NovelToon NovelToon
CINTA DI UJUNG KONTRAK.

CINTA DI UJUNG KONTRAK.

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cintapertama / Romantis
Popularitas:28k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Bagi Davina, Barra adalah cinta pertama masa kecil yang tiba-tiba menghilang. Sepuluh tahun berlalu tanpa kabar, Barra kembali ke desa, bukan lagi sebagai pemuda hangat yang ia kenal, melainkan pria asing yang dingin. Tanpa basa-basi, Barra menyodorkan penawaran gila: pernikahan kontrak.

Demi membiayai pengobatan neneknya, Davina terpaksa setuju. Namun, berharap bahagia, hidupnya berubah menjadi mimpi buruk. Setelah menikah, Barra bersikap sangat kejam, hingga puncaknya pria itu pergi keluar negeri dan mengabaikannya selama dua tahun.

Saat masa kontrak hampir habis, Barra mendadak pulang. Anehnya, sikap pria itu berbalik 180 derajat menjadi sosok yang lembut, hangat, dan penuh perhatian, persis seperti Barra yang dulu ia cintai.

Perubahan drastis membuat Davina didera kecurigaan. Mengapa di saat kontrak akan berakhir, Barra justru ingin mempertahankannya? Rahasia besar apa yang sebenarnya disembunyikan Barra selama sepuluh tahun ini? Apa motif dibalik pernikahan kontrak mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

NYONYA BESAR DI KANTOR CEO

Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden kamar utama, memantulkan cahaya keemasan di atas sprei sutra yang sedikit berantakan. Davina mengerjap-erjap menyesuaikan cahaya, merasakan sebuah lengan kekar dan hangat memeluk pinggangnya dengan sangat posesif dari belakang. Begitu ia menoleh, wajah tampan Barra yang masih memejamkan mata dengan rapi menyambut pandangannya. Sisa-sisa keintiman semalam dan setelah subuh, seketika membuat pipi Davina kembali merona.

Davina melirik jam dinding. Angka sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Sontak, ia panik dan mencoba menggoyangkan lengan kokoh suaminya.

"Barra, bangun! Sudah jam delapan lewat!" seru Davina setengah berbisik sambil menepuk-nepuk punggung tangan Barra. "Kamu harus ke kantor hari ini. Kantor sudah kamu tinggalkan hampir dua minggu, Barra. Ferdi pasti sudah kelimpungan menghadapi tumpukan berkas."

Barra hanya bergumam tidak jelas, justru semakin mempererat pelukannya pada pinggang Davina, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher sang istri yang wangi. "Biarkan saja Ferdi. Dia digaji mahal untuk mengatasi hal-hal seperti itu, Vina. Lima menit lagi."

"Tidak ada lima menit lagi, Tuan Barra Alfarizi," ketus Davina, berusaha melepaskan diri dari kungkungan pelukan yang sekuat semen itu. "Hari ini masa cutiku dari redaksi juga sudah habis. Aku harus mulai masuk kerja, dan kamu juga harus memimpin perusahaanmu kembali. Ayo bangun!"

Mendengar kata 'masuk kerja' dari bibir Davina, sepasang mata elang Barra seketika terbuka sempurna. Pria itu bangkit bertumpu pada sikutnya, menatap Davina dengan kening yang mengernyit tidak suka.

"Masuk kerja? Ke redaksi Pak Renaldi lagi?" tanya Barra dengan nada suara yang mendadak protektif. "Tidak boleh. Aku tidak mengizinkanmu bekerja di sana lagi."

Davina mendengus, duduk di atas ranjang sambil menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. "Lho, kenapa begitu? Aku kan bekerja secara profesional, Barra. Kontrak pernikahan kita sudah dibakar, tapi kontrak kerjaku dengan redaksi masih berjalan."

Barra ikut duduk, menampilkan dada bidangnya yang atletis tanpa sehelai benang pun, membuat Davina buru-buru memalingkan wajahnya karena salah tingkah. Pria itu tersenyum jenaka melihat reaksi istrinya, lalu mencengkeram lembut dagu Davina agar kembali menatapnya.

"Kalau kamu mau bekerja, maka tempat kerjamu adalah di kantorku," putus Barra dengan nada diktatornya yang khas. "Aku tidak mau tahu. Aku baru akan pergi ke kantor hari ini jika kamu ikut bersamaku. Jika tidak, aku akan tetap di ranjang ini bersamamu seharian penuh."

"Barra, kamu kekanak-kanakan sekali, sih!" protes Davina, setengah geli sekaligus kesal melihat tingkat kebucinan suaminya yang sudah di luar nalar. Seorang CEO kejam yang ditakuti dunia bisnis, kini mogok kerja hanya karena ingin ditemani istrinya.

"Panggil saja aku kekanak-kanakan," sahut Barra santai sambil mengecup sekilas bibir Davina yang mengerucut. "Pilihannya hanya dua, Sayang. Kamu ikut ke kantorku sebagai Nyonya Alfarizi, atau kita melanjutkan kegiatan tadi di sini sampai malam lagi."

Melihat kilatan gairah yang kembali muncul di mata elang suaminya, Davina seketika bergidik kalah. Ia tahu betul Barra tidak pernah main-main dengan ucapannya. "Iya, iya! Aku mengalah! Aku ikut ke kantormu! Sekarang cepat mandi!"

Dua jam kemudian, mobil Rolls-Royce hitam milik Barra berhenti tepat di depan lobi utama gedung pencakar langit Alfarizi Group. Kehadiran mobil sang CEO tertinggi yang sudah dua Minggu menghilang itu langsung membuat seluruh petugas keamanan dan resepsionis berdiri dengan sikap siaga sempurna.

Pintu mobil dibuka oleh pengawal. Barra turun terlebih dahulu dengan setelan jas three piece hitamnya yang super mewah, memancarkan aura dingin dan dominasi yang mutlak. Namun, pemandangan berikutnya membuat seluruh staf di lobi terperangah hingga tak berani berkedip.

Barra berbalik, mengulurkan tangannya dengan sangat lembut dan penuh hormat untuk membantu seorang wanita berhijab anggun turun dari mobil. Wanita itu mengenakan tunik rajut premium sewarna moka dengan rok plisket yang senada, terlihat sangat bersahaja namun memancarkan kelas yang berbeda.

"Itu... bukankah itu Mbak Davina, jurnalis yang dua bulan lalu mewawancarai Pak Barra untuk majalah ekonomi?" bisik salah seorang resepsionis di balik meja marmer kepada rekannya.

"Eh, iya benar! Kenapa dia bisa turun dari mobil pribadi Pak Barra sambil pegangan tangan begitu?" sahut rekannya dengan mata membelalak tidak percaya.

Barra sama sekali tidak memedulikan kasak-kusuk yang mulai merayap di lantai dasar. Pria itu dengan sengaja melingkarkan lengan kirinya di pinggang ramping Davina, menuntun istrinya berjalan melewati jajaran karyawan yang membungkuk hormat sepanjang jalan menuju lift khusus CEO.

Davina yang merasakan ratusan pasang mata menatapnya dengan pandangan syok dan bertanya-tanya, hanya bisa menundukkan kepala sambil meremas pelan ujung jas Barra. "Barra, semua orang melihat kita. Mereka pasti kaget melihat jurnalis biasa tiba-tiba gandengan dengan bos mereka."

"Biarkan saja mereka kaget. Biar mereka tahu siapa pemilik sah dari hati bos mereka ini," balas Barra santai, memberikan senyuman tipis yang sangat langka di depan publik, membuat para karyawan wanita yang melihatnya hampir pingsan karena terpesona.

Ting!

Pintu lift khusus terbuka tepat di lantai paling atas, area eksekutif tempat ruangan Barra berada. Ferdi yang sudah berdiri siaga dengan setumpuk tablet dan map laporan di tangannya langsung melangkah maju begitu melihat pintu lift terbuka.

"Selamat pagi, Tuan Ba..." Kalimat Ferdi terputus seketika. Matanya melotot menatap tangan Barra yang masih mengunci pinggang Davina dengan sangat erat. Ferdi mengerjap-erjap, mengira dirinya sedang berhalusinasi akibat kurang tidur seminggu ini.

"Selamat pagi, Pak Ferdi," sapa Davina ramah dengan senyuman canggung karena merasa tidak enak.

Ferdi langsung membetulkan letak kacamata minusnya dengan canggung. "N-Nyonya Davina? Maksud saya, Nyonya Besar? Anda ikut ke kantor?"

"Istriku akan menemaniku bekerja di ruanganku mulai hari ini, Ferdi," titah Barra dengan nada dinginnya yang kembali keluar. "Siapkan meja kecil di samping meja kerjaku, dan bawakan teh melati hangat serta camilan manis untuknya sekarang juga."

"Baik, Tuan. Segera saya laksanakan," sahut Ferdi dengan sigap, meskipun di dalam hatinya ia berteriak histeris melihat transformasi bosnya yang kini sudah menjadi budak cinta tingkat akut.

Begitu mereka masuk ke dalam ruangan kantor CEO yang sangat luas dengan dinding kaca besar yang memperlihatkan pemandangan seluruh kota dari ketinggian, Davina langsung melepas rangkulan Barra. Ia berjalan mendekati dinding kaca dengan mata berbinar kekaguman.

"Wah, pemandangannya luar biasa dari sini, Barra," ujar Davina takjub.

Barra berjalan mendekat dari belakang, melingkarkan kedua lengannya di perut Davina lalu menumpukan dagunya di bahu istrinya dengan manja. "Semua gedung dan kota yang kamu lihat dari sini adalah milik Alfarizi Group, Vina. Dan mulai hari ini, semuanya juga menjadi milikmu."

Davina membalikkan badannya di dalam dekapan Barra, menatap mata suaminya dengan penuh cinta. "Aku tidak butuh semua gedung ini, Barra. Aku hanya butuh kamu yang selalu ada di sampingku, menjadwalkan salat subuh berjamaah kita, itu sudah cukup."

Barra tersenyum sangat tulus, merundukkan kepalanya untuk mengecup kening Davina dengan kelembutan yang mendalam. "Aku berjanji, Sayang. Mulai detik ini, tidak ada lagi jarak. Hanya ada aku dan kamu, selamanya."

Penyatuan cinta mereka yang kini telah bertransformasi dari sebuah keterpaksaan menjadi sebuah komitmen suci seumur hidup.

1
partini
ya elah yg bikin istri mu nangis ya kamu sendiri lah bara" gimana sih bego Banggt coba kamu dari awal bilang apa yg terjadi di luar negeri Ampe segitu lama lu diem aja aneh kamu ini OMG Dammm stupid ehhh malah nyalahin orang
Oma Gavin
kenapa bara ngga ngomong dari awal bahkan memecat maya malah menyimpan racun di perusahaan nya dasar goblok
Rohmi Yatun: iya ya.. harusnya cerita lbh dulu jadi sewaktu-waktu maya ksh tau Vina dia gak kaget.. iiihh bodoh banget sih bara..
total 1 replies
Marini Suhendar
d tgg bom nya bara
Oma Gavin
makanya menumpas hama jgn hanya setengah" basmi mereka tanpa sisa
Oma Gavin
wkwkwk usulan bodoh surya malah bikin barra makin marah goblok kok dipelihara surya... surya otak mu dipakai dikit jgn asal percaya sama asnita dan vera
Oma Gavin
mampusss kamu vera dan asnita udah jadi benalu aja belagu yg ada kamu dibuang kembali ke asal nya kere sampah
tiara
kasihan ferdi pekerjaanya bertambah banyak lagi sekarang
Lia siti marlia
akhirnya gooollll juga 😂
Lia siti marlia
otw unboxin dongggg😍😍🤗🤗
tiara
kakek sangat pengertian sekali,
Lia siti marlia
akhirnya semua sudah jelas davina kalau yang barra lakukan adalah untuk melindungimu semata 🤗🤗🤗
Lia siti marlia
untung nya kakek barra keburu datang 🤗🤗
Eliermswati
akhirnya tahta tertinggi d rmh Barra dtng😂q sk gy mu kakek badaaass kern😂😂😍smngt thor up nya
Lia siti marlia
kirain udah sampai masion mau unboxing eh malah ada aja gangguan sabar yah barra 🤗🤗🤗
tiara
Baru saja merasakan bahagia,cobaan sudah kembali datang menghampiri.semoga badai cepat berlalu
Lia siti marlia
lanjutkan barra davina 😍😍😍
Lia siti marlia
cie cie cie 😍😍😍😍
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
ElHi
🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!