NovelToon NovelToon
Lima Tahun Dipenjara, Kini Seluruh Keluarga Berlutut

Lima Tahun Dipenjara, Kini Seluruh Keluarga Berlutut

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Putri asli/palsu / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:28.8k
Nilai: 5
Nama Author: Vira Dusk

Lima tahun dipenjara. Enam puluh bulan tanpa satu pun kunjungan.

Keira Pratama keluar dengan kaki pincang, ginjal yang hilang, dan hati yang sudah membeku. Dia putri kandung keluarga konglomerat Pratama, tetapi sejak kecil dibuang ke panti asuhan, sementara Vanessa, anak orang lain, dimanjakan sebagai putri kesayangan.

Dulu, Vanessa mendorong seseorang dari tangga, tetapi Keira yang dipenjara. Mama-nya menghapus CCTV. Papa-nya menyuruhnya diam. Lucas, pria yang pernah dia cintai, justru menjadi orang yang mengirimnya ke balik jeruji.

Namun Keira yang kembali bukan lagi gadis penurut.

Saat rahasia mulai terbongkar, keluarga yang dulu membuangnya satu per satu hancur oleh penyesalan. Dan di saat semua orang meninggalkannya, Rayhan Hartono, pewaris Hartono Group, diam-diam berdiri di sisinya.

Kini mereka semua berlutut di bawah hujan.

Tapi bagi Keira, satu hal tetap belum terjawab: **apakah penyesalan mereka datang terlambat?**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vira Dusk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Bab 11

Rencana Perjodohan

Pisau di dalam saku Amanda tidak pernah keluar.

Keira menyentuh lengannya. "Manda, aku hanya mau mengambil dokumen."

Senyum dingin Amanda menghilang. Ia menutup kembali pisau kupu-kupu, lalu menatap Edmond. "Saya masuk karena Kak Keira meminta. Bukan karena rumah ini menerima saya."

Sebelum berpisah malam itu, Amanda memberikan sebuah ponsel sederhana kepada Keira. Hanya ada tiga nomor di dalamnya: Amanda, Tante Mira, dan nomor darurat rumah sakit.

"Telepon kapan saja," katanya.

Keesokan paginya, Edmond meminta semua orang berkumpul di ruang kerja.

Keira datang paling akhir dengan tongkat di tangan. Perban putih masih membungkus tangan kirinya. Ia memilih kursi paling dekat pintu.

"Ini rapat keluarga," kata Edmond.

Keira menyandarkan tongkat ke lutut. "Namaku tidak ada di Kartu Keluarga. Jadi aku harus duduk di sini sebagai apa?"

Wajah Edmond mengeras. Yolanda segera menyela dengan senyum tipis.

"Dengarkan dulu, Nak. Ini tentang masa depanmu juga."

Kevin berdiri dekat jendela, kedua tangan terlipat. "Kalau ini soal Adiputra Corporation, aku tidak akan menarik pembatalan kontrak."

"Karena keputusan emosionalmu, Pratama Group kehilangan proyek besar," balas Edmond. "Kita butuh mitra yang bisa menutup kerugian itu."

Ia mendorong sebuah map ke tengah meja. Logo Hartono Group tercetak di sampulnya.

"Keluarga Hartono sedang mencari pasangan untuk pewaris mereka."

Keira tidak menyentuh map. "Lalu?"

"Kamu akan menikah dengan Rayhan Hartono."

Kevin langsung berbalik. "Tidak."

"Aku tidak meminta pendapatmu."

"Keira baru keluar dari rumah sakit. Papa tidak bisa mengirimnya ke keluarga asing demi kontrak."

Edmond menghantam meja. "Kamu mau Pratama Group bangkrut?!"

"Kalau perusahaan hanya bisa selamat dengan menjual seseorang, biarkan bangkrut."

Yolanda menarik lengan Kevin. "Jangan bicara seperti itu. Pernikahan dengan Hartono bukan hukuman. Banyak perempuan ingin masuk keluarga itu."

"Kalau begitu kirim Vanessa," kata Keira.

Ruangan mendadak sunyi.

Edmond menjawab, "Vanessa tidak cocok."

"Tidak cocok, atau terlalu berharga untuk kalian pertaruhkan?"

Yolanda memaksakan senyum. "Keira, Rayhan Hartono adalah pewaris keluarga berusia lebih dari seratus tahun. Dia menguasai Hartono Group. Kamu akan hidup berkecukupan."

"Katakan seluruhnya."

Kevin menatap ibunya. "Jangan."

Namun Edmond sudah membuka map. "Ada rumor dia tidak mampu menjalani hubungan sebagai laki-laki. Dia juga dikenal kasar, punya kecenderungan kekerasan, dan tidak suka perempuan berada terlalu dekat."

"Laki-laki yang tidak ada perempuan mau mendekati," tambah Yolanda pelan. "Tapi mungkin rumor itu dilebih-lebihkan."

Keira tertawa pendek.

"Kalian mau menjualku?"

"Jangan gunakan kata murahan," kata Edmond. "Ini perjodohan antarkeluarga."

"Aku bukan bagian keluarga saat butuh kamar, makanan, atau kunjungan. Tiba-tiba aku menjadi putri Pratama ketika tubuhku bisa ditukar dengan kerja sama."

Kevin menunduk. Kalimat itu mengingatkannya pada ruang kosong di CT.

Yolanda mengambil sebuah kartu ATM dari tas dan meletakkannya di meja. "Dua miliar rupiah. Atas namamu. Kalau kamu menandatangani persetujuan perjodohan, kartu ini milikmu."

Keira memandang kartu berwarna hitam itu.

Dengan uang sebanyak itu, Tante Mira tidak perlu bekerja sehari pun di rumah ini. Amanda bisa menyelesaikan kuliah tanpa takut pada sponsor Pratama Group. Mereka bahkan bisa pergi ke luar negeri sampai Edmond kehilangan jangkauan.

Untuk dirinya sendiri, Keira tidak membutuhkan banyak. Sebuah kamar kecil, obat, dan makanan sudah lebih dari yang ia punya selama ini.

"Kata sandinya?" tanyanya.

Harapan muncul di mata Yolanda. "Tanggal lahirmu."

"Ada dua syarat lain." Keira menggeser kartu itu menjauh dari jangkauannya sendiri. "Tante Mira boleh berhenti kapan saja tanpa denda atau ancaman. Pratama Group juga tidak boleh menghubungi sponsor, dosen, atau dewan Binus untuk mengganggu Amanda."

Edmond mendecak. "Anak pembantu tidak ada hubungannya dengan perjodohan ini."

"Kalau begitu kesepakatannya selesai."

Keira berdiri. Kaki kirinya baru sempat bergeser ketika Yolanda buru-buru menahan map.

"Mama setuju. Kita tulis sebagai lampiran."

"Yolanda!"

"Edmond, kita membutuhkan kerja sama Hartono." Yolanda menatap suaminya, lalu tersenyum kepada Keira. "Tidak ada yang akan mengganggu mereka."

Keira tidak mempercayai senyum itu. Ia meminta kalimat tersebut ditulis, membubuhkan paraf di sampingnya, lalu memotret halaman dengan ponsel Amanda.

"Satu hal lagi," katanya. "Menurut Undang-Undang Perkawinan, persetujuanku tetap diperlukan. Kita sama-sama Kristen, tapi kesamaan agama tidak menghapus kehendak calon pengantin. Hari ini aku hanya menyetujui pertemuan."

Kevin memandangnya. Adiknya tidak lagi memohon tempat di meja keluarga. Ia sedang bernegosiasi seperti seseorang yang tahu satu-satunya aset yang diinginkan Edmond adalah kepatuhannya.

"Kontraknya."

Kevin mendekat. "Kei, jangan. Aku bisa mencari cara lain."

"Ko Kevin punya lima tahun untuk mencari cara lain."

Ia membaca setiap halaman. Tidak ada tanggal pernikahan, hanya persetujuan awal pertemuan keluarga dan larangan membatalkan sepihak setelah kesepakatan resmi. Keira mencoret satu klausul yang memberi Edmond hak mengatur tempat tinggalnya, lalu membubuhkan tanda tangan dengan empat jari yang masih kaku.

"Aku setuju bertemu," katanya. "Bukan menjadi milik siapa pun."

Yolanda menyerahkan kartu ATM itu. Keira memasukkannya ke saku tanpa mengetahui Edmond memperhatikan gerakannya.

Rapat selesai.

Di lorong, Kevin menyusul Keira. "Aku bisa memberimu dua miliar tanpa perjodohan."

"Uang Pratama Group?"

"Uangku sendiri."

"Lalu Papa membekukan rekening Ko Kevin, dan kita kembali ke tempat yang sama."

"Aku akan melindungi Tante Mira dan Amanda."

Keira berhenti. "Kemarin ancaman terhadap mereka keluar dari mulut Ko Kevin. Jangan tawarkan perlindungan dari bahaya yang Ko Kevin bantu ciptakan."

Kevin menatap perban pada tangan kirinya. "Rayhan Hartono mungkin berbahaya."

"Setidaknya dia belum pernah menyakitiku. Itu sudah membuatnya lebih baik daripada semua lelaki di rumah ini."

Keira melanjutkan ke gudang, meninggalkan Kevin tanpa bantahan.

Saat Keira dan Kevin keluar, Edmond menahan istrinya.

"Ambil kembali kartunya malam ini."

Yolanda terkejut. "Tapi kita sudah berjanji."

"Dia hanya perlu percaya uang itu ada sampai pihak Hartono menyetujui. Setelah itu, dia tidak akan bisa mundur."

Malamnya, ketika Keira sedang mandi, seorang pembantu masuk ke gudang atas perintah Edmond. Kartu hitam diambil dari saku tas kain dan dibawa ke ruang kerja.

Keira tidak menyadarinya.

Ia duduk di ranjang lipat, membuka ponsel pemberian Amanda, lalu mencari nama `Rayhan Hartono`.

Berita tentang Hartono Group memenuhi layar. Akuisisi bernilai triliunan. Lahan di pusat Jakarta. Yayasan keluarga. Namun hampir semua foto Rayhan diambil dari belakang, diburamkan, atau sudah dihapus.

Tidak ada wawancara pribadi. Tidak ada foto dengan perempuan.

Satu artikel menampilkan siluet lelaki tinggi dalam setelan hitam yang keluar dari RS Pondok Indah beberapa hari lalu.

Keira teringat ujung koridor, cahaya sore, dan seorang lelaki berpakaian hitam yang mengangkat kepala ketika darah mengalir di wajahnya.

"Apa itu dia?" bisiknya.

1
Intan Marliah
mewekkk banget... ceritanya disusun seepik ini.
Iba Sa Iba Daud
apa ginjal tu tuk bokapnya ato evelyn
Iba Sa Iba Daud
Kluarga bangat iblis... si kevin ni ga bs apa" klo udh depan bokapny.. bilang priksa CCTV tp bentakn bokap diam..
Iba Sa Iba Daud
sungguh orgtua yg pling kejam.. tunggu sj katmamu tua bngka
Iba Sa Iba Daud
kavin klo lo sayg kaira cari tau ksuus 5 thn llu dn sobeknya baju adk tiri manja lo tu
Rina Arie
good book
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!