NovelToon NovelToon
Makeup His Heart

Makeup His Heart

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:575
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​Aroma bedak tabur, semprotan setting spray, dan tumpukan palet warna-warni sudah menjadi dunia Yeza selama lima tahun terakhir. Sejak melepas seragam putih-abu-abunya, gadis berusia 23 tahun itu memilih jalan yang berbeda dari teman-temannya. Di saat yang lain sibuk memburu bangku perkuliahan, Yeza justru mengurung diri di kamar, menatap cermin, dan membiarkan jemarinya menari dengan kuas-kuas murah yang dibelinya dari uang jajan yang disisihkan.

​Tanpa kursus formal, tanpa sertifikat mentereng. Modal utamanya hanyalah ketekunan dan ribuan jam menonton tutorial di YouTube. Dua belas bulan pertama adalah masa-masa penuh cemoohan. "Mau jadi apa cuma coret-coret muka?" begitu bisik-bisik tetangga yang sempat mampir di telinganya. Namun, Yeza tidak berhenti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Detak Jantung Yang Riuh

​Ting tong!

​Suara bel apartemen yang nyaring dan elegan membuyarkan lamunan Yeza yang tengah merebahkan diri di kasur empuknya. Ia segera bangkit, merapikan sedikit kaus kasual yang dikenakannya, lalu melangkah menuju pintu depan dengan rasa penasaran.

​Di dekat pintu, terdapat sebuah layar monitor kecil (intercom) yang menampilkan visual area koridor di luar secara langsung. Yeza menatap layar itu dan seketika menahan napas. Di sana, berdiri Maxemilian. Pria itu tampak sangat maskulin dengan pakaian kasual setelah latihan fisik, dan di tangan kanannya, ia memegang sebuah koper hitam besar yang kokoh.

​Yeza bergegas memutar kunci dan membuka pintu jati tebal itu.

​"Eh, Max? Silakan masuk," ucap Yeza sopan, sedikit gugup karena tidak menduga sang aktor akan langsung datang menemuinya di hari pertama.

​"Terima kasih," jawab Max singkat dengan suara baritonnya yang tenang. Ia melangkah masuk ke dalam apartemen, membawa koper hitam tersebut dan meletakkannya di atas karpet tebal di ruang tengah.

​Max mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan, memastikan semuanya sudah sesuai dengan standar kenyamanan yang ia instruksikan. "Bagaimana? Kamu suka tempatnya?"

​"Sangat suka, Max. Ini bahkan terlalu mewah untukku. Terima kasih banyak atas semua fasilitas dan kebaikanmu," ujar Yeza tulus, tangannya bertaut di depan tubuh. Matanya kemudian melirik ke arah koper hitam yang tergeletak di lantai. "Lalu... koper itu?"

​Max tidak langsung menjawab. Ia berlutut dengan satu kaki, lalu membuka kunci pengaman koper tersebut dengan gerakan yang santai namun tegas.

​"Buka saja," kata Max sambil mendongak, menatap Yeza dengan sorot mata yang teduh.

​Dengan rasa penasaran yang membuncah, Yeza mendekat dan perlahan membuka penutup koper tersebut. Begitu koper terbuka sempurna, kedua mata bulat Yeza membelalak lebar. Napasnya tertahan sejenak.

​Di dalam koper itu, tertata dengan sangat rapi dan terlindung busa pengaman tebal, deretan peralatan makeup profesional edisi terbaru dari brand internasional papan atas yang sangat mahal. Mulai dari satu set kuas premium berbulu halus, palet warna mata dan wajah yang lengkap, berbagai jenis alas bedak dengan rentang warna yang sangat luas, hingga lampu ring mini (ring light) portabel yang sangat canggih untuk kebutuhan konten.

​Semua barang itu masih baru, lengkap dengan segel dan aromanya yang khas. Ini adalah jenis peralatan tempur impian setiap penata rias profesional, yang harganya bisa mencapai puluhan bahkan ratusan juta rupiah.

​"Max... ini... dari mana?" tanya Yeza terbata-bata, menatap tumpukan barang mewah itu lalu beralih ke wajah tampan di hadapannya. "Ini terlalu mahal, aku tidak bisa menerimanya."

​"Ini bukan hadiah, Yeza. Anggap saja ini sebagai inventaris kerja dari agensiku untuk menunjang performamu selama mendampingiku," bohong Max dengan wajah datar, padahal ia membelinya menggunakan uang pribadinya sendiri setelah berkonsultasi dengan salah satu MUA senior kemarin.

​Max berdiri, menepuk pelan debu yang tidak ada di celananya, lalu menatap Yeza lekat-lekat. "Alat-alatmu yang kemarin sudah bagus, tapi untuk proyek film besar bulan depan, kamu butuh peralatan dengan standar sinematografi yang lebih tinggi. Gunakan ini sebaik-baiknya."

​Mendengar penjelasan Max yang begitu rasional namun sarat akan perhatian, Yeza merasakan matanya mendadak hangat. Ia tahu, di balik sikap dingin dan alasan profesionalitas pria ini, ada ketulusan luar biasa yang ingin selalu mendukung dan melindunginya.

​Rasa haru dan syukur yang meluap-luap di dada Yeza membuat seluruh logikanya mendadak lumpuh. Menatap deretan peralatan makeup impian di depannya, lalu menatap Max yang berdiri begitu tulus, Yeza tidak bisa lagi menahan emosinya.

​Tanpa sadar, tubuh mungilnya bergerak maju. Yeza menabrakkan dirinya ke pelukan Max, mendekap erat tubuh tegap aktor itu. Kedua tangannya melingkar kuat di pinggang Max, sementara wajahnya ia sembunyikan di dada bidang pria itu yang terasa sangat hangat dan kokoh.

​"Terima kasih banyak, Max... Terima kasih," bisik Yeza lirih, suaranya sedikit sengau karena menahan tangis haru.

​Di seberang sana, Max membeku seketika. Kedua tangannya yang semula menggantung bebas di sisi tubuh mendadak kaku di udara. Napasnya tertahan. Ia adalah pria yang sangat membenci kontak fisik yang tidak perlu dengan orang asing, namun pelukan tiba-tiba dari Yeza ini tidak membuatnya merasa risi. Sebaliknya, jantungnya langsung berdegup dengan sangat kencang, bertalu-talu hingga ia takut suaranya akan terdengar oleh gadis di pelukannya.

​Aroma manis vanila bercampur melati dari tubuh Yeza langsung menguar, memenuhi indra penciuman Max dan membuat pikirannya mendadak kosong.

​Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang mendebarkan, hingga akhirnya kesadaran Yeza kembali sepenuhnya.

​Ya ampun, apa yang baru saja kulakukan?! batin Yeza menjerit panik.

​Yeza tersentak kaget dengan kelancangannya sendiri. Ia buru-buru melepaskan pelukannya dan melangkah mundur dua langkah dengan panik. Wajahnya yang semula putih bersih kini langsung merona merah padam, panas menjalar hingga ke ujung telinganya. Ia menunduk dalam-dalam, sama sekali tidak berani menatap mata Max.

​"M-maaf, Max! Maafkan aku!" ujar Yeza terbata-bata, jemarinya bertautan dengan sangat gelisah. "Aku... aku benar-benar tidak sengaja. Aku hanya terlalu senang dan refleks... Maafkan kelancanganku."

​Max masih berdiri di tempatnya, mencoba menormalkan paru-parunya yang seolah kehabisan oksigen. Tenggorokannya mendadak kering. Gejolak di dalam dadanya begitu riuh, seolah ada badai yang siap meledak jika ia terus berada di ruangan yang sama dengan Yeza lebih lama lagi.

​Max berdeham pelan, berusaha sekuat tenaga mempertahankan ekspresi wajahnya yang dingin dan berwibawa, meski telinganya sendiri juga sudah mulai memerah.

​"Tidak apa-apa," jawab Max, suaranya terdengar sedikit lebih serak dari biasanya. Ia melirik jam dinding sekilas sebagai alasan. "Aku... harus kembali ke unitku. Masih ada naskah yang harus kupelajari untuk besok."

​"Ah, i-iya. Silakan, Max," jawab Yeza tanpa berani mendongak.

​Tanpa membuang waktu lagi, Max berbalik dengan langkah cepat yang sedikit terburu-buru. Ia membuka pintu apartemen 10B, melangkah keluar ke lorong sunyi, dan membiarkan pintu itu menutup dan mengunci secara otomatis di belakangnya.

​Begitu sampai di koridor, Max menyandarkan punggungnya pada pintu jati unitnya sendiri, 10A. Ia memejamkan mata rapat-rapat, meletakkan telapak tangan kanannya tepat di atas dada kirinya yang masih berdegup dengan sangat liar.

​Aktor papan atas yang selalu tenang di bawah sorotan ribuan kamera itu kini tampak sangat frustrasi—frustrasi karena menyadari bahwa pertahanan dirinya telah runtuh sepenuhnya hanya karena pelukan singkat dari seorang Yeza.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!