Ryden Vale, seorang remaja biasa yang tewas tertabrak truk, terbangun kembali di dunia yang selama ini hanya ia kenal lewat cerita — dunia One Piece. Ia mendapati dirinya menghuni tubuh baru: rambut putih, mata merah darah, dan jubah putih berlambang bulan sabit terbalik yang kelak menjadi ciri khasnya. Di sebuah pulau terpencil di East Blue, ia menemukan Rift Rift no Mi, Buah Iblis misterius yang memberinya kekuatan untuk merobek, melipat, dan berpindah lewat ruang itu sendiri — sekaligus sebuah Sistem Login Harian yang diam-diam menempanya menjadi lebih kuat, hari demi hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9
Kabut masih menggantung tebal di sekeliling kapal ketika Groth Si Kapak Berdarah melompat turun dari kapal besarnya, mendarat dengan gemuruh yang mengguncang geladak kapal kecil Ryden. Tubuhnya menjulang lebih dari dua meter, otot-ototnya membuncah di bawah kulit penuh bekas luka, dan kapak besarnya berkilau mengerikan diterpa cahaya senja yang menembus kabut.
"Bocah kecil dengan rambut putih," Groth menyeringai lebar, memperlihatkan gigi-giginya yang tak rata. "Kudengar ada buronan bernama Sang Peretak berkeliaran di perairan ini. Tak kusangka akan bertemu langsung."
"Kau sudah mendengar tentangku," Ryden menjawab tenang, meski di dalam hatinya ia mulai menghitung setiap kemungkinan. Tekanan Haki yang dipancarkan Groth cukup besar—jelas bukan lawan yang bisa ia remehkan begitu saja. "Berarti kau juga tahu, aku tidak akan menyerah semudah itu."
"Bagus," Groth tertawa keras, suaranya menggema di tengah kabut. "Aku suka mangsa yang melawan. Membuat kemenangan terasa lebih manis!"
Tanpa peringatan lebih lanjut, Groth melesat maju, kapak besarnya terayun deras ke arah Ryden dengan kekuatan yang mampu membelah kapal kayu menjadi dua dalam sekali tebas. Ryden melompat mundur cepat, merasakan angin tajam dari ayunan kapak itu menyapu tepat di depan wajahnya.
Kekuatan fisiknya luar biasa, pikir Ryden, mendarat di ujung geladak dengan sigap. Aku tidak bisa mengandalkan pertarungan jarak dekat langsung melawannya.
Ryden mengangkat tangan kanannya, menciptakan tiga retakan kecil yang melesat cepat ke arah Groth dari berbagai sudut berbeda—serangan Retakan Ruang yang selama ini menjadi andalannya. Namun di luar dugaan, Groth memutar kapaknya dengan kecepatan mengejutkan untuk tubuh sebesar itu, menangkis dua retakan sekaligus, meski satu retakan berhasil menggores lengan kirinya, membuat darah segar mengalir.
"Cukup tajam untuk bocah seusiamu," gumam Groth, menjilat darah dari lengannya sendiri dengan seringai gila. "Tapi kau harus lebih baik dari ini untuk mengalahkanku!"
Groth kembali menyerang, kali ini dengan kombinasi ayunan kapak yang lebih cepat dan brutal. Ryden terus bergerak lincah, menggunakan Teleportasi jarak pendek untuk menghindari setiap serangan dengan margin yang nyaris tak terlihat mata biasa—berpindah beberapa meter dalam sekejap, muncul kembali di sudut berbeda, membuat Groth mulai kesulitan memprediksi pergerakannya.
Sebuah ayunan horizontal nyaris membelah tubuhnya menjadi dua, memaksa Ryden melengkungkan punggung ke belakang sejauh mungkin sebelum akhirnya membuka retakan kecil tepat di bawah kakinya sendiri—berpindah instan ke atas tiang layar, mengambil posisi lebih tinggi untuk mengamati pola serangan lawannya. Dari sana, ia bisa melihat jelas bahwa setiap ayunan kapak Groth selalu diikuti jeda sepersekian detik sebelum tebasan berikutnya, sebuah celah kecil namun bisa dimanfaatkan.
"Berhenti kabur seperti tikus!" bentak Groth, mendongak marah, matanya menyala penuh amarah primal. Ia menghantamkan kapaknya ke tiang layar tempat Ryden berpijak, membuat seluruh struktur kayu itu bergetar hebat dan retak di beberapa bagian.
Ryden melompat turun tepat sebelum tiang itu ambruk, mendarat dengan gulingan cepat di geladak. Ia balas menyerang dengan rentetan Retakan Ruang yang lebih rapat—lima retakan kecil sekaligus, masing-masing menargetkan titik berbeda di tubuh Groth: bahu, lutut, pergelangan tangan yang memegang kapak, dan dua lainnya sebagai pengecoh. Groth berhasil menangkis tiga, namun dua retakan lain berhasil menggores paha dan bahunya, membuat raksasa itu mengerang keras untuk pertama kalinya.
"Sial!" umpat Groth, darah mengalir deras dari luka barunya, namun alih-alih melemah, amarahnya justru membuatnya semakin agresif. Ia melemparkan kapaknya secara membabi buta, sebuah gerakan nekat yang jarang dilakukan petarung berpengalaman—namun cukup mengejutkan sehingga hampir mengenai Ryden yang tidak menyangka serangan sejauh itu.
Kapak besar itu menghantam lambung kapal, membelah kayu dengan mudah sebelum Groth menariknya kembali dengan rantai tersembunyi yang terikat di gagangnya—sebuah trik yang tidak Ryden duga sebelumnya. Air laut mulai merembes masuk dari lubang yang tercipta, menambah urgensi bagi Ryden untuk segera mengakhiri pertarungan ini sebelum kapal kecilnya benar-benar tenggelam.
Kapal mulai bocor. Aku tidak punya banyak waktu lagi, pikir Ryden, merasakan detak jantungnya semakin cepat seiring stamina yang terus menipis.
Namun setiap penggunaan Teleportasi menguras staminanya dengan cepat. Napas Ryden mulai memburu, keringat dingin membasahi dahinya, dan sesekali penglihatannya sedikit mengabur—tanda peringatan bahwa tubuhnya sudah mendekati batas maksimal penggunaan kekuatannya hari ini. Pertarungan ini jelas akan menjadi ujian sesungguhnya bagi seluruh latihan yang telah ia jalani selama enam tahun terakhir.
Dari dalam kabin, Elira menyaksikan pertarungan itu dengan jantung berdebar kencang, tangannya mencengkeram erat kusen pintu. Ia tidak pernah menyaksikan pertarungan sesungguhnya sedekat ini—kekuatan yang bergerak jauh melampaui apa pun yang pernah ia bayangkan di dunia asalnya. Setiap kali kapak Groth nyaris mengenai Ryden, ia menahan napas tanpa sadar, jemarinya memutih mencengkeram kayu kusen.
"Ryden bisa mengalahkannya, kan?" bisiknya pelan pada dirinya sendiri, meski keraguan mulai menggerogoti hatinya melihat betapa kuatnya lawan yang dihadapi.
Sementara itu, di geladak, Ryden mulai merasakan batas staminanya semakin menipis. Ia tahu, jika pertarungan ini berlanjut dengan pola yang sama, ia akan kehabisan tenaga sebelum berhasil melumpuhkan Groth sepenuhnya—dan kapal yang mulai bocor hanya mempersempit waktu yang ia miliki. Ia butuh sesuatu yang berbeda—sebuah strategi baru, atau mungkin, sebuah terobosan yang selama ini belum pernah ia coba.
Remukan Ruang, pikirnya tiba-tiba, mengingat kemampuan ketiga dari Rift Rift no Mi yang jarang ia gunakan dalam pertarungan sungguhan karena risikonya yang besar—kemampuan itu menguras stamina jauh lebih besar dibanding dua skill lainnya, dan sekali digunakan, ia hampir pasti tidak akan punya cukup tenaga untuk kabur jika gagal. Ini saatnya mencoba. Tidak ada pilihan lain.