Keira Liem cuma mau hidup tenang.
Setelah dikhianati mantan pacar dan dijebak rekan kerja, pilot muda ini nyaris kehilangan segalanya—karier, reputasi, bahkan harga diri. Satu-satunya jalan keluar? Nikah siri dengan pria asing yang ditemuinya di parkiran bawah tanah SCBD di malam terburuk hidupnya.
Pria itu bilang namanya Kai. Katanya pengangguran. Senyumnya menyebalkan, mulutnya pedas, tapi entah kenapa... Keira merasa aman di dekatnya.
Yang tidak Keira tahu: "Kai" adalah Kaizan Tanujaya—CEO Nusantara Airlines, pewaris konglomerat Tanujaya, dan legenda penerbangan yang fotonya sudah ditempel Keira di dinding kamar sejak SMA.
Setiap hari, Keira memuja Kapten Kaizan Tanujaya di kantor.
Setiap malam, Keira memarahi "suami kontrak pengangguran"-nya di rumah.
Mereka adalah orang yang sama.
Dan Kaizan? Dia menikmati setiap detiknya.
Tapi rahasia tidak bisa bertahan selamanya. Ketika topeng terbuka, ketika masa lalu yang kelam menyerang, ketika satu-satunya orang yang pernah membuatnya jatuh cinta berbalik pergi—Kaizan harus membuktikan bahwa cinta yang dimulai dari kebohongan bisa menjadi hal paling nyata di hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Bab 9
Bersih-Bersih
Kartu akses Pak Teguh berubah merah di pintu putar lobi NusAir.
Dia menempelkannya sekali lagi. Lampu merah tetap menyala.
"Buka pintunya," bentaknya kepada petugas keamanan.
Petugas itu berdiri tegak. "Maaf, Pak. Akses Anda dinonaktifkan mulai pukul enam pagi."
"Siapa yang berani menonaktifkan akses saya?"
"Saya."
Suara itu datang dari belakang.
Lobi mendadak sunyi. Kaizan berjalan masuk bersama Moreno dan dua anggota tim hukum. Setelan hitamnya rapi, tetapi wajahnya tertutup masker medis dan kacamata gelap. Alasan resmi yang beredar pagi itu adalah tindakan gigi yang membuat rahangnya bengkak dan sensitif terhadap cahaya kamera.
Pak Teguh berbalik. "Pak Kaizan, ini pasti salah paham."
Moreno menyerahkan sebuah map. "Keputusan komisaris dan direktur utama. Mulai hari ini Anda diberhentikan dari jabatan operasional dan dilarang mengakses sistem perusahaan selama audit berlangsung."
"Atas dasar apa?"
"Pelanggaran tata kelola, konflik kepentingan, manipulasi laporan, dan dugaan intimidasi terhadap pelapor," jawab Kaizan. "Untuk dugaan pidana, perusahaan menyerahkan bukti kepada pihak berwenang. Keputusan internal ini bukan pengganti proses hukum."
Wajah Teguh memerah. "Kalian percaya cerita seorang pilot perempuan yang mabuk?"
Kaizan berhenti satu langkah di depannya.
"Rekaman hotel menunjukkan dia meminta bantuan. Hasil medis menunjukkan zat yang tidak dia konsumsi secara sadar. Log akses menunjukkan orang-orang Anda mencoba membuka berkasnya setelah tengah malam. Yang saya percaya adalah bukti."
"Saya membangun NusAir sebelum Anda datang!"
"Itu tidak memberi Anda hak untuk merusaknya."
Teguh menatap para karyawan yang mulai berkumpul di tepi lobi. Tidak ada satu pun yang datang membelanya.
"Ini belum selesai."
"Benar," kata Kaizan. "Audit dan proses hukum baru dimulai."
Petugas keamanan mendampingi Teguh menuju ruang terpisah untuk serah terima barang pribadi. Kaizan tidak menonton pria itu pergi. Dia berjalan ke lift eksekutif dan naik ke lantai empat puluh satu.
Pukul sembilan, dokumen reformasi internal terbit di portal perusahaan. Isinya mencakup saluran pelaporan independen, larangan pembalasan terhadap pelapor, audit penugasan kru, pemeriksaan konflik kepentingan, serta peninjauan seluruh promosi yang disetujui jaringan Teguh.
Di lantai operasional, bunyi notifikasi terdengar hampir bersamaan dari puluhan ponsel.
Keira membaca dokumen itu di dekat ruang briefing. Namanya tidak disebut, tetapi setiap kalimat terasa seperti jawaban terhadap malam di hotel.
"Pak Teguh benar-benar dicopot," bisik seorang pramugari.
"Katanya Pak Kaizan turun sendiri ke lobi," jawab rekannya. "Tapi wajahnya tertutup."
Keira memperbesar foto yang menyertai pengumuman. Sosok berkacamata hitam berdiri di depan pintu putar, dikelilingi tim hukum. Bentuk tubuhnya kembali terasa familiar.
Kapten Rizal Firmansyah lewat di belakangnya.
"Kamu mencari apa di foto itu?" tanyanya.
Keira hampir menjatuhkan ponsel. "Tidak mencari apa-apa, Kapten Rizal. Saya cuma penasaran."
"Pada reformasinya atau orangnya?"
"Keduanya."
Kapten Rizal tertawa kecil. "Hati-hati. Rasa penasaran membuat pilot lupa membaca instrumen yang tepat."
"Kapten pernah bertemu Pak Kaizan?"
"Beberapa kali."
"Wajahnya memang selalu ditutup?"
"Tidak." Kapten Rizal memasukkan tangan ke saku. "Tapi akhir-akhir ini dia punya banyak alasan untuk bersembunyi."
Sebelum Keira sempat bertanya lagi, panggilan briefing terdengar. Dia harus masuk ruang kru.
Siang hari, seluruh karyawan diminta berkumpul di auditorium untuk pengarahan singkat. Kaizan berdiri di panggung dengan masker dan kacamata yang sama. Moreno menjelaskan bahwa tindakan gigi membuatnya belum bisa tampil penuh di depan kamera.
Beberapa karyawan menahan senyum mendengar alasan itu. Keira justru memperhatikan suaranya.
"Reformasi ini bukan perburuan orang," kata Kaizan melalui mikrofon. Masker membuat suaranya lebih berat. "Ini perbaikan sistem. Karyawan yang bekerja jujur tidak perlu takut. Yang menggunakan jabatan untuk menekan orang lain harus siap mempertanggungjawabkan tindakannya."
Moreno membuka sesi pertanyaan. Seorang staf keuangan mengangkat tangan lebih dulu.
"Pak Kaizan, apakah daftar PHK yang beredar tetap dijalankan? Banyak orang menerima ancaman tidak resmi dari atasan lama."
"Daftar itu dibekukan dan dinyatakan tidak berlaku sampai audit tenaga kerja selesai," jawab Kaizan. "Efisiensi, jika memang diperlukan, harus memakai indikator yang transparan. Nama tidak boleh dimasukkan karena menolak perintah pribadi atau melaporkan pelanggaran."
Kegelisahan di auditorium berubah menjadi bisik lega.
Seorang teknisi bertanya apakah orang yang memberi kesaksian harus membuka identitas di depan atasan. Kaizan menjelaskan saluran independen, akses terbatas, dan larangan perubahan jadwal sebagai bentuk tekanan.
"Lalu bagaimana dengan orang yang dituduh?" tanya karyawan lain. "Apakah langsung dipecat?"
"Tidak. Mereka berhak menjawab dan menyerahkan bukti. Tapi selama ada risiko intimidasi atau penghilangan data, akses operasional dapat dibatasi. Perlindungan korban dan hak jawab bukan dua hal yang saling meniadakan."
Keira mengangkat tangan sebelum sempat berubah pikiran.
Moreno menunjuk ke arahnya. "Silakan."
Kaizan sudah mengenali suara itu bahkan sebelum Keira berdiri.
"Kalau pelapor sudah telanjur kehilangan jadwal dan tunjangan karena proses yang cacat, apakah perusahaan akan memperbaiki kerugiannya?"
Seluruh kepala menoleh. Beberapa orang tahu persis siapa yang dimaksud.
Kaizan menahan diri agar tidak menatap terlalu lama. "Kalau audit membuktikan keputusan itu tidak sah, hak karyawan dipulihkan sejak tanggal keputusan berlaku. Termasuk tunjangan yang seharusnya diterima."
"Dan catatan disiplin?"
"Dihapus dari berkas resmi. Bukan disembunyikan. Dinyatakan batal."
Keira mengangguk. "Terima kasih, Pak Kaizan."
"Sama-sama, Bu Keira."
Nama itu keluar terlalu alami.
Keira menegang. Dia tidak memperkenalkan diri. Namun sedetik kemudian layar besar di belakang panggung menampilkan daftar unit, lengkap dengan nama penanya yang diambil dari sistem kehadiran. Jawaban atas kejanggalan itu muncul sebelum kecurigaannya tumbuh.
Kaizan melanjutkan pertanyaan berikutnya, tetapi jari di balik podium menekan tepi kayu lebih kuat.
Keira menatap panggung dari baris tengah.
Ada irama tertentu dalam kalimatnya. Jeda pendek sebelum kata penting. Nada rendah yang tidak perlu keras untuk membuat orang diam.
Seperti seseorang yang beberapa malam lalu memerintah melalui telepon di balkon.
Kaizan memindai auditorium. Tatapannya berhenti sepersekian detik pada Keira, lalu bergerak lagi.
Keira menoleh ke belakang, yakin ada orang lain yang dilihatnya.
Setelah pengarahan, Kaizan keluar melalui koridor samping. Kapten Rizal sudah menunggu di dekat lift.
"Operasimu rapi," katanya.
Kaizan berhenti. "Kalau mau bicara tentang audit, buat janji resmi."
"Bukan audit."
Kapten Rizal melirik masker dan kacamata hitamnya. "Kamu tidak pernah peduli kamera. Sekarang kamu bahkan mengubah jalur lift setiap kali Keira berada di gedung."
"Kebetulan."
"Kamu tahu jadwalnya, melindungi berkasnya, mengatur dia terbang di bawah Hendra, dan tadi menatapnya dari panggung. Banyak sekali kebetulan."
Kaizan menekan tombol lift. "Jangan membuat cerita dari keputusan operasional."
"Saya mengenalmu sejak kamu masih lebih suka kokpit daripada ruang direksi." Kapten Rizal mendekat satu langkah dan merendahkan suara. "Kamu sama pilot itu, hubungan apa?"
Pintu lift terbuka.
Kaizan tidak langsung masuk.
Dua detik berlalu. Lalu dia melangkah ke dalam tanpa memberi jawaban. Pintu logam menutup, meninggalkan Kapten Rizal dengan senyum tipis seorang pria yang baru saja mendapat jawaban dari sebuah diam.