalahnya...
Jika Suharto jatuh, alasan penutupan Garuda Emas juga ikut jatuh.
Rian menatap televisi dengan perasaan campur aduk.
Bagas menoleh. "Bos, kenapa muka lu kayak orang lihat saldo minus?"
"Aku sedang menghormati proses hukum."
"Muka lu lebih mirip orang kehilangan diskon."
Rian tidak menjawab, karena Bagas terlalu dekat dengan kebenaran.
Sore harinya, KPK menggelar konferensi pers.
Di layar, juru bicara berdiri di depan meja panjang. Di atas meja terdapat beberapa map bukti, foto barang sitaan, dan papan informasi kasus.
"Hari ini KPK menetapkan Kepala Dinas Suharto sebagai tersangka dalam dugaan tindak pidana korupsi, penyalahgunaan wewenang, dan pemerasan terhadap pelaku usaha di Kota Tanjung Emas."
Ruang tamu Rian sunyi.
"Dari hasil pemeriksaan awal, ditemukan indikasi penerimaan uang dan aset dengan nilai sementara lebih dari lima puluh miliar rupiah. Tersangka diduga menggunakan kewenangan pemeriksaan keselamatan untuk menekan pelaku usaha agar memberikan sejumlah uang atau mengikuti kepentingan pribadi."
Bagas melompat berdiri.
"Kena! Bos, dia kena!"
Di Garuda Mart, Darmawan dan puluhan karyawan menonton siaran yang sama melalui televisi kecil di area istirahat. Beberapa warga masih berdiri di luar pintu. Ketika kata tersangka terdengar, ruangan itu meledak oleh tepuk tangan.
Darmawan menunduk, menutup mata, lalu berkata kepada semua orang, "Lihat? Kita tidak salah. Pak Bos tidak salah."
Seorang karyawan bertanya dengan suara penuh harap, "Pak Darmawan, berarti kita bisa buka lagi?"
Darmawan menatap pintu yang masih tersegel.
Air matanya turun.
"Kita tunggu arahan Pak Bos. Tapi saya percaya, beliau pasti membawa kita pulang."
Di berbagai sudut kota, orang-orang bersorak. Di depan Balai Kota, warga bertepuk tangan. Di dekat pasar, beberapa pedagang menyalakan petasan kecil. Anak-anak berlari sambil berteriak "Merdeka!" tanpa sepenuhnya memahami apa yang sedang terjadi, tetapi paham bahwa orang dewasa sedang lega.
Malamnya, kamera televisi menangkap momen yang paling ditunggu.
Suharto keluar dari rumahnya dengan rompi tahanan. Dua penyidik berjalan di sampingnya. Kali ini tidak ada lagi tawa halus, tidak ada lagi kalimat tentang prosedur, tidak ada lagi ancaman bertanda tangan.
Di pinggir jalan, warga berdesakan di belakang garis pengaman.
"Tangkap Suharto!"
"Hidup KPK!"
"Buka Garuda Mart lagi!"
Suharto menunduk saat masuk ke mobil.
Pintu mobil tertutup.
Kota Tanjung Emas meledak dalam sorak.
Bagas meninju udara. "Bos! Dia jatuh! Dia beneran jatuh!"
Rian mengangguk pelan.
"Bagus. Orang seperti dia memang harus jatuh."
Itu kalimat yang tulus.
Lalu, di dalam hatinya, kalimat kedua muncul dengan pahit.
Tapi kalau dia jatuh, alasan tutupku juga jatuh.
Seolah semesta takut Rian sempat beristirahat, ponselnya kembali bergetar tepat setelah siaran langsung berakhir.
Nama yang muncul di layar membuat Bagas berhenti merayakan.
Pak Hendra Saputra.
Walikota Kota Tanjung Emas.
Rian menarik napas panjang.
Televisi masih menampilkan mobil KPK yang menjauh.
Di tangannya, telepon dari orang nomor satu di kota mulai berdering.