Bagi Aira, bekerja di kafe itu hal biasa. Sampai ada Arjun-cowok keturunan India yang selalu datang jam sama, pesan minum sama, dan punya senyum yang bikin hati salah tingkah. Di lehernya selalu ada benang merah, katanya itu tanda ikatan. Dan suatu hari, dia mau ikat tali itu juga di tangan Aira, bilang kalau dia udah nggak mau cari ke mana-mana lagi. Cukup Aira aja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
Setelah berkeliling melihat isi rumah dan mendengar puluhan cerita baru dari Arjun tentang barang-barang peninggalan keluarganya, kami kembali lagi ke teras depan. Kakek masih duduk di kursi goyangnya, angin malam yang sejuk membuat beliau tampak tenang sekali.
Di pangkuannya, ada selembar kain katun berwarna putih bersih dan seuntai benang berwarna merah menyala, sama persis warna benang yang selalu dipakai Arjun di lehernya.
Beliau sedang memegang jarum kecil dengan tangan yang gemetar pelan karena usia, berusaha menusukkannya ke kain itu dengan hati-hati. Gerakannya lambat, tapi setiap tusukan dilakukan dengan fokus yang luar biasa.
Arjun langsung duduk kembali di lantai dekat kaki kakeknya, aku pun duduk di tempatku tadi, penasaran melihat apa yang sedang dikerjakan lelaki tua itu.
"Kakek lagi buat apa sih?" tanyaku pelan, takut mengganggu konsentrasinya.
Kakek menghentikan gerakan tangannya sebentar, lalu mengangkat kain itu agar aku bisa melihat lebih jelas. Di atas kain putih itu, mulai terbentuk pola jahitan kecil yang rapi, membentuk simbol sederhana tapi indah.
"Ini? Kakek lagi menjahit doa, Nak," jawabnya pelan sambil tersenyum, lalu melanjutkan lagi tusukannya.
"Menjahit doa?" ulangku bingung, makin penasaran. Aku melirik Arjun, berharap dia bisa menjelaskan lebih lanjut.
Arjun mengangguk mengerti, lalu mulai bercerita sambil sesekali menatap tangan kakeknya dengan penuh kekaguman.
"Iya, Aira. Di budaya kami, menjahit itu bukan sekadar menyambung kain yang putus atau menghias baju aja lho. Menjahit itu dianggap pekerjaan yang suci. Setiap kali jarum menusuk kain, setiap kali benang ditarik dan dikaitkan, itu sama aja kita lagi mengikatkan harapan dan doa ke dalam benda itu. Kakek dari muda memang paling jago menjahit, apalagi bikin hiasan-hiasan khas kami."
Dia menunjuk benang merah yang melilit di jari kakeknya.
"Lihat warna benangnya? Merah ini artinya kekuatan, perlindungan, dan kasih sayang yang kuat. Kakek percaya, kalau kita menjahit dengan hati yang ikhlas dan pikiran yang baik, benda yang dijahit itu bakal bawa keberuntungan dan keselamatan buat siapa pun yang memakainya nanti."
Kakek menyisipkan benang itu ke balik kain, menariknya pelan sampai kencang, lalu baru menyahut pelan, suaranya serak tapi jelas.
"Kata orang, kain itu cuma benda mati. Tapi kalau kita kasih waktu, kasih perhatian, dan kasih doa di setiap tusukannya... kain itu jadi hidup, Nak. Dia jadi penjaga, jadi pengingat. Dulu waktu Arjun masih kecil, hampir semua baju yang dia pakai Kakek yang jahit dan hias begini. Kakek selipkan doa supaya dia tumbuh jadi anak yang kuat, jujur, dan selalu ingat asal-usulnya."
Kakek tertawa kecil sambil menoleh ke cucunya.
"Dia dulu itu nakal banget lho, Aira. Baju baru dipakai pagi, sore udah robek di sana-sini karena dipakai lari-larian atau jatuh main. Tiap malam Kakek jahit lagi, sambil ngomel dikit tapi di dalam hati Kakek selalu doain, biar walau bajunya sering rusak, hatinya jangan sampai rusak kena pengaruh buruk."
Wajah Arjun jadi agak merah mendengar masa kecilnya dibahas, dia cuma bisa garuk kepala sambil nyengir malu.
"Ya namanya juga anak kecil, Kakek. Emang mana ada yang diam aja," kilah Arjun pelan, bikin aku ikutan ketawa melihat tingkahnya yang jadi kayak anak kecil banget di depan kakeknya.
Aku menatap kembali tangan keriput kakek itu. Di sana ada banyak bekas luka kecil, mungkin bekas tertusuk jarum berkali-kali sepanjang hidupnya. Tapi tangan itu terlihat indah banget, penuh sejarah dan kasih sayang yang besar.
"Kakek nggak capek ya? Dijahit satu-satu gini, lama banget kan jadinya?" tanyaku tulus.
Kakek menggeleng pelan.
"Nggak ada kata capek kalau itu buat orang yang kita sayang, Nak. Di mata kami, hasil yang indah itu nggak pernah didapat dengan cara cepat. Lihat jahitan ini... kalau ditarik cepat, benangnya bisa putus, jadinya nggak rapi. Harus pelan, harus sabar, harus teliti. Sama kayak membangun pertemanan, sama kayak membangun rasa sayang. Kalau terburu-buru, nggak bakal kuat. Kalau dikerjakan pelan-pelan dengan hati, bakal awet dan indah selamanya."
Beliau meletakkan jarumnya sebentar, lalu menatapku lekat-lekat.
"Arjun udah cerita sama Kakek, kalau kalian kenalnya pelan banget. Mulai dari sekadar pelayan dan pelanggan, sampai sekarang bisa duduk semeja ngobrolin hal-hal dalem gini. Kakek senang denger itu. Bagus begitu. Biar semuanya terjalin rapi, biar nggak ada yang terlewat, biar nggak ada yang bolong di tengah jalan."
Kakek mengambil sehelai kain kecil sisa di sebelahnya, kain berwarna kuning lembut yang bersih banget. Beliau melipatnya rapi, lalu menyodorkan ke arahku.
"Ini buat kamu, Nak Aira. Nggak ada hiasan apa-apa, cuma kain biasa aja. Tapi Kakek udah selipkan doa di dalam lipatannya. Doa supaya kamu selalu sehat, selalu bahagia, selalu dikelilingi orang-orang baik, dan selalu jadi anak yang hatinya bening kayak yang Kakek lihat selama ini."
Aku menerimanya dengan kedua tangan, hati-hati banget seolah sedang memegang benda paling berharga di dunia. Kain itu terasa lembut dan hangat, entah karena suhu tangan kakek atau karena rasa kasih sayang yang terselip di sana. Mataku rasanya agak panas terharu.
"Makasih banyak ya, Kakek... aku nggak nyangka dikasih sesuatu. Ini bakal aku simpan baik-baik di rumah," ujarku suaranya agak bergetar karena senang.
"Sudah, nggak usah berterima kasih. Itu cuma bentuk kasih sayang kami ke kamu, karena kamu udah mau menghargai cerita dan budaya kami," jawab Kakek lembut.
Arjun menatapku sambil tersenyum tulus, matanya bicara seolah bilang: "Kakekku hebat banget kan?"
Tak terasa jam sudah menunjuk pukul sembilan malam. Arjun sadar sudah waktunya aku pulang supaya nggak kemalaman. Kami berpamitan dengan sopan, mencium punggung tangan kakek bergantian, lalu melangkah keluar dari rumah tua yang penuh cerita itu.
Di jalan pulang, aku menggenggam kain pemberian kakek itu erat di tanganku. Suasana sepi dan dingin, tapi rasanya hatiku hangat banget.
"Gimana? Masih kaget nggak dikasih itu?" tanya Arjun memecah keheningan.
"Banget... kakek kamu baik banget, Jun. Bijak, lembut, dan kasih sayangnya kerasa banget. Pantas kamu jadi sebaik itu," jawabku jujur.
Arjun tersenyum bangga.
"Kakek selalu bilang, kasih sayang itu harus disebar, nggak boleh ditimbun sendiri. Dia senang banget kamu datang tadi. Bilangnya, jarang ada tamu muda yang duduk diam dan dengerin omelan orang tua selama itu kayak kamu."
Kami tertawa bareng. Langkah kami santai menyusuri jalan setapak menuju rumahku. Malam ini aku belajar satu hal lagi: bahwa kasih sayang bisa dibungkus dalam bentuk apa saja, bahkan dalam selembar kain dan tusukan benang yang sederhana.