NovelToon NovelToon
Dikhianati Keluarga, Dicintai Sang CEO

Dikhianati Keluarga, Dicintai Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Anak Genius / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Winna Yun

Dikhianati oleh keluarga yang seharusnya menjadi tempat pulang, Arunika kehilangan segalanya dalam satu malam. Difitnah sebagai anak pembawa sial, diusir dari rumah, dan dirampas hak warisnya demi ambisi mereka. Tak ada yang percaya pada tangisnya, bahkan pria yang pernah ia cintai pun memilih berpaling.
Saat hidupnya berada di titik terendah, takdir mempertemukannya dengan Kael Adrian, seorang CEO muda yang dingin, berkuasa, dan ditakuti banyak orang. Di balik sikapnya yang sulit ditebak, Kael justru menjadi satu-satunya orang yang berdiri di sisi Arunika ketika seluruh dunia meninggalkannya.
Namun, cinta mereka tidak datang tanpa harga.
Rahasia besar tentang kelahiran Arunika mulai terungkap. Pengkhianatan keluarganya ternyata hanyalah awal dari konspirasi yang telah disusun selama puluhan tahun. Orang-orang yang dulu membuangnya kini ingin merebutnya kembali, bukan karena penyesalan, melainkan karena sebuah warisan yang mampu mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Winna Yun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab - 9 Lima Tahun Mencarimu

Suara di seberang terdengar tergesa-gesa.

"Pak Bagaskara."

"Di mana Bapak sekarang?"

"Saya sedang di luar."

"Ada apa?"

Beberapa detik hening. Lalu suara itu kembali terdengar, kali ini lebih pelan.

"Saya baru mendapat informasi."

"Semua proyek yang sedang kita negosiasikan mendadak ditunda."

Bagaskara mengernyit.

"Ditunda?"

"Iya."

"Bukan hanya satu."

"Hampir semuanya."

Wajah Bagaskara perlahan memucat.

"Itu tidak mungkin."

"Kita sudah mencapai tahap akhir."

Suara di seberang mengembuskan napas berat.

"Itulah yang membuat saya juga bingung."

"Semua perusahaan yang sebelumnya menyatakan siap bekerja sama, pagi ini tiba-tiba mengirim surat penundaan."

"Mereka tidak memberikan alasan."

Bagaskara mengepalkan ponselnya.

"Siapa yang menggerakkan mereka?"

"Tidak ada yang tahu."

"Tapi ada satu kesamaan."

"Mereka semua mengatakan akan meninjau ulang keputusan setelah menerima informasi baru."

Panggilan berakhir, Bagaskara masih berdiri terpaku. Jantungnya berdegup semakin cepat. Entah mengapa...

Bayangan Adrian kembali muncul di kepalanya.

Mobil hitam melaju tenang meninggalkan penginapan.

Di dalam kabin, suasana begitu sunyi.

Adrian duduk di kursi belakang sambil memandangi pemandangan di luar jendela.

Ponselnya bergetar.

Layar menampilkan satu nama.

Raka.

Asisten sekaligus tangan kanan yang telah bekerja bersamanya selama bertahun-tahun.

Adrian mengangkat panggilan.

"Lapor."

"Pak."

"Seluruh instruksi telah dijalankan."

"Negosiasi dengan Grup Mahardika sudah dihentikan sementara."

"Tidak ada satu pun perusahaan yang berani menandatangani kerja sama baru."

Ekspresi Adrian tidak berubah sedikit pun.

"Bagus."

"Tetap seperti itu."

"Jangan batalkan."

"Hanya tunda."

Raka terdiam sejenak.

"Baik, Pak."

"Bagaimana jika mereka meminta penjelasan?"

Adrian menjawab tanpa sedikit pun keraguan.

"Katakan bahwa mereka belum memenuhi standar evaluasi."

"Jangan sebut nama saya."

"Dimengerti."

Panggilan pun berakhir.

Tak lama kemudian mobil memasuki kawasan pusat bisnis.

Sebuah gedung pencakar langit berdiri menjulang, mendominasi seluruh kawasan.

Logo perusahaan terpampang megah di bagian atas gedung.

Mobil berhenti tepat di depan pintu utama.

Begitu Adrian turun...

Puluhan karyawan yang sedang berlalu-lalang langsung menepi.

"Selamat pagi, Pak Adrian."

"Selamat pagi, Direktur."

Tak seorang pun berani menatapnya terlalu lama.

Langkah Adrian tetap tenang.

Setiap langkahnya membuat lorong utama berubah sunyi.

Pintu lift khusus terbuka.

Tidak ada orang lain yang diperbolehkan masuk.

Beberapa menit kemudian...

Lift berhenti di lantai paling atas.

Ruang kerja Adrian begitu luas dengan dominasi warna hitam dan abu-abu.

Jendela kaca setinggi langit-langit memperlihatkan seluruh panorama kota.

Ia meletakkan jasnya di sandaran kursi.

Belum sempat duduk, Raka sudah masuk membawa sebuah tablet.

"Pak."

"Semua laporan sudah siap."

Adrian menerimanya.

Tatapannya bergerak cepat membaca setiap halaman.

Tak ada satu ekspresi pun berubah di wajahnya.

Namun justru itulah yang paling menakutkan.

Beberapa direktur yang berdiri di ruangan itu mulai merasa tegang.

Salah seorang akhirnya memberanikan diri berbicara.

"Pak Adrian."

"Divisi investasi mengalami sedikit penurunan karena penundaan proyek."

Adrian menutup tablet itu perlahan.

"Saya tahu."

"Kerugian sementara?"

"Delapan puluh dua miliar rupiah."

Ruangan langsung sunyi.

Jumlah itu bukan angka kecil.

Namun Adrian hanya menyandarkan tubuhnya ke kursi.

"Kalau begitu."

"Tutup kekurangannya."

Direktur itu tampak gugup.

"Dengan cara apa, Pak?"

Adrian mengangkat pandangan.

Sorot matanya dingin.

"Ambil alih dua proyek luar negeri."

"Naikkan investasi sektor energi."

"Alihkan dana dari portofolio yang tidak produktif."

"Semuanya harus selesai sebelum pasar tutup."

Jawabannya singkat.

Tegas.

Tanpa ruang untuk membantah.

"Baik, Pak."

Semua orang segera bergerak keluar.

Mereka tahu...

Saat Adrian sudah mengambil keputusan, tidak ada yang berani mempertanyakannya.

Raka tetap berdiri.

"Pak."

"Ada satu hal lagi."

"Tim pengawas melaporkan aktivitas mencurigakan di sekitar Nona Arunika."

Adrian menghentikan gerakan tangannya.

Beberapa detik ia terdiam.

Lalu berkata dengan suara datar.

"Tingkatkan pengamanan."

"Jangan sampai dia menyadarinya."

"Dan..."

Ia menatap Raka tajam.

"Cari tahu siapa yang mulai bergerak."

"Kalau mereka hanya mengawasi..."

"Biarkan."

"Tapi kalau ada yang mencoba menyentuh Arunika..."

Suasana ruangan mendadak terasa membeku.

Tatapan Adrian berubah sedingin es.

"Hancurkan jaringan mereka."

"Sampai ke akarnya."

Raka menundukkan kepala tanpa ragu.

"Siap, Pak."

Di dunia bisnis...

Adrian dikenal sebagai sosok yang tenang.

Namun hanya orang-orang terdekatnya yang mengetahui satu kenyataan.

Ia hampir tidak pernah marah.

Karena ketika kemarahannya muncul...

Yang tersisa bagi lawannya hanyalah penyesalan.

Sinar matahari mulai memenuhi ruangan melalui dinding kaca yang membentang dari lantai hingga langit-langit.

Namun, kehangatan cahaya itu sama sekali tidak mengurangi atmosfer dingin di ruang kerja Adrian.

Raka masih berdiri di hadapan meja kerjanya dengan sebuah tablet di tangan.

"Pak."

"Tim intelijen baru saja mengirim pembaruan."

Adrian mengangkat pandangan.

"Bicaralah."

Raka menekan layar tablet.

Beberapa foto dan data langsung muncul.

Di antaranya terdapat gambar SUV hitam yang sejak pagi berada di sekitar penginapan.

"Kendaraan ini sudah terdeteksi selama tiga hari terakhir."

"Nomor polisinya palsu."

"Orang-orang di dalamnya menggunakan identitas yang berbeda-beda."

"Namun setelah kami telusuri..."

"Mereka berasal dari organisasi yang sama."

Adrian membaca seluruh laporan tanpa mengubah ekspresi.

"Identitas?"

"Belum berhasil dipastikan."

"Tetapi pola gerak mereka sangat profesional."

"Bukan preman."

"Bukan pula wartawan."

"Mereka terlatih."

Ruangan kembali sunyi.

Beberapa detik kemudian Adrian meletakkan tablet itu.

"Teruskan."

"Selain mereka..."

"Ada satu orang lagi."

Raka memperbesar salah satu foto.

Seorang pria berjaket hujan tampak berdiri jauh dari penginapan sambil membawa teropong kecil.

"Orang ini berbeda."

"Dia tidak pernah berinteraksi dengan kelompok SUV."

"Justru beberapa kali terlihat mengawasi mereka."

Adrian menyipitkan mata.

"Berarti ada pihak ketiga."

"Ya, Pak."

"Kemungkinan besar begitu."

Adrian berdiri dari kursinya.

Ia berjalan perlahan menuju jendela.

Tatapannya mengarah ke hamparan gedung-gedung tinggi di bawah sana.

"Ada yang ingin mendapatkan Arunika."

"Dan ada yang berusaha melindunginya."

"Tapi..."

"Sampai sekarang kita belum tahu siapa lawan dan siapa kawan."

Raka mengangguk.

"Perlukah saya mengirim Tim Garuda?"

Adrian menggeleng.

"Belum."

"Mereka terlalu mencolok."

"Gunakan Unit Bayangan."

"Jumlahnya?"

"Dua belas orang."

"Sebar dalam radius lima kilometer."

"Jangan mendekat."

"Pastikan tidak ada seorang pun yang menyadari keberadaan mereka."

"Baik, Pak."

Raka segera mencatat seluruh perintah.

Belum sempat ia keluar, ponsel Adrian bergetar.

Layar hanya menampilkan satu huruf.

A.

Tatapan Adrian berubah sedikit lebih serius.

Ia mengangkat panggilan.

"Ya."

Suara seorang pria tua terdengar dari seberang.

"Kau mulai bergerak."

"Bukan kebiasaanmu."

Adrian tetap menatap keluar jendela.

"Saya hanya memastikan tidak ada masalah."

Pria itu terkekeh pelan.

"Karena seorang gadis?"

Adrian tidak menjawab.

Keheningan itu justru menjadi jawaban yang paling jelas.

"Hati-hati."

"Semakin kau melindunginya..."

"Semakin banyak mata yang akan mengarah kepadamu."

Adrian menjawab datar.

"Kalau memang harus begitu."

"Biarkan."

Panggilan pun terputus.

Raka yang masih berada di dalam ruangan berpura-pura tidak mendengar apa pun.

Ia sudah bekerja bersama Adrian selama bertahun-tahun.

Ia tahu satu aturan.

Jangan pernah menanyakan urusan pribadi atasannya.

Adrian kembali ke meja kerjanya.

Ia membuka sebuah laci yang selama ini selalu terkunci.

Di dalamnya hanya terdapat sebuah map berwarna hitam.

Pada sampulnya tertulis satu nama.

ARUNIKA.

Map itu tampak sudah lama disimpan.

Adrian membukanya perlahan.

Halaman pertama berisi sebuah foto seorang gadis kecil berusia sekitar enam tahun yang sedang tersenyum ceria sambil menggenggam balon.

Tatapan Adrian berhenti pada foto itu selama beberapa saat.

Sorot matanya yang biasanya sedingin es akhirnya berubah... meski hanya sesaat.

"Lima tahun..."

gumamnya pelan.

"Akhirnya aku menemukanmu."

Di luar ruang kerja, Raka yang baru saja menutup pintu membeku di tempat.

Itu adalah pertama kalinya dalam bertahun-tahun ia mendengar Adrian berbicara dengan nada sehalus itu.

Dalam hati, ia hanya bisa bertanya,

Siapa sebenarnya Arunika... hingga mampu membuat pria sedingin Adrian menyimpan sebuah rahasia selama lima belas tahun?

1
sinnox
50k mana cukup😭
sinnox
Bau bau ibu tiri jahat😭
Winna Yun: iya Kaka 😁
total 1 replies
zevy_14
lanjut kk... update... update.. update🤭💪
Winna Yun: siap kakak 😁
total 1 replies
zevy_14
bagus selidiki🤭
Winna Yun: mamang haru ini🤭
total 1 replies
ciber ara
suka banget ceritanya
Winna Yun: terimakasih ka 🤗
total 1 replies
ciber ara
nextt
MPUSSPITA
semangat terus othorrr
Winna Yun: semangat kembali ka🤗
total 1 replies
MPUSSPITA
sedih banget kamu, arunika 😭😭😭
Winna Yun: iya ka ujian nya gak main main😁
total 1 replies
Nnisa
kak aku mampir nih, semangat kak💪💪
Winna Yun: terimakasih ka atas kunjungan nya🤗
total 1 replies
Swan Tiger
halo semangat author🍀🍀🍀
Winna Yun: semangat juga ka🤗
total 1 replies
Lasa Hardianti
kasian bgt nasib arunika, moga aja kena karma tuh keluarganya😌🤣
Winna Yun: sabar na nanti di bayar kontan😁
total 1 replies
helena
kasian banget arunika
helena: thor/Hey//Smile/
total 2 replies
Winna Yun
iya ka emang gak sedikit 😁
Zed Analytical Number Nine
bukan angka yang sedikit
Cilia
Nyesek banget jadi arunika:(
Winna Yun: iya bener ka
total 1 replies
Winna Yun
iya ka beda banget
Putri Ayu/PqxxyZ
beda suasana ya disana
Putri Ayu/PqxxyZ
aku sudah mampir baru awal nih, entar lanjut lagi.. kakak boleh mampir di ceritaku yang "Terjebak Antara Saudara dan Cinta"
Winna Yun: iya ka siap
total 1 replies
Putri Ayu/PqxxyZ
oke cabut... kena usir soalnya
Winna Yun: iya ka🤭 terimakasih sudah berkunjung 🤗
total 1 replies
Putry Chan
aku kasih sedikit saran deskripsi kalimat trlalu panjang, berurutan, bertele-tele ,
kurang penekanan emosi yang mendalam
konflik dan kelanjutan bagus tapi kurang di bedakan
ada beberapa kata yang kurang baku
tidak ada poin unik yang langsung menonjol di awal

Dikhianati oleh orang yang seharusnya melindunginya, Arunika kehilangan segalanya dalam satu malam. Difitnah pembawa sial, diusir ke jalanan, dirampas hak warisnya demi ambisi keluarga—bahkan orang yang dicintainya pun berpaling tanpa belas kasih.

Di titik terendah hidupnya, ia bertemu Kael Adrian: CEO muda yang dingin, berkuasa, ditakuti semua orang, namun satu-satunya yang berdiri teguh di sisinya saat dunia meninggalkannya.

Namun cinta mereka tak mudah. Rahasia kelahiran Arunika yang terungkap perlahan membongkar konspirasi puluhan tahun tersembunyi. Orang yang dulu membuangnya kini kembali mengejarnya—bukan karena menyesal, melainkan demi warisan luar biasa yang tersembunyi dalam darahnya.

Akankah ia bangkit dan membalas setiap tetes air mata serta pengkhianatan itu?

Winna Yun: terimakasih ka sarapan nya🤗 terimakasih sudah berkunjung
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!