Seorang Hakim Ketua yang menjunjung tinggi keadilan harus memilih antara hukum, ayahnya, dan cinta kelamnya pada seorang buronan nomor satu yang pernah menghancurkan masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yrp putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memori Hujan dan Janji Siomay
Di alam bawah sadarnya, ingatan Aluna kembali berputar pada sebuah sore di masa SMA. Sebuah kenangan yang jauh lebih sederhana, canggung, namun menjadi titik balik segalanya.
Sore itu gerimis baru saja berhenti membasahi lapangan basket SMA Garuda. Arjuna duduk di undakan tribun paling bawah, seragamnya kotor dan basah kuyup. Sudut bibirnya berdarah, sementara pelipisnya membiru setelah Inspektur Arya memergokinya mengantarkan Aluna dan langsung menghajarnya habis-habisan.
Aluna duduk berjarak hampir satu meter di sebelahnya, memangku kotak P3K. Suasananya sangat hening dan salah tingkah. Angin sore meniupkan aroma tanah basah, bercampur dengan wangi sabun stroberi dari seragam Aluna yang membuat Arjuna tidak berani menoleh sedikit pun.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Aluna menjulurkan kapas berbalut antiseptik ke arah wajah Arjuna.
"Tahan dikit," cicit Aluna pelan, nyaris tak terdengar.
Baru saja kapas itu menyentuh sudut bibirnya, Arjuna tak sengaja mendesis.
*"Sshh..."*
Mendengar itu, Aluna panik dan buru-buru menarik tangannya. Wajahnya pucat pasi. "Eh, sakit ya? Ma... maaf! Aku tekennya kekencengan ya?"
Arjuna langsung salah tingkah. Wajah pemuda berandal yang biasanya tak takut mati itu mendadak memerah sampai ke telinga. Ia buru-buru mengusap tengkuknya sendiri, menatap lurus ke arah ring basket karena tidak sanggup menatap mata Aluna.
"Nggak, nggak sakit kok. Serius," gumam Arjuna cepat, suaranya terdengar canggung. "Obatnya aja yang agak perih. Santai aja, Na."
Aluna menunduk dalam-dalam. Jari-jarinya meremas ujung kapas dengan gelisah. "Ayah... tadi marah banget. Kamu sih, ngapain nekat nganterin sampai depan pagar segala? Kan bisa turunin aku di ujung gang."
Arjuna menendang-nendang kerikil kecil di dekat sepatunya. "Ya... kan mau mastiin kamu masuk rumah dengan selamat. Kalau dari ujung gang, nanti ada anjing galak gimana?"
"Di komplekku nggak ada anjing, Juna," balas Aluna pelan, wajahnya mulai bersemu merah karena alasan bodoh pemuda itu.
"Ya... takutnya ada orang jahat," timpal Arjuna lagi, suaranya makin mengecil. Ia menelan ludah, dadanya mendadak terasa sesak oleh rasa bersalah yang kelam. "Apalagi... setelah apa yang aku lakuin ke kamu waktu itu. Aku ini orang jahatnya, Na. Harusnya kamu suruh ayahmu penjarain aku aja tadi."
Keheningan kembali turun, kali ini terasa lebih tegang. Aluna menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Tangannya perlahan memasukkan kapas kotor ke dalam plastik kecil, lalu menutup kotak P3K di pangkuannya.
"Kalau aku mau kamu dipenjara..." Aluna berbicara dengan suara bergetar, matanya terus menatap ujung sepatu ketsnya yang putih. "Aku nggak bakal repot-repot lari ke UKS ngambil betadine, terus nyusulin kamu ke lapangan ini."
Gerakan kaki Arjuna terhenti. Pemuda itu menahan napas. Perlahan, sangat perlahan, ia menoleh ke arah Aluna dengan mata melebar. "Na...? Maksud kamu... kamu beneran nggak benci sama aku?"
Aluna menyembunyikan wajahnya yang kini sudah merah padam seperti kepiting rebus. Ia memeluk kotak P3K itu di dadanya sebagai tameng.
"Bisa nggak sih nggak usah nanya yang jawabannya udah jelas?" rutuk Aluna pelan, suaranya terdengar jengkel tapi penuh rasa malu. "Gara-gara kamu... aku jadi kelihatan bodoh banget di depan ayah. Udah disakitin, malah masih peduli."
Jantung Arjuna seakan berhenti berdetak sedetik, lalu berpacu gila-gilaan. Ia tidak berani maju, ia tidak berani menyentuh tangan gadis itu, apalagi memeluknya. Namun, sebuah senyum konyol dan luar biasa lebar perlahan merekah di wajahnya yang babak belur.
"Na..." panggil Arjuna, suaranya terdengar sangat antusias meski ia berusaha menahannya.
"Apa?" sahut Aluna ketus, masih tidak mau menoleh.
"Kalau gitu... mulai besok, aku beliin siomay Mang Udin tiap jam istirahat pertama, ya?" tawar Arjuna, wajahnya berseri-seri. Ia bergeser sedikit, hanya beberapa sentimeter agar bisa melihat profil wajah Aluna. "Tapi aku taruh di laci mejamu aja. Biar kamu nggak risih dilihatin anak-anak sekelas. Boleh?"
Aluna menggigit bibir dalamnya, berusaha setengah mati menahan senyum yang mendesak ingin keluar. "Bumbunya dipisah."
Arjuna tertawa pelan, cengirannya makin lebar meski lukanya kembali perih. "Siap, Bos. Bumbu pisah, kecapnya dikit aja. Terus... aku bakal jagain kamu terus, Na. Dari jauh. Jarak dua meter. Janji, nggak bakal deket-deket kalau kamu nggak izinin."
Aluna akhirnya menoleh sekilas, menatap Arjuna dengan ujung matanya. Melihat pemuda tinggi besar itu tersenyum bodoh dengan wajah penuh luka memar, hati Aluna terasa hangat.
"Terserah kamu aja deh," gumam Aluna pelan, lalu segera berdiri dan membersihkan rok seragamnya. "Aku mau pulang."
"Hati-hati, Na!" seru Arjuna dari tempat duduknya, sama sekali tidak beranjak agar tidak melanggar janjinya sendiri, tapi matanya terus mengikuti setiap langkah gadis itu dengan penuh pemujaan.
Di ujung lapangan, Aluna melangkah cepat. Ia tidak menoleh lagi ke belakang, namun jika Arjuna bisa melihat wajah gadis itu saat itu, ia akan melihat sebuah senyum manis yang merekah lebar diiringi rona merah yang menjalar hingga ke telinga.
Perlahan, ingatan hujan di masa lalu itu memudar.
Aluna membuka matanya. Suara rintik hujan di luar apartemen membawa kesadarannya kembali pada masa kini. Di sebelahnya, Arjuna dewasa masih tertidur lelap dengan napas teratur, wajahnya masih menyisakan sisa babak belur dari markas ayahnya.
Melihat pria itu, Aluna tersenyum tipis. Sang Ratu Mafia yang malam tadi menodongkan senjata api dengan dingin itu, kini menatap Arjuna dengan kelembutan yang sama seperti gadis SMA belasan tahun lalu. Tak peduli seberapa gelap dunia yang kini mereka pijak, pemuda bodoh yang dulu berjanji menjaganya dari jarak dua meter itu, kini telah benar-benar menyerahkan seluruh sisa hidupnya untuk menjadi tameng bagi Aluna.