Di tengah kegalauannya karena belum dikaruniai anak, Zora melakukan yang seharusnya tidak dilakukannya.
Akhirnya Zora melahirkan Agni, ada beberapa versi cerita beredar di sekitar mereka tentang identitas Agni, tidak ada satupun yang pasti tahu siapa ayah dari Agni, hanya Zora yang tahu. Namun Zora mengalami musibah dan rahasia itu hampir tidak akan mungkin terungkap.
Agni tumbuh jadi anak yang pintar dan cantik. Sampai dia terjerumus ke dunia hitam, dia belum juga menemukan apa yang dia cari. Akankah Agni akan tahu siapa ayah biologisnya?
Ikuti kisahnya dalam cerita "Zora's Scandal" - Skandal Zora. Skandal itu melahirkan banyak rahasia di dalam rumah tangga Zora dan Aditya. Mohon jangan galau setelah baca novel ini.
NB: Visual ada di episode 73 Pembuktian!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Amelia Melamar Aditya, what?
“Permisi, Pak. Ada ibu Anastasya mau bertemu dengan Bapak!” Tia memberitahukan kepada bos-nya jika ada tamu yang bernama Anastasya ingin bertemu dengan Aditya.
Aditya yang merasa tidak pernah janjian dengan siapapun hari itu, apalagi yang bernama Anastasya menjadi heran dan bertanya-tanya dalam hatinya, siapa gerangan Anastasya yang Tia maksud, tidak selang berapa lama, Aditya langsung bisa menebak jika yang datang adalah Amelia. Dia cukup kenal dengan Amelia, perempuan itu pasti sudah mengelabui semua orang yang ditemuinya di gedung ini.
“Saya tidak ada janji dengan siapapun hari ini, kamu tidak pernah mengatakan jika ada Anastasya yang akan datang hari ini, seharusnya kamu kan tahu, bukannya kamu sekretarisku di sini?” Aditya jengkel kepada Tia. Tapi apa boleh buat, Tia memang orangnya selugu itu. Dia tidak pandai diajari berbohong, walau dalam hal-hal kecil seperti ini pun.
“Bilang ke Anastasya…”
“Halo Pak Poernomo, maaf saya datang tidak di waktu yang tepat.” Belum selesai Aditya berbicara Amelia yang mengaku Anastasya itu langsung saja masuk dan muncul di hadapan Aditya dan pura-pura menunduk, seolah-olah ingin memohon maaf.
"Tuh kan!" Aditya berbisik pada diri sendiri. Menyempatkan mengutuk Tia di dalam hatinya. ‘Dasar Tia, lugu banget sih!?’
“Eh, halo, Anastasya?!” Antara bertanya dan berseru, samar-samar. Aditya yang sudah kepergok menjawab gugup sapaan Amelia. Dia pura-pura tidak kenal dengan Amelia. Diikutkannya permainan sandiwara Amelia yang berperan sebagai Anastasya. Dia tidak mau jika Tia tahu bahwa perempuan yang dikenalnya dengan nama Anastasya ini adalah Amelia, temannya sendiri. Mereka sudah kenal sebelumnya, sudah lama. Dia tidak mau Tia berpikir aneh-aneh. Sekalian dia memberikan kode ke Tia agar segera meninggalkan ruangan itu.
“Ya, Anastasya, masa lupa, Pak!? Amelia melanjutkan sandiwaranya. “Kita pernah bertemu di Swiss, kita pernah diskusi tentang usaha kuliner, restoran vegetarian! Masih ingat? Hahaha!” Amelia sangat senang dengan akting yang baru saja diperankannya, dia tertawa lepas saat Tia sudah keluar ruangan itu. Dia ingin menunjukkan ke Aditya bahwa dia tidak bisa diabaikan begitu saja. Dia bukan perempuan yang mudah menyerah.
“Amelia, ngapain ke sini?” Aditya pura-pura nanya, tentu saja dia sudah tahu Amelia mau melakukan apa di Singapura, di kantornya. Tentu saja Amelia ingin menemuinya, dia sadar jika dia menolak semua panggilan telepon dari perempuan yang sudah duduk di depannya.
“Saya sangat merindukanmu, Dit! Jangan pura-pura bodoh deh!” Amelia sengaja tidak menatap mata Aditya, dia berlagak seperti anak perempuan yang merajuk kepada bapaknya, alih-alih melihat wajah Aditya, Amelia meraih pulpen yang ada di atas meja Aditya, membuka buku agenda Aditya dan mencoret-coret halaman yang kosong, entah apa yang berusaha digambarnya.
“Mel, saya ini sudah jadi suaminya orang, ngapain ngejar-ngejar saya sampai ke sini? Kayak gak ada laki-laki lain aja di luar sana!” Aditya sebenarnya ingin membentak, tetapi ditekannya suaranya agar tidak kedengaran dari luar. Matanya melotot ke arah Amelia yang sok manja itu.
Amelia pura-pura tidak dengar dengan perkataan Aditya, masih saja dia melanjutkan coretannya, kini coretannya sudah seperti gulungan benang yang kusut.
“Mel…, Amelia!” Aditya berusaha menghentikan aktivitas Amelia, dirampasnya pulpen dari tangan Amelia. Diletakkannya pulpen itu di tempat semula. Aditya menatap Amelia dengan serius.
“Susah ya, hidup di dunia ini, kayak benang kusut. Kita bisa mencintai orang lain, tapi dia tidak mencintai kita, justru orang lain yang banyak mengejar kita. Orang yang kita kejar mati-matian tidak pernah mengerti perasaan kita.” Ditatapnya mata Aditya.
Aditya tidak mau tahu dengan apa yang dikatakan Amelia. Baginya Zora adalah istri sahnya yang pantas menerima cinta darinya, dia tidak ingin berbagi cinta kepada perempuan lain.
“Gila lu ya!” Aditya setengah berteriak. Sambil mengatakan itu, dia melempar badannya ke belakang dan bersandar sambil geleng-geleng kepala. Aditya mulai kalap, dia tidak tahu lagi mau berbuat apa. Bahasanya berubah, sekarang dia menganggap Amelia bukan teman dekatnya lagi, Amelia kini menjadi monster yang selalu ingin mengganggu kebahagiaan rumah tangganya.
“Memang saya sudah gila, saya tergila-gila padamu Aditya Poernomo. Jangan salahkan aku jika unsur-unsur kimia yang ada padaku tertarik padamu, pada unsur-unsur kimia yang ada pada tubuhmu. Salahkan saja Tuhan, mengapa kamu diciptakan sedemikian rupa, hingga aku bisa sampai tergila-gila padamu!” Amelia malah menyalahkan Tuhan.
“Apa-apaan sih?!” Aditya makin terheran-heran dibuatnya.
“Kamu pasti mengerti apa yang kumaksud, kan?” Amelia membela diri, dia tidak merasa ada yang salah dari pernyataannya itu.
“Sekarang, apa maumu, kenapa datang ke sini?” Aditya kini mempertanyakan maksud Amelia datang ke kantornya.
“Saya mau melamarmu, Dit. Aku mau jadi istrimu.” Amelia menjawab pertanyaan Aditya, dia mengatakan apa hasratnya yang berusaha mati-matian dibunuhnya. Dia berulang-ulang menggunakan rasionalitasnya untuk menekan hasratnya itu, namun semakin ditekannya, semakin menjadi-jadi hasratnya itu. Belum lagi sikap cuek Aditya membuatnya semakin tertantang. Kesetiaan Aditya pada istrinya, Zora, justru menambah kekagumannya pada Aditya. Dia sangat cemburu jika Aditya memberikan perhatian justru kepada orang lain dan mengabaikannya, bahkan sekadar mengangkat teleponnya, pun, Aditya tidak punya waktu. Dia tidak rela. Hidupnya yang selalu dimanja dan semua kemauannya dipenuhi membentuk watak Amelia sedemikian rupa.
“Lu, emang benar-benar gila, Mel. Aku habis pikir, mengapa kau bisa se-ekstrim ini?!” Aditya tidak lagi menyimpan-nyimpan kekesalannya, dia tidak mau lagi bermanis-manis di hadapan Amelia, semakin dia menuruti permintaan Amelia, semakin Aditya merasa Amelia nekad sampai melanggar semua batas-batas moral. Selama ini dia menjaga perasaan Amelia, bagaimanapun, dia adalah salah satu teman akrabnya sewaktu duduk di bangku SMA.
“Iya, iya, tidak usah diulang-ulang, saya sudah mengakui dari tadi kalau saya sudah gila. Sekarang tinggal jawab, kapan kita bisa melangsungkan pernikahan?” Amelia tanpa rasa gentar sedikitpun melamar Aditya.
“Maaf Mel, aku tidak bisa.” Aditya menolak mentah-mentah lamaran Amelia.
“Mengapa tidak bisa? Saat tubuhmu kucumbu di restoran beberapa hari yang lalu, kau tidak menolak, kau membiarkan saja, kau menikmati, sekarang kau bilang tidak bisa. Apa maksudmu?” Suara Amelia semakin kencang.
“A….” Sebelum Amelia mulai ngoceh tidak karuan lagi, Aditya buru-buru menutup mulut Amelia dengan tangannya.
“Mel, jangan buat ribut di sini ya. Please!” Aditya memohon kepada Amelia dengan suara memelas. Dia tidak mau ada keributan yang tidak berarti di sana.
Amelia melepaskan tangan Aditya dari mulutnya. “Kalau kau memang tidak mau menikah denganku, aku mau, setiap aku butuh dirimu, kau harus ada untukku!” Amelia mulai mengancam.
“Apaan sih, Mel? Jangan kayak anak kecil, yang semua kemauannya harus dipenuhi. Kita sudah sama-sama dewasa dan seharusnya tahu membedakan mana yang baik, mana yang benar dan mana yang tidak.” Aditya seperti tukang ceramah mulai mengeluhkan perilaku Amelia.
“Aku tahu apa yang baik bagiku. Kutunggu kau di PARKROYAL malam ini. Hubungi aku jika kamu sudah sampai, agar aku tahu menjemputmu di lobby, nanti!” Amelia membalas ceramah Aditya dan memintanya untuk datang ke hotel bintang 5 yang sudah dipesannya di sela-sela makan siangnya tadi. Dia begitu yakin jika Aditya akan datang malam itu.
Sambil mengedipkan matanya sebelah kanan, Amelia berdiri, meninggalkan ruangan itu, Aditya mengikuti dari belakangnya. Memastikan Amelia benar-benar sudah meninggalkan kantor itu.
Amelia merasa puas, proposalnya sudah disampaikannya semua. Dia berpamitan dengan semua orang yang ada di kantor itu. Dia menuju lift, menuju lobby dan menaiki taksi yang sedang mengantri di depan lobby.
Amelia duduk di dalam taksi dengan senyum sumringah. Dia mulai mengutak-atik ponselnya. Sementara Aditya stres di dalam kantornya. Dia malu dengan para karyawannya yang ada di sana. Tingkah Amelia selalu di luar dugaan, menurut Aditya, terlalu berani, kelewat liberal.
Aditya mulai duduk kembali di kursi kerjanya, dia mendapat pesan WA dari Amelia. "Kutunggu kehadiranmu, sayang!" Singkat memang pesan itu, tapi membuat Aditya semakin gundah lagi geram. Dia sebenarnya ingin berbagi beban itu kepada Zora, namun dia tidak mau karena bisa saja Zora akan meninggalkannya hanya karena itu. Dia takut dengan kemungkinan-kemungkinan yang belum tentu kejadian.
Jangan lupa tinggalkan jejak sebelum lanjut...😉
Era Berdarah Manusia
I Firmo
🌹🌹🌹💐💐💐
Ukir karya
Raih segala asa
Sukses selalu buat Author
👍👍👍👏👏👏
⭐⭐⭐⭐⭐
Era Berdarah Manusia
I Firmo
⭐⭐⭐⭐⭐
🌹🌹🌹🌹🌹
⭐⭐⭐⭐⭐
nambah dukungan ya
🌹🌹🌹🌹🌹🌹💐💐💐💐💐💐
bikin ngeri 😂😂😂