Arga hanyalah pemuda biasa dengan bakat kultivasi terburuk di Kota Awan Biru. Demi menyelamatkan seorang gadis asing bernama Ling Yue, ia rela mempertaruhkan nyawanya.
Pertemuan singkat itu mengubah takdirnya. Sebuah liontin kuno membangunkan roh guru legendaris yang telah tertidur selama sepuluh ribu tahun, sementara pedang tua peninggalan ayahnya ternyata adalah pusaka yang diperebutkan seluruh dunia kultivasi.
Diburu sekte-sekte kuat, kehilangan rumah, dan dipisahkan dari gadis yang mulai mengisi hatinya, Arga memulai perjalanan panjang menuju puncak kultivasi.
Namun tujuannya bukan menjadi penguasa dunia.
Ia hanya ingin cukup kuat untuk menepati satu janji...
"Jangan mati sebelum kita bertemu lagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Arga tersentak hebat, hampir saja menjatuhkan penumbuk obat di tangannya.
Ia buru-buru mengedarkan pandangan ke sekeliling halaman belakang kios yang sunyi. Paman Darma terdengar sedang sibuk melayani pembeli di area depan, sementara di halaman belakang ini, tidak ada siapa pun selain dirinya.
"Siapa?!" bisik Arga setengah mendesis, mencoba menahan suaranya agar tidak terdengar ke depan.
Suara tua yang berat itu kembali bergema, kali ini terasa lebih jernih di dalam kepalanya.
"Tak perlu celingukan seperti orang linglung, Nak. Aku berada tepat di dalam liontin giok yang sedang kau genggam itu."
Arga menelan ludah dengan susah payah. Ia menatap lekat-lekat liontin berbentuk bulan sabit di telapak tangannya. "Apakah... aku mulai berhalusinasi karena luka di kepalaku?"
"Hmph! Jika ini hanya halusinasi konyolmu, bagaimana mungkin aku bisa tahu bahwa namamu adalah Arga?"
Arga seketika membeku. Logikanya tidak bisa membantah hal itu. "Baik... anggap saja aku percaya. Lalu, siapa sebenarnya Anda?"
Keheningan sempat merayap selama beberapa saat.
Tiba-tiba, pendaran cahaya keemasan yang lembut perlahan menguar dari retakan halus di permukaan liontin giok tersebut. Cahaya itu berkumpul dan membentuk proyeksi sesosok lelaki tua berjanggut putih panjang setinggi lengan manusia. Tubuhnya transparan, melayang di udara bagaikan gumpalan kabut tipis.
"Namaku... ah, sudah terlalu lama hingga aku sendiri hampir melupakannya," ujar roh tua itu sambil mengelus janggutnya.
Arga mengerjapkan mata, sedikit sangsi. "Bagaimana bisa seseorang melupakan namanya sendiri?"
"Jika kau dipaksa tertidur dalam kegelapan selama sepuluh ribu tahun, kau pun mungkin akan melupakan namamu sendiri saat terbangun nanti," balas roh itu dengan nada menyindir.
Arga terbungkam, menyadari kebenaran ucapan tersebut.
Roh tua itu menghela napas panjang, tatapannya menerawang jauh. "Dulu, orang-orang di dunia atas memanggilku sebagai Guru Tian."
"Senior Tian?" tanya Arga memastikan.
"Panggilan yang cukup sopan. Boleh."
Arga menggaruk kepalanya yang tidak gatal, diliputi rasa penasaran yang membuncah. "Senior Tian, jika Anda adalah seorang ahli yang hebat, mengapa jiwa Anda bisa tersegel di dalam liontin milik Nona Ling?"
"Pertanyaan yang bagus," Guru Tian memejamkan matanya sejenak, gurat kesedihan mendalam tampak di wajah transparannya. "Itu karena aku sendiri yang menyegel jiwaku ke dalam giok ini."
"Kenapa?"
"Demi bertahan hidup dan menghindari kepunahan jiwa yang absolut."
Jawaban yang singkat namun sarat akan misteri itu justru membuat rasa penasaran Arga semakin menjadi-jadi. "Memangnya siapa yang memiliki kekuatan sebesar itu hingga mampu mendesak Senior ke situasi seperti ini?"
Guru Tian menyunggingkan senyuman pahit yang penuh kegetiran. "Orang yang dulu sangat kupercayai... bajingan yang pernah kusebut sebagai murid pertamaku."
Atmosfer di halaman belakang itu mendadak terasa begitu dingin dan hening.
Arga memilih untuk tidak bertanya lebih jauh. Dari sorot mata Guru Tian yang redup namun menyimpan api kemarahan, ia tahu bahwa kisah di balik penyegelan itu dipenuhi oleh pengkhianatan berdarah yang teramat kelam.
"Sudahlah, tidak ada gunanya meratapi masa lalu yang sudah menjadi debu," ujar Guru Tian, memutus keheningan. Ia mengalihkan pandangannya, menatap tajam ke arah Arga dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Sesaat kemudian, ia menggelengkan kepalanya. "Lemah. Benar-benar sangat lemah."
Arga hanya bisa tersenyum kecut menanggapi penilaian jujur itu. "Aku tahu diri, Senior. Bakatku memang sangat buruk."
"Bukan hanya buruk, bakat tubuhmu ini bahkan bisa dibilang menyedihkan," timpal Guru Tian tanpa tedeng aling-aling.
Namun, kalimat berikutnya yang meluncur dari bibir sang roh tua seketika membuat jantung Arga berdegup kencang.
"...tetapi, fondasi kultivasi yang kau bangun... benar-benar sangat sempurna."
Arga tertegun. "Sempurna? Apa maksud Senior?"
"Alasan mengapa kultivasimu terasa sangat lambat hingga kau tertahan di Lapisan Pertama selama tiga tahun adalah karena kau selalu memurnikan Qi-mu hingga ke tingkat paling murni secara tidak sengaja. Kau berlatih dengan cara yang benar, sementara kebanyakan kultivator di luar sana hanya mengejar kecepatan demi gengsi belaka."
Guru Tian mengangkat satu jari transparannya. "Bayangkan dua buah rumah. Rumah pertama dibangun dengan tergesa-gesa dalam waktu satu hari, sedangkan rumah kedua dibangun dengan fondasi batu yang kokoh selama bertahun-tahun. Ketika badai besar datang menerpa, rumah mana yang akan tetap berdiri tegak?"
Arga mulai menangkap arah pembicaraan tersebut. "Jadi... kerja kerasku selama tiga tahun ini tidak sia-sia?"
"Tentu saja tidak. Justru sebaliknya," Guru Tian tersenyum tipis, ada kilatan kepuasan di matanya. "Selama sepuluh ribu tahun mengembara, baru kali ini aku menemui seorang pemuda fana dengan fondasi sekokoh dan semurni milikmu."
Dada Arga bergemuruh hebat, dipenuhi oleh secercah harapan yang selama ini selalu ia kubur dalam-dalam. Tanpa ragu, ia langsung menekuk kedua lututnya dan bersujud di tanah. "Jika demikian... sudikah Senior membimbingku dan menerimaku sebagai murid?"
Guru Tian mendengus pelan, menatap Arga dengan pandangan menguji. "Menjadi muridku tidaklah mudah, Bocah. Latihan yang akan kuberikan nanti bisa membuatmu memohon untuk mati saja."
"Aku tidak takut. Aku siap menerima latihan seberat apa pun," jawab Arga dengan tatapan mata yang berkilat tegas.
Guru Tian menatap lekat sepasang mata pemuda itu selama beberapa saat. Tidak ada ketamakan, tidak ada pula ambisi kotor di sana. Yang ia lihat hanyalah tekad murni yang sekeras baja.
Perlahan, roh tua itu mengangguk setuju. "Baiklah. Mulai hari ini, aku akan membimbingmu keluar dari kubangan lumpur ini."
"Namun, ingat satu hal," lanjut Guru Tian dengan nada yang mendadak berubah sangat serius. "Jangan pernah memberitahukan keberadaanku kepada siapa pun di dunia ini."
"Termasuk kepada Nona Ling?" tanya Arga ragu.
Guru Tian terdiam sesaat sebelum menjawab, "Terutama kepada gadis bernama Ling Yue itu."
Arga membelalakkan matanya terkejut. "Mengapa?"
"Karena liontin giok ini sebenarnya bukan milik keluarganya atau sektenya," bisik Guru Tian dingin. "Ini adalah pusaka peninggalanku yang entah bagaimana bisa jatuh ke tangan leluhurnya."
Belum sempat Arga mencerna informasi yang mengejutkan itu, Guru Tian mendadak mendongakkan kepalanya ke arah langit utara. Wajah tuanya yang semula tenang kini berubah menjadi sangat tegang dan serius.
"Sial..." desis Guru Tian.
"Ada apa, Senior?" tanya Arga cemas, ikut merasakan firasat buruk.
"Orang-orang yang memburu gadis jubah putih itu... mereka tidak pernah benar-benar pergi," gumam Guru Tian dengan suara berat. "Mereka telah mendeteksi sisa energinya, dan sekarang... mereka baru saja memasuki gerbang Kota Awan Biru."