NovelToon NovelToon
Nikah Kilat dengan Kapten Angkuh

Nikah Kilat dengan Kapten Angkuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Kapten / Romantis
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Purnama

Kapten paling angkuh di Angkasa Nusantara.
Pengatur langit bersuara paling manis.
Semua mengira Laras yang beruntung menikahinya—
tak ada yang tahu, belasan tahun lalu, gadis itu sudah lebih dulu jatuh cinta diam‑diam.
Dan sang kapten dingin itu?
Di depan orang cuek, di depan istrinya… paling tak berdaya.
Sampai di udara, mesin mati,
dan cuma satu suara yang bisa membawanya pulang

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29

Bab 29: "Cincin yang Sama"

Suara Laras memenuhi kokpit.

"Aku selesai jam tujuh. Kalau kamu sudah landing, kabari. Jangan datang terlalu cepat, nanti menunggu lama."

Dio dan pilot pengamat berhenti merapikan dokumen.

Mereka baru mendengar suara yang sama memberi vector menuju ILS kurang dari setengah jam lalu.

Arkan memutus koneksi audio, tetapi sudah terlambat.

"Itu..." Dio menunjuk panel audio, lalu ponsel Arkan. "Bu Approach tadi?"

"Iya."

"Mbak Laras?"

"Iya."

Dio memerlukan beberapa detik untuk menyusun semua fakta. "Jadi istri Kapten controller yang selama ini suaranya dibahas orang?"

Tatapan Arkan langsung dingin. "Dibahas siapa?"

"Bukan dibahas jelek. Cuma orang bilang suaranya enak didengar." Dio buru-buru mengangkat tangan. "Saya dulu pernah bilang ke Kapten, ingat?"

Arkan mengingatnya. Saat itu nama Laras belum punya tempat khusus dalam hidupnya. Sekarang, pujian umum terhadap suara istrinya terasa mengganggu dengan cara yang tidak bisa ia jelaskan.

Ia menekan tombol rekam pada percakapan WhatsApp.

Arkan:

Udah landing. Nanti aku jemput.

Jawaban itu ikut terdengar karena audio belum sepenuhnya dialihkan. Dio menutup mulut untuk menyembunyikan senyum.

"Jangan sebar pesan suaranya," kata Arkan.

"Siap. Tapi soal istri Kapten orang Approach?"

"Aku nggak menyembunyikannya."

Itu cukup bagi Dio. Di grup kecil kru yang sudah membahas cincin Arkan, ia hanya menulis satu kalimat tanpa menyertakan rekaman atau nama lengkap.

Konfirmasi: Kapten Arkan benar pengantin baru. Istrinya controller Jakarta Approach.

Balasan datang cepat. Arkan melihat sekilas, lalu memasukkan ponsel ke saku.

Dua hari sebelumnya, setelah Laras menunjukkan Story Tiara, Arkan sudah mengirim laporan singkat kepada chief pilot dan crew scheduling. Ia tidak menuduh hubungan yang tidak bisa dibuktikan. Ia menyertakan screenshot lengkap, catatan bahwa Tiara pernah mencoba mendapat jadwalnya lewat kontak pribadi, dan permintaan agar mereka tidak dipasangkan sampai cabin service meninjau batas profesional tersebut.

Chief pilot menyetujui pairing restriction sementara. Keputusan itu bukan hukuman disiplin dan tidak mengurangi jam terbang Tiara. Tujuannya mencegah situasi pribadi masuk ke briefing, kabin, atau koordinasi keselamatan. Jika Tiara ingin membantah, ia punya jalur resmi.

Arkan belum menceritakan detail itu kepada Laras. Ia ingin memastikan batas dibuat lebih dulu sebelum rumor menghasilkan pertemuan yang disengaja di pesawat.

"Aku ke Pacific Place," katanya. "Ambil cincin."

Pilot pengamat mengucapkan selamat. Dio menawarkan ikut memilih bunga, tetapi Arkan menolak sebelum tawaran itu selesai.

Di toko perhiasan, staf membawa dua kotak dari ruang penyimpanan. Arkan memeriksa cincin Laras di bawah lampu putih. Batu ovalnya terpasang rendah dan rata, sementara dua garis lengkung di sisi batu bertemu tanpa sudut tajam. Di bagian dalam terdapat ukiran tanggal akad mereka, kecil dan hanya bisa dilihat ketika cincin dilepas.

Band untuk Arkan memakai pola yang sama di sisi dalam. Dari luar bentuknya tetap sederhana, sehingga ia bisa mengenakannya bersama seragam tanpa terlihat berlebihan.

"Kalau ukurannya perlu disesuaikan, kami bisa kerjakan," kata staf. "Desain pesanan ini dibuat khusus, tetapi bahasa bentuk garis lengkung memang juga ada dalam koleksi musim ini. Detail pertemuan garis dan ukiran milik Bapak berbeda."

Arkan mengangguk. Ia tidak pernah berpikir harus bertanya apakah sebuah cincin memiliki kerabat desain di etalase. Baginya, makna benda itu ada pada alasan ia memesannya untuk Laras.

Ia memastikan sertifikat batu, kartu desain, dan layanan penyesuaian tersimpan di dalam tas sebelum meninggalkan toko.

Di Pacific Place, Tiara sedang berjalan bersama Vania ketika telepon dari temannya di bagian penjadwalan masuk. Ia menjauh beberapa langkah untuk menjawab.

"Aku sudah cek permintaanmu," kata suara di seberang. "Kamu nggak bisa tukar masuk ke flight Kapten Arkan."

"Kenapa? Kursinya kosong, kan?"

"Ada catatan pairing restriction. Kapten Arkan minta secara resmi supaya nggak dipasangkan denganmu sampai urusan batas profesional selesai ditinjau."

Tiara berhenti berjalan. "Batas profesional apa?"

"Aku nggak tahu detail. Katanya ada upaya akses jadwal lewat jalur pribadi dan unggahan yang membawa nama kru. Supervisor cabin service juga sudah diberi tahu. Jangan minta aku membuka catatan lebih jauh."

Panggilan berakhir.

Vania mendekat. "Ada apa?"

"Arkan meminta supaya aku nggak pernah satu kru dengannya."

"Dia tahu soal jadwal?"

"Mungkin Rian bicara. Atau teman lain."

Untuk pertama kalinya, permainan Tiara menghasilkan pintu yang benar-benar tertutup di depannya. Ia tidak lagi hanya diabaikan Arkan. Namanya kini diberi batas formal dalam sistem penjadwalan.

"Jangan panik," kata Vania. "Restriction bisa ditinjau ulang."

"Seluruh kru akan tahu."

"Kalau kamu membuat keributan, lebih banyak orang akan tahu."

"Dia memperlakukanku seperti ancaman."

"Karena kamu terlalu cepat." Vania menurunkan suara. "Story itu seharusnya cukup untuk membuat istrinya ragu. Kamu nggak perlu mengejar jadwal segala."

Tiara menatap ibunya. "Mama yang bilang pernikahan cepat punya celah. Aku sedang mencari celahnya."

"Mencari bukan berarti meninggalkan namamu di sistem penjadwalan."

Tiara membenci bahwa Vania benar. Catatan pairing restriction mengubah permainan yang semula hanya berupa bisikan menjadi batas yang dapat dilihat supervisor. Ia perlu mendapatkan kembali kendali, setidaknya dengan membuat Laras merasakan bahwa Arkan masih menyimpan sesuatu darinya.

Tiara hendak menjawab ketika melihat Arkan keluar dari sebuah toko perhiasan. Laki-laki itu mengenakan pakaian sipil dan membawa tas kecil berlogo desainer. Ia tidak melihat Tiara. Langkahnya langsung menuju lift parkir.

Tiara mengenali toko itu. Produk di sana dibuat terbatas dan harganya cukup untuk menjadi bahan percakapan di lingkaran sosialnya.

Ia masuk begitu Arkan menghilang.

"Laki-laki tadi mengambil apa?" tanyanya kepada staf.

"Maaf, Mbak. Kami tidak bisa membagikan pembelian pelanggan."

Tiara tersenyum manis. "Aku cuma suka tasnya. Mungkin mau lihat koleksi yang sama."

Staf tetap tidak membuka informasi, tetapi etalase menampilkan koleksi desain dengan batu oval dan garis lengkung yang mirip. Tiara memilih satu cincin jadi yang paling mendekati bentuk tersebut. Itu bukan desain khusus Arkan dan detail sisinya berbeda, tetapi dari jarak beberapa langkah keduanya akan terlihat serupa.

"Model pesanan pelanggan tadi bukan barang etalase, Mbak," staf mengingatkan hati-hati. "Yang ini masih satu bahasa desain, tapi konstruksi dan detailnya berbeda."

"Aku nggak bilang mau barang yang sama persis."

Tiara mencoba cincin itu lalu memiringkan tangan. Jika ia menutup sisi band dan hanya menampilkan batu oval dari depan, perbedaannya nyaris tidak terlihat dalam foto atau tatapan singkat.

"Ambil yang ini," katanya.

Vania menahan pergelangan tangannya. "Kamu sedang emosi."

"Aku suka desainnya. Itu saja."

Tiara membayar dan langsung memakai cincin di jari manis. Ia lalu membuka pesan kepada kontak yang pernah memberinya kabar jadwal Laras.

Sore ini Laras selesai jam berapa?

Laras sedang dalam masa istirahat antarposisi ketika pesan Tiara masuk.

Tiara:

Turun ke lobby. Ada yang perlu kita bicarakan.

Laras tidak berniat melayani permainan itu. Namun, setelah Story palsu menyebar sampai kantor, ia juga tidak mau Tiara berdiri di gedung dan mencari rekan lain. Ia memberi tahu Rosa bahwa dirinya turun ke area publik selama waktu istirahat dan akan kembali sebelum briefing posisi berikutnya.

Tiara menunggu di lobi luar akses keamanan. Seragam kabinnya sudah berganti gaun sederhana, tetapi cincin baru sengaja diposisikan di atas tas agar mudah terlihat.

"Apa maumu?" tanya Laras.

"Cuma mau lihat bagaimana rasanya jadi istri yang disembunyikan."

"Pernikahanku bukan urusanmu."

"Tapi suamimu tetap punya sejarah sebelum kamu." Tiara mengangkat tangannya, membiarkan batu oval menangkap cahaya. "Ada hal yang aku punya lebih dulu."

Laras melihat cincin itu. Bentuknya mirip rancangan yang belum pernah ia lihat, sehingga baginya benda itu hanya perhiasan mahal Tiara. Namun, pilihan jari dan kalimat tersebut jelas dimaksudkan untuk menciptakan kesan tertentu.

"Apa hubungan cincinmu dengan suamiku?" tanya Laras.

Tiara mengusap batu oval. "Nggak semua hal perlu dijelaskan. Kadang orang yang paham akan langsung tahu."

"Kalimat kabur lagi. Seperti Story-mu."

"Kamu terdengar gugup."

"Aku terdengar capek menghadapi orang yang ingin dianggap penting tanpa berani menyatakan fakta."

Wajah Tiara berubah sesaat. Ia sengaja datang agar Laras bertanya apakah Arkan memberinya cincin. Sebaliknya, Laras memaksanya berhadapan dengan kenyataan bahwa tak satu pun klaimnya cukup jelas untuk diuji.

"Kalau yang kamu maksud Story itu, Arkan sudah bilang kalian bukan teman kecil. Foto aslinya foto grup."

Senyum Tiara menegang.

"Tentu dia bilang begitu setelah menikahimu."

"Dan semua orang yang ada di foto asli bisa membuktikannya."

Laras menjaga suaranya tetap datar. "Kalau cuma itu, aku kembali kerja. Jangan datang ke area kantorku lagi untuk menyebarkan urusan pribadi."

Ia berbalik tanpa bertanya tentang cincin. Tiara tidak mendapat wajah cemburu yang diinginkannya, tetapi ketika Laras kembali ke lift, bayangan cincin oval itu tetap tertinggal di pikirannya.

Mengapa Tiara begitu sengaja memamerkannya?

Setelah kembali ke lantai operasi, Laras menyimpan pertanyaan itu dan mengambil posisi sesuai jadwal. Ia tidak membiarkan kunjungan Tiara mengganggu traffic. Rosa hanya mendapat jawaban pendek bahwa Tiara membawa omong kosong yang sama.

Menjelang pukul tujuh, Arkan sudah menunggu di mobil di luar gedung. Tas dari toko perhiasan tersimpan di konsol tengah. Selama perjalanan dari Pacific Place, ia beberapa kali membayangkan reaksi Laras, lalu merasa konyol karena memikirkan cara menyerahkan cincin seperti yang dikatakan Dio.

Ketika Laras masuk, ia tampak lebih diam daripada biasanya.

"Sifnya berat?" tanya Arkan.

"Nggak terlalu."

"Ada masalah?"

Laras hampir menceritakan kedatangan Tiara, tetapi matanya lebih dulu menangkap tas kecil di konsol. Logo tokonya sama dengan kotak di tangan Tiara.

Jantungnya turun.

Arkan tidak melihat perubahan kecil itu. Ia mengambil kotak beludru dari dalam tas dan memegangnya beberapa detik. Menyerahkan cincin ternyata memang terasa lebih menegangkan daripada flight plan.

"Ini untuk kamu," katanya.

Ia mengulurkan kotak tersebut ke depan Laras. Tutupnya masih tertutup, sementara Arkan menunggu reaksinya dalam diam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!