Kirana, seorang gadis yatim-piatu yang berakhir di bekerja di tempat seorang Tuan Muda dunia bawah yang terkenal dingin dan kejam, Derandra Arseto. Namun begitu, sebuah obsesi di hati Kirana seakan terpancing oleh sebuah tantangan baru...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yann_Story, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali Bertemu Sang Iblis Dingin
Dua hari setelah wawancara akhir, sebuah surat resmi dengan logo naga perak tiba di kosan Kirana. Ia dinyatakan lulus sebagai peringkat pertama dan diminta untuk segera datang ke kediaman Arseto keesokan paginya dengan membawa barang-barang pribadinya.
Pagi itu, sebuah mobil sedan hitam menjemput Kirana dan dua gadis lainnya yang lolos seleksi—Sinta, seorang gadis pemalu dari desa, dan mawar, gadis kota yang tampak ambisius namun selalu terlihat gugup. Mobil melaju meninggalkan pusat kota yang bising, mendaki jalanan beraspal mulus menuju kawasan Bukit Permai yang asri dan sejuk.
Ketika mobil melewati gerbang besi raksasa setinggi empat meter yang dijaga oleh beberapa pria bersenjata api tersembunyi di balik jas mereka, Kirana tahu ia telah resmi memasuki dunia yang berbeda. Kompleks kediaman Arseto lebih mirip sebuah kastel modern.
Halaman rumput hijau membentang luas, dihiasi dengan air mancur marmer kuno, dan di tengahnya berdiri megah sebuah rumah agam bergaya arsitektur Eropa klasik berpadu modernitas dengan dinding kaca besar.
Mereka bertiga dibawa masuk melalui pintu samping menuju ruang pengarahan pelayan. Ibu Maya sudah menunggu di sana dengan seragam pelayan baru yang harus mereka kenakan—sebuah gaun hitam selutut dengan apron putih bersih bermotif renda elegan di bagian pinggirnya.
"Mulai hari ini, hidup kalian adalah untuk melayani kediaman ini," tegas Ibu Maya saat mereka selesai berganti pakaian. "Kalian berdua, Sinta dan Mawar, akan ditempatkan di bagian dapur utama dan perawatan lantai dasar di bawah pengawasan asisten saya. Dan kamu, Kirana..." Ibu Maya menatap Kirana dalam-dalam. "Karena nilai ujianmu yang sempurna dan ketahanan mentalmu yang dinilai tinggi oleh tim psikolog, kamu ditugaskan langsung di lantai tiga. Lantai sayap barat."
Mendengar kata "lantai tiga sayap barat," Sinta dan Mawar tampak menelan ludah dengan wajah agak pucat. Kirana, berkat informasi yang ia kumpulkan di warung kopi pelabuhan dulu, tahu persis apa artinya itu. Lantai tiga sayap barat adalah area privat milik sang penguasa tunggal saat ini: Adrian Arseto.
"Tugasmu adalah merapikan kamar pribadi, ruang kerja, dan memastikan seluruh kebutuhan Tuan Muda Adrian terpenuhi setiap pagi dan malam," lanjut Ibu Maya dengan nada suara yang merendah, penuh peringatan. "Ingat satu hal, Kirana. Tuan Muda Adrian adalah pria yang sangat menyukai kesempurnaan dan keheningan..."
"Jangan pernah menyentuh barang-barang di meja kerjanya tanpa izin, jangan pernah berbicara kecuali ditanya, dan yang paling penting... jangan pernah membuat kesalahan sekecil apa pun jika kamu masih sayang dengan nyawamu. Apakah kamu mengerti?"
"Saya mengerti, Ibu Maya," jawab Kirana dengan nada patuh, namun di dalam dadanya, jantungnya menari kegirangan. Lantai tiga. Kamar pribadinya. Ini lebih baik dari yang kubayangkan, pikir Kirana dengan sifat nakalnya yang mulai bergejolak.
Sore harinya, tugas pertama Kirana dimulai. Ia diminta untuk mengantarkan secangkir kopi hitam tanpa gula dan beberapa dokumen bisnis yang baru tiba ke ruang kerja Adrian di lantai tiga.
Kirana berjalan menyusuri lorong lantai tiga yang sunyi. Lantai ini dilapisi karpet tebal berwarna merah marun yang meredam setiap suara langkah kaki. Dindingnya dihiasi oleh lukisan-lukisan klasik bernilai seni tinggi, menciptakan atmosfer yang elegan namun terasa berat dan mengintimidasi.
Ia berdiri di depan pintu kayu jati besar berukir naga. Kirana menarik napas dalam-dalam, menata ekspresi wajahnya, lalu mengetuk pintu tiga kali secara perlahan.
"Masuk," sebuah suara bariton yang berat, dingin, dan penuh wibawa terdengar dari dalam.
Kirana membuka pintu perlahan, melangkah masuk dengan nampan perak di tangannya. Ruang kerja itu sangat luas, didominasi oleh rak buku raksasa yang menjulang hingga ke langit-langit dan sebuah meja kerja besar dari kayu ek hitam di dekat jendela besar yang menampilkan pemandangan kota dari ketinggian.
Di balik meja itu, duduk sang pemilik ruangan. Adrian Arseto.
Pria itu sedang fokus menatap layar laptopnya, tangannya bergerak cepat memeriksa beberapa berkas. Ia mengenakan kemeja putih dengan kancing atas yang terbuka, memberikan kesan kasual namun tetap memancarkan aura dominasi yang kuat.
Umurnya memang baru dua puluh dua tahun—hanya terpaut dua tahun lebih tua dari Kirana—namun kematangan dan kekejaman yang tertoreh dari kerasnya persaingan dunia bawah membuat penampilannya tampak jauh lebih dewasa dan matang.
Kirana berjalan mendekat dengan langkah yang anggun, meletakkan cangkir kopi di sisi meja yang kosong dengan gerakan yang sangat halus tanpa menimbulkan bunyi sedikit pun.
"Kopi Anda, Tuan Muda," ujar Kirana dengan suara yang sengaja dilembutkan, namun tetap mempertahankan kejernihan yang memikat.
Mendengar suara yang tidak asing, gerakan tangan Adrian terhenti. Pria itu mengangkat kepalanya perlahan. Sepasang mata hitam kelam yang dingin itu kembali menatap Kirana.
Untuk beberapa detik, suasana ruangan menjadi sangat sunyi. Adrian menyipitkan matanya, meneliti wajah gadis pelayan baru di hadapannya. Sebagai seorang pria dengan ingatan fotografis yang tajam, ia tentu saja tidak lupa. Ini adalah gadis yang sama yang ia selamatkan di lorong gelap dua bulan lalu—gadis yang berani menatap matanya tanpa rasa takut.
Kirana, alih-alih menundukkan kepalanya seperti yang biasa dilakukan pelayan lain yang ketakutan di depan Adrian, justru menegakkan wajahnya. Ia melemparkan sebuah senyuman manis yang berani, matanya menatap langsung ke dalam manik mata Adrian dengan tatapan yang penuh arti, seolah berkata: Kita bertemu lagi, Tuan Muda.
Melihat kelancangan yang anggun itu, rahang Adrian tampak mengeras sedikit. Sifatnya yang dingin dan tegas membuatnya terbiasa ditakuti oleh semua orang, mulai dari pengusaha papan atas hingga pembunuh bayaran dunia bawah.
Namun, gadis pelayan kecil di hadapannya ini justru menatapnya dengan pandangan yang tidak memiliki rasa takut sama sekali—malah ada kilatan obsesi dan godaan yang tersirat di sana.
"Siapa yang menerimamu bekerja di sini?" tanya Adrian, suaranya terdengar seperti es yang bergesekan, sangat dingin dan mengintimidasi.
Kirana tidak mundur selangkah pun. Ia justru sedikit condong ke depan, meletakkan tangannya di depan apron dengan sopan namun gerakannya terlihat sensual secara halus. "Ibu Maya yang menerima saya setelah melewati proses seleksi, Tuan Muda. Dan saya sangat bersyukur... karena takdir ternyata membawa saya kembali ke hadapan pria yang telah menyelamatkan hidup saya malam itu."
Adrian menatap Kirana dalam-dalam, mencoba mencari celah ketakutan atau niat tersembunyi—seperti mata-mata dari keluarga musuh. Namun, kecerdasan Adrian menangkap bahwa gadis ini jujur. Ia tidak sedang memata-matai; gadis ini hanya... sangat berani dan tampak tertarik padanya dengan cara yang tidak biasa.
"Di rumah ini, pelayan yang terlalu banyak bicara tidak akan bertahan lama," ucap Adrian dengan nada mengancam yang pelan namun mematikan. "Keluar dari sini sebelum aku kehilangan kesabaran."
Kirana tidak terkejut atau sakit hati dengan pengusiran kasar itu. Sifat riang dan keras kepalanya justru menganggap ini sebagai awal dari sebuah permainan yang seru. Ia membungkuk hormat, memberikan senyuman terbaiknya yang paling menggoda.
"Baik, Tuan Muda. Selamat menikmati kopinya. Jika Anda membutuhkan... hal lain, saya selalu ada di luar," ujar Kirana dengan penekanan kata yang sedikit nakal sebelum berbalik dan berjalan keluar dengan langkah santai.
Di balik mejanya, Adrian memperhatikan punggung Kirana yang menghilang di balik pintu. Pria dingin itu terdiam sejenak, lalu pandangannya beralih ke cangkir kopi yang dibawa Kirana.
Tanpa sadar, Adrian meraih cangkir itu dan menyesapnya sedikit. Suhu dan kepekatan kopi itu... ternyata sangat pas dengan seleranya, sesuatu yang jarang bisa dilakukan oleh pelayan baru pada percobaan pertama.
Adrian meletakkan kembali cangkir itu, guratan tipis ketertarikan yang sangat samar melintas di wajah dinginnya, meskipun ia segera menepisnya dengan kembali fokus pada dokumen bisnisnya.