NovelToon NovelToon
TO MARRY A REGEN

TO MARRY A REGEN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:688
Nilai: 5
Nama Author: byKaru

“Cinta bisa menjadi rumah yang nyaman, atau justru belenggu yang tak terlihat”

Arin sudah menikah dengan seorang pengusaha yang terkenal dan sangat sukses. Pernikahan yang diimpikan banyak orang. Dari Luar kehidupan Arin sangat sempurna, suami yang tampan, kekayaan yang melimpah, dan status sosial yang dihormati. Namun, hanya Arin yang tahu bahwa di balik kemewahan itu, ada sesuatu yang tidak boleh diketahui siapa pun.

Semua baik-baik saja, aku bisa mengatasinya, aku tidak butuh siapapun. Tekanan, trauma, stres, dan emosi yang sering ditahan oleh Arin perlahan menumpuk di dalam dirinya, dengan mengabaikan rasa sakit dan setiap trauma yang menghampirinya, tanpa sadar tubuh Arin mulai bereaksi terhadap setiap beban yang selama ini dia abaikan. di malam yang tenang tanpa kendali Arin mulai berjalan dalam tidurnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byKaru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: TOLONG!

Nathan tetap menggenggam tangan Arin, membawanya menuju basement hingga berhenti tepat di depan mobilnya. Matanya menatap wanita di depannya yang masih terdiam, jelas kebingungan. Dengan satu tarikan nafas, Nathan membuka pintu mobilnya.

"Masuk," ucapnya pelan.

Arin tetap membeku di tempat. Suara Nathan akhirnya membangunkannya dari keterkejutan. Matanya beralih menatap pria itu.

"Apa... apa yang terjadi?" tanyanya, suara sedikit bergetar. Sejak di Private Dining Room, ia berusaha memahami situasi, tetapi tetap tidak bisa menguraikan apa yang sebenarnya terjadi.

Nathan menghela nafas, menahan dorongan untuk menjelaskan semuanya sekarang.

"Aku akan menjelaskannya. Untuk sekarang, masuklah dulu ke dalam mobil." Nada suaranya lebih lembut kali ini, menyadari bahwa apa yang baru saja ia lakukan mungkin salah.

"Ke mana? Ke mana kau ingin membawaku?" tanya Arin, kebingungannya semakin menjadi.

Nathan hanya ingin segera pergi dari tempat ini. Tanpa banyak berpikir, ia meraih tangan Arin lagi, berusaha menuntunnya masuk ke dalam mobil. Namun, Arin dengan cepat menepis tangan Nathan.

"Aku... aku harus kembali. Aku harus bekerja." Suaranya terdengar goyah, tetapi tubuhnya sudah bergerak, bersiap pergi meninggalkan Nathan.

Tapi Nathan lebih cepat. Sekali lagi, tangannya menangkap pergelangan Arin, menghentikan langkahnya.

"Setelah mereka pergi, setelah keadaan lebih baik, kau bisa kembali bekerja," ucap Nathan tegas.

Dengan satu gerakan cepat, Nathan menariknya masuk ke dalam mobil. Arin tidak lagi mengatakan apa-apa, tetapi kebingungan yang melingkupinya semakin dalam. Apa yang sebenarnya sedang terjadi padanya?

Arin Regen? Istri? Aku?

...*****...

Jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam ketika mobil Nathan akhirnya berhenti di depan sebuah kafe pinggir jalan. Sejujurnya, Nathan sendiri tidak tahu harus membawa Arin ke mana. Jika dia sendirian, tentu dia bisa langsung pulang ke apartemennya. Tapi kali ini, ada tanggung jawab yang harus dia selesaikan, penjelasan yang harus dia berikan pada wanita yang duduk diam di depannya.

Seorang pelayan mendekat. "Kalian ingin pesan apa?" tanyanya ramah.

Arin tetap terdiam, tatapannya kosong seolah pikirannya masih tertinggal di kejadian sebelumnya. Nathan mengambil menu dari tangan pelayan.

"Nanti saja, kami akan pesan belakangan," ucapnya singkat.

Hening kembali menyelimuti mereka. Sampai akhirnya Nathan menarik napas dan berbicara, suaranya pelan namun tegas.

"Aku minta maaf."

Arin mengangkat wajahnya, menatap Nathan. Tapi dia tetap diam, seakan menunggu penjelasan lebih lanjut.

"Aku tidak bermaksud melibatkanmu," kata Nathan pelan. "Tapi saat itu, itu satu-satunya solusi yang kupikirkan."

Arin menatap Nathan tanpa berkata apa-apa. Setelah mendengar penjelasan itu, ia berusaha memahami semuanya, tapi kepalanya masih terasa kacau. Mungkin lebih baik mengabaikannya saja. Sekarang, yang ia tahu pasti, ia hanya ingin segera pergi dari sini.

"Aku... Pak Nathan, aku ingin pulang ke rumahku," ucapnya akhirnya.

Nathan terdiam sejenak sebelum akhirnya berdiri. "Aku akan mengantarmu."

"Tidak, aku bisa sendiri. Aku akan pulang sendiri," jawab Arin tegas.

Ia segera bangkit dan melangkah keluar dari kafe, meninggalkan Nathan yang masih berdiri di tempatnya.

Arin menghentikan langkahnya sejenak, baru menyadari sesuatu, tas dan ponselnya tertinggal di hotel. Ia menghela napas, berusaha berpikir harus bagaimana. Namun, sebelum sempat mengambil keputusan, suara Nathan terdengar di belakangnya.

"Aku akan mengantarmu. Tasmu masih ada di hotel," ucap Nathan sambil membukakan pintu mobilnya.

Arin menatapnya ragu, tapi ia tahu tak ada pilihan lain. Dengan enggan, ia masuk ke dalam mobil.

Selama perjalanan, ia hanya diam, sesekali memberikan arahan menuju tempat tinggalnya. Nathan pun tak banyak bicara, hanya fokus menyetir. Setelah sekitar setengah jam, mereka tiba di sebuah rumah susun.

Nathan menatap bangunan itu dengan ekspresi tak terbaca. Catnya kusam, warnanya bahkan hampir pudar. Beberapa lampu jalan mati, membuat tempat ini terasa lebih suram. Dalam hati, Nathan berpikir tempat ini tidak layak ditinggali.

Begitu mobil berhenti, Arin segera turun, diikuti oleh Nathan.

"Terima kasih, Pak," ucapnya singkat sebelum melangkah cepat, lalu bergegas segera pergi.

Nathan bahkan tak sempat mengatakan apa-apa. Hanya bisa menatap punggungnya yang menghilang di balik gedung. Setelahnya, ia masuk kembali ke dalam mobil dan melajukan kendaraannya pergi dari sana.

Di dalam lift, Arin menyandarkan tubuhnya, diam. Berusaha mengosongkan pikirannya.

Ting!

Pintu lift terbuka. Arin melangkah keluar, berjalan menuju apartemennya. Namun, langkahnya terhenti. Tubuhnya langsung membeku melihat seseorang berdiri di depan pintunya. Nafasnya tercekat. Tubuh Arin bergetar lalu tangannya refleks menutup mulut.

Tanpa pikir panjang, Arin melepas high heels-nya. Dengan sangat pelan, ia mundur, berharap bisa menghilang begitu saja. Tapi usahanya sia-sia, pria itu melihatnya.

Jantung Arin berdegup kencang. Arin berbalik dan memutuskan untuk lari menuju tangga darurat. Pria itu juga langsung mengejarnya.

Arin sama sekali tidak berani menoleh kebelakang, hanya fokus berlari menuruni anak tangga sekuat tenaga. Begitu juga dengan pria di belakangnya.

Arin berhasil keluar dari pintu darurat, dia terus berlari, meninggalkan apartemen tanpa peduli arah. Namun, tenaganya mulai habis. Nafasnya tersengal, langkahnya semakin melambat.

Bruk!

Arin terjatuh. Tubuhnya membentur aspal dingin, nafasnya tersengal. Sebelum sempat bangkit, pria itu sudah tiba dan berdiri di hadapannya.

"Tolong...! Tolong...! Tolong...!" Arin berteriak sekuat tenaga, tapi pria itu dengan cepat menutup mulutnya.

Ia lalu jongkok di samping Arin, tangannya terulur, lalu menarik rambut Arin dengan kasar.

"Aku pamanmu. Kenapa kau takut?" bisiknya pelan di telinga Arin.

Air mata Arin langsung mengalir di pipinya. Ketakutan menyelimuti seluruh tubuhnya.

"Paman hanya ingin menyapamu. Kita sudah lama tidak bertemu," ucapnya lagi, nada suaranya tenang, tapi menciptakan teror dalam diri Arin.

Tiba-tiba, suara motor patroli terdengar dari kejauhan. Arin menyadari kesempatan, dengan sisa keberaniannya, Arin menggigit tangan pamannya sekuat tenaga.

"Agh!" Pamannya meringis kesakitan.

Arin lalu mendorongnya sekuat tenaga dan berteriak. "TOLONG! TOLONG! TOLONG!"

Tapi Pamannya kembali menangkapnya, wajahnya berubah murka. Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Arin. Ia mengangkat tangannya, siap memukul lebih keras.

Namun, Arin tidak mau menyerah. Dengan seluruh kekuatannya, ia mendorong pamannya sekali lagi, membuat pria itu kehilangan keseimbangan.

Arin berlari, tanpa melihat ke belakang, tanpa peduli kemana kakinya membawanya.

Tinn!!!

Suara klakson nyaring menggema.

Arin berhenti mendadak. Cahaya terang menyilaukan matanya. Motor patroli berhenti tepat di hadapannya, hampir menabrak Arin.

Seorang petugas keamanan turun dari motor, mendekatinya dengan ekspresi khawatir.

"Kau tidak apa-apa?" tanyanya.

Arin menatapnya dengan mata penuh ketakutan. Lututnya lemas. Ia terjatuh ke tanah, Kakinya tak lagi memiliki kekuatan untuk berdiri. Arin terisak.

"Pak... Tolong... Tolong aku..." suaranya lirih, nyaris tak terdengar.

Petugas keamanan itu menatap wajah Arin dengan saksama. Ada luka lebam di pipinya, bibirnya juga berdarah.

"Kau kenapa? Apa yang terjadi? Ada seseorang yang menyakitimu?" tanyanya, suaranya terdengar cemas.

Ia hendak berdiri, matanya waspada, mencari sesuatu di sekitar. Namun, sebelum sempat melangkah, Arin dengan cepat meraih tangannya.

"Pak... tolong... aku ingin pergi dari sini," pintanya lirih, suaranya lemah.

Petugas itu langsung menyadari betapa buruknya kondisi Arin. Tanpa ragu, ia segera membantunya berdiri, menopangnya dengan hati-hati.

"Kita pergi ke rumah sakit," ujarnya tegas. Tanpa menunggu lebih lama, ia membawa Arin pergi, menjauh dari tempat itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!