Seorang wanita pekerja kantoran yang rasional bertransmigrasi ke dalam novel romansa tragis sebagai Geneviève de Montmirail, seorang putri Duke yang ditakdirkan dieksekusi karena cintanya yang gila dan obsesif kepada Duke muda, Lucien de Vaudémont.
Bertekad untuk mematahkan bendera kematiannya (death flag), Geneviève memutuskan untuk menarik diri sepenuhnya dari kehidupan Lucien dan lingkungan istana yang beracun. Alih-alih mengejar cinta fana, ia menggunakan kecerdasannya dalam administrasi keuangan untuk memajukan wilayahnya dan membuka bisnis perhiasan yang mendobrak tren kekaisaran.
Namun, sikap dingin Geneviève justru memicu retaknya "Sihir Putih" milik Putri Mahkota Camille, sang protagonis asli novel yang tampak suci namun bermuka dua. Saat Lucien mulai mengalami kilasan ingatan yang menyiksa tentang masa lalu yang tak pernah ia ketahui, Geneviève menemukan sebuah perhiasan rahasia peninggalan tubuh aslinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nadnote, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Insting Alam
"Kau menyebut hewan ini liar secara alami, Monsieur Girard?"
Suara Geneviève terdengar sedingin es menembus aroma jerami basah di pelataran kandang. Wanita itu sudah duduk di atas pelana, tangannya memegang tali kekang kuda jantan raksasa berwarna hitam pekat tersebut.
"Tentu saja, Nona Montmirail," jawab Girard dengan suara bergetar dan wajah pucat pasi. "Kuda ini... kuda ini memang memiliki temperamen yang sangat buruk sejak lahir."
Geneviève tersenyum miring. Sebagai seorang mantan auditor yang terbiasa mencari ketidaksesuaian terkecil dalam tumpukan dokumen keuangan, matanya langsung melakukan audit kilat terhadap kondisi fisik hewan tunggangannya.
"Aku mungkin bukan seorang dokter hewan," ucap Geneviève, menatap tajam ke arah kepala kandang yang sedang berkeringat dingin, "tetapi aku tahu cara membedakan aset yang liar dengan aset yang sengaja disabotase. Lihatlah pembuluh darah di sekitar lehernya yang menonjol seperti akar pohon beracun. Perhatikan napasnya yang terputus putus padahal ia belum berlari satu langkah pun. Dan yang paling jelas, sisa buih putih di sudut bibirnya ini bukanlah tanda temperamen buruk."
Geneviève mengusap pelan leher kuda itu, merasakan suhu tubuh hewan yang membakar kulit sarung tangannya.
"Seseorang telah mencekokinya dengan obat perangsang dosis tinggi," simpul Geneviève dengan logika yang tidak terbantahkan. "Kuda ini sedang mengalami lonjakan adrenalin buatan."
Odette yang berdiri di dekat pagar kayu langsung memekik tertahan. "Turun dari sana sekarang juga, Nona! Jika Anda tahu kuda itu diracuni, mengapa Anda masih menaikinya? Mari kita potong lidah pria tua ini agar dia mengaku siapa yang menyuruhnya!"
"Jika aku turun sekarang, Putri Mahkota akan menjadikan ini sebagai bahan tertawaan," jawab Geneviève tenang. Matanya melirik ke arah tenda utama tempat Camille sedang berdiri menontonnya. "Saham reputasiku akan anjlok. Klan Montmirail akan dicap sebagai pengecut. Aku tidak akan membiarkan wanita bergaun putih itu mendapatkan kepuasan tersebut."
Di seberang lapangan rumput, Lucien de Vaudémont sedang memberikan instruksi kepada ksatria ksatrianya. Namun, matanya selalu mencari sosok Geneviève. Saat ia melihat kuda hitam raksasa yang dinaiki wanita itu, insting ksatrianya langsung membunyikan alarm tanda bahaya.
Kuda itu terus menerus menghentakkan kakinya ke tanah. Matanya membelalak lebar, liar, dan tidak fokus.
"Girard!" teriak Lucien dengan suara bariton yang menggema keras, mengabaikan segala etiket bangsawan. Ia memacu kudanya mendekat. "Turunkan Nona Montmirail dari pelana itu sekarang juga! Kuda itu tidak stabil!"
Camille yang menyadari intervensi Lucien segera melangkah maju, menampilkan akting kepanikan yang sangat sempurna.
"Oh, Astaga! Nona Montmirail, berhati hatilah!" seru Camille dengan suara melengking yang dibuat buat sedih, meskipun di balik sapu tangan renda yang menutupi mulutnya, wanita itu sedang tersenyum lebar. "Tuan Duke, biarkan saja. Nona Montmirail sangat keras kepala, kita tidak bisa melarang keinginannya."
Namun Lucien sama sekali tidak mengacuhkan Putri Mahkota. Ia mempercepat laju kudanya menuju kandang, wajahnya mengeras karena panik yang luar biasa. "Geneviève, turun!"
Sayangnya, peringatan itu terlambat satu detik.
Tepat pada saat itu, suara terompet perburuan yang melengking panjang ditiup dari arah mimbar utama, menandakan acara dimulai.
Suara bising dan tajam itu bertindak sebagai pemicu ledakan pada sistem saraf kuda yang sudah mengalami kelebihan beban obat perangsang. Kuda hitam raksasa itu meringkik sangat keras, suaranya terdengar seperti jeritan menyayat hati.
Hewan itu mengangkat kedua kaki depannya tinggi tinggi ke udara, mencoba menjatuhkan Geneviève.
"Nona!" jerit Odette histeris.
Kuda itu mendadak mendaratkan kakinya dan melesat gila gilaan menembus kerumunan, mengabaikan jalur perburuan yang sudah ditentukan. Kecepatannya sepenuhnya di luar nalar. Tanah berumput berhamburan ke udara di bawah hantaman tapak kakinya yang beringas.
"Geneviève!"
Lucien berteriak memanggil nama wanita itu. Jantung sang ksatria serasa diremas oleh tangan raksasa. Tanpa berpikir dua kali, Lucien memacu kudanya sendiri menyusul laju kuda gila tersebut.
"Tuan Duke! Anda harus mengawal saya!" teriak Camille dari dekat tenda, wajahnya berubah merah menahan marah karena ksatria utamanya justru meninggalkannya.
Lucien sama sekali tidak menoleh. "Gaspard! Amankan area! Panggil regu medis dan ikuti jejakku!" perintah Lucien singkat sebelum ia sepenuhnya menghilang ke dalam rimbunnya Hutan Fontainebleau.
Di dalam hutan, situasi Geneviève benar benar menyerupai mimpi buruk.
Kuda monster itu berlari tanpa arah, menabrak semak semak berduri dan menerobos dahan dahan rendah. Ranting ranting pohon ek mencambuk wajah dan gaun sutra Geneviève. Angin bertiup sangat kencang, membuat telinganya berdenging hebat. Laju hewan ini terasa seperti kereta api lepas kendali.
Di tengah guncangan yang mengancam nyawa tersebut, laju pikiran Geneviève justru melambat.
Sebagai mantan pekerja kantoran yang terbiasa menghadapi krisis tenggat waktu berdarah dan kemarahan direktur dewan direksi, Geneviève tahu satu aturan mutlak dalam manajemen risiko. Panik hanya akan memperburuk kerugian. Ia memejamkan mata sejenak, memaksa detak jantungnya turun dan otaknya bekerja dengan dingin.
"Kalkulasi fisika dasar," gumam Geneviève pada dirinya sendiri di tengah deru angin.
Kebanyakan bangsawan yang panik akan menarik tali kekang sekuat tenaga ke arah belakang. Geneviève tahu bahwa menarik tali kekang pada hewan yang sedang mengamuk karena obat sama bodohnya dengan menahan saham yang sedang anjlok secara drastis. Itu hanya akan menambah resistensi, menyakiti mulut kuda, dan membuatnya semakin beringas untuk melawan.
Sebagai gantinya, Geneviève mencondongkan tubuhnya jauh ke depan, merendahkan pusat gravitasinya hingga menempel pada leher kuda yang berkeringat panas. Dengan posisi ini, ia menyelaraskan tubuhnya dengan pergerakan hewan liar tersebut, memastikan dirinya tidak terlempar ke udara setiap kali kuda itu melompat melewati batang pohon tumbang.
Kuda hitam itu terus berlari menembus hutan lebat, menjauh dari arena perburuan utama. Napas hewan itu semakin kasar, terdengar seperti suara pompa udara yang bocor.
"Aku butuh intervensi sensorik," pikir Geneviève cepat. "Aset ini mengalami kelebihan beban di otaknya. Sesuatu harus mereset sistem sarafnya dari efek obat itu."
Di kehidupan masa lalunya, Geneviève selalu mengandalkan senjata rahasia setiap kali ia harus lembur menyusun laporan keuangan hingga larut malam. Kopi sering kali tidak cukup, sehingga ia selalu membawa minyak aromaterapi murni untuk dihirup agar otaknya tetap terjaga dan segar. Kebiasaan itu terbawa hingga ke dunia novel ini.
Dengan satu tangan yang mencengkeram surai kuda, Geneviève merogoh saku gaun berburunya. Ia mengeluarkan sapu tangan sutra putihnya. Sapu tangan itu selalu ia tetesi dengan minyak esensial cengkeh dan lavender yang memiliki aroma sangat tajam.
Geneviève mengertakkan gigi, mengumpulkan seluruh sisa keberaniannya. Ia melepaskan satu tangannya dari tali kekang, mencondongkan tubuhnya lebih jauh ke depan hingga wajahnya berada tepat di samping telinga kuda.
Dengan satu gerakan cepat dan nekat, Geneviève menekan sapu tangan beraroma tajam itu tepat di depan lubang hidung kuda beringas tersebut.
Aroma cengkeh dan lavender pekat yang menusuk hidung seketika bertindak sebagai kejutan listrik bagi otak kuda. Bau tajam yang tiba tiba itu berhasil mendistraksi hewan tersebut dari rasa panik dan efek obat perangsang yang menguasai aliran darahnya.
Kuda itu terkejut, menggelengkan kepalanya dengan kuat.
Memanfaatkan momen sepersekian detik saat laju kuda sedikit ragu, Geneviève segera menarik tali kekang kiri dengan keras. Ia mengarahkan hewan raksasa itu keluar dari jalur hutan datar, memaksanya berbelok menuju sebuah bukit berbatu yang sangat menanjak dan curam.
Ini adalah manajemen risiko tahap akhir. Jika kau tidak bisa menghentikan musuh, kuras habis tenaganya secara paksa, sama seperti menguras kas kompetitor dalam perang dagang.
Kuda yang sudah berlari jauh itu dipaksa mendaki bukit berbatu dengan kecepatan penuh. Beban gravitasi dan kemiringan bukit mulai mengambil korban pada stamina hewan tersebut. Napas kuda hitam itu semakin berat. Langkah kakinya mulai melambat, tidak lagi melesat seperti anak panah.
Geneviève terus mendesaknya naik, menahan rasa sakit pada otot lengannya yang kelelahan.
Akhirnya, saat mereka mencapai puncak bukit, kuda itu benar benar kehabisan napas. Kuku kukunya menggaruk tanah berbatu, mencari pijakan, dan hewan raksasa itu berhenti mendadak sambil mendengus kelelahan. Kaki depan kuda itu hanya berjarak kurang dari satu meter dari tepi jurang berbatu yang sangat curam. Dasar jurang yang dipenuhi bebatuan tajam dan aliran sungai deras terlihat menganga di bawah sana.
Kuda hitam itu menundukkan kepalanya dalam dalam, seluruh tubuhnya gemetar karena kelelahan yang ekstrem.
Geneviève menghela napas panjang, paru parunya terasa terbakar. Ia memerosotkan tubuhnya turun dari pelana, kakinya nyaris tidak bisa menopang berat badannya sendiri. Ia menepuk leher kuda itu dengan tangan gemetar.
Manajemen krisisnya berhasil. Ia selamat dari skenario pembunuhan yang dirancang oleh Putri Mahkota.
Keheningan hutan tiba tiba menyelimuti puncak bukit tersebut. Hanya terdengar suara angin yang berhembus melewati celah tebing dan suara napas kuda yang tersengal sengal.
Namun, rasa lega itu hanya bertahan selama tiga detik.
Insting bertahan hidup Geneviève berdesir hebat ketika telinganya menangkap suara langkah kaki yang menginjak ranting kering. Suara itu tidak berasal dari satu orang, melainkan banyak orang. Dan langkah itu terlalu pelan, terlalu penuh perhitungan untuk ukuran bangsawan yang sedang mencari jalan.
Geneviève memutar tubuhnya, menyembunyikan tangannya di balik lipatan gaun, bersiap meraih apa pun yang bisa ia gunakan sebagai senjata.
Dari balik bayangan pohon ek besar di tepi bukit, lima orang pria muncul secara bersamaan.
Mereka bukanlah ksatria istana, bukan pula bangsawan yang tersesat. Kelima pria itu mengenakan pakaian zirah kulit yang sudah sangat usang dan pudar. Wajah mereka ditutupi oleh kain hitam, hanya menyisakan mata yang menatap Geneviève dengan tatapan membunuh. Tidak ada satu pun lambang keluarga bangsawan di dada mereka. Mereka adalah algojo bayaran.
Pria yang berdiri di tengah melangkah maju, menghunuskan pedang panjangnya. Bunyi gesekan baja bersentuhan dengan sarung pedang terdengar sangat mengerikan di tengah kesunyian hutan. Keempat pria lainnya mengikuti, berjalan perlahan ke sisi kiri dan kanan, membentuk formasi setengah lingkaran yang sangat terkoordinasi.
Mereka secara sistematis menjebak posisi Geneviève di antara kilatan ujung pedang dan dasar jurang berbatu di belakangnya. Tidak ada jalan keluar.
"Pekerjaan yang sangat mengesankan karena kau tidak mati terjatuh dari kuda itu, Nona Montmirail," ucap pria di tengah itu dengan suara serak yang penuh nada mengejek. Matanya melirik ke arah kuda yang kelelahan, lalu kembali menatap Geneviève. "Itu membuat tugas kami menjadi sedikit lebih mudah. Kami jadi bisa memenggal kepalamu dan memastikan kau benar benar mati secara langsung."
Geneviève mundur satu langkah, tumit sepatu botnya menendang kerikil yang langsung jatuh bebas ke dasar jurang. Jantungnya berdebar kencang, namun otaknya mulai menghitung probabilitas keselamatan yang nyaris menyentuh angka nol. Di titik ini, logika kapitalis dan aroma lavender tidak akan bisa menghentikan pedang baja.
Pria itu mengangkat pedangnya tinggi tinggi, bersiap menebas.