Di saat teman sekelasnya dipanggil ke dunia lain sebagai Pahlawan dan memperoleh kemampuan legendaris, Haruto Mirakawa hanyalah korban yang ikut terseret.
Karena bukan bagian dari ritual pemanggilan, semua skill hebat sudah habis saat gilirannya tiba.
Yang tersisa hanya satu kemampuan biasa:
Shadow Tool.
Kemampuan untuk menciptakan satu alat dari bayangannya.
Bukan pedang suci.
Bukan sihir penghancur.
Hanya... alat.
Merasa bersalah, sang dewa memberinya berkah kecil untuk bertani dan sebuah tombak tua yang kemudian menyatu dengan skillnya.
Lalu Haruto dikirim ke tempat yang katanya tenang dan jauh dari perang.
Tempat itu ternyata adalah...
Hutan Kematian.
Di hutan yang ditakuti seluruh dunia, Haruto hanya ingin menjalani hidup santai, menanam sayur, membangun rumah, dan menikmati hari-harinya.
Namun sedikit demi sedikit, para monster cerdas, buronan, dan orang-orang yang kehilangan tempat pulang mulai berdatangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kūkyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Asap dari Hutan Kematian
Pagi hari di desa kecil Hutan Kematian bermula dengan rutinitas yang kini telah mendarah daging. Haruto melangkah keluar rumah, langsung menuju petak sawah dan kebun sayur untuk memeriksa perkembangan tanaman. Hasilnya luar biasa subur, bahkan terlalu subur. Sayuran menumpuk tinggi di sudut-sudut lumbung, dan cadangan beras hasil panen sebelumnya masih tertata rapi dalam karung-karung buatan seadanya.
Saat waktu makan siang tiba, Haruto akhirnya mengumpulkan seluruh warga desa di dekat dapur terbuka. Ia duduk di atas bangku kayu, menarik napas sejenak sebelum berbicara. "Kurasa kita punya masalah."
Seluruh warga yang tadinya duduk santai langsung menegang. Mira dan Fira secara refleks menggeser posisi tangan mereka ke arah senjata, mengira ada ancaman monster yang mendekat.
Haruto menunjuk tumpukan keranjang sayur di dekat lumbung. "Bukan monster. Masalahnya adalah... kita punya terlalu banyak makanan."
Luna mengerjap, menatap Haruto dengan kebingungan yang nyata. "Bukannya itu bagus, Haruto? Kenapa makanan banyak bisa jadi masalah?"
Haruto menjelaskan dengan sabar. Jika mereka terus menanam dan memanen tanpa ada mekanisme penyimpanan yang memadai atau konsumsi yang seimbang, hasil panen itu pada akhirnya hanya akan menumpuk, membusuk, dan terbuang sia-sia.
Brom, yang duduk di sebelah tungku, ikut mengangguk dan menambahkan, "Haruto benar. Kalau kita punya cukup garam atau teknik pengawetan, sebagian bisa diselamatkan. Tapi kita tidak punya garam untuk itu." Ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan, "Selain itu... kita juga butuh besi untuk membuat peralatan yang lebih besar."
"Bengkel lamaku di kota mungkin masih punya stok batangan besi," lanjut Brom dengan nada ragu. "Tapi... kemungkinannya kecil, dan tempat itu kemungkinan besar sudah dijarah."
Semua orang kembali terdiam. Suasana mendadak berat. Elara, yang duduk paling dekat dengan Haruto, merapatkan kedua tangannya di atas pangkuan lalu berkata pelan, "Berarti pada akhirnya... kita memang harus mulai berhubungan dengan dunia luar."
Tidak ada yang langsung menjawab. Kalimat itu menggantung di udara, berat dan penuh risiko. Semua orang tahu apa arti dunia luar bagi mereka—bahaya, konflik, dan ketidakpastian.
Jauh dari kedamaian Hutan Kematian, di balik puncak pegunungan timur yang tandus dan diselimuti kabut abadi, sebuah pos pengamatan militer berdiri kokoh. Di dalam menara batu yang gelap, seorang pengintai iblis sedang memegang batu sihir pantulan, mengarahkan pandangannya menembus jarak yang sangat jauh menuju wilayah Hutan Kematian—sebuah rutinitas harian yang membosankan.
Namun, hari ini ada yang berbeda. Ia melihat kepulan asap tipis.
Pikiran pengintai itu melayang kembali pada catatan-catatan lamanya, mengingat kembali hari-hari pertama anomali itu muncul di tempat terlarang tersebut.
Flashback...
Minggu pertama setelah anomali energi terdeteksi: Pengintai melihat kepulan asap kecil. Ia mengiranya hanya kebakaran hutan alami akibat sambaran petir liar. Ia memutuskan untuk mengabaikannya dan tidak melapor.
Minggu kedua: Asap itu muncul lagi, di titik yang sama, dengan pola yang lebih teratur. Ia mulai mencatatnya di atas lempengan batu kecil.
Sekitar sebulan kemudian: Sebagian kecil pepohonan di area tersebut mulai menghilang, digantikan oleh petak-petak lahan kosong yang tertata rapi. Pengintai mulai merasa curiga.
Beberapa hari setelahnya: Garis-garis rapi menyerupai sawah air mulai terlihat dari pantulan sihir pengintai. Ia mulai yakin, "Hutan itu perlahan berubah."
Menjelang bulan kedua: Asap dari tempat itu menjadi semakin tebal dan konstan—akibat Brom yang mulai menempa besi pertamanya.
End of Flashback
Pengintai itu segera mengemas catatannya, bergegas keluar dari menara, dan menuju pos komando utama di puncak gunung untuk melapor kepada atasannya.
Laporannya disampaikan dengan ringkas. "Ada aktivitas cerdas di dalam Hutan Kematian."
Komandan pos awalnya mengerutkan kening, menganggap laporan itu tidak masuk akal. Namun, setelah melihat catatan harian yang disusun hampir dua bulan penuh oleh si pengintai—yang menunjukkan pola pembangunan yang konsisten, keberadaan asap, pembukaan lahan, hingga tidak adanya tanda-tanda pergerakan monster besar di sekitar area tersebut—sang komandan mulai menganggapnya serius. Identitas penghuninya masih misterius, namun satu hal yang pasti: ini bukan lagi fenomena alam biasa.
Komandan mengambil keputusan cepat. "Ini bukan urusan pos perbatasan kita. Laporkan langsung ke Jenderal Perbatasan."
Di ruang kerjanya yang tenang di benteng pertahanan kerajaan iblis, Jenderal Vane—seorang perwira iblis senior yang dikenal karena ketenangan, pengalaman puluhan tahun, dan kehati-hatiannya—membaca laporan tebal tersebut. Ia duduk diam cukup lama, jemarinya mengetuk pelan meja kayu. Bagi Vane, Hutan Kematian bukanlah tempat bermain. Ia tahu betul betapa mematikan dan mengerikannya isi hutan tersebut.
Vane bergumam pelan pada dirinya sendiri, "Kalau itu kelompok manusia... mereka seharusnya sudah mati dimangsa monster sejak minggu pertama. Kalau itu kelompok monster... mereka tidak mungkin membangun sawah dan bertani."
Ia menutup laporan itu, lalu memutuskan satu hal. "Aku akan memastikannya sendiri."
Dua hari kemudian, Vane bersama satu orang ajudan kepercayaannya tiba di kaki pegunungan perbatasan. Mereka tidak membawa satu pun pasukan. Vane tahu betul bahwa membawa pasukan ke dalam Hutan Kematian hanya akan memicu amukan monster-monster tingkat tinggi dan merusak tujuan penyelidikan mereka. Mereka masuk secara perlahan, menyelinap dengan sihir peredam kehadiran yang sempurna.
Selama dua hari penuh, Vane dan ajudannya tidak mendekat. Mereka hanya mengamati dari balik punggung bukit yang tinggi, menggunakan sihir untuk melihat pemandangan yang terbentang di bawah.
Semakin lama Vane mengamati, semakin akal sehatnya diuji oleh apa yang ia lihat. Pemandangan itu sama sekali bukan kamp militer, benteng pertahanan rahasia, ataupun sarang monster buas.
Seorang manusia berambut gelap tampak tenang mencangkul sawah di pagi hari. Seorang dwarf tua berjanggut tebal sibuk menempa logam di sebuah bengkel terbuka. Tujuh perempuan dari Ras Kelinci bekerja sama menyiram sayuran dengan tawa kecil. Ada pagar kayu yang kokoh, rumah tempat tinggal, lumbung makanan, dapur yang mengepulkan aroma masakan, hingga jalur irigasi air yang bersih. Tidak ada latihan militer sama sekali. Tidak ada formasi pasukan. Tidak ada altar sihir hitam atau tanda-tanda persiapan perang.
Vane mencatat setiap detail kecil itu di buku catatannya dengan tangan yang stabil. Sebagai seorang jenderal berpengalaman yang telah melihat berbagai bentuk peperangan, ia tahu kapan sesuatu tampak berbahaya dan kapan sesuatu benar-benar murni. Dan pemandangan di hadapannya saat ini... adalah sebuah komunitas yang hidup damai di tempat yang paling mematikan di dunia.
Hari mulai malam. Vane menutup buku catatannya, memberikan isyarat kepada ajudannya untuk mundur perlahan. Tidak ada amarah di wajahnya, yang ada hanyalah keheranan yang mendalam. Mereka meninggalkan Hutan Kematian tanpa meninggalkan jejak sedikit pun, kembali menyusuri jalan panjang menuju ibu kota kerajaan.
Sesampainya di ruang takhta istana, Vane berdiri dengan tenang di hadapan sang penguasa, menyerahkan laporan lengkap mengenai apa yang ia saksikan dengan mata kepalanya sendiri.
Suasana di ruangan itu mendadak hening ketika Vane mengangkat wajahnya, menatap lurus ke depan dengan suara yang tenang namun berbobot:
"Yang Mulia... ada sebuah desa di Hutan Kematian."