NovelToon NovelToon
Imperium Rahasia: Sang Menantu Triliuner

Imperium Rahasia: Sang Menantu Triliuner

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Perubahan Hidup / Kaya Raya
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Marcos

Tiga tahun Arga hidup sebagai menantu miskin yang dipandang rendah keluarga istrinya. Di meja makan, di pesta keluarga, di setiap tatapan dingin, ia diperlakukan seperti beban yang tidak punya masa depan.
Tidak ada yang tahu bahwa pria pendiam itu adalah pewaris tersembunyi keluarga Mahendra, pengendali kekaisaran bisnis bernilai triliunan rupiah yang bergerak dari balik layar. Saat penghinaan berubah menjadi batas terakhir, Arga mulai mengambil kembali semua yang dirampas darinya: nama, kekuasaan, harga diri, dan kebenaran di balik kematian orang tuanya.
Di tengah perang bisnis para konglomerat, intrik keluarga elite, aliansi berbahaya, dan musuh yang bersembunyi di balik hukum, Arga harus memilih cara membalas tanpa kehilangan dirinya sendiri. Sementara itu, pernikahannya dengan Bianca diuji oleh rahasia, luka lama, dan cinta yang ternyata lebih kuat daripada kebohongan.
Ini kisah tentang menantu yang diremehkan, pewaris yang bangkit diam-diam, dan balas dendam yang tidak datang lewat amarah, melainkan lewat kuasa yang tepat sasaran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marcos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

Bab 02 - Kartu Hitam

Parkiran bawah tanah Hotel Aryaduta Grand berbau beton lembap dan uang lama. Deretan mobil antipeluru hitam, SUV impor, sebuah Ferrari merah milik salah satu sepupu yang namanya bahkan tidak pernah Arga ketahui.

Pria itu berjalan dua langkah di depan. Ia tidak menoleh untuk memastikan Arga mengikutinya. Ia tahu Arga akan datang.

Arga datang.

Itu bukan soal percaya. Di dalam sana ia tidak terlihat. Di luar, setidaknya ada seseorang yang mengetahui namanya. Di luar, setidaknya ada seseorang yang mengetahui namanya.

Pria itu berhenti di depan sedan gelap tanpa pelat yang tampak jelas. Ia membuka pintu belakang dan memberi isyarat pendek dengan kepala.

"Masuk. Waktu kita sedikit."

Arga tidak masuk.

"Siapa Anda?"

"Jaya Kusuma. Pak Jaya, kalau Anda lebih nyaman." Cara bicaranya seperti orang membacakan laporan, bukan memperkenalkan diri. "Saya memimpin tim keamanan pribadi ayah Anda selama enam belas tahun. Mantan Brimob, kapten purnawirawan."

Arga merasa tanah berubah di bawah kakinya. Bukan secara fisik. Namun frasa "ayah Anda" membuka lubang di dadanya, lubang yang ia kira sudah lama ditambal semen.

"Saya tidak punya ayah."

"Anda punya. Pernah punya." Pak Jaya menahan tatapannya tanpa berkedip. "Raka Wijaya Mahendra. Meninggal dua puluh tiga tahun lalu. Atau lebih tepatnya, dibunuh. Bersama ibu Anda, Elena. Saat itu usia Anda dua tahun."

Keheningan parkiran berbeda dari keheningan ballroom. Tidak ada tatapan. Tidak ada tawa. Hanya beton, udara dingin, dan sebuah kebenaran yang lebih berat daripada seluruh langit-langit di atas kepala mereka.

Arga masuk ke mobil.

Interiornya kulit gelap, tanpa hiasan. Tidak ada logo, tidak ada pewangi, tidak ada detail yang tidak perlu. Pak Jaya duduk di sampingnya, menutup pintu, dan suara pesta di lantai atas lenyap sepenuhnya.

"Anda mengatakan bahwa Anda tahu siapa orang tua kandung saya."

"Saya mengatakan bahwa saya tahu siapa Anda." Pak Jaya membuka map kulit yang terletak di kursi di antara mereka. "Arga Wijaya Mahendra. Putra tunggal Raka dan Elena Mahendra. Pewaris langsung keluarga Mahendra dari Jakarta."

Ia mengeluarkan sebuah dokumen dari map. Akta kelahiran. Arga mengambilnya dengan dua tangan. Huruf-hurufnya bergetar. Tidak, tangannya yang bergetar.

Arga Wijaya Mahendra. Ayah: Raka Wijaya Mahendra. Ibu: Elena Gouveia Mahendra. Tempat lahir: Jakarta, DKI Jakarta.

"Ini bisa dipalsukan."

"Bisa." Pak Jaya mengeluarkan dokumen lain. "Hasil tes DNA. Diambil tanpa sepengetahuan Anda empat bulan lalu, dari gelas yang Anda tinggalkan di sebuah kedai di Jalan Sabang. Dibandingkan dengan sampel Raka yang disimpan di brankas keluarga sejak sebelum kematiannya. Kecocokan 99,97%."

Arga menurunkan akta itu ke pangkuannya. Ia menatap atap mobil.

"Kenapa baru sekarang?"

"Karena kakek Anda sedang sekarat. Agusta Bimantara Mahendra. Delapan puluh enam tahun, kanker pankreas. Dokter memberinya enam bulan." Pak Jaya menutup map. "Beliau mencari Anda selama dua puluh tahun. Saya mencari Anda selama dua puluh tahun. Kami menemukan Anda empat bulan lalu. Kami mengonfirmasi semuanya dua minggu lalu."

"Dan kalian menunggu."

"Saya yang menunggu. Keputusan saya." Untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang berubah di wajah Pak Jaya. Sudut matanya menegang, topeng itu retak selama sedetik. "Saya ingin memastikan Anda... bahwa Anda sudah siap."

"Siap untuk apa?"

Pak Jaya mengambil sebuah benda persegi panjang dari map. Hitam doff. Tanpa nama, tanpa logo bank. Hanya ada nomor yang terukir di permukaannya dan sebuah chip emas.

"Ini kartu yang terhubung dengan rekening utama keluarga Mahendra di Bank Rothschild Swiss. Limit operasional Rp50 triliun." Ia meletakkan kartu itu di kursi di antara mereka seperti seseorang meletakkan senjata di atas meja. "Total kekayaan keluarga jauh lebih besar dari itu."

Arga menatap kartu itu. Ia tidak menyentuhnya.

"Lima puluh triliun."

"Rupiah."

Angka itu terlalu besar untuk dicerna. Terlalu besar untuk terasa nyata. Arga teringat Rp15.000.000 yang ia minta dua puluh menit lalu. Koin seribu rupiah yang berputar di lantai marmer. Tawa Marlina.

Pak Jaya melanjutkan, dan setiap kalimat seperti batu bata pada dinding yang tidak pernah Arga minta untuk dibangun.

"Anda pemilik saham mayoritas di tujuh perusahaan Grup Imperial. Anda memiliki properti di empat negara. Anda punya tim hukum berisi tiga puluh dua pengacara yang bekerja khusus untuk melindungi harta Anda sejak sebelum Anda tahu harta itu ada."

Tenggorokan Arga terasa kering.

"Lalu kenapa saya ada di panti asuhan?"

"Karena seseorang membunuh orang tua Anda dan berusaha membunuh Anda. Anda dikeluarkan dari rumah saat berusia dua tahun oleh seorang pegawai keluarga, Bu Ningsih."

Nama itu menghantam Arga seperti pukulan di perut.

"Bu Ningsih."

"Ningsih Wulandari. Kepala pengurus rumah keluarga Mahendra. Pada malam penyerangan, dia membawa Anda dan melarikan diri. Menghilang. Mengganti nama, mengganti kota, membesarkan Anda diam-diam di sebuah panti asuhan di Jakarta." Pak Jaya berhenti sejenak. "Dia tahu kalau ada yang mengetahui Anda masih hidup, mereka akan datang mencari Anda."

Arga memejamkan mata. Bu Ningsih. Perempuan yang mengajarinya membaca. Yang menjahit celananya saat robek. Yang berpura-pura tidak sakit agar Arga tidak khawatir. Yang sekarang sedang sekarat di rumah sakit umum karena Arga tidak mampu mengumpulkan Rp15.000.000.

Dia bukan sekadar pengasuh panti asuhan.

Dia telah menyelamatkan hidup Arga.

"Para pembunuh itu," kata Arga, suaranya keluar lebih rendah daripada yang ia maksudkan. "Siapa mereka?"

"Itu percakapan yang lebih panjang." Pak Jaya menyimpan mapnya. "Yang penting sekarang, mereka masih mengira Anda sudah mati. Selama mereka percaya itu, Anda aman. Jika mereka tahu..."

Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Tidak perlu.

Arga terdiam cukup lama. Suara pesta yang teredam terdengar seperti denyut jauh dari dunia lain.

"Saya tidak akan memberi tahu siapa pun."

Pak Jaya mengamatinya.

"Bahkan istri Anda?"

Arga memikirkan Bianca. Gelas yang bergetar di tangannya. Kebisuan yang ia pilih alih-alih satu kata pembelaan.

"Terutama dia." Arga mengambil kartu hitam itu. Bobotnya terasa terlalu ringan untuk sesuatu yang diwakilinya. "Tidak sekarang. Tidak dengan cara seperti ini."

Pak Jaya mengangguk sekali, seolah jawaban itu benar.

"Ayah Anda akan mengatakan hal yang sama."

Arga menyimpan kartu itu di saku dalam jas murah yang ia beli seharga Rp120.000 di Tanah Abang. Kontrasnya absurd, dan tak seorang pun akan pernah tahu.

"Hal pertama yang saya butuhkan," kata Arga sambil membuka pintu mobil, "adalah membayar operasi."

"Rp15.000.000."

Arga berhenti.

"Anda mendengar."

"Saya ada di ballroom sebelum masuk. Saya melihat semuanya." Pak Jaya tidak mengalihkan pandangan. "Koin itu. Tawa mereka. Semuanya."

Udara parkiran masuk ke mobil seperti hembusan realitas.

"Kalau begitu Anda tahu kenapa saya tidak akan memberi tahu siapa pun."

Pak Jaya menundukkan kepala sedikit.

"Saya tahu."

Arga keluar dari mobil. Ia merapikan jasnya. Menarik napas dalam-dalam.

Rp50 triliun. Dan mereka menyuruhku memungut koin dari lantai.

Ia berjalan kembali ke lift. Ke ballroom. Ke pesta seorang perempuan yang menyebutnya "orang itu". Ke keluarga yang memperlakukannya seperti sebuah kesalahan.

Namun kali ini, koin di sakunya terasa berbeda.

Di kursi belakang sedan, Pak Jaya membuka ponsel dan mengetik satu pesan.

Dia menerima. Protokol aktif.

Lalu, kepada dirinya sendiri, dalam gumaman yang tidak didengar siapa pun, ia berkata, "Para pembunuh orang tuamu masih mengira kau sudah mati, Arga."

Pak Jaya menyimpan ponselnya.

"Kita akan mempertahankan itu. Untuk sementara."

1
Anime aikō-kā
haii
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!