Emily, Ratu Jalanan sekaligus ketua geng Sport Queen, dipaksa memilih antara masuk pesantren atau menikah setelah terus membuat orang tuanya khawatir. Tak disangka, pria yang dijodohkan dengannya adalah Reyze, ketua geng rival Black Lion Riders sekaligus musuh bebuyutannya.
Meski saling membenci, mereka terpaksa menikah diam-diam dan merahasiakan status mereka. Di depan publik mereka tetap rival, tetapi di balik pintu rumah harus belajar hidup sebagai suami istri.
Saat Emily masih terikat dengan pacarnya dan persaingan di dunia balap berubah menjadi ancaman mematikan, Emily dan Rey harus memilih: mempertahankan permusuhan atau memperjuangkan cinta yang perlahan tumbuh di antara mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HyMaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
Emily langsung menenggak air putih. Setelah itu ia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan wajahnya.
“Ahhh, gila si Rey! Sesaat anjirr…” teriak Emily dari kamar mandi. “Ngajarin gue nggak bener… ahhh, tapi gue juga enak. Haaaahh… segitu cuma pake jari dan mulut. Kebayang kalau si Joni dimasukin, bisa robek punya gue… gede banget anjir…” lirih Emily sambil menatap bayangannya di kaca.
Sementara itu di kamar, sejak pelepasan tadi Rey langsung tergelatak. Ia menahan agar si Joni tidak bangun lagi—kasihan Emily, mulutnya sudah kram. Mending kalau mau sama si mimaw, kan dia belum mau, gumam Rey pelan. Ia merebahkan diri di kasur tanpa sehelai benang pun, lalu mengenakan celana kembali sambil membersihkan tisu-tisu yang berserakan di tempat tidur.
“Gilaa… baru pake mulut aja seenak ini. Apa lagi kalo masuk ke sarangnya. Ahhh… ternyata nikah seenak itu, anjirrr. Padahal sejak dulu aja gue nerima perjodohan ini. Seandainya dari dulu gue tahu yang dijodohin sama gue itu Emily… mungkin gue nggak bakal membangkang,” ucap Rey dalam hati sambil tersenyum puas.
Tak lama Emily keluar dari kamar mandi, ia melihat Rey yang masih rebahan di kasur.
“Reyyy! Beresin tempat tidurnya!” teriak Emily.
“Sudah… gue pungutin tisu-nya,” jawab Rey malas.
“Rey…”
“Hmm?” Rey melirik.
“Gue pengen yang seger. Mual banget gue abis nelen itu…” Emily merengut.
“Belajar, dong. Lo harus lebih terbiasa,” ledek Rey sambil nyengir.
“Gila lo emang! Cepet dong, mulut gue asem, kram banget. Bikinin gue yang seger-seger. Asli, gue lemes banget, Rey…” ucap Emily, lalu ikut merebahkan tubuhnya di samping Rey.
“Mau apa? Jus? Minuman dingin? Atau kopi?” tanya Rey sambil menatapnya.
“Pengen-nya sih rokok…”
“Nggaaa anjirr! Gue bikinin smoothies mangga, gimana?”
“Boleh lahhh. Gue lemes banget soalnya…” sahut Emily sambil menutup mata.
“Baru segitu aja, Ily. Itu baru permulaan. Aslinya bisa lebih dari itu…” Rey menggoda sambil mengusap rambutnya.
“Gue nggak bakal kuat…” lirih Emily.
“Gue yang ngajarin. Tenang aja, lo bakal terbang lagi… enak, kan?” Rey meledek sambil terkekeh.
“Anjirr lo! Cepetan! Katanya mau bikin smoothies!” seru Emily menepuk lengannya.
“Iya, iya. Tunggu, ya…” Rey bangkit dengan senyum jahil.
Keesokan paginya, saat alarm menggema di samping nakas, Emily masih terlelap bersama Rey. Tidak seperti hari kemarin, pagi ini mereka terlihat lebih rileks dan tidak terlalu kaku ataupun asing. Emily hanya tidur dengan tanktop dan celana pendek, sedangkan Rey mengenakan boxer tanpa atasan. Setelah “permainan” semalam, mereka tidak melakukan lebih jauh. Justru setelah itu langsung tertidur, dan nyatanya pagi ini mereka bangun dalam keadaan saling berpelukan. Entah siapa yang lebih dulu memulai. tapi jelas keduanya mulai merasa nyaman.
“Reyyy, berisik banget! Hp lo matiin…” gerutu Emily setengah sadar.
“Gue nggak nyalain alarm, Ily,” jawab Rey malas.
“Itu hp lo bunyi terus! Bukannya kelas jam 10.00, ya? Kenapa sih ribet banget, gue masih ngantuk!” Emily menggerutu lagi, matanya masih terpejam.
Hp Rey terus berdering. Dengan kesal akhirnya Rey bangkit.
“Anjirr… siapa sih pagi-pagi gini!”
Betapa kaget sekaligus kesalnya Rey saat melihat layar hp—Elea menelpon dan mengirim pesan berkali-kali.
“Siapa? Pacar lo, ya?” ucap Emily sewot, langsung bangun.
“Bukan pacar gue! Tapi nggak tau kenapa dia nelpon pagi-pagi, nyuruh gue angkat,” jelas Rey.
“Yaudah, diangkat aja. Siapa tau penting.”
“Gapapa nih?” Rey melirik Emily.
“Terserah lo! Awasss… gue tidur lagi aja. Kuliah masih lama…” sahut Emily jutek sambil menarik selimut.
Telepon kembali berdering. Akhirnya Rey mengangkatnya, bahkan langsung mengaktifkan loudspeaker di samping Emily.
“Ada apa, Elea?” suara Rey dingin.
“Reyy, gue mau minta tolong… ban mobil gue kempes. Gue lagi jalan sendirian, tiba-tiba mobilnya kempes ,Gue nggak tau minta tolong siapa. Bisa nggak lo dateng ke sini? Gue di dekat perumahan rumah lo…” ucap Elea dengan nada manja.
Emily di sampingnya langsung menirukan gaya bicara Elea dengan ekspresi nyinyir.
“Sorry banget, Lea. Gue lagi nggak di rumah. Lo telpon Ezra aja, atau yang lain, atau bokap lo. Sorry, gue nggak bisa nolongin lo,” jawab Rey datar.
“Reyy pleaseee… gue nggak punya nomor mereka…” rengek Elea.
“Yaudah, nanti gue hubungin Ezra, suruh dia kontak lo, ya.”
Tuutt… Rey langsung mematikan telepon tanpa basa-basi.
Emily mendengus. “Sana! Pergi! Cewek lo butuh bantuan tuh…”
“Apa sih lo, Ily? Pagi-pagi ngajak ribut mulu…” Rey mengusap wajahnya.
“Gue ngomong nggak salah, kan? Pacar lo minta tolong sampe modus ngempesin ban depan perumahan lo. Gila, emang!” serang Emily.
“Siapa bilang pacar? Gue nggak punya pacar. Gue cuma punya pacar halal!” Rey menatap Emily.
“Kalau bukan pacar, ngapain dia nelponin lo pagi-pagi buta?”
“Ya mana gue tau. Itu bukan urusan gue. Udah sini, gue peluk lagi. Lo tidur aja, setel alarm jam 09.00…” Rey mencoba menenangkan.
“Gamau! Modus aja lo…” Emily manyun.
“Nggak usah marah gitu, nggak lucu. Ily, mau gue tusuk nih?” Rey menggoda sambil tersenyum jail.
“Alay lo! Ngancem mulu. Udah ah, gue ngantuk!” Emily langsung menarik selimut.
Namun tiba-tiba Rey ikut menarik tubuh Emily, memeluk erat dari belakang, menyelip ke dalam selimutnya.
“Mau tidur lagi, apa lanjut main lidah?” bisiknya nakal.
“Anjir! Gue ngantuk, bego. Nanti aja ah…” Emily mendorong wajah Rey.
“Yaudah, tidur lagi,” Rey terkekeh.
Akhirnya mereka kembali terlelap, membiarkan cahaya pagi memenuhi kamar. Baru nanti, saat waktu kuliah tiba, mereka akan bangun.
Sebelum berangkat kuliah, mereka sarapan terlebih dahulu. Sebelumnya, Emily sempat mengacak-acak lemarinya mencari baju yang menurutnya memiliki kerah tinggi.
“Nyari apa sih? Gelisah banget…” tanya Rey heran.
“Gue nyari trunek… baju yang ada lehernya. lo sih! Gue bilang jangan buat di leher, ini jelas banget, Rey. Udah gue coba pakai concealer, tetep aja masih keliatan. Bukan satu biji, ini banyak banget!” keluh Emily kesal.
Rey terkekeh. “Ya emang kenapa sih? Indah, tahu… itu lukisan.”
“Pala lo peang!” gerutu Emily.
“Gue suami lo, tapi berasa jadi selingkuhan,” Rey menyindir.
“Masalahnya gue belum siap publis.”
“Lo masih tetap pacaran, ? Nggak bisa banget ngehargain gue sebagai suami lo…” tatap Rey tajam.
“Lo juga punya pacar.”
Rey menghela napas. “Harus berapa kali gue bilang, Ily… gue nggak pacaran. Dari dulu Ayah selalu bilang kalau gue nggak boleh pacaran, karena gue udah disediain calon istri.”
“Berarti lo udah tahu dong kalo mau dijodohin sama gue?” Emily menatap curiga.
“Itu beda lagi. Gue cuma tahu kalau gue punya calon istri, tapi gue nggak tahu kalau istri gue itu elu.”
“Ahh modus luuu…” Emily mendengkus.
“Bisa kan lo nggak usah pacaran?”
“Gue butuh waktu, Rey… lagian kita juga nggak saling cinta,” jawab Emily lirih.
Rey hanya tersenyum sinis. “Gue buktikan…” ucapnya penuh tantangan.
Mereka akhirnya berangkat ke kampus dengan motor masing-masing, seperti biasa. Di jalan mereka saling mengebut, bahkan sampai halaman fakultas pun masih seperti balapan.
“Anjirrrrr, si Bos berangkat ke kampus aja sampe balapan sama si Queen,” ucap Bara terheran.
“Dan lo kalah lagi, Bos!” ledek Ezra.
“Siapa yang balapan? Gue nyantai…” Rey berkilah, wajahnya tetap serius.
“Hha, keliatan banget muka lo, Bos,” timpal Tama sambil ngakak.
“Siang ini jadi latihan, kan?” tanya Rey memastikan.
“Jadi lah, Bos. Kan tanding basket minggu depan,” jawab Gio mantap.
“Oke, gue minta semua harus fokus demi ngalahin kampus Ceria Baru itu.”
“Univ kita harus menang, Bos!” Bara menimpali penuh semangat.
“Kita usahakan
…” Rey menepuk bahu anak-anak timnya dengan tegas.