NovelToon NovelToon
JIWA MAFIA DI TUBUH GADIS TERHINA

JIWA MAFIA DI TUBUH GADIS TERHINA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Mafia
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: 𝑁𝑜𝑣𝑖𝑒25

Zerrin Atalea Felix seorang gadis mafia yang meninggal dunia lalu berpindah jiwa atau biasa di sebut bertransmigrasi ke tubuh Claudia Ramirez seorang gadis kaya tapi begitu di benci oleh saudara kandung nya sendiri, hanya kedua orang tua nya lah yang menyayangi nya.. Claudia yang selalu di anggap sebagai pembully di sekolah nya, padahal kenyataan nya selama ini dia hanya selalu di jadikan kambing hitam oleh seorang yang iri pada nya. Kesalahan pahaman ini lah yang membuat Claudia akhir nya di benci secara berlebihan oleh kedua abang dan lelaki yang sudah dia cintai sejak lama beserta anggota genk nya yang merupakan anggota most wanted di kampus. Kelompok para cowok-cowok kaya, keren dan populer di kawasan sekolah.
Bagaimana kisah jiwa Zerin yang berada di tubuh Claudia selanjutnya, ikuti terus kisahnya ya 😉

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝑁𝑜𝑣𝑖𝑒25, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Jebakan yang Disiapkan dengan Sempurna

Setelah insiden di koridor yang membuat namanya kembali tercemar, Claudia tidak menunjukkan tanda-tanda kemarahan atau keputusasaan seperti yang diharapkan Dinda. Sebaliknya, ia justru terlihat semakin tenang, bahkan terkesan mengabaikan semua tuduhan dan pandangan buruk yang ditujukan kepadanya. Sikap ini justru membuat Dinda merasa tidak nyaman dan semakin gelisah.

Bagi Dinda, melihat Claudia tertekan, menangis, atau marah-marah adalah tanda bahwa rencananya berhasil. Namun melihat Claudia tetap berjalan tegak, mengikuti pelajaran dengan nilai terbaik, dan bersikap seolah tidak ada yang terjadi, membuatnya merasa seolah usahanya selama ini hanya mengenai dinding tebal yang tidak bisa ditembus.

Di dalam kamar malam itu, Claudia duduk di depan meja kerjanya, menyusun langkah demi langkah dengan teliti. Ia tidak akan terburu-buru membela diri dengan kata-kata kosong , ia sudah membuktikan bahwa kata-kata tidak akan meyakinkan orang yang sudah terlebih dahulu menutup mata dan telinga. Ia butuh bukti yang tak terbantahkan, dan ia akan membuat Dinda sendiri yang secara tidak sadar mengungkapkan kejahatannya.

“Orang yang pandai berpura-pura biasanya memiliki satu kelemahan besar: mereka terlalu percaya diri dan mulai lengah saat merasa sudah menang,” pikir Claudia sambil mencatat rencananya. “Dinda sudah merasa semua orang memihaknya, sehingga ia tidak akan berhati-hati lagi. Itulah celah yang akan kugunakan.”

Selain menghadapi Dinda, bayangan masa lalunya sebagai Zerrin juga tidak pernah benar-benar hilang. Ia mulai mengumpulkan informasi sedikit demi sedikit tentang keadaan klan Felix. Melalui akses internet dan jaringan bisnis yang dimiliki keluarga Ramirez, ia menemukan kabar bahwa setelah kematiannya, Marco Vareza memang berhasil merebut posisi pemimpin, namun kekuasaannya tidak sepenuhnya stabil. Banyak anggota lama yang tidak puas karena cara ia mengambil alih kekuasaan, dan persaingan antar faksi di dalam klan semakin memanas.

“Dia duduk di atas takhta yang goyah,” gumam Claudia dengan senyum dingin. “Semakin dia berusaha memperkuat posisinya, semakin banyak musuh yang dia buat. Itu akan memudahkanku nanti saat waktunya tiba.”

Namun untuk saat ini, fokus utamanya tetap ada di rumah dan sekolah. Ia harus membersihkan namanya kembali dan mengamankan posisinya sebelum melangkah ke medan perang yang lebih besar.

Selama tiga hari berikutnya, Claudia bersikap seolah pasif. Ia menghindari konfrontasi langsung dengan Dinda, tidak membalas tuduhan apa pun, dan hanya menjawab pertanyaan dengan jawaban singkat. Sikap ini membuat Adrian, Brian, Arjuna, dan teman-temannya semakin yakin bahwa Claudia merasa bersalah dan tidak punya alasan lagi untuk membela diri.

Dinda pun semakin berani. Ia mulai bertindak lebih terang-terangan, bahkan berani mengambil barang-barang milik Claudia dan menggunakannya seolah itu miliknya sendiri. Ia juga sering membisikkan hal-hal negatif tentang Claudia kepada teman-teman sekelas, menanamkan pandangan bahwa Claudia adalah gadis yang sombong, pendendam, dan tidak bisa menerima ada orang lain yang lebih disukai.

Namun yang tidak diketahui siapa pun, terutama Dinda, adalah bahwa Claudia telah mempersiapkan segalanya. Ia mengingat posisi setiap kamera pengawas di sekolah, bahkan titik-titik buta yang diketahui hanya oleh orang yang memahami sistem keamanan. Ia juga sudah meminta bantuan diam-diam kepada Pak Joko, yang kini mulai memiliki rasa hormat dan kepercayaan lebih kepada Claudia setelah kasus Sari sebelumnya.

“Pak Joko, saya tahu ini permintaan yang tidak biasa,” kata Claudia saat bertemu dengan petugas keamanan itu secara diam-diam di pos jaga. “Tapi saya butuh akses ke rekaman kamera di area-area tertentu selama beberapa hari ke depan. Saya tidak akan merusak apa pun, hanya ingin memastikan ada bukti jika sesuatu terjadi lagi.”

Pak Joko mengangguk yakin. “Saya percaya padamu, Non. Saya sudah melihat bagaimana kau menangani masalah sebelumnya dengan jujur dan cerdas. Saya akan mengatur agar rekaman itu disimpan secara terpisah dan tidak diakses oleh orang lain tanpa izinmu.”

Selain itu, Claudia juga menempatkan alat perekam suara kecil yang tersembunyi di sudut ruangan pribadinya dan di lokasi-lokasi strategis yang sering dikunjungi Dinda, alat yang ia rancang sendiri berdasarkan pengetahuan yang ia miliki dari masa lalu.

Puncak dari rencana ini direncanakan pada hari Sabtu, saat sekolah mengadakan acara kumpul santai di halaman utama dan banyak siswa yang berkumpul. Ini adalah momen terbaik untuk membongkar semuanya di hadapan banyak saksi, sehingga tidak ada lagi yang bisa menyangkal kebenaran.

Pagi itu, suasana di sekolah terasa ramai. Banyak siswa yang berkumpul, termasuk Adrian dan Brian yang datang untuk melihat kegiatan, serta Arjuna dan teman-temannya yang selalu berada di dekat Dinda untuk “melindunginya”.

Seperti yang diperkirakan, Dinda tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia berjalan mendekati Claudia yang sedang berdiri sendirian di dekat pohon rindang, dengan wajah yang terlihat sedih namun matanya memancarkan rasa menang.

“Kak Claudia, bisakah kita bicara sebentar?” tanyanya dengan suara lembut yang cukup didengar oleh siswa-siswa di sekitar mereka. “Aku tahu Kakak tidak menyukaiku, tapi tolonglah… aku hanya ingin hidup tenang di sini. Jangan terus-menerus memusuhiku.”

Claudia menatapnya dengan tenang, lalu menjawab dengan nada datar, “Aku tidak memusuhimu. Jika kau tidak mencari masalah, tidak akan ada masalah.”

Jawaban itu dianggap sebagai tantangan oleh Dinda. Ia tahu banyak orang sedang melihat, jadi ia memutuskan untuk memainkan peran terbaiknya. Dengan gerakan yang terlatih, Dinda sengaja melangkah mundur sedikit, lalu terjatuh dengan sendirinya ke atas tanah sambil berteriak keras.

“Aduh! Kak Claudia… kenapa kau mendorongku lagi?” serunya sambil menangis keras, memegang lututnya seolah kesakitan.

Seketika itu, keributan pecah. Siswa-siswa berlarian mendekat, dan Arjuna serta ketiga temannya segera melompat ke depan untuk menolong Dinda. Wajah Arjuna memerah menahan amarah, dan ia langsung menatap Claudia dengan pandangan penuh kebencian.

“Cukup sudah, Claudia! Berapa kali kau akan menyakiti dia? Di depan banyak orang pun kau berani berbuat begitu?” bentak Arjuna dengan suara keras.

Adrian dan Brian yang baru saja tiba juga melihat kejadian itu. Wajah mereka berubah kecewa dan marah. Adrian segera melangkah mendekat dan menegur Claudia dengan nada tegas.

“Claudia! Apa yang kau lakukan? Sudah kubilang jangan cari masalah lagi! Kenapa kau tidak bisa bersikap baik saja pada sepupumu sendiri?”

Suasana menjadi kacau. Cemoohan dan hinaan kembali dilontarkan kepada Claudia. Namun kali ini, Claudia tidak lagi diam saja. Ia mengangkat tangannya sedikit, memberi isyarat agar semua orang tenang, dan suaranya yang tenang namun berwibawa berhasil membuat keributan perlahan mereda.

“Semua orang lihat apa yang terjadi hanya dari satu sisi saja,” ujar Claudia dengan suara jelas dan lantang. “Kalian melihat dia terjatuh, lalu mendengar dia menuduhku. Tapi apakah ada di antara kalian yang benar-benar melihat tanganku menyentuh tubuhnya? Atau apakah kalian hanya percaya pada apa yang ingin kalian lihat?”

Dinda masih menangis terisak, memotong pembicaraan Claudia. “Dia berbohong! Dia mendorongku, aku merasakannya sendiri!”

“Kalau begitu, mari kita lihat buktinya,” jawab Claudia dengan senyum tipis. Ia menoleh ke arah Pak Joko yang sudah berdiri di belakang kerumunan, memberi isyarat agar maju ke depan.

Pak Joko melangkah masuk dengan membawa sebuah laptop dan perangkat pemutar rekaman. “Sebelum ada tuduhan lebih lanjut, saya diminta untuk memutar rekaman dari kamera pengawas yang dipasang di area ini. Posisi kameranya menghadap langsung ke tempat kalian berdiri tadi.”

Semua mata tertuju pada layar laptop. Saat rekaman diputar, terlihat jelas di layar: Claudia berdiri diam di tempatnya, kedua tangannya tergantung bebas di sisi tubuhnya, tidak bergerak sedikit pun mendekat. Sedangkan Dinda, terlihat melangkah mundur secara sengaja, lalu menjatuhkan tubuhnya sendiri ke tanah sambil menoleh ke arah Claudia seolah sedang menunggu reaksi.

Keheningan melanda seluruh tempat. Wajah Dinda yang tadi masih basah oleh air mata perlahan berubah menjadi pucat pasi, matanya terbelalak ketakutan menyadari bahwa rencananya terbongkar.

“Ini… ini tidak mungkin! Pasti rekamannya sudah diubah!” teriak Dinda panik, mencoba mencari alasan.

Namun sebelum ia sempat melanjutkan, Claudia mengeluarkan perangkat lain dari saku bajunya. “Jika rekaman kamera masih bisa dianggap dimanipulasi, bagaimana dengan ini?”

Ia menyalakan alat perekam suara yang telah ia pasang di tempat strategis. Suara yang keluar dari perekam itu jelas terdengar ,suara Dinda yang sedang berbicara sendirian di kamar tidur tamu semalam, mengucapkan kata-kata dengan nada penuh kemarahan dan perhitungan.

“Segera saja semua orang akan membencinya dan mengusirnya. Semua kekayaannya, posisinya, perhatian keluarga dan Arjuna… semuanya akan menjadi milikku. Dia hanya gadis bodoh yang tidak sadar bahwa dia sudah kalah sejak awal.”

Kemudian terdengar lagi suaranya saat berbicara dengan teman dekatnya lewat telepon beberapa hari lalu: “Aku hanya perlu berpura-pura lemah sedikit lagi, mereka semua akan percaya padaku. Claudia tidak punya siapa-siapa yang membela dirinya, dia akan hancur dalam waktu singkat.”

Setiap kata yang terdengar membuat wajah Dinda semakin memucat, hingga akhirnya ia terduduk lemas di atas tanah, tidak mampu lagi membuka mulutnya. Semua orang yang mendengarnya tertegun, tidak percaya bahwa gadis yang selama ini mereka anggap polos dan lemah ternyata memiliki hati yang sedemikian jahat dan licik.

Tatapan semua orang berubah drastis. Dari tatapan benci kepada Claudia, kini beralih menjadi tatapan kaget, kecewa, dan jijik tertuju pada Dinda.

Arjuna yang tadi melindungi Dinda kini melangkah mundur perlahan, wajahnya dipenuhi rasa malu yang luar biasa. Ia menatap Dinda dengan pandangan yang sulit dipercaya, lalu menoleh ke arah Claudia dengan pandangan penuh penyesalan yang mendalam.

“Jadi… selama ini semuanya akting?” gumam Arjuna dengan suara parau. “Kita semua… kita semua tertipu olehmu.”

Adrian dan Brian juga berdiri kaku, wajah mereka terasa panas karena rasa bersalah yang menghantam dada. Mereka telah mempercayai orang asing yang datang meminta perlindungan, sedangkan mereka sendiri telah menuduh, menghina, dan tidak percaya pada adik kandung mereka sendiri yang selalu berkata jujur.

“Dinda… bagaimana kau bisa melakukan hal ini?” tanya Adrian dengan suara bergetar, campuran antara kaget dan marah. “Kami menerimamu dengan tangan terbuka, menganggapmu keluarga sendiri, tapi kau malah ingin menghancurkan adik kami dan mengambil segalanya?”

Dinda tidak bisa menjawab apa pun. Ia hanya menangis histeris, namun kali ini tangisannya bukan lagi pura-pura , itu adalah tangisan kepanikan karena rencananya hancur sepenuhnya dan ia tidak punya tempat untuk bersembunyi lagi.

Claudia melangkah mendekat, berdiri tepat di hadapan Dinda yang tergeletak lemah di tanah. Suaranya terdengar tenang namun mengandung tekanan yang menusuk hingga ke tulang sumsum.

“Aku sudah memperingatkanmu sejak awal, bukan?” ujar Claudia dingin. “Aku pernah menghadapi orang yang jauh lebih pandai berpura-pura, jauh lebih kejam, dan memiliki kekuasaan yang jauh lebih besar darimu. Kau hanya bermain di permukaan, dan kau pikir itu cukup untuk menjatuhkanku?”

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada tegas, “Kau memanfaatkan rasa kasihan, merusak nama baik orang lain, dan mencoba mengambil apa yang bukan hakmu. Ini adalah konsekuensi dari apa yang kau tanam. Sekarang, kau akan melihat betapa cepatnya orang-orang yang memujimu dan membela dirimu tadi, kini berpaling menjauh.”

Benar saja, saat Dinda mencoba meminta maaf dan memohon belas kasihan, tidak ada satu pun yang berani mendekat. Bahkan teman-teman yang tadi terlihat dekat dengannya pun mulai mundur, takut terlibat dalam masalah ini.

Kepala sekolah yang dipanggil segera tiba, dan setelah mendengar semua bukti yang ada, keputusannya pun segera diambil. Dinda akan dikeluarkan dari sekolah karena melakukan tindakan yang merusak nama baik sekolah dan melakukan penipuan serta pemfitnahan. Ia juga harus segera meninggalkan kediaman keluarga Ramirez dan kembali ke tempat asalnya, tanpa ada lagi dukungan apa pun dari keluarga itu.

Saat Dinda digiring pergi dengan kepala tertunduk penuh rasa malu dan dendam yang terpendam, suasana perlahan kembali tenang, namun kini ada perasaan yang berbeda di hati setiap orang yang hadir.

Arjuna dan ketiga temannya berjalan mendekat ke arah Claudia, kali ini dengan kepala tertunduk dalam-dalam, tidak berani menatap wajahnya.

“Claudia… kami benar-benar minta maaf,” ujar Arjuna dengan suara yang sangat rendah dan penuh rasa bersalah. “Kami telah mengulangi kesalahan yang sama lagi. Kami terlalu mudah terpedaya oleh penampilan dan cerita yang terdengar manis, lalu menghakimimu tanpa melihat kenyataan. Kami tidak tahu bagaimana cara menebus kesalahan ini.”

Adrian dan Brian juga berdiri di samping mereka, dengan ekspresi yang sama , penuh penyesalan dan rasa malu sebagai kakak yang gagal melindungi adiknya.

“Claudia, maafkan kami,” kata Adrian dengan nada tulus. “Kami salah menilai lagi, kami terlalu percaya pada orang luar dan meragukan dirimu sendiri. Mulai hari ini, kami berjanji akan mendengarkan kata-katamu, percaya padamu, dan melindungimu sepenuhnya.”

Claudia menatap mereka satu per satu, melihat ketulusan dalam mata mereka. Ia menghela napas panjang, lalu mengangguk perlahan. Dia hanya malas untuk berlama-lama menghadapi orang-orang bodoh seperti merek semua.

“Pelajaran kali ini lebih berat dari sebelumnya,” ujarnya dengan nada tenang namun dalam. “Semoga ini cukup untuk membuat kalian belajar , jangan pernah menilai seseorang hanya dari apa yang terlihat, dan jangan pernah membiarkan rasa kasihan atau rasa suka membutakan akal sehat. Aku tidak menyimpan dendam, tapi ingatlah bahwa kepercayaan itu butuh waktu lama untuk dibangun, tapi bisa hancur hanya dalam sekejap.”

Setelah kejadian itu, nama baik Claudia kembali dibersihkan, bahkan lebih kuat dari sebelumnya. Orang-orang kini melihatnya bukan lagi sebagai gadis pendiam atau gadis yang sering menjadi korban, melainkan sebagai sosok yang tenang, cerdas, dan memiliki ketabahan yang luar biasa dalam menghadapi fitnah dan kesulitan.

Namun di balik rasa lega itu, Claudia tahu bahwa ini hanyalah satu babak yang selesai. Di masa depan, tantangan yang lebih besar menanti , baik dari masa lalunya yang ingin ia balas dendam, maupun dari kemungkinan musuh baru yang akan muncul.

Malam itu, saat ia duduk di kamarnya lagi, ia menatap ke arah luar jendela yang gelap, matanya bersinar tajam memancarkan tekad yang tidak tergoyahkan.

“Dinda sudah selesai, tapi Marco masih menunggu di sana. Sekarang saatnya untuk memperkuat posisiku di sini, hingga saatnya tiba untuk kembali ke tempat asal dan mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikku.”

Permainan baru saja memasuki babak yang lebih serius, dan Claudia yang kini membawa jiwa Zerrin telah siap menghadapi segala rintangan yang akan datang, baik di dunia sekolah, keluarga, maupun dunia gelap yang ia tinggalkan.

**✿❀ ❀✿** To be continued **✿❀ ❀✿**

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!