NovelToon NovelToon
HUKUM SEPULUH SENTI: SANG PENGGULUNG WAKTU

HUKUM SEPULUH SENTI: SANG PENGGULUNG WAKTU

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Tamat
Popularitas:213
Nilai: 5
Nama Author: Mara Nata

Langit di atas dataran utara tidak pernah benar-benar bersih. Di bawah kekuasaan Perguruan Pedang Langit, salju yang turun tidak berwarna putih suci, melainkan abu-abu pekat cenderung hitam, terkontaminasi oleh jelaga ribuan tungku penempaan baja dan pembakaran dupa energi yang tak pernah padam. Bagian luar sekte itu adalah hamparan lumpur beku yang dingin, tempat di mana kasta terendah manusia—para budak dan pekerja paksa—merangkak demi menyambung nyawa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mara Nata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Pertemuan di Kota Perbatasan

Fajar menyingsing di perbatasan Benua Tengah, menyiram Kota Batu Pasir dengan cahaya kemerahan yang temaram. Kota ini adalah pintu gerbang utama menuju kemakmuran Benua Tengah. Benteng kotanya terbuat dari batu granit gurun yang tebal, dijaga oleh barisan prajurit berbaju besi baja yang dialiri energi spiritual. Di tempat inilah para kultivator dari berbagai klan, pedagang karavan, dan pendekar pengembara berkumpul, menciptakan atmosfer yang bising sekaligus penuh kewaspadaan.

Kala berjalan menembus kerumunan pasar kota dengan jubah hitam yang menutupi seluruh tubuhnya. Di sampingnya, Zian melangkah dengan jubah hijau zamrud baru yang bersih. Wajah Zian tidak lagi pucat; berkat obat purba dari Kala, aura kultivasinya di Ranah Pengendali Jiwa Tingkat Awal memancar stabil dan tajam.

"Senior, di ujung jalan ini ada penginapan rahasia milik jaringan bawah tanah. Kita bisa menyewa karavan cepat yang ditarik oleh Binatang Buas Angin di sana tanpa perlu mendaftarkan identitas asli kita," bisik Zian dengan nada rendah, matanya terus waspada mengamati sekeliling.

Kala tidak menjawab. Namun, di balik kain kasa hitam yang menutupi kedua matanya, konstelasi bintang di dalam Netra Kosmos Black Hole miliknya tiba-tiba berputar lambat. Langkah kakinya mendadak terhenti di tengah pelataran batu pasar.

"Senior?" Zian ikut menghentikan langkahnya, tangannya secara instan meraba gagang kuas tembaga di pinggangnya, mengira bahwa pembunuh bayaran klan kembali mengepung mereka.

"Ada fluktuasi energi yang sangat murni di depan," ucap Kala parau. Suaranya sedingin es.

Tiba-tiba, kerumunan orang di pasar kota mendadak riuh dan membelah jalan ke dua sisi dengan ekspresi penuh rasa hormat sekaligus ketakutan. Dari arah gerbang dalam kota, sebuah konvoi kereta kuda berwarna putih perak melintas dengan anggun. Kereta itu tidak ditarik oleh kuda biasa, melainkan oleh empat ekor Pegasus bersayap putih yang memancarkan aura suci. Di lambang pintu kereta, terukir relief matahari yang bersinar terang dengan kristal suci di tengahnya—simbol tertinggi milik Klan Cahaya Abadi, klan terkuat yang menguasai Benua Tengah.

Di sekeliling kereta, belasan pengawal berbaju zirah perak berbaris rapat. Mereka semua berada di Ranah Raja Bumi, memancarkan tekanan batin yang membuat para kultivator fana di pasar terpaksa menundukkan kepala.

Ketika kereta itu melintas tepat di depan Kala, jendela sutra putih kereta tersebut perlahan terbuka. Dari balik celah kain, tampak wajah seorang gadis remaja berusia sekitar tujuh belas tahun. Wajahnya begitu anggun, dengan kulit seputih pualam dan rambut emas yang berkilau layaknya cahaya fajar. Namun, matanya yang berwarna biru jernih memancarkan kesedihan dan kehampaan yang sangat mendalam, seolah dia memikul beban yang teramat berat bagi usianya.

Dia adalah Putri Liana, putri suci dari Klan Cahaya Abadi.

Saat kereta bergerak lambat, pandangan mata Liana secara tidak sengaja beralih ke sudut jalan, tepat ke arah sosok berjubah hitam milik Kala. Pada detik itu juga, getaran aneh melanda jiwa mereka berdua.

Jantung naga di dalam dada Kala berdegup kencang dengan ketukan yang tidak biasa, sementara pedang Jian hitam di pinggangnya mendengung halus di dalam sarung kayu Yggdrasil. Di sisi lain, Liana tertegun di dalam keretanya. Jimat suci di lehernya—pusaka yang terhubung langsung dengan energi Istana Langit—mendadak memancarkan gelombang panas, mendeteksi keberadaan anomali yang sangat masif di dekatnya.

Liana menatap lekat-lekat ke arah kain kasa hitam yang menutupi mata Kala, seolah-olah dia bisa melihat pusaran galaksi yang bersembunyi di balik kain tersebut.

“Kala... gadis itu...” suara wanita yang misterius dari sarung pedang kayu Yggdrasil bergaung dengan nada yang sangat serius di dalam kepalanya. “Dia adalah wadah suci yang dipersiapkan oleh para Dewa Atas untuk ritual keabadian mereka. Garis darahnya... ditakdirkan untuk bertabrakan dengan takdirmu.”

Kala mengepalkan tangannya di bawah lipatan jubah hitamnya. Alasan mengapa hatinya bergetar bukan karena kecantikan Liana, melainkan karena dia bisa merasakan aura energi yang sama dengan energi yang telah menulis takdir tragis dalam hidupnya di Dataran Utara. Gadis di dalam kereta itu adalah bagian dari rantai emas kosmis yang mengunci semesta ini.

"Senior, ada apa?" Zian berbisik cemas, menyadari perubahan atmosfer di sekitar Kala yang mendadak mendingin ekstrem. "Itu adalah Putri Liana. Dia kabarnya sedang melakukan inspeksi ke wilayah perbatasan untuk mencari material formasi suci atas perintah para Tetua Agung Klan Cahaya."

Kereta putih perak itu akhirnya berlalu, menghilang di balik tikungan jalan menuju istana gubernur kota. Liana menutup kembali jendela suteranya, namun bayangan pemuda berjubah hitam dengan energi hampa udara itu kini tertanam kuat di dalam benaknya.

Kala menghela napas pendek, meredakan gejolak di dalam dadanya. Detak jam di dalam kepalanya kembali berbunyi secara ritmis. Tik... Tok... Tik... Tok...

"Ayo pergi, Zian," ucap Kala dingin, kembali melangkah maju. "Hubungan kita dengan Klan Cahaya Abadi akan datang lebih cepat dari yang aku kira. Tapi sebelum itu, mari kita pastikan Klan Badai Angin runtuh terlebih dahulu."

Dengan pertemuan sekilas yang penuh misteri itu, benang takdir antara Sang Dewa Waktu dan Putri Suci telah saling terikat. Di bawah langit Kota Batu Pasir yang berdebu, badai konspirasi 4 Klan Suci bersiap meledak, menanti tarikan pedang sepuluh senti berikutnya yang akan merubah seluruh tatanan Benua Tengah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!