NovelToon NovelToon
TOXIC AND CONTROL

TOXIC AND CONTROL

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Idola sekolah / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Park ha

TOXIC AND CONTROL
Karya: Parkha
Bagi Kinara Jose, hidup sebagai siswi penerima beasiswa berpenampilan polos dengan kacamata tebal adalah cara terbaik untuk bertahan hidup dengan tenang di SMA Elite. Namun, seluruh dunianya runtuh saat ia tidak sengaja menarik perhatian Rian Pradifta.Rian—sang Tiran berwajah malaikat namun berhati iblis, cowok terkaya, terdingin, dan paling ditakuti satu sekolah. Sekali Rian mengunci pandangannya pada Kinara, tidak ada jalan keluar. Cowok itu terobsesi mengontrol setiap jengkal hidup Kinara, memutuskan dengan siapa ia bicara, ke mana ia pergi, hingga apa yang harus ia pakai.Kehidupan Kinara yang tenang kini berubah menjadi labirin yang mencekik. Rian adalah racun, namun juga satu-satunya oksigen yang tersisa untuknya. Di tengah kepungan obsesi gila itu, sebuah rahasia besar perlahan terkuak: di balik kacamata tebal dan sikap penurutnya, Kinara menyimpan pesona tersembunyi yang siap menjungkirbalikkan kuasa Rian sang Tiran

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TOXIC AND CONTROL* *BAB 33: RETAKAN DINDING ES*

*TOXIC AND CONTROL*

*BAB 33: RETAKAN DINDING ES*

Garis tipis cahaya dari lampu jalanan menembus kaca jendela besar basecamp lantai tiga, memantulkan bayangan dua tangan yang masih bertautan erat di bawah keheningan malam. Kinara menahan napasnya dalam-dalam. Setiap sekon terasa bergulir begitu lambat saat dia mencoba menarik jemari mungilnya dengan sangat pelan, berharap tidak mengusik tidur sang penguasa sekolah yang bersandar di samping kursinya.

Namun, gerakan sekecil apa pun rupanya cukup untuk menyentak kesadaran Rian Pradifta yang selama ini selalu memiliki tingkat kewaspadaan tinggi.

Kelopak mata Rian terbuka mendadak. Netra elangnya yang semula sayu akibat kelelahan langsung menajam, menangkap basah Kinara yang sedang menunduk kaku dengan wajah polos tanpa kacamata yang sudah memerah merona hebat hingga ke daun telinga.

Sadar bahwa gadisnya sudah terjaga—dan menyadari posisi intim mereka yang saling terpaut jemari—Rian refleks mempererat genggamannya selama satu detik penuh di atas pangkuannya sendiri. Ada keengganan yang teramat nyata dan pekat merayap di ulu hatinya saat jemari kekarnya yang berurat tegang itu harus melepas kehangatan telapak tangan kecil Kinara yang mendingin.

Sret.

Rian menarik tangannya dengan sentakan cepat, lalu menegakkan tubuh jangkungnya yang setinggi 188 sentimeter hingga kursi belajar di sampingnya berderit nyaring di atas lantai semen yang dingin.

"Kamu... sudah bangun?" suara bariton Rian terdengar lebih rendah, serak, dan parau dari biasanya.

Cowok gila kontrol itu langsung memalingkan wajah tampannya secepat kilat, berdeham kaku demi menyembunyikan kepanikan masif yang mendadak menyerang ego tiraninya. Rahang tegas itu kembali ditekuk kaku sedingin es, berusaha keras memasang kembali topeng tiraninya yang sempat runtuh total selama dua jam lalu.

"K-Kak Rian... tangan Kakak tadi..." Kinara terbata kaku, memegangi jemarinya sendiri yang mendadak terasa hampa dan dingin setelah dilepaskan.

"Tangan aku kenapa?" potong Rian cepat, ketus, dan defensif. Dia langsung melipat kedua tangan kekarnya di depan dada, berdiri menjulang mengintimidasi ruang gerak Kinara dengan tatapan angkuh yang dipaksakan. "Tadi tangan kamu dingin mirip mayat. Aku cuma tidak mau kamu mati kedinginan di basecamp aku dan bikin repot. Jangan geer, Pelayan."

Kinara mengerjapkan mata jernihnya yang indah. Tangan mungilnya perlahan bergerak meraih kembali kacamata bingkai hitam murahnya di atas meja biliar dan memakainya kembali. Begitu lensa pembatas itu terpasang, dunia yang semula buram kini kembali jelas, memperlihatkan semburat merah samar yang mengkhianati seluruh ekspresi datar di cuping telinga Rian.

Kinara mendengus jengah di dalam batinnya. _Cowok tiran ini beneran gengsi setengah mati_, pikir Kinara kesal, namun dia memilih diam meredam debaran aneh di dadanya demi keselamatan jantungnya sendiri.

"Jaket aku. Kembalikan," titah Rian dingin, menunjuk jaket kulit hitam kesayangannya yang masih bertengger tebal membungkus bahu mungil Kinara.

Kinara bergegas melepas jaket yang menyisakan aroma parfum maskulin pekat dan kehangatan tubuh Rian itu, lalu menyerahkannya dengan sopan. "Terima kasih, Kak. Dan... soal hukumannya..."

Kinara melirik lembar kertas catatan utamanya. Dua setengah halaman aksara Vietnam yang super rumit telah selesai dia salin dengan rapi sebelum dia tumbang tertidur tadi.

"Tidak usah diteruskan. Sudah malam," Rian menyambar jaket kulitnya, memakainya dengan satu gerakan maskulin yang kasual, lalu melirik jam tangan mewah di pergelangan tangan kanannya yang sudah melewati pukul tujuh malam. "Ayo."

"Ke mana, Kak?" tanya Kinara bingung.

Rian tidak menjawab. Dia hanya melempar tatapan mata elang penuh perintah yang tidak menerima bantahan apa pun. Langkah kakinya yang panjang bergerak lebar meninggalkan basecamp lantai tiga, memaksa Kinara setengah berlari kecil di belakangnya untuk menyusul di sepanjang koridor yang kian menggelap.

Suara raungan mesin sport Porsche hitam milik Rian membelah jalanan aspal ibu kota yang mulai padat oleh kerlap-kerlip lampu malam. Di dalam kabin mobil yang kedap suara dan beraroma maskulin pekat, keheningan bergulir begitu kaku dan menekan. Rian fokus mencengkeram setir dengan satu tangan, sementara tangan kirinya bertumpu di jendela kaca, sesekali mengetuk setir dengan ritme tidak sabar.

Kinara menatap keluar jendela, mengamati rute jalanan yang sangat dia kenali. Jantungnya kembali berdesir kaku. Rian sedang membawa kendaraan mahalnya menuju Rumah Sakit Harapan Bangsa—tempat ibunya, Ibu Lusi, dirawat di kamar VIP Suite Vanda semenjak kasus manipulasi administrasi waktu itu.

Namun, atmosfer malam ini terasa jauh berbeda dari kencan pecel lele tempo hari. Ada sisa ketegangan masif dari kejadian tangga darurat sekolah siang tadi yang masih menggantung pekat di antara mereka.

"Kak Rian..." panggil Kinara lirih, memecah keheningan kabin. "Soal kalimatku di tangga darurat sekolah siang tadi... yang didengar oleh Kakak..."

Kinara menjeda kalimatnya kaku. Wajah polosnya kembali merona merah mengingat bagaimana dia terpaksa berteriak mengaku menyukai Rian di area tangga sekolah murni untuk mengusir Randy dan melindunginya dari amukan Pradifta.

Mendengar topik sensitif itu diangkat kembali, cengkeraman tangan Rian pada setir Porsche-nya seketika mengeras hingga urat-urat di punggung tangannya menonjol tegang. Rona merah samar kembali ingin mengkhianati cuping telinganya. Rian langsung teringat bagaimana Kinara telah menghancurkan ego tiraninya saat mereka tiba di basecamp sore tadi, di mana Kinara menegaskan bahwa kalimat di tangga sekolah itu murni kebohongan agar Randy menjauh. Rasa dongkol dan gengsi yang terluka membuat Rian buru-buru memotong ucapan Kinara demi menjaga topeng esnya yang kaku.

"Aku tidak tertarik membahas kebohongan pelayanku," potong Rian datar, suaranya dibuat seangkuh mungkin demi menutupi gemuruh hatinya yang sempat kegeeran setengah mati siang tadi di sekolah. Rian melirik Kinara sekilas lewat sudut matanya. "Tugas kamu malam ini hanya masuk dan pastikan kondisi ibu kamu baik. Jangan biarkan dia mencemaskan sesuatu murni karena melihat ekspresi lelahmu itu."

Kinara tidak membalas lagi. Rasa lelah yang teramat sangat setelah dipaksa menyalin ribuan aksara Vietnam membuat seluruh tenaganya terkuras habis. Perlahan, kelopak mata jernih di balik kacamatanya kembali memberat kaku. Sandaran kursi mobil sport yang empuk membuat pertahanan Kinara runtuh kembali. Hanya dalam hitungan menit, kepala mungil Kinara terkulai pasrah ke samping, bersandar pada kaca jendela mobil, tertidur pulas akibat kelelahan yang ekstrem.

Saat mobil terhenti di lampu merah yang cukup lama, Rian memalingkan wajah tampannya untuk memeriksa pelayan pribadinya. Begitu melihat Kinara kembali tertidur lelap dengan posisi kepala yang berguncang kaku membentur kaca mobil setiap kali kendaraan melaju, rahang tegas Rian perlahan melunak kembali.

Rian mengembuskan napas pendek yang frustrasi. Sisi tiraninya lagi-lagi lumpuh total melihat kepasrahan gadis di sampingnya. Sambil tetap mempertahankan satu tangannya di setir, Rian mencondongkan tubuh tegapnya ke arah kursi penumpang saat lampu masih merah. Dengan gerakan yang teramat lembut dan hati-hati, dia menyelipkan telapak tangan kekarnya di belakang kepala Kinara, menarik perlahan kepala mungil gadis itu agar tidak lagi membentur kaca, melainkan bersandar dengan nyaman pada bantalan kursi mobil yang empuk.

Rian lalu merogoh kursi belakang dengan tangan kirinya tanpa mengubah posisi menyetir, menyambar sebuah jaket rajut tebal berwarna abu-abu miliknya yang tergeletak di sana. Dengan kelembutan yang tidak pernah dia perlihatkan pada siapa pun, Rian membentangkan jaket tebal beraroma parfum maskulin pekat itu di atas tubuh mungil Kinara, menyelimutinya agar terlindung dari embusan AC kabin.

Binar obsesi di mata elang Rian meredup sayu menatap wajah polos Kinara yang bernapas teratur dalam tidurnya. Dia kembali memposisikan tubuhnya tegak, menginjak pedal gas saat lampu berubah hijau, mengemudikan Porsche-nya dengan jauh lebih pelan dan hati-hati seolah takut guncangan sekecil apa pun akan merusak tidur permatanya.

Mobil sport mewah itu akhirnya berhenti sempurna di area parkir utama Rumah Sakit Harapan Bangsa yang mulai sepi dan temaram. Rian mematikan mesin, namun tangannya tidak bergerak untuk menyalakan lampu kabin. Dia sengaja membiarkan suasana di dalam mobil dilingkupi remang malam yang kaku.

Rian memutar seluruh tubuh tegapnya menghadap ke arah kursi penumpang. Sepasang mata elang Rian yang menggelap pekat terkunci mati pada profil wajah polos Kinara yang masih terlelap tenang di bawah selimut jaket abu-abu miliknya. Tanpa bingkai kacamata murahnya, paras jelita Kinara terpapar utuh, memancarkan kepolosan murni yang selalu berhasil melumpuhkan seluruh logika tiran Rian.

Pandangan mata elang Rian perlahan bergerak turun, menatap lekat-lekat ke arah sudut bibir ranum Kinara yang luka robeknya baru saja mengering sempurna.

DEG... DEG... DEG...

Dada bidang Rian mendadak berhantam dengan kecepatan gila-gilaan yang merusak sisa kewarasannya. Memori malam kelam di Aston Club seketika berputar brutal di dalam kepalanya. Rasa bersalah berbaur dengan nafsu kepemilikan mutlak yang kian menggebu-gebu di ulu hatinya. Batin Rian bergejolak hebat. Dorongan impulsif yang teramat liar mendadak menyulut otak gilanya untuk bertindak nakal mumpung gadisnya sedang pasrah dalam tidur.

Rian perlahan membungkukkan tubuh jangkungnya yang setinggi 188 sentimeter, mencondongkan wajah tampannya maju memangkas jarak yang tersisa di antara mereka. Kehadiran tubuh tegap Rian seketika mengurung total ruang gerak Kinara di bawah bayangannya.

Embusan napas bariton Rian yang hangat dan berat mulai terasa menyapu kulit pipi Kinara yang halus. Jarak mereka kini terkikis habis, menyisakan beberapa senti saja di antara ujung hidung mereka. Rian menahan napasnya, sepasang netra elangnya berkilat merah menyala penuh obsesi pekat saat menatap bibir ranum Kinara dalam jarak sedekat ini.

Cup.

Kehilangan seluruh sisa kendali dirinya, Rian perlahan mendaratkan belahan bibirnya di atas bibir ranum Kinara. Awalnya, Rian hanya berniat memberikan kecupan sepihak yang lembut. Namun, begitu permukaan kulit bibir mereka saling bersentuhan, kehangatan dan kelembutan bibir Kinara seketika membakar habis sisa kewarasan sang penguasa sekolah.

Rian Pradifta hampir hilang kontrol total.

Nafsu tiraninya yang dominan mendadak mengambil alih kemudi otaknya. Gerakan bibir Rian yang semula hati-hati berubah menjadi pagutan yang kian dalam, menuntut, dan intens. Tangan kekarnya bergerak impulsif naik, mencengkeram halus rahang Kinara agar tidak bergerak, sementara belahan bibirnya mulai melumat brutal bibir bawah Kinara yang sempat terluka, menghisapnya dengan pekat seolah ingin menelan seluruh pasokan udara gadis itu ke dalam teritorinya. Sengatan listrik dari pagutan liar itu mengacaukan riak emosi batin Rian hingga ulu hatinya berdenyut nyeri luar biasa.

"Mmph..."

Sebuah lenguhan halus lolos dari tenggorokan Kinara. Alisnya berkerut kaku, dan kelopak mata jernihnya bergerak halus, hampir terusik dan terbangun akibat tekanan intim yang teramat berat dan memabukkan di bibirnya.

Sentakan suara Kinara seketika menghantam sadar akal sehat Rian yang nyaris runtuh. Menyadari gadisnya hampir terjaga, Rian dengan sentakan panik segera menarik paksa bibirnya menjauh. Napas baritonnya memburu pendek dan berat. Dia menjauhkan wajahnya beberapa jengkal dengan jantung yang bertalu gila-gilaan, menatap bibir Kinara yang kini kian membengkak merah alami dan basah akibat ulah brutalnya yang hampir kebablasan.

Rian menyugar rambut hitamnya dengan kasar, mencoba menata kembali sisa egonya yang gemetar hebat. Dia lalu mendekatkan kembali wajahnya di dekat telinga Kinara, berbisik teramat rendah dengan suara baritonnya yang parau dan serak untuk menyamarkan kepanikannya.

"Bangun, Pelayan. Kita sudah sampai."

Kinara melenguh pelan. Kesadarannya ditarik kembali secara perlahan seiring rasa hangat yang mendadak mengepungi seluruh tubuhnya. Namun, hal pertama yang disadari oleh indra perasanya saat membuka mata adalah sensasi aneh di wajahnya.

Bibir ranum Kinara terasa agak kebas, sedikit berdenyut nyeri, dan menyisakan basah yang teramat nyata di permukaannya.

Kinara terpaku membeku di atas kursi. Sepasang mata jernihnya membelalak kaku menatap kosong ke depan dasbor mobil. Jantungnya mendadak berdegup gila-gilaan. Kinara beneran bingung. Sentuhan bibir yang teramat intens, hisapan pekat, hingga aroma parfum maskulin Rian yang mengepung pernapasannya barusan terasa begitu nyata.

Kinara buru-buru meraih kacamata bulatnya di atas meja dasbor, memakainya dengan tangan yang gemetar hebat. Kedua pipi polosnya seketika memerah merona hebat, bahkan warna merah padam itu menjalar cepat hingga ke daun telinganya.

_Astaga... apa aku baru saja bermimpi berciuman dengan Kak Rian?_ batin Kinara menjerit histeris dalam paranoianya yang pecah berkeping-keping.

Kinara meremas kuat-kuat ujung rok seragamnya, menunduk dalam demi menyembunyikan wajahnya yang sudah seperti mau meledak. _Apakah aku sudah gila? Kenapa otakku bisa-bisanya memimpikan hal mesum dan liar seperti itu dengan cowok tiran ini?!_ Kinara merutuki dirinya sendiri di dalam hati dengan luapan jengah yang luar biasa pekat. Kepolosan batinnya membuat dia sama sekali tidak tahu bahwa "mimpi" mesumnya barusan adalah seratus persen perbuatan nyata dari monster gila kontrol di sampingnya.

"M-maaf, Kak... aku ketiduran," cicit Kinara panik, suaranya terdengar canggung dan serak saat menyerahkan kembali jaket abu-abu milik Rian.

Rian menyambar jaketnya dengan satu gerakan kasual yang kaku, lalu secepat kilat memalingkan wajah tampannya ke arah jendela luar lobi demi menyembunyikan rona merah padam di cuping telinganya yang kini juga mau meledak akibat salah tingkah setengah mati setelah hampir ketahuan berbuat nakal.

"Turunlah. Aku tunggu di sini," titah Rian datar, suaranya dibuat seangkuh dan sekeras mungkin demi menutupi degup jantungnya sendiri yang kian merusak kewarasan. "Tiga puluh menit. Jika kamu terlambat satu detik saja untuk kembali ke mobil ini, kontrak hukumanmu di basecamp besok pagi akan aku tambah dua kali lipat, Pelayan."

Kinara tidak membalas. Dia buru-buru menyambar tas bakulnya, membuka pintu mobil, dan melangkah turun setengah berlari memasuki lobi rumah sakit dengan pikiran yang masih linglung dan bergemuruh hebat akibat "mimpi" gila di dalam kabin Porsche tadi.

---

1
mamah fitri
alur cerita nya bikin penasaran .. tokoh utamanya betul2 punya aura masing2
mamah fitri
bisa 3 sampai 4 bab ngga .. penasaran dengan apa yg terjadi nanti di kapal..

semoga Kinara terselamatkan dr jebakan Randy
Park ha: kwkkwkwk sabar kak 🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Tamirah
Begitu bucinnya Rian pada Kinara sampai meng-klaim bahwa dia pacar putrinya..... wesss angelllll..,!
Tamirah
Ceritanya semakin halu Uuuuu.Yayasan kepala sekolah yg tunduk dgn Rian lalu rumah sakit yg mendadak naik tarifnya apa lagi mungkin bandara dan pesawat nya sekalian atau pusat perbelanjaaan atau mall semua milik pelajar yg bernama Rian wik...wik....wik.
Park ha: ini emang cerita halu ku kak ...kwkwkwk
bukan pengalaman pribadi whehehehe
total 1 replies
Tamirah
Thor mulai hingga episode ini gak ada interaksi orang tua Rian maupun guru guru di sekolah, alur cerita didominasi Rian dan temannya juga Rendi serta so Cupu.dan aneh nya lagi semua keputusan ada ditangan Rian ttg pencabutan bea siswa Rendy padahal ada komite sekolah.dimana peran ketua yayasan dan ketua komite,masih status siswa bak seorang CEO punya kartu hitam lagi cerita nya berlebihan Thor.
Tamirah
Kok bisa orang yg sdh mabuk berat dan hasrat nya sdh fulll bisa berhenti mendadak karena sebuah kalimat aku membencimu ya emang sengaja' dibuat begitu sama sang sutradara dara.Kalau dunia nya itu mah lewat langsung jebol selaput sang dara 😄😄😄.
Park ha: 🤭 lanjutin ya kak masih banyak kejutan..moga gk bosen bacanya..gpp sambil marah2 juga.berarti karakter Rian ini emang berhasil di buat untuk di benci wkkwk
total 1 replies
Tamirah
Menjijikan berapa korban pelajar yg dilecehkan selama ini apa gak ada yg berani para Guru untuk melaporkan kebejatan murid laki laki walau org tuanya pemilik yayasan sekolah' tsb, laporan pada Diknas jangan takut kalau dipecat banyak yg akan membela guru bahkan dgn bukti bukti kuat sekolah itu ijin pendirian akan dicabut dan sekolah' otomatis ditutup.Pimilik yayasan akan dipanggil oleh pihak Diknas.
Tamirah: sayang nya ini hanya cerita halu, Thor terinspirasi dari mana cerita ini dari lingkungan sekitar atau dari Drakor atau dracin 😄😄😄
total 2 replies
Tamirah
Sangat disayangkan masih pelajar tapi sdh biasa menikmati' minuman minuman haram dan sdh biasa menyentuh tubuh wanita .yah mungkinn dari kehidupan orang tuanya yg gak mengutamakan agama hingga anaknya gak bermoral, tapi namanya cerita halu bisa saja author nya berubah seorang pelajar dari amoral menjadi bermoral akanw lebih seru dan bisa menjalin cinta SMA dengan si Cupu jenjang perguruan tinggi dan ahirnya mereka menikah' itupun maunya pembaca.
Park ha: 🤭 iya kak aku emang sengaja tokohnya toxic.. gk menormalisasi juga buat kehidupan nyata...itu cuma tokoh fiksi...

judulnya jelas ya Toxic and control
bukan Kisah cinta yang manis...
moga kakaknya gak bosen naca kelanjutannya..Dan kuat mental dengan Ke toxic an Rian hehe
total 1 replies
Park ha
novel ini ceritanya lumayan panjang ya mulai dari masa sma transisi ke Dewasa...
kalian yang awal bab maki2 Rian ..tetap maki2 ya soalnya Rian tobatnya masih lama wkkwkwk
Park ha
kwkwkwkw santai mari kita maki bersama wkkwwk
falea sezi
burung bekas masuk ke lobang beda2 tangan. bekas obok2 lubang beda. lagi astaga🤣 gimna g jijik
falea sezi
cowok bekas🤣 najis amat
falea sezi
dikira semua bisa di beli dengan uang🤣🤣
Park ha: bisa kak semua butuh duit wkkwkw🤭🤭🤭
total 1 replies
falea sezi
dikira semua cwek murahan apa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!