NovelToon NovelToon
SANGHYANG RASA

SANGHYANG RASA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:212
Nilai: 5
Nama Author: Galuh pravitasari

Malam itu, kampung Cikabuyutan hangus di bakar jadi abu.

Prajurit Kadipaten Ciaruteun datang.
Membakar rumah. Membunuh orang tua.
Atas perintah satu nama: Adipati Rangga sasmita
Mereka membalas dengan cara nya sendiri.

Istana bilang mereka penjahat.
Rakyat bilang mereka harapan.

Karena mulai malam ini...
Dua buronan akan merampok orang kaya.
Dan membagi-bagikannya ke orang miskin.

Satu anak panah untuk keadilan.
Satu tusukan pisau untuk membongkar kebusukan.

Ini bukan balas dendam.
Ini revolusi.

Dan apinya... baru saja mulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galuh pravitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18 : HANYA PEDAGANG DESA

0Asap tipis masih mengepul dari piring di depan mereka. Nasi putih hangat, sayur lodeh kuah bening, ikan asin garing, dan sambal terasi yang baunya langsung menusuk hidung. Perut Karta makin berisik, matanya berbinar menatap makanan itu seolah belum pernah melihat hal seindah ini.

“Wah, ini baru obat lelah sejati,” bisiknya riang sambil mengusap telapak tangan.

Ia angkat sendok kayu, sudah siap menyendok nasi pertama. Bayu pun perlahan meraih gagang sendok, hatinya sedikit tenang sebentar lagi rasa lapar akan hilang.

Tapi sebelum ujung sendok menyentuh nasi, suasana damai itu hancur seketika.

Terdengar langkah kaki menghentak tanah berdebu dengan irama yang kaku dan mengancam. Disusul denting besi saling berbenturan—gagang senjata menghantam pelindung dada, besi tajam bergesekan satu sama lain. Suaranya makin keras dan mendekat, sampai bangku bambu tempat mereka duduk ikut bergetar pelan.

Bayu segera menurunkan tangannya, memberi isyarat cepat pada Karta untuk diam. Karta langsung membeku. Sendok terhenti di udara, senyum di wajahnya perlahan hilang berganti rasa waspada.

Pintu dan teras warung yang tadi terbuka lebar kini tertutup bayangan besar. Sekelompok prajurit masuk dengan kasar, menendang ujung bangku yang menghalangi jalan tanpa rasa hormat. Mereka memakai seragam merah gelap berlogo Harimau melompat—pasukan resmi Kadipaten Ciaruteun. Wajah mereka garang, mata menyapu setiap sudut dengan tatapan merendahkan, seolah semua orang di sana adalah penjahat yang harus dicurigai.

“Semua diam di tempat! Jangan bergerak sebelum diperiksa!” bentak salah satu prajurit.

Warga yang sedang makan langsung menunduk dalam, menempelkan punggung ke tiang atau dinding, berusaha tak terlihat. Yang memegang makanan segera meletakkannya kembali dengan tangan gemetar. Tak ada yang berani menatap mata mereka, bahkan menarik napas pun terasa hati-hati. Sudah lama warga pinggir pasar takut pada perlakuan pasukan ini.

Bayu menggeser tangan kirinya ke belakang, memastikan Busur Sanghyang Rasa tersembunyi rapi di balik kain. Dengan gerakan halus ia dorong lengan Karta sedikit, memberi isyarat agar pisau disembunyikan lebih dalam. Karta mengangguk pelan, menekan punggung ke dinding dan menundukkan kepala.

Prajurit itu berkeliling, menendang kaki meja, membalik keranjang barang, menatap tajam ke wajah setiap orang.

“Keluarkan surat izin lewat! Siapa tak punya atau namanya tak tercatat, langsung kami seret!” bentak prajurit yang memimpin.

Wajahnya penuh bekas luka lama, tatapannya tajam seperti mata elang. Ia adalah orang kepercayaan Jaka Wiradipa.

Seorang pedagang sayur tua maju gemetar, menyerahkan selembar kertas buram. Prajurit itu menyambar kasar, melirik sekilas, lalu merobeknya kecil-kecil dan melemparnya ke wajah orang tua itu.

“Sudah lewat tiga hari masa berlakunya! Berani kau langgar aturan Kadipaten?!”

Ia tendang perut pedagang itu hingga terguling, menabrak tumpukan keranjang sampai semuanya berantakan.

“Maaf, Ki… maafkan...… belum sempat kuperpanjang karena harus menjual hasil panen dulu…” rintih orang tua itu sambil berusaha bangun.

“Alasan saja! Semua harus patuh pada aturan Bupati Ranga Sasmita! Tak ada pengecualian!”

Prajurit itu hendak menendang lagi, tapi temannya menahan bahu.

“Sudah, jangan buang waktu. Masih banyak tempat yang harus kita periksa. Cari dua orang yang dicari: pemuda tinggi kurus dan anak berambut keriting. Katanya berani menghina penguasa dan bersembunyi di sekitar pasar.”

Jantung Bayu berdegup kencang. Ternyata kabar soal kejadian tadi sudah sampai ke telinga Kadipaten secepat itu. Mereka bukan sekadar dicurigai, tapi sudah dicari khusus. Ia menunduk lebih dalam, membiarkan rambut menutupi sebagian wajah, berharap cahaya remang menyembunyikan ciri dirinya.

Karta menahan napas. Ia ingin sekali meledak marah melihat perlakuan kasar itu pada orang lemah, tapi ia ingat pesan Mbah karsa dan sifat pisaunya. Kalau ia meledak sekarang, bukan hanya dirinya yang celaka, warga tak berdosa ini pun ikut terancam. Ia kepalkan tangan di bawah meja, mencoba tenang dengan membayangkan kepala mereka sebenarnya cuma tempurung kelapa.

Prajurit berwajah luka itu berjalan mendekati meja mereka. Sepatu kulitnya menghentak tepat di samping kaki Bayu. Ia berhenti, menatap ke bawah dengan tatapan curiga.

“Kalian berdua! Angkat kepala!”

Bayu angkat kepala perlahan, wajahnya tenang tanpa takut berlebihan. Karta ikut mengangkat wajah, berusaha terlihat bingung seolah tak tahu apa-apa.

“Dari mana dan ke mana tujuanmu?”

“Kami dari desa sebelah, Ki,” jawab Bayu pelan. “Ingin menjual hasil kebun dan membeli kebutuhan, lalu segera pulang sebelum gelap.”

“Surat izin lewat?”

“Kami tak tahu harus buat surat, Ki. Hanya lewat sebentar, tidak ada maksud untuk menginap.”

Prajurit itu tersenyum sinis, menepuk gagang pedangnya keras.

“Tak punya surat? Berarti kalian masuk daftar curiga! Bisa jadi mata-mata atau penyusup yang kami cari!”

Ia ulurkan tangan hendak menarik kerah baju Bayu. Tapi sebelum menyentuh kain, terdengar suara dari arah pintu.

“Sudah, jangan buang waktu pada rakyat biasa yang tak berbahaya. Ki Lurah Jaka Wiradipa perintahkan segera ke pinggir hutan. Ada laporan pasukan kita diserang di sana. Siapa pun yang ditemui di jalan ke sana, langsung tangkap!”

Prajurit itu menghentakkan kaki kesal, menatap tajam mereka sekali lagi, lalu berbalik badan.

“Kalian beruntung kali ini. Tapi hati-hati, kalau terlihat lagi mencurigakan, jangan harap bisa lolos!”

Mereka pun keluar berbaris, meninggalkan jejak debu di lantai tanah. Suara langkah dan denting senjata perlahan menjauh sampai hilang di tikungan.

Baru kemudian suasana perlahan kembali, tapi tak sehangat semula. Hela napas lega terdengar satu per satu. Pedagang sayur tua duduk bersandar tiang, memijat kakinya yang sakit. Nenek pemilik warung maju pelan merapikan keranjang yang berantakan, matanya berkaca-kaca menatap piring makanan yang masih utuh tak tersentuh.

“Kasihan sekali… panasnya sudah hilang, belum sempat masuk mulut,” gumamnya pelan. “Disiapkan dengan tulus, tapi takdir berkata lain. Begitulah hidup, Nak. Harapan di depan mata bisa hilang sekejap oleh angin yang tak di inginkan.”

Karta menatap nasi yang sudah dingin itu dengan wajah kecewa.

“Padahal tadi sudah terbayang betapa enaknya,” bisiknya pelan. “Sekarang perut makin lapar, tapi hati rasanya makin was- was.”

Bayu diam menatap hidangan itu. Kata-kata nenek seolah menembus hatinya. Bukan hanya makanan ini yang tak sempat dinikmati. Masih banyak hal lain yang belum sempat ia lakukan—belum sempat menjelaskan pada Putri Larasati, belum sempat menyapa kakek misterius itu—tapi keadaan terus memaksa berjalan lebih cepat dari yang ia sanggup.

Ia berdiri perlahan, membungkuk pada nenek itu.

“Maafkan kami, Nek. Harus segera pergi sebelum mereka kembali. Biarkan saja makanan ini, atau berikan pada yang lebih membutuhkan. Kami tak bisa menunda lagi.”

Ia letakkan koin lebih banyak dari harga makanan, sekaligus ganti rugi atas kerusakan yang dibuat prajurit tadi. Nenek pemilik warung hendak menolak, tapi Bayu sudah menggeleng lemah.

“Terima kasih atas kebaikan Nenek. Hal seperti ini yang paling susah ditemukan di jalan yang penuh ketidakadilan.”

Karta ikut berdiri, melirik sekali lagi piring itu, lalu menghela napas panjang.

“Sampai jumpa ya makanan enak. Mungkin nanti kalau keadaan tenang, kita bisa bertemu lagi.”

Mereka pun melangkah keluar, perut masih lapar dan hati penuh beban. Di belakang mereka lampu minyak masih menyala remang, seolah tetap setia menemani meski hidangan tak sempat disantap.

Langkah mereka kini mengarah jelas: menyusul jejak prajurit ke pinggir hutan. Kalau pasukan berbuat sewenang-wenang seperti tadi, pasti ada rakyat lain yang terancam di sana. Dan tugasnya sebagai Pemanah Rasa tak akan membiarkan ketidakadilan terjadi di depan mata tanpa berusaha meluruskan.

“Kang...,” panggil Karta pelan setelah mereka agak jauh. “Apakah nanti kita akan sempat makan lagi? Atau semua yang kita inginkan selalu seperti nasi itu—hanya bisa dilihat, tak bisa disentuh?”

Bayu menoleh, menatap wajah anak itu yang lelah tapi tetap tegar. Ia menepuk bahu Karta pelan.

“Bukan begitu. Makanan ini tak terbuang sia-sia. Ia mengajarkan kita: yang paling berharga bukan apa yang kita nikmati sendiri, tapi apa yang kita perjuangkan agar orang lain bisa menikmatinya dengan tenang.”

“Hari ini kita melewatkan makan demi keselamatan orang lain. Suatu hari nanti, akan banyak yang bisa makan dengan tenang tanpa rasa takut, karena kita berani melangkah hari ini.”

Mereka berjalan makin cepat menyusuri jalan setapak yang mulai gelap, menuju hutan Wana Kelor yang menyimpan bahaya sekaligus kebenaran yang lama tersembunyi. Makanan yang tak pernah dimakan itu kini menjadi pengingat: perjuangan sering kali dimulai dengan melepaskan hal-hal sederhana, demi sesuatu yang jauh lebih besar dan abadi.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!