Aroma bedak tabur, semprotan setting spray, dan tumpukan palet warna-warni sudah menjadi dunia Yeza selama lima tahun terakhir. Sejak melepas seragam putih-abu-abunya, gadis berusia 23 tahun itu memilih jalan yang berbeda dari teman-temannya. Di saat yang lain sibuk memburu bangku perkuliahan, Yeza justru mengurung diri di kamar, menatap cermin, dan membiarkan jemarinya menari dengan kuas-kuas murah yang dibelinya dari uang jajan yang disisihkan.
Tanpa kursus formal, tanpa sertifikat mentereng. Modal utamanya hanyalah ketekunan dan ribuan jam menonton tutorial di YouTube. Dua belas bulan pertama adalah masa-masa penuh cemoohan. "Mau jadi apa cuma coret-coret muka?" begitu bisik-bisik tetangga yang sempat mampir di telinganya. Namun, Yeza tidak berhenti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penawar Lelah Tengah Malam
Malam semakin larut. Jarum jam di dinding kamar hotel mewah tempat Laura menginap sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB. Laura duduk di tepi ranjang dengan cemas, sebelum akhirnya ponsel di genggamannya bergetar nyaring. Sebuah panggilan masuk dari nomor tanpa nama yang ia hubungi tadi siang.
Tanpa membuang waktu, ia langsung menggeser tombol hijau. "Bagaimana? Apa kalian sudah mendapatkannya?" tuntut Laura tanpa basa-basi.
"Sudah, Nona Laura," jawab suara berat di seberang sana. "Kami berhasil melacak alamat asli target bernama Yeza. Rumah keluarganya berada di pinggiran kota. Berdasarkan pengamatan tim kami, target berasal dari keluarga sederhana, dan saat ini ibunya tinggal sendirian di rumah tersebut karena target menetap di apartemen."
Mendengar kata 'ibu', Laura terdiam sejenak. Alisnya bertaut. Ego dan gengsinya memang terluka parah akibat pengusiran Max, dan ia sangat membenci Yeza. Namun, Laura bukanlah seorang kriminal berdarah dingin. Ia masih memiliki batasan moral; ia tidak akan menyakiti atau berbuat jahat secara fisik pada orang tua yang tidak tahu apa-apa.
"Bagus. Tarik timmu dari rumah itu. Aku tidak akan menyentuh ibunya," perintah Laura dingin.
Sebuah senyuman licik perlahan terukir di bibirnya yang dilapisi lipstik merah menyala. Otaknya yang manipulatif segera memikirkan cara lain yang jauh lebih elegan namun mematikan. "Aku akan menggunakan cara lain untuk memancing rubah kecil itu keluar dari sarangnya. Tetap pantau akun sosial media lokal dan jaringan agensi MUA. Aku akan membuat penawaran kerja palsu berskala internasional atas nama agensi Paris-ku yang tidak mungkin ditolak oleh MUA amatir seperti dia. Begitu dia datang ke lokasi yang kutentukan tanpa Max... di situ aku akan memberinya pelajaran."
"Dimengerti, Nona. Kami akan menyiapkan dokumen dan kontak palsunya."
Setelah memutuskan sambungan telepon, Laura tertawa kecil. Ia merasa rencananya kali ini jauh lebih cerdas.
Sementara itu, di kompleks apartemen tempat Max dan Yeza tinggal, suasana sudah sangat sunyi. Setelah seharian penuh menjalani syuting yang melelahkan namun sukses, Max dan Yeza sudah kembali ke unit masing-masing untuk beristirahat.
Di dalam unit 10B, Yeza baru saja selesai membersihkan wajahnya dan bersiap untuk tidur. Ia merasa tenang, mengira semua drama telah berakhir.
Namun di unit sebelah, Max duduk di kegelapan ruang tamunya. Layar ponselnya menyala terang, menampilkan titik koordinat GPS dari ponsel Yeza yang berada di unit sebelah, dalam kondisi aman dan tidak bergerak. Meskipun titik itu diam, intuisi Max sebagai pria yang waspada tetap tidak bisa tenang. Ia tahu, ketenangan malam ini hanyalah awal sebelum badai yang sesungguhnya datang menerjang.
Keheningan malam di dalam unit apartemennya terasa begitu pekat. Setelah membersihkan seluruh peralatan riasnya dan merebahkan tubuh di atas ranjang yang empuk, Yeza memandangi langit-langit kamar. Entah mengapa, rasa lelah yang mendera fisiknya malam ini menyisakan sedikit rasa rindu yang mendalam pada rumah sederhananya di pinggiran kota.
Rasa rindu itu mengalahkan kantuknya. Yeza meraih ponsel pintarnya di atas nakas, membuka daftar kontak, lalu menekan nomor kontak bertuliskan 'Ibu'.
Hanya butuh dua kali nada sambung sebelum suara lembut dan familier yang sangat ia rindukan terdengar dari seberang telepon.
"Halo, Assalamualaikum, Yeza sayang? Kok belum tidur, Nak? Ini sudah jam sepuluh lewat," ucap ibunya dengan nada suara yang hangat, khas seorang ibu yang selalu mengkhawatirkan anaknya.
Mendengar suara itu, Yeza reflek tersenyum lebar. Matanya mendadak terasa sedikit berkaca-kaca, seluruh beban pikiran dan ketegangan akibat drama dengan Laura seharian ini mendadak menguap begitu saja.
"Waalaikumussalam, Ibu. Yeza baru selesai merapikan alat kerja, Bu. Tadi syutingnya selesai agak malam," jawab Yeza lembut, mengubah posisinya menjadi berbaring menyamping sambil memeluk guling. "Ibu sendiri kenapa belum tidur? Ibu sehat-sehat saja kan di rumah?"
"Alhamdulillah, Ibu sehat, Nak. Ibu tadi baru selesai mengaji, ini mau bersiap tidur juga. Bagaimana kerjamu hari ini? Semuanya lancar? Mas Max tidak galak, kan?" tanya sang ibu sambil terkekeh pelan di ujung telepon.
Yeza tertawa kecil mengingat bagaimana 'galaknya' Max pagi tadi saat mengusir Laura demi membelanya. "Lancar sekali, Bu. Hari ini sutradaranya suka dengan hasil riasan Yeza. Dan... Mas Max sama sekali tidak galak, Bu. Dia bos yang sangat baik dan selalu menjaga Yeza di lokasi syuting."
"Alhamdulillah... Ibu selalu menyelipkan doa untukmu di setiap selesai salat, Nak. Biar kerjamu berkah, dijauhkan dari orang-orang yang berniat jahat, dan kariermu semakin sukses. Ingat, tetap rendah hati ya, sayang," pesan ibunya dengan tulus.
"Iya, Ibu. Terima kasih banyak ya doanya. Doa Ibu itu penguat Yeza di sini," bisik Yeza, merasakan kehangatan menjalar di seluruh dadanya.
Mereka mengobrol selama sepuluh menit berikutnya, saling bertukar cerita tentang hal-hal kecil di rumah. Obrolan sederhana itu menjadi penawar lelah terbaik bagi Yeza. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa beberapa jam lalu, alamat rumah ibunya yang damai itu hampir saja disangkutpautkan ke dalam intrik balas dendam Laura.
Setelah mengucapkan salam dan menutup telepon, Yeza memeluk ponselnya dengan senyum kedamaian yang menghiasi wajahnya. Ia bersiap memejamkan mata untuk tidur, tanpa tahu bahwa di unit sebelah, pelacak di ponselnya sempat mencatat durasi aktivitasnya, dan Max masih berjaga demi memastikan tidurnya tetap aman.