Takahiro, seorang pemuda yang gemar bermain gim dan menghabiskan sebagian besar waktunya mengurung diri di kamar, suatu hari tanpa sengaja tersesat ke dalam dunia gim yang sedang ia mainkan.
Di dunia lain yang bernama Terrovia, Takahiro memulai kehidupan barunya sebagai manusia biasa yang tidak memiliki kekuatan sihir.
Berbekal pengetahuan yang ia peroleh dari dunia modern, ia membantu para petani di Desa Veria dan berjuang tanpa kenal lelah untuk memperbaiki kehidupan orang-orang yang tengah dilanda kesulitan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saiful Bachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali Hangat
Angin malam Desa Veria kembali berembus dingin, menyapu area persawahan yang sunyi. Setelah keputusan mutlak untuk menanam ulang disepakati, Takahiro dan ketiga gadis itu beranjak pergi meninggalkan petak lahan yang gagal panen tersebut.
Mereka berjalan beriringan menyusuri galengan, saling menjaga jarak agar tak ada lagi insiden terpeleset. Vyora memimpin di depan, disusul Uchi yang kini diapit ketat oleh Cate di urutan ketiga. Takahiro, dengan langkah yang masih sedikit tertatih, mengekor di posisi paling buncit.
Pemuda berambut putih itu menatap punggung ketiga gadis di depannya dengan pandangan kosong. Pemandangan kawan-kawan yang berjalan beriringan di bawah langit malam ini tanpa sadar menarik paksa ingatannya ke dunia asal—kepada momen-momen hangat perjalanan pulang bersama sahabat lamanya.
Sesekali, saat wajahnya mendongak menatap kanvas gelap bertabur bintang, bibirnya bergerak merapalkan gumaman lirih.
'Semuanya... aku rindu sama kalian!'
Tanpa ia sadari, pertahanannya runtuh. Setetes air mata meluncur bebas tanpa suara, melewati pipinya dan meresap ke dalam serat kain perban yang membalut lukanya.
Cate, yang berjalan tepat di depan pemuda itu, tak sengaja menangkap suara isak yang tertahan. Ekor matanya melirik ke belakang dengan dahi berkerut. 'Dia kenapa?' batinnya heran.
Namun, niatnya untuk bertanya ia telan kembali. Cate memilih bungkam untuk sementara waktu, mengira pemuda itu sedang berusaha mempertahankan sisa harga dirinya.
Selang beberapa detik, saat Cate bertingkah seolah tak memedulikan orang di belakangnya, indra pendengarannya justru makin jelas menangkap getaran napas pemuda itu yang tersengal menahan tangis.
Tanpa aba-aba dari Vyora yang memimpin di depan, Cate mendadak mengerem langkah kakinya.
Takahiro yang sedang kalut dalam lamunannya sama sekali tak melihat pergerakan itu. Ia tak sempat menghindar.
Bruk!
Tubuhnya menabrak punggung putri sulung Joe itu lumayan keras, sampai-sampai tubuh Cate terdorong maju satu langkah.
Sambil mengusap hidungnya yang terbentur, Takahiro menatap punggung Cate dengan bingung. Suaranya yang masih bergetar sisa kesedihan pun keluar.
"Kenapa tiba-tiba—"
Belum sempat Takahiro menyelesaikan kalimatnya, Cate memutar tubuh seratus delapan puluh derajat. Ia menghela napas panjang layaknya orang dewasa yang sedang menghadapi anak kecil nakal.
"Berhentilah menangis!" tegur Cate cepat, kedua tangannya refleks bertumpu di pinggang.
Teguran telak itu membuat Takahiro gelagapan. Tangannya buru-buru menyeka sudut mata, berusaha mati-matian memasang wajah datar untuk menutupi apa yang baru saja ia lakukan.
"Nggak," jawabnya cepat namun gugup, tingkahnya jadi serba salah. "Aku sama sekali nggak nangis!"
Melihat gengsi pemuda itu, postur Cate seketika berubah. Tangannya turun dari pinggang, lalu bersendekap di depan dada.
Ia menutup sebelah matanya, mendadak memasang raut wajah sok bijak bak seorang peramal yang paham betul akar penderitaan umat manusia.
"Semua akibat pasti ada sebabnya," tuturnya, suaranya sengaja dibuat selembut dan sedramatis mungkin. "Aku tahu kamu masih menahan sakit, jadi... berhentilah menangis."
Otak Takahiro blank. Ia sama sekali tak bisa mencerna apa korelasi antara rindu teman-teman dengan ucapan absurd Cate barusan. Wajahnya berkerut pusing melihat tingkah gadis berambut merah itu.
Malas meladeni hal yang tak ia mengerti, Takahiro memilih melengos. Selagi Cate masih menutup matanya meresapi peran sok puitis itu, Takahiro melangkah melewatinya begitu saja.
"Setelah kita tiba di rumah Vyora, aku janji. Aku—"
Kalimat Cate menggantung di udara. Begitu ia membuka mata, pemuda yang sedari tadi diajak bicara sudah lenyap dari hadapannya.
Ekspresi sok bijaknya seketika hancur lebur, berganti dengan urat kekesalan yang tercetak jelas di dahi. Ia memutar tubuhnya cepat, menatap punggung Takahiro yang melenggang santai melewatinya.
"Kau...!" teriak Cate emosi. "Berani-beraninya mengabaikanku."
Takahiro tetap tuli. Ia terus melanjutkan langkah seolah tak terjadi apa-apa.
Di barisan paling depan, Vyora dan Uchi yang mendengar teriakan itu melirik dari bahu mereka. Menikmati tontonan konyol tersebut, Vyora angkat suara untuk mencairkan suasana dengan nada santai.
"Hei, pemuda genius," sapa Vyora berteriak ke belakang. "Abaikan saja dia. Nanti juga sembuh sendiri, kok."
Mendengar ejekan Vyora yang seolah menabur garam di atas lukanya, darah Cate makin mendidih. Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, mengepalkan jemarinya erat-erat hingga buku-buku tangannya memerah.
***
Meninggalkan area persawahan yang pekat dan berangin, rombongan kecil itu akhirnya tiba di lokasi tujuan.
Tak ada arsitektur megah peninggalan bangsawan di sini. Vyora memperkenalkan rumahnya yang bersahaja—sebuah bangunan berdinding tanah liat kering yang menguarkan aroma khas pedesaan. Ia berbalik menghadap teman-temannya untuk memberi sambutan.
"Selamat datang di rumahku," tuturnya riang, kedua tangannya terentang bangga. "Rumah kesayangan—"
"Vyora, nggak usah banyak drama," timpal Cate cepat, memotong kalimat tuan rumah. Tangan gadis itu sibuk menepuk-nepuk leher dan lengannya yang bentol. "Tubuhku udah nggak tahan lagi, nih!"
Penderitaan Cate diam-amini oleh Uchi dan Takahiro. Sejak tadi, telinga mereka berdengung hebat diserang invasi nyamuk kebun yang kelaparan.
Melihat ketiga tamunya tersiksa dan menari-nari menampar nyamuk, Vyora tak membuang waktu lagi. Ia mendengus pelan, berbalik, dan mendorong pintu rumahnya.
"Silakan," katanya singkat.
Begitu pintu terbuka, pemandangan pertama yang tersaji adalah sepasang suami istri paruh baya di ruang tengah.
Keduanya sedang asyik menggerogoti jagung rebus malam. Pasangan itu melongo, tak menyangka putri mereka pulang larut malam dengan membawa gerombolan tamu tak diundang.
"Ayah, Ibu, perkenalan. Ini—"
Belum sempat Vyora menuntaskan perkenalannya, sang ibu buru-buru meletakkan jagung sisa gigitannya ke atas piring tanah liat.
Wanita itu bangkit, mengabaikan eksistensi putrinya sepenuhnya, dan langsung berjalan menghampiri Cate dengan mata berbinar.
"Ara, Cate-chan," sapanya dengan nada selembut sutra.
Saat ibunya melintas begitu saja di hadapannya, Vyora hanya bisa berdiri mematung dengan mulut setengah terbuka.
"Ayo masuk," lanjut ibunya. Wanita itu meraih tangan kanan Cate dan menariknya ke ruang tengah, membiarkan Uchi dan Takahiro mematung canggung di ambang pintu bagai patung penjaga.
Di saat bersamaan, ayah Vyora tak tinggal diam. Pria itu bergegas membereskan sisa jagung dan meja yang berantakan, membawanya ke dapur untuk diganti dengan suguhan yang lebih layak.
Meski tak mendapat sambutan karpet merah layaknya Cate, Uchi dan Takahiro memutuskan melangkah masuk tanpa disuruh, lalu merapatkan pintu agar nyamuk tak ikut berpesta di dalam.
Sebagai pemuda yang tumbuh dengan tata krama modern, bibir Takahiro refleks menggumamkan sesuatu. "Maaf mengganggu," ucapnya lirih.
Bunyi klik dari palang pintu kayu berpadu dengan gumaman Takahiro sukses menarik perhatian ibu Vyora. Wanita itu menoleh, dan matanya seketika membulat. Ia baru menyadari ada dua anak manusia lain yang ia terlantarkan.
Refleks, ia bangkit dari duduknya dan bergegas menghampiri Uchi dan Takahiro.
"Ya ampun, Vyora... kalau kamu bawa tamu, harusnya bilang dong sama ibu."
Vyora makin tak habis pikir. Ia hanya bisa menggaruk belakang kepalanya yang sama sekali tak gatal, menyerah pada kelogisan ibunya.
Sama seperti yang ia lakukan pada Cate, ibu Vyora kini meraih tangan Uchi dan Takahiro bersamaan, menuntun mereka untuk segera duduk di lincak kayu.
"Ayo masuk. Jangan sungkan, anggap saja rumah sendiri."
Dalam sekejap, rumah berbahan tanah liat yang biasanya hening bak tak bernyawa itu, kini dipenuhi oleh derai napas dan obrolan.
Di sela-kesibukannya menjamu tamu, sang ibu menatap wajah-wajah muda di ruang tengahnya. Sebersit haru menyelinap di dada wanita paruh baya itu.
Sudah lama sekali ia tidak merasakan atmosfer sehangat ini di dalam rumah. Sejak anak pertamanya—kakak Vyora—pergi merantau, kekosongan selalu menghantui hatinya.
Rasa rindu itu tak pernah padam, ia hanya bisa terus melangitkan doa agar Tuhan menjaga kesehatan anak pertamanya.
Namun setidaknya untuk malam ini, kehadiran teman-teman Vyora berhasil mengisi kembali ruang kosong di hatinya dengan kehangatan yang amat ia rindukan.