Hanya karena jatuh miskin, pertunangannya dibatalkan dan nama baik orang tuanya dihina di depan mata. Zhao Gou tidak lagi sudi menunduk. Di malam yang gelap, ia lenyap meninggalkan desa pengasingan, melangkah masuk ke Lembah Kematian yang ditakuti para kultivator. Tempat di mana warisan kuno dan ilmu terlarang menunggunya.
Ketika ia kembali dengan topeng misterius dan pedang berdarah, dunia persilatan terperanjat—siapakah sosok mengerikan yang siap meratakan klan-klan besar ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanzT0k3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembantaian di Gang Sempit
Hawa dingin di dalam gang sempit itu mendadak mengental, memadat bagaikan lapisan es tak kasat mata yang melapisi dinding-dinding batu kusam. Tiga pembunuh bayaran berkulit pucat yang mengurung Zhao Gou menghentikan tawa ejekan mereka secara serentak. Naluri bertahan hidup yang diasah dari ratusan pertempuran berdarah mendadak menjerit histeris di dalam benak mereka, menyuarakan tanda bahaya yang sangat mengerikan.
"Ada yang tidak beres... Habisi dia sekarang!" teriak pembunuh bayaran di sebelah kiri, matanya melebar saat melihat perubahan aura pada pemuda bertopeng di hadapan mereka.
Tanpa menunggu komando kedua, ketiga pria berjubah hitam itu melompat secara bersamaan dari tiga arah berbeda. Pedang-pedang besi milik mereka memancarkan kilatan energi Qi berwarna biru pucat yang tajam, memotong udara malam dengan kecepatan tinggi menuju titik-titik mematikan di tubuh Zhao Gou—leher, dada, dan jantung.
Gerakan mereka sangat padu, sebuah formasi pembunuhan cepat yang dirancang untuk memastikan target mati seketika tanpa sempat meminta pertolongan.
Namun, di mata Zhao Gou, gerakan tajam itu terasa begitu lambat dan penuh dengan celah.
Sejak Tulang Naga kuno dan Darah Esensi Naga menyatu ke dalam sumsum tulangnya, persepsi indranya telah melompati batasan manusia biasa. Aliran energi, lintasan angin, hingga detik-detik pergerakan otot musuh terpeta dengan sangat jelas di dalam benaknya.
Zhao Gou tidak menarik pedangnya. Ia bahkan tidak bergeser setengah langkah pun dari posisinya berdiri.
Saat mata pedang pertama hanya berjarak beberapa inci dari lehernya, tangan kanan Zhao Gou melesat memotong udara bagaikan kilat ungu!
Brak
Bukan dengan senjata, melainkan dengan dua jarinya yang telanjang, Zhao Gou menangkap mata pedang besi tersebut secara tepat di udara! Energi destruktif yang terpancar dari jari-jarinya seketika menghentikan laju tebasan musuh secara mendadak.
"Apa?!" pembunuh bayaran yang memegang pedang itu membelalakkan matanya tak percaya. Ia mencoba menarik kembali senjatanya dengan seluruh tenaga Qi tahap puncak Qi Refining-nya, namun pedang itu seolah telah tertancap abadi di dalam bongkahan gunung baja. Tidak bergoyang semili pun.
"Senjata sampah," bisik Zhao Gou dingin.
Dengan sedikit jepitan dan sentakan pergelangan tangan, Krek.! Pyar ! Pedang besi tempaan khusus itu hancur berkeping-keping menjadi belasan serpihan logam tajam di udara!
Sebelum pembunuh bayaran itu sempat memproses rasa terkejutnya, tangan kiri Zhao Gou yang terkepal rapat telah menerjang maju, melancarkan pukulan lurus yang dilapisi oleh padatan energi Qi Naga.
BUMMM
Pukulan mentah itu menghantam telak bagian dada sang pembunuh bayaran. Suara retakan tulang rusuk yang hancur berkeping-keping bergema mengerikan di dalam gang sunyi. Zirah pelindung di balik jubah hitamnya melesak dalam, dan tubuh pria itu melesat mundur bagaikan peluru meriam, menghantam dinding batu gang hingga hancur berantakan sebelum akhirnya terkulai lemas tanpa nyawa dengan mulut memuntahkan organ dalam yang hancur.
Tewas seketika dalam satu pukulan!
Dua pembunuh bayaran sisanya terhenyak kaku di udara. Kecepatan, kekuatan fisik, dan kebuasan yang ditunjukkan oleh pemuda bertopeng ini sama sekali berada di luar jangkauan akal sehat mereka. Ini bukanlah kekuatan seorang kultivator tahap Qi Refining, melainkan monster berbentuk manusia!
"Lari! Dia bukan manusia!" teriak salah satu pembunuh bayaran dengan suara melengking panik. Tanpa peduli lagi pada perintah Klan Xie, mereka berbalik arah dan mencoba melompati tembok gang untuk melarikan diri ke dalam kegelapan malam.
"Kalian datang membawa niat membunuh, tapi berpikir bisa pulang dengan selamat?" suara Zhao Gou bergema pelan di belakang telinga mereka, begitu dekat dan dingin bagaikan bisikan dewa kematian.
Srettt
Sebelum pembunuh kedua berhasil mencapai puncak tembok, Zhao Gou telah berdiri tepat di atas birai dinding. Tangan kanannya mencengkeram cakar leher pria itu dari belakang, mengangkat tubuh dewasa berzirah itu ke udara hanya dengan satu tangan dengan sangat mudah.
"Ampun... Tuan... Ampun—" gagap pembunuh itu dengan napas tersengal, matanya membelalak ketakutan saat melihat dari dekat sepasang mata di balik topeng hitam itu.
Mata berwarna ungu keemasan itu memancarkan kilau kebencian yang begitu pekat, sarat akan penderitaan dan kebuasan yang sanggup membekukan darah siapa pun yang menatapnya.
Krek
Tanpa ada sedikit pun rasa ragu atau belas kasihan, Zhao Gou mematahkan leher pria itu dalam satu gerakan rapat. Tubuh tanpa nyawa itu dilemparkannya begitu saja ke dalam kegelapan gang bagaikan tumpukan sampah tak berharga.
Pembunuh bayaran ketiga, yang berhasil berlari sejauh sepuluh langkah di gang sebelah, menoleh ke belakang sambil gemetaran hebat. Saat melihat kedua rekannya telah dibantai secara brutal dalam hitungan detik, rasa takut yang tiada tara meremukkan seluruh kewarasannya. Ia jatuh tersungkur di atas tanah kotor, merangkak mundur sambil mengangkat tangannya yang gemetar.
"Jangan... jangan bunuh aku! Aku hanya menjalankan perintah! Ini bukan rencanaku!" ratap pembunuh itu histeris, air mata dan keringat dingin bercampur di wajahnya.
Zhao Gou melangkah tenang mendekat. Setiap Pijakan kakinya di atas lantai batu yang basah menimbulkan gema yang begitu teratur, bagaikan detak jarum jam penjemput maut.
Ia berhenti tepat di hadapan pembunuh bayaran terakhir yang gemetaran di tanah. Zhao Gou menundukkan tubuhnya sedikit, mencengkeram rambut pria itu dan memaksa kepalanya terdongak mendongak menatap lurus ke arah matanya.
"Siapa yang mengirim kalian?" tanya Zhao Gou dengan suara datar tanpa emosi.
"T-Tuan Muda Xie Lin! Tuan Muda Xie Lin dari Klan Xie yang menyuruh kami!" jawab pria itu tanpa menahan apa pun lagi, seluruh kesetiaannya runtuh total di hadapan teror kematian. "Dia... dia marah karena Tuan mempermalukannya di aula lelang! Dia menyuruh kami mengambil kembali semua batu spirit dan membunuh Tuan di tempat sepi ini!"
Bibir di balik topeng Zhao Gou terangkat tipis, membentuk garis senyuman dingin yang amat sinis. Jawaban itu sama sekali tidak mengejutkannya. Sifat sombong dan licik dari para petinggi Klan Xie sudah terpahat jelas di ingatan alurnya sejak lama.
"Jawaban yang bagus," bisik Zhao Gou pelan.
"T-Tuan... aku sudah jujur! Tolong lepaskan nyawaku—"
"Aku berjanji tidak akan menyiksamu," potong Zhao Gou tenang.
Sebelum pembunuh itu sempat membalas, jari-jari Zhao Gou yang dilapisi energi Qi Naga telah menembus dada kiri pria itu secara bersih, mencabut jantungnya yang masih berdetak dalam satu sentakan cepat dan tanpa rasa sakit berkepanjangan.
Bruk.
Tubuh pembunuh ketiga ambruk kaku ke tanah basah. Darah segar mengalir deras, membasahi lantai batu gang sempit yang gelap.
Zhao Gou berdiri tegak di tengah tiga mayat pembunuh bayaran tersebut. Ia mengibaskan tangannya, membersihkan sisa-sisa darah dari telapak tangannya menggunakan selembar kain yang disobeknya dari pakaian musuh. Rasa jijik atau gemetar setelah membunuh sama sekali tidak membayangi pikirannya. Di dunia kultivasi yang kejam ini, membunuh musuh sebelum mereka membunuh kita adalah hukum dasar untuk bertahan hidup.
Ia kemudian berlutut sebentar, menggeledah kantong spasial milik ketiga pembunuh bayaran itu. Di dalamnya, ia menemukan beberapa ratus batu spirit kualitas rendah, beberapa botol pil penyembuh luka biasa, dan sebuah belati beracun. Tanpa membuang barang berharga sekecil apa pun, Zhao Gou menyapu bersih semua barang itu ke dalam kantong miliknya sendiri.
Sebelum meninggalkan tempat kejadian, Zhao Gou mencelupkan ujung jarinya ke dalam darah segar yang masih hangat di tanah.
Ia melangkah mendekati dinding batu besar di ujung gang, lalu menggunakan darah pembunuh bayaran itu untuk menuliskan beberapa kata dengan kaligrafi yang tajam dan sarat akan aura membunuh yang pekat.
Beberapa puluh menit kemudian, sekumpulan pengawal patroli Klan Xie yang dikirim untuk menyusul ketiga pembunuh bayaran itu akhirnya tiba di lokasi.
Saat obor api mereka menerangi gang sempit yang gelap tersebut, bau amis darah yang menyengat langsung menyapa hidung mereka. Para pengawal terperanjat mundur, beberapa di antaranya bahkan memuntahkan isi perut mereka saat melihat kondisi tiga pembunuh bayaran terbaik mereka yang tewas mengenaskan dengan dada hancur dan leher patah.
"Astaga... T-Tetua! Lihat dinding itu!" panggil salah satu pengawal dengan suara bergetar ketakutan sambil menunjuk ke arah dinding batu di ujung gang.
Pemimpin patroli melangkah maju dengan wajah pucat pasi. Ia mengarahkan cahaya obor ke dinding batu tersebut.
Di sana, terukir tulisan darah yang memancarkan sisa-sisa hawa membunuh yang begitu dingin dan mencekam:
"Klan Xie, ini baru permulaan. Cicipi darahmu sendiri sebelum hari pembalasan tiba."
— Xiao Long.
Pemimpin patroli itu gemetaran hebat hingga obor di tangannya hampir terlepas. Ia tahu betul, sebuah badai berdarah yang mengerikan telah resmi membayangi masa depan Klan Xie di Kota Awan Biru.
jgn ada campuran kata sombong...
"jika aq menjadi penerus sekte, kdepannya musuh²ku akan menargetkan kalian, dan aq tidak ingin hal itu'terjadi"... gitu aja udh ngeh....
klo g mati... cerita ini akan terus berulang² layaknya sinetron...
sedang othor perbaiki bab ini
selamat membaca 🥳🥳
ini wajib djelaskan...
apakah darah naganya bisa mendeteksi racun skecil apapun...??
ttp semangt...💪💪💪
dikotori oleh keserakahan klan...
pada ahirnya, yg terjadi KORBAN PERASAAN.🤣🤣🤣
disaat seseorg kesusahan, terjepit...
jgn pojokkan dia.
krna ktika dia bangkit .. semua sdh terlambat.
adu taktik...bikan tiktok...