NovelToon NovelToon
DiBuang Suami Di Pungut Om

DiBuang Suami Di Pungut Om

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: AmeeraKa94

Namaku Kimira Janetha Usia 32 tahun. aku seorang Aktris sekaligus seorang ibu. dari Seorang putri yang bernama Quensha Almahira yang biasa kami panggil Queen..

selama lima tahun aku percaya pada satu hal. yaitu Tentang kesetiaan. setia pada Keenan Jeremi. Suamiku. pernikahan yang ku bangun dari nol ternyata kesetiaan itu hanya milikku sendiri.

malam itu harusnya jadi malam kepulangan yang indah bagiku. aku pulang lebih cepat dari lokasi syuting sambil membawa kue ulang tahun pernikahan kami yang ke-5 tahun. namun yang ku temukan bukan pelukan atau senyuman. dua tubuh telanjang bulat diatas ranjangku. ya mereka adalah Keenan Jeremi suamiku, dan Clara Adellia Sahabatku.

seketika darahku langsung mendidih. tanpa pikir panjang aku langsung jambak rambut panjang Clara. hingga dia terjungkal.

plak
plak
plak

"Dasar pelacur murahan! beraninya Kamu mengotori ranjangku! " teriaku murka, marah.

pisau lancip dari sakuku langsung melayang. dan menggores pipi Clara.

Cring

Zzzzzrrkkk

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AmeeraKa94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 9 Denyut Di hujan

Hujan turun sejak sore. Rintiknya nggak deras, tapi nggak berhenti juga. Kayak sengaja mau basahin semua isi kota.

Di dalam kamar utama rumah besar itu, lampunya temaram. Cuma lampu meja yang nyala. Suasananya sunyi. Cuma ada suara hujan dari luar dan suara napas pelan dari atas ranjang.

Arsen duduk di sofa kulit dekat jendela. Jas hitamnya udah dilepas, dilempar sembarangan ke kursi. Kemeja putihnya basah di bagian lengan. Rambutnya masih agak lembap.

Tapi dia nggak peduli.

Sejak tadi, matanya nggak lepas dari ranjang kingsize.

Netha. Terbaring di situ. Pucat. Bibirnya agak biru. Napasnya pendek tapi stabil. Selimut tebal nutupin dia sampai dada. Dan di sela pelukannya, jas Arsen masih dia genggam erat. Kayak takut kalau dilepas, dia bakal jatuh lagi.

Sudah hampir 4 jam sejak dia pingsan di pelukan Arsen di parkiran belakang gedung launching. Dokter pribadi yang dia panggil 2 jam lalu bilang: syok berat, kelelahan, dehidrasi, sama hipotermia ringan karena kehujanan dan ketakutan. Nggak ada luka luar. Cuma harus dijaga suhu tubuhnya dan dikasih cairan.

`Tapi kenapa gue nggak bisa tenang?`

Arsen narik napas panjang. Tangannya masuk ke kantong celana. Posturnya kaku. Kayak satpam yang takut ninggalin posnya sedetik aja.

Ceklek.

Pintu kebuka pelan. Hati-hati. Nggak ada suara engsel.

Masuklah seorang wanita tua. Rambutnya putih semua, disanggul rapi ke belakang. Wajahnya masih cantik, kulitnya kencang walau udah kepala tujuh. Anggun. Wibawa yang nggak bisa dibeli.

Rita. Mama kandung Arsen. Sekaligus mama sambung Anggit, mama kandung Keenan. Dan juga mama mertua Netha.

"Belum bangun juga dia?" tanya Rita pelan. Suaranya tenang. Kayak udah nebak dari awal.

Arsen langsung noleh. "Belum, Ma."

Rita jalan pelan ke sisi ranjang. Tangannya nyentuh jidat Netha sebentar. Ngecek suhu. Terus dia geser selimutnya dikit biar nggak nutupin dagu Netha. Biar napasnya lega.

"Kasihan," gumam Rita. "Badan sekecil ini, tapi bebannya kebanyakan."

Arsen diem. Nggak nyaut. Rahangnya ngeras.

Rita duduk di tepi ranjang. Jaga jarak. Nggak nyentuh Netha lebih dari sekadar ngecek.

"Kamu dari tadi nggak geser dari situ, ya?" tanyanya lagi. Matanya ngelirik ke Arsen.

Arsen garuk tengkuk. "aku.. nggak bisa ninggalin dia, Ma."

"Nggak bisa, atau nggak mau?" Rita ngeledek halus. Tapi matanya nggak ketawa.

"Ma..." Arsen berdecak. "Apaan sih."

Rita malah kekeh. "Ya siapa tau. Soalnya dari tadi mata kamu nggak lepas dari dia. Padahal itu istri keponakan kamu sendiri, lho. Harusnya kamu panggil ambulans, terus pulang. Bukan dibawa ke kamar kamu."

Kalimat itu nusuk. Tapi Arsen cuma bisa buang napas kasar lewat hidung.

"Ckkk... Mama nggak lucu," protesnya pelan. Kupingnya merah.

Rita makin jadi. "Ya makanya buruan nikah, Sen. Biar ada yang halal buat kamu tatapin seharian. Nggak usah nebeng tatap punya orang."

"Argh... Mama nggak usah mulai, deh," keluh Arsen. Wajahnya makin merah kayak kepiting rebus.

Rita nunduk. Ngerapihin rambut Netha yang masih agak basah kena air hujan. Jarinya hati-hati. "Gimana kalau besok Mama kenalin kamu sama anaknya temen Mama? Gadis, 32 tahun, dokter anak. Cantik. Keluarga baik-baik. Sholehah juga."

"Enggak, Ma," tolak Arsen cepet. Tanpa mikir sedetik pun.

"Lhoh kenapa? Ditawarin jodoh kok nolak," Rita pura-pura kaget. Tangannya berhenti gerak.

"Terserah Mama deh," Arsen ngalah. Dia ngacak-ngacak rambutnya sendiri. Frustasi. "Bahas apa aja, Ma. Jangan itu."

Rita diem sebentar. Terus dia natap Arsen dalam-dalam. Tatapan mama yang udah ngelahirin dan ngerti isi kepala anaknya.

"Mama jadi curiga sama kamu," kata Rita pelan.

Arsen noleh. Alisnya nyatu. "Curiga apa?"

"Kamu udah punya pacar? Atau... lagi nungguin jandanya seseorang?" Rita sengaja gantung kalimatnya. Matanya lirik sekilas ke Netha. Cepet banget. Tapi Arsen ngeh.

"Astaga... Mama," Arsen langsung nepuk jidatnya. "Kenapa sih bisa kepikiran ke situ?"

"Ya kan Mama cuma nanya," Rita nyengir. "Siapa tau bener. Eh ternyata salah, ya?"

"Ya jelas salah lah, Ma," Arsen ngomel. Nadanya defensif banget. "Mana mungkin Arsen suka sama istri orang. Apalagi istri Keenan. Ponakan sendiri. Gila kali."

"Lhoh... Mama nggak bilang kamu suka sama istri Keenan kok," Rita makin semangat menggoda. "Mama bilang 'jandanya seseorang'. Kamu sendiri yang nyambungin ke Netha."

Arsen langsung diem. Kena. Mentalnya kena telak. Dia nggak bisa jawab.

"Terus maksudnya apa?" Rita kejar. "Kok kamu bisa mikir ke arah situ? Hayo... ada yang kamu sembunyiin, ya?"

"Pusing aku Ma," Arsen nyerah. Dia jalan ke jendela. Nyender. Liatin hujan. Punggungnya ke Mama. "Terserah Mama mau mikir apa."

Rita ketawa kecil. Tangannya nepuk sofa di sebelahnya. "Sini, duduk. Mama mau ngomong serius."

Arsen nurut. Duduk di sofa, tapi agak jauh dari Mama. Jaga jarak.

Rita ngeliatin wajah putranya. "Dengar, Nak. Mama tau kamu lagi mikir apa. Mama ini udah hidup 70 tahun. Udah liat macem-macem."

Arsen gugup. "Ma... maksud Mama?"

"Kamu boleh jatuh cinta sama siapa aja," suara Rita melembut. "Mau dia janda, gadis, dari keluarga mana pun, beda kasta, beda agama sekalipun. Asal dia baik, tulus, dan bikin kamu bahagia... Mama terima dengan tangan terbuka."

Arsen diem. Nunggu sambungannya. Jantungnya deg-degan.

"Tapi Mama minta satu hal," lanjut Rita. Nada suaranya berubah. Lebih berat. Lebih dalam. "Kamu nggak boleh jatuh cinta sama wanita yang udah bersuami. Apalagi wanita itu... istri sah keponakan kamu sendiri."

Hening. Cuma suara hujan yang jadi saksi.

Arsen ketawa. Ketawa kaku. Dipaksa. "Hahaha... Mama. Becandanya nggak lucu banget."

"Mama nggak becanda, Sen," Rita serius. Tatapannya tajam. "Mama serius."

"Ya kali, Ma. Arsen sebodoh itu?" Arsen geleng-geleng. "Kayak nggak ada perempuan lain aja di dunia ini selain istri Keenan. Mama... ada-ada aja."

Rita narik napas lega. Bahunya turun. Entah lega karena Arsen nggak ngaku, atau lega karena kecurigaannya selama ini salah.

Selama ini dia nggak pernah akur sama Anggit. Karena anggit anak tiri Rita dengan alm suaminya.yudhistira menikahi Rita status dua anak satu yaitu anggit mamanya keenan.

Hubungan mereka dingin kayak es. Dan dia nggak mau nambah masalah gara-gara putranya sendiri punya perasaan ke menantu Anggit. Itu bakal jadi perang dunia ketiga di rumah ini.

"Inget ya, Sen," kata Rita terakhir. Pelan tapi nusuk. "Mama nggak mau kamu bertindak lebih jauh sampai bikin Kakak kamu Anggit makin benci Mama dan kamu. Kita udah cukup jadi orang luar di keluarga ini."

Arsen ngangguk. Kaku. "Iya, Ma."

Rita berdiri. Jalan ke pintu. Sebelum keluar, dia berhenti sebentar. Punggungnya ke Arsen.

"Jaga dia baik-baik. Tapi jaga hati kamu juga," bisik Rita. Terus dia keluar. Ceklek.

Tinggal Arsen sama Netha.

Arsen nyender lagi ke dinding. Kepala nempel ke tembok. Matanya merem sebentar. Capek. Tapi otaknya nggak bisa diem.

Tapi begitu denger Netha gerak dikit di ranjang, matanya langsung kebuka lagi.

"Tha?" panggilnya pelan. Hati-hati.

Nggak ada jawaban. Netha masih merem. Tapi alisnya nyatu. Bibirnya komat-kamit. Kayak lagi mimpi buruk.

Arsen reflek bangun. Duduk di tepi ranjang. Nggak nyentuh. Cuma natap dari jarak 20cm.

"Nggak apa-apa. Kamu aman di sini," bisiknya. Entah ke Netha, atau ke dirinya sendiri buat nenangin diri.

Tiba-tiba HP di meja nakas getar. Layarnya nyala. Nama `Inka - Asisten Netha` muncul.

Arsen angkat. Suaranya diturunin. "Halo?"

"Pak Arsen... Mbak Netha di mana?" suara Inka panik di seberang. Kedengeran berisik, kayak di lokasi syuting. "Dari tadi nggak ada kabar. Saya udah cari ke parkiran belakang, nggak ada. Terus HP Mbak Netha juga nggak aktif. Saya takut, Pak."

Arsen narik napas. "Tenang. Dia sama saya. Aman. Tadi dia pingsan di belakang gedung. Ada orang mau nyerang dia pake pisau."

Inka langsung teriak kecil. "Astaghfirullah! Terus sekarang Mbak Netha di mana, Pak? Keadaannya gimana?"

"Di rumah saya. Dokter udah periksa. Bilangnya cuma shock sama kecapekan," jelas Arsen. Suaranya datar, tapi tenang. Meyakinkan. "Nanti kalau udah sadar, saya kabarin kamu. Jangan khawatir."

"Oke, Pak. Makasih banyak, Pak," Inka lega. Napasnya kedengeran. "Saya izin nggak bilang ke Mas Keenan dulu ya, Pak? Takut dia panik. Apalagi dia lagi nggak enak badan juga katanya."

Arsen diem 2 detik. Otaknya mikir cepet. "Iya. Jangan dulu. Biar dia istirahat juga."

Tut.

Telpon mati.

Arsen naruh HP. Tangan dia gemetar dikit. Bukan karena takut. Tapi karena dia baru aja bohong. Ngebiarin Keenan nggak tau. Demi siapa? Dia nggak tau juga.

Dia duduk lagi. Ngambilin air putih di gelas. Nyoba ngasih ke Netha pake sendok kecil. Tapi bibir Netha rapat. Nggak bisa.

"Tha... minum dikit," bisik Arsen. Tapi Netha nggak respon. Tetep merem.

Akhirnya dia nyerah. Naruh gelas lagi. Tangannya malah ngusap pipi Netha pelan. Dingin. Kasar. Tapi hati-hati banget.

`Gue kenapa? Kenapa gue setakut ini?`

Pikiran Arsen berantakan. 40 tahun hidup, dia nggak pernah segugup ini. Nggak pernah setakut ini kehilangan seseorang. Bahkan waktu perusahaannya mau bangkrut dulu, dia nggak segini.

Pintu kebuka lagi. Kali ini tanpa suara. Rita bawa nampan. Isinya bubur anget, teh manis, sama obat penurun panas.

"Kamu dari tadi belum makan," kata Rita sambil naruh nampan di meja. "Makan dulu. Nggak ada gunanya kamu tumbang juga. Siapa yang jagain dia kalau kamu sakit?"

Arsen geleng. "Nggak nafsu, Ma."

"Ya ampun," Rita duduk di kursi. "Kamu ini... Udah sana. Makan. Mama yang jagain dia. Kamu istirahat 1 jam aja."

"aku nggak bisa tidur, Ma," Arsen jujur. Matanya merah. "aku takut... kalau dia kenapa-kenapa pas aku merem."

Rita diem. Terus senyum sedih. "Kamu kenapa, Nak?"

Arsen nggak jawab. Dia malah ngambil sendok. Nyuapin dirinya sendiri. Mekanis. Nggak kerasa. Kayak robot.

Rita ngeliatin. "Mama nggak maksa kamu cerita. Tapi Mama tau... kamu berubah sejak dia datang ke keluarga ini."

Arsen berhenti nyuap. Sendoknya di tengah jalan. "Berubah gimana?"

"Dulu kamu dingin. Nggak peduli siapa-siapa selain kerja dan bisnis," Rita jawab. "Sekarang... kamu takut. Dan takut itu cuma muncul kalau ada sesuatu yang kamu sayang. Sesuatu yang kamu nggak mau kehilangan."

Arsen naruh sendok. "Ma... udah. Jangan diterusin."

Rita nggak maksa. Dia cuma ngambil kain basah. Ngekompres jidat Netha pelan-pelan. Lembut.

"Anak ini... kasihan," gumam Rita. "Mertua nggak pernah sayang. Suami cuek. Kerja keras banting tulang. Tapi tetep senyum depan kamera. Tega banget."

Arsen ngeliatin Mama. Terus ngeliatin Netha.

`Iya. Dia kasihan. Tapi dia kuat. Lebih kuat dari gue.`

Jam udah nunjukin jam 1 pagi. Hujan masih rintik di luar.

Rita ngantuk. Matanya udah setengah merem. "Udah, Mama kalau mau tidur ti dulu. Kamu juga istirahat ya. Mama percaya kamu bisa jaga dia."

Arsen angguk. "Iya, Ma."

Rita keluar. Tinggal Arsen lagi.

Dia jalan ke sofa. Rebahan. Tapi nggak merem. Matanya tetep ke ranjang. Ngawasin dada Netha yang naik-turun.

Tengah malam. Netha tiba-tiba gerak. Alisnya nyatu. Bibirnya komat-kamit. Napasnya jadi pendek-pendek.

"Jangan... jangan... Mas... tolong..."

Arsen langsung bangun. Deketin ranjang. "Tha? Tha, bangun. Kamu mimpi."

Netha keringetan. Badannya panas. Demam.

Arsen panik. Dia pencet bel di samping ranjang. Dalam 2 menit, perawat pribadi yang standby di rumah datang. Masih pake baju tidur.

"Demamnya naik, Pak. 39.2," kata perawat sambil pasang termometer digital. "Kemungkinan efek shock tadi siang."

"Kasih obat penurun panasnya. Sekarang," perintah Arsen. Suaranya udah nggak tenang lagi. Ada panik.

Perawat nurut. Ngebasahin handuk, ngompres ketiak Netha. Masang infus.

Arsen duduk di samping ranjang. Tangan dia genggam tangan Netha. Kenceng. Tapi nggak nyakitin.

"Tha... gue di sini. Nggak kemana-mana," bisik Arsen. "Lawan ya. Kamu kuat. Kamu harus kuat."

Netha nggak jawab. Tapi genggamannya... ngebales. Lemah. Tapi ngebales.

Arsen kaget. Matanya melek lebar.

`Dia denger gue? Dia sadar?`

Sekitar 30 menit kemudian, demam Netha turun. Ke 38.1. Napasnya lebih teratur. Wajahnya nggak sepucat tadi.

Perawat pamit. "Udah aman, Pak. Tinggal dijaga suhunya aja. Kalau naik lagi, panggil saya."

Arsen angguk. "Makasih, Mbak."

Begitu pintu ketutup, Arsen lepas genggaman Netha pelan. Tapi Netha malah narik balik. Nggak mau lepas.

Arsen diem. Terus dia senyum. Senyum kecil. Pertama kali sejak sore tadi.

Dia duduk lagi di sofa. Tapi kali ini nggak jauh. Dekat ranjang. Biar kalau Netha butuh apa-apa, dia langsung denger.

Malam makin larut. Hujan udah berhenti. Tinggal suara jangkrik dari luar.

Arsen merem. Tapi nggak tidur beneran. Setengah sadar. Setengah jagain.

Di ranjang, Netha mengerang pelan. "Air..."

Arsen langsung melek. Ambil gelas. Nyuapin Netha pelan. Kali ini Netha bisa minum. Walau cuma seteguk.

"Makasih..." suara Netha serak. Matanya masih merem rapat.

Arsen kaget. "Tha? Kamu sadar?"

Nggak ada jawaban. Tapi sudut bibir Netha naik dikit. Terus dia merem lagi. Tidur beneran.

Arsen diem. Jantungnya deg-degan nggak jelas.

`Dia... senyum ke gue? Atau cuma mimpi?`

Dia tarik selimut Netha lagi. Rapiin. Terus dia duduk di sofa. Kali ini beneran merem. Tapi tangannya masih deket ranjang.

Tapi sebelum tidur, dia bisik pelan. Cuma buat dirinya sendiri. Suaranya nggak kedengeran sama siapa-siapa.

"Gue nggak tau ini benar atau salah, Tha. Tapi malam ini... gue cuma mau kamu selamat. Itu aja."

Fajar nyingsing. Langit terang pelan-pelan. Warna oranye masuk dari celah gorden.

Arsen kebangun karena suara langkah kaki.

Rita masuk bawa nampan lagi. Bubur ayam anget. "Masih belum bangun?"

Arsen geleng. "Belum, Ma. Tapi demamnya udah turun."

Rita duduk. "Syukur. Berarti dia kuat."

Mereka berdua diem. Jagain Netha bareng. Nggak ada yang ngomong. Cuma suara sendok ketemu mangkok.

Sampai jam 9 pagi, Netha masih merem. Napasnya teratur. Tapi belum buka mata.

"Udah, kamu mandi dulu, Sen," kata Rita. "Muka kamu kusut. Nanti kalau dia bangun, liat kamu kayak gelandangan."

Arsen ngaca. Bener juga. Dia jalan ke kamar mandi di dalam kamar.

15 menit kemudian dia keluar. Segar. Tapi matanya tetep ke Netha.

"Ma, mama ke bawah dulu," kata Arsen. "biar Arsen yang jagain di sini."

Rita angguk. "Oke. Panggil kalau ada apa-apa."

Pintu ketutup lagi.

Arsen duduk di kursi. Ngeliatin Netha. Jemarinya mainin ujung selimut Netha.

`Gue harus ngomong apa ke Keenan nanti?`

`Gue harus jelasin apa ke Anggit kalau dia tau?`

`Dan... gue harus ngapain sama perasaan gue sendiri?`

Pertanyaan itu muter di kepala Arsen. Nggak ada jawaban.

Di ranjang, Netha masih merem. Tapi kali ini... alisnya nggak nyatu lagi. Wajahnya lebih tenang.

Arsen senyum kecil. Lega.

"Selamat tidur, Tha," bisiknya. "Mimpi yang bagus ya."

To be continued...

1
Anwar Ghazi
bagus cerita nya
fanny tedjo pramono
semangat update ditunggu guys
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!