NovelToon NovelToon
Jadi Janda? Siapa Takut?

Jadi Janda? Siapa Takut?

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Penyesalan Suami / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:20.2k
Nilai: 5
Nama Author: Yam_zhie

Rumi sudah tiga tahun menikah dengan Fathur. Sebenarnya rumah tangga mereka baik-baik saja. Hanya saja menjadi tidak baik-baik karena selalu di recoki oleh ibu dan keluarga Fathur lainnya.

Hingga akhirnya saat Rumi kembali hamil, namun untuk kedua kalinya juga dia harus kegu guran karena ulah sang ibu mertua. Bu Sri tak pernah ingin jika Fathur memiliki anak dari Rumi.

Rumi jelas marah dan pun cak amarahnya saat Bu Sri membawa mantan dari Fathur ke dalam kehidupan ruang tangga mereka. Fathur bahkan tak mampu untuk membela istrinya.

Apakah dengan kenyataan seperti ini Rumi siap menjadi janda? Ataukah dia malah lebih memilih bertahan dengan kenyataan seperti itu?

"Jangan banyak membantah jika kamu tak ingin di Jan da kan oleh Fathur!" ancam Bu Sri.

"Jadi Jan da? Siapa takut Bu!" jawab Rumi membuat suami dan ibu mertuanya melongo tak percaya.

Ikuti terus kisah Arumi selengkapnya. Jangan lupa baca sampai akhir, karena ada banyak keseruan dari Rumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jadi Janda? Siapa Takut? 28

Malam di kompleks rumah dinas itu terasa begitu syahdu. Suara jangkrik di kejauhan menjadi latar belakang yang sempurna bagi ketenangan dan kebahagiaan mereka di rumah baru. rumah yang mereka harap bisa memberikan kebahagiaan yang lebih di banding dengan rumah kontrakan kecil mereka sebelumnya. apalagi sekarang Rumi sedang mengandung. Sebentar lagi rumah ini akan ramai dengan suara tangis bayi.

Fathur meletakkan sendoknya, menatap Rumi yang sedang asyik bercerita tentang kegiatannya seharian tadi. Ada binar di mata istrinya yang selama ini redup tertutup kabut kesedihan. Fathur merasa sangat bersalah. Entah kapan terakhir dia melihat keceriaan istrinya ini.

"Dek...," potong Fathur lembut.

Rumi menghentikan ceritanya,

"Iya, Mas? Masakannya kurang garam ya?"

Fathur menggeleng pelan. Ia meraih jemari Rumi yang sedikit kasar karena kerja keras selama ini, lalu menggenggamnya erat di atas meja.

"Terima kasih sudah tidak menyerah pada Mas. Mas baru sadar, selama ini Mas adalah laki-laki paling bo-doh karena membiarkanmu menangis hanya untuk menjaga perasaan orang lain yang bahkan tidak menghargai kita."

Rumi terdiam sejenak, matanya berkaca-kaca. Padahal dia sudah berusaha untuk tak peduli dengan apapun lagi di luar sana. Dia membulatkan tekad, apalagi mendengar masukan dari teman-teman dan juga Bu Viona di toko roti.

Dia perlu menjaga kewarasannya, apalagi saat ini dia tengah mengandung. Dia tak punya siapa-siapa, jika Fathur memilih ibunya atau Dona. Dia punya anak dalam kandungannya yang akan menemani dia. Bayi di dalam perutnya adalah sumber kekuatannya saat ini. Dia tak peduli dengan apapun, apalagi segala sesuatu yang berhubungan dengan keluarga Fathur.

"Mas bicara apa, sih? Kan semua sudah lewat. Yang terpenting sekarang mas juga memikirkan keadaan kami, bagi Rumi itu sudah lebih dari cukup,"

"Belum, Rum. Mas ingin kamu tahu bahwa mulai detik ini, posisi kamu adalah prioritas utama Mas setelah Tuhan. Mas tidak akan membiarkan Ibu atau siapa pun masuk ke sini hanya untuk merusak senyummu lagi. Mas sudah mengganti kunci rumah, dan Mas sudah instruksikan penjaga gerbang depan agar tidak sembarang mengizinkan tamu masuk tanpa izin Mas."

Pernyataan tegas itu seperti beban berat yang diangkat dari bahu Rumi. Selama ini, ia selalu merasa terancam di rumahnya sendiri, merasa bahwa privasinya bisa diterobos kapan saja oleh mertua atau iparnya yang haus akan materi. Belum lagi ada wanita di masa lalu yang berusaha untuk merebut Fathur kembali.

"Mas benar-benar tidak menyesal melakukan itu pada Ibu?" tanya Rumi sangsi, dia tahu bagaimana sifat Fathur.

Dia tak akan pernah tega melawan keluarganya terlalu jauh, apalagi kepada ibunya. Surga yang selalu dia jadikan alasan kepada Rumi selama ini. Rumi yakin tak semudah itu dia merelakan surganya terlu-ka demi dia. Tiga tahun sudah lebih dari cukup dia mengenalnya. Namun, alasan dia tetap bertahan karena melihat usaha Fathur berubah. Berharap jika sifat suaminya akan lebih tegas dan tak kembali memilih diam dan tak berpihak padanya.

"Menghormati orang tua itu wajib, tapi membiarkan mereka mendza-limi istri sendiri itu dosa besar. Mas lebih menyesal karena baru berani bersikap sekarang." Fathur bangkit dari kursinya, berjalan memutar, dan memeluk Rumi dari belakang. Fathur menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Rumi, merasakan kedamaian yang tak ternilai harganya.

"Dek, maafkan mas. Beri mas kesempatan untuk membuktikan kesungguhan mas dalam mengambil keputusan kali ini. Percayalah, mas akan melindungi kalian," bisik Fathur, Rumi mengangguk dan meneteskan air mata bahagia.

Rumi menyandarkan kepalanya ke lengan Fathur, memejamkan mata dengan perasaan lega yang membuncah. Di luar sana, rencana licik mungkin sedang disusun, namun di dalam dinding rumah dinas itu, benteng pertahanan Fathur telah berdiri kokoh. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Fathur merasa benar-benar menjadi seorang suami sejati.

"Mulai besok," lanjut Fathur dengan nada ceria untuk mencairkan suasana.

"Kita tabung uang yang biasanya habis untuk mereka untuk masa depan anak kita nanti. Mas ingin kita punya kehidupan yang jauh lebih baik dari ini." Rumi tersenyum dengan mata berkaca-kaca.

Dia tak tahu harus berbicara apa, terlalu bahagia mendengar ucapan suaminya. Rumah tangga yang dia impikan, rumah tangga yang tanpa ada campur tangan orang lain, termasuk keluarga.

Sesaat kemudian, Fathur bangkit dan mengambil sebuah kotak kecil dari dalam laci buffet yang biasanya terkunci rapat. Ia membawanya ke hadapan Rumi dan membukanya perlahan. Di dalamnya, terdapat sebuah buku tabungan baru lengkap dengan atmnya.

"Ini apa, Mas?" tanya Rumi bingung.

"Ini tabungan khusus atas namamu, Rum. Selama ini, Mas selalu menyerahkan hampir seluruh gaji ke Ibu sampai kita sendiri kesulitan. Mulai bulan ini, Mas sudah mengatur autodebet. Sebagian besar gaji Mas akan masuk ke sini untuk peganganmu," jelas Fathur dengan nada rendah namun mantap.

Rumi menutup mulutnya dengan tangan, tak percaya.

"Tapi Mas... Ibu pasti akan mengamuk kalau tahu Mas memotong jatahnya."

Fathur tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyiratkan ketegasan yang belum pernah Rumi lihat sebelumnya.

"Biarkan saja. Mas sudah cukup dewasa untuk menentukan mana kewajiban dan mana sedekah. Kewajiban Mas adalah menafkahimu secara layak. Selama ini Mas lalai karena merasa bersalah pada keluarga, padahal mereka hanya memanfaatkan rasa bersalah itu."

Rumi memeluk suaminya dengan erat, air matanya jatuh. Kali ini bukan karena sedih, melainkan karena merasa akhirnya ia memiliki pelindung. Di pelukan Fathur, ia merasa aman dari badai yang sedang disiapkan oleh mertuanya di luar sana.

"Mas," bisik Rumi di dada Fathur.

"Rumi tidak butuh harta yang banyak. Rumi cuma butuh Mas yang seperti ini. Mas yang berani berdiri di depan Rumi."

"Mas akan selalu di sini, Rum. Selalu."

Suasana di toko roti tempat Rumi dan Asti bekerja awalnya sangat tenang. Harum roti yang baru keluar dari oven memenuhi ruangan. Rumi sedang menata beberapa croissant di dalam etalase kaca saat pintu toko berdenting nyaring, tanda pelanggan masuk.

Rumi mendongak, bersiap memberikan salam ramah, namun senyumnya langsung membeku. Di ambang pintu, berdiri Dona dengan penampilan yang sangat mencolok, didampingi oleh seorang wanita paruh baya dengan gaya bicara yang nyaring, Bu Siti, ibunya.

"Oh, jadi di sini tempatnya?" suara Bu Siti menggema, membuat beberapa pelanggan yang sedang duduk menoleh terganggu.

"Tempat istri seorang Wakil Manager mengemis recehan? Duh, memalukan sekali! Kamu menjatuhkan harga diri suami kamu!" ketusnya lagi.

Dona melipat tangan di dada, menatap Rumi dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan meremehkan.

"Tapi memang kamu pantas sih berada di sini! Apalagi dengan penampilan lus-suh kamu! Kamu tak pantas bersanding dengan Mas Fathur! Harusnya kamu sadar diri dan mundur dari pada mempermalukan dirimu sendiri!." ucapan Dona, Rumi tahu arahnya kemana.

Sejujurnya dia ingin marah dan menam-par mereka berdua. Namun Rumi ingat saat ini dia masih bekerja dan tak mau membaut tempat usahanya terkena imbas.

Asti yang berdiri di samping Rumi mulai terpancing emosinya. Ia hendak maju, namun Rumi menahan lengan sahabatnya itu. Rumi menarik napas panjang, mencoba tetap profesional.

1
nely_48
asli nya hyang nakol kepala na s fathur 🔨🔨🔨
Muft Smoker
bukan hanya kerdiil tp km virus d hidup rumii 😒😒😒😒
Muft Smoker
baru sadar andaa ,,
terlambaat sudaaah ,,
😒😒😒
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
selamaaattt untuk kontraknyaa thoorrr
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
capek aku tuuhh
Oma Gavin
keluarga toxic banyak drama dan goblok nya fathur mudah percaya silahkan nikmati nanti penyesalan mu fathur
Wahyuningsih 🇮🇩🇵🇸
kira2 ada tokoh cowok baru GK Thor?? kok ada hastag #ceo ? kali2 Rumi cerai, trus dpt CEO beneran..bukan si oon pakthur anake mbok srikethek 👻👻👻🤣🤣
Diana Dwiari: rajendra kan calonnya rumi....wkwkwk
total 4 replies
gina altira
Udahlah Rum, daripada bayi dlm kandungan mu knp" mending kmu mundur aja. Biar waras.
mama
kok gk mok tinggal minggat sing adooohh wae leh rum2..seblm knp2 sm kandungan km nnti nyesel lo rum klu smpe itu terjadi..suami mcam fathur gk bakal berubah masih tetep nurut sm mak ny rum. gk perlu di pertahanan😭
Dew666
💃💃💃
nely_48
lepaskan rumi lah fathur,, kasian loh sm rumi hrs menjaga kewarasannya demi suami pecundang spt km fathur
Lovita BM
dan org pertama nanti yg ngegepin drama keluarga busuknya adalah Elisa selanjutnya Fatur sendiri, dan disaat itu Rumi sudah menjauh, wkwkwk mendahului othornya 🤣🤣
Muft Smoker: bagus kak ,, kdg2 kak author qta kasih arahan alur ny biar mntap ny makin pol 🤭🤭🤭🤭 ,,

hai kak author/Grin//Grin//Grin/
total 1 replies
siti solihah
laki laki memang harus berbakti pada ibunya tadu dia tidak akan masuk surga jika tidak memuliakan istrinya... menurut saya rumi lepaskan saja suami yang tidak bisa adil antara ibu dan istrinya...jalani hidup lebih baik tanpa suami...
Arin
Itu resiko yang kamu ambil sendiri Fathur..... nikmati pernikahan mu dengan Rumi yang tinggal serumah tapi seperti orang lain. Ada tapi dianggap kasap mata
Oma Gavin
suami lucknut kekepin terus ibumu dan keluarga mu sampai modarrr dan lepaskan rumi biar bahagia dgn yg lain
gina altira
Nih ya Fathur itu plinplan banget,, dah lah Arumi mending dapetin lagi yang lebih baik lagi
Wildan Husni
aku nangis bacanya,,,,, sesakititu klo kita tdk dianggap apalagi oleh suami sendiri😭
Yuen
Kalau dari sinopsis anak ini akan gugur, lalu jodoh Rumi pasti anak Bu viona yang duda
Yuen
Kubilang jg apa mending cerai dari dulu, kecintaan bgt sama anak mami bau busuk
Yuen
Emaknya jahat anaknya gak ada yang bener amit2
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!