Dua minggu pernikahan menjadi neraka bagi Freya Arunika. Ia baru menyadari dirinya hanya dijadikan tumbal saat memergoki perselingkuhan suaminya, Sean Ravindra, dengan Bianca—adik tirinya sendiri. Sejak rahasia itu terbongkar, hidup Freya sepenuhnya terkekang.
Namun, takdir berputar liar ketika Ravael, ayah kandung Sean sekaligus sosok penolong masa lalu Freya, kembali dari luar negeri. Jatuh cinta pada pandangan pertama tanpa tahu identitas Freya, obsesi Ravael justru semakin membara setelah mendapati wanita itu adalah menantunya.
Kini, Freya terjebak di antara dua pria sedarah: suami kejam yang membencinya, dan papa mertua berkuasa yang terobsesi memilikinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9.
Bi Sofi meremas kedua tangannya yang mendadak dingin. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya saat menatap sosok berkuasa di hadapannya. Tuan Besar Rafael Ravindra bukan sekadar seorang ayah; dia adalah pria berdarah dingin di dunia bisnis, tegas, dan setiap langkahnya selalu dipenuhi teka-teki yang sulit ditebak.
"T-Tuan Besar... Anda sudah kembali," suara Bi Sofi bergetar, berusaha sekuat tenaga menyembunyikan kepanikannya. "Tuan Sean saat ini sedang berada di kantor, Tuan. Dan... Nyonya Freya ada di rumah."
Rafael menaikkan satu alisnya, tatapannya yang tajam dan mengintimidasi menyapu ruang tamu yang sunyi. "Begitu? Kalau begitu, panggil menantuku ke sini. Aku ingin melihat wanita seperti apa yang berhasil membuat putraku setuju untuk menikah."
"B-baik, Tuan. Silakan duduk terlebih dahulu. Saya akan segera memanggil Nyonya," ucap Bi Sofi membungkuk hormat, lalu setengah berlari menuju area dapur.
Begitu sampai di dapur, Bi Sofi langsung mencengkeram lengan Freya dengan wajah pucat pasi. "Nyonya! Nyonya Freya, gawat! Anda harus segera ke kamar pelayan sekarang juga!"
Freya terkejut, meletakkan spatula yang dipegangnya. "Ada apa, Bi Sofi? Kenapa Bibi panik seperti ini?"
"Tuan Besar Rafael... Ayah kandung Tuan Sean baru saja pulang dari luar negeri! Beliau ada di ruang tamu sekarang dan ingin menemui Anda!" Bisik Bi Sofi dengan nada mendesak. "Nyonya, cepat ganti pakaian Anda yang layak! Tolong tutupi bekas luka di wajah Anda. Jangan sampai Tuan Besar curiga, atau Tuan Sean akan habis-habisan menyiksa Anda jika rahasia ini terbongkar!"
Mendengar nama Rafael Ravindra disebut, jantung Freya bagai berhenti berdetak. Rasa takut langsung menyergap batinnya. Ayah Sean yang memegang kendali atas hak waris itu kini ada di sini.
Dengan tubuh yang gemetar, Freya berlari kecil menuju kamar pelayan di lantai bawah. Ia membuka tas pakaiannya, mengambil sebuah gaun terusan panjang berwarna salem yang paling sopan yang ia miliki.
Dengan tangan yang gemetar hebat, ia duduk di depan cermin kecil. Freya mengambil bedak dan sedikit polesan lipstik untuk menyamarkan sudut bibirnya yang pecah dan pipinya yang masih agak lebam akibat tamparan Sean dan Leticia.
Setelah memastikan penampilannya tampak rapi dan bekas-bekas siksaan itu tersamar, Freya mengembuskan napas panjang, mencoba menenangkan dadanya yang bergemuruh.
Freya melangkah perlahan menuju ruang tamu mewah. Langkah kakinya terasa begitu berat. Dari balik pilar marmer, ia bisa melihat punggung tegap seorang pria yang sedang berdiri membelakanginya, menatap lukisan keluarga di dinding.
"T-Tuan..." panggil Freya dengan suara lembut dan bergetar, khas wanita yang terbiasa tunduk.
Mendengar suara itu, Rafael membalikkan tubuhnya secara perlahan. Sepasang matanya yang tajam dan dingin menatap langsung ke arah sosok yang baru saja datang.
Detik itu juga, waktu seolah berhenti bagi mereka berdua.
Mata Rafael membelalak sempurna, kilat keterkejutan yang sangat jarang terjadi pada pria sedingin dia kini terpancar jelas. Dadanya bergemuruh hebat, jantungnya berdegup dengan kecepatan yang tak biasa—perasaan yang sama yang ia rasakan tadi malam saat menolong seorang wanita di pinggir jalan.
‘Nona minimarket itu... dia... menantuku?’ batin Rafael bergegas bergolak.
Meskipun kini wanita di hadapannya sudah berpakaian rapi dan wajahnya tampak segar dengan polesan riasan tipis yang membuatnya terlihat sangat cantik, anggun, dan luar biasa lembut, Rafael tidak akan pernah melupakan binar mata penuh luka yang ia lihat semalam.
Freya tak kalah terkejut. Langkahnya terhenti, matanya menatap Rafael dengan tidak percaya. "Anda... Tuan Rafael?"
Rafael dengan cepat menguasai ekspresinya kembali menjadi dingin, tegas, dan tak terbaca. Namun di dalam lubuk hatinya, ketertarikan yang ia rasakan semalam kini berubah menjadi sebuah obsesi yang kian mendalam. Wanita selembut dan secantik ini... adalah istri dari putranya sendiri.
"Jadi... kau adalah Freya? Istri dari Sean?" suara bariton Rafael bergema, terdengar datar namun menuntut kepatuhan.
"I-iya, Tuan Besar... saya Freya," jawab Freya, langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia teramat canggung dan takut jika pria ini mengingat penampilannya yang mengenaskan seperti pembantu semalam.
Rafael berjalan mendekat, melangkah perlahan hingga jarak mereka hanya tersisa dua langkah. Aroma parfum maskulin yang mahal dan pekat dari tubuh Rafael seketika mengintimidasi indra penciuman Freya.
"Dunia ini benar-benar penuh teka-teki, Freya," ucap Rafael misterius, menatap lekat-lekat pada wajah menantunya, mencari tahu apakah polesan riasan itu sengaja menutupi sesuatu. "Sekarang, hubungi suamimu. Katakan padanya bahwa ayahnya sudah berdiri di rumahnya."
Mendengar perintah itu, tubuh Freya mendadak gemetar. Mengabaikan sikap dingin Rafael, rasa takutnya pada Sean jauh lebih mendominasi. "S-Sean... harus saya yang menghubunginya, Tuan Besar?"
Rafael menyipitkan matanya, memperhatikan jemari Freya yang saling meremas dengan gemetar. Sifat tegasnya keluar. "Kenapa? Apa ada masalah jika seorang istri menelepon suaminya sendiri?"
"T-tidak, Tuan... baik, saya akan meneleponnya," bisik Freya parau. Dengan tangan yang terus bergetar, ia merogoh ponselnya dan mendial nomor Sean.
Hanya butuh tiga kali nada sambung sebelum panggilan itu diangkat. Suara berat Sean langsung terdengar dari seberang telepon, memecah keheningan dengan nada yang teramat ketus dan kasar.
"Ada apa, jalang?! Kenapa kau berani mengganggu waktuku di kantor, hah?! Kau mau cari mati?!" bentak Sean langsung di seberang sana, tanpa tahu bahwa ayahnya berada tepat di dekat ponsel itu.
Mendengar bentakan kasar itu, air mata Freya hampir saja menetes. Ia melirik Rafael yang masih berdiri tegak menatapnya dengan pandangan dingin yang sulit diartikan.
"S-Sean... Papa..." suara Freya tercekat. "Papa sudah pulang dari luar negeri... Beliau... Beliau ada di rumah sekarang, menunggumu."
Hening seketika di seberang sana. Freya bisa mendengar helaan napas tajam Sean yang mendadak panik. Nada suara Sean langsung berubah drastis, berbisik dengan penekanan yang penuh ancaman mematikan.
"Apa?! Papa ada di sana?! Dengar baik-baik, Freya! Tutup mulut sialanmu itu! Jangan berani-berani kau mengatakan sepatah kata pun tentang apa yang terjadi di rumah ini pada Papa! Hapus air matamu dan bersikaplah seolah-olah kita adalah pasangan yang bahagia dan saling mencintai saat aku sampai nanti! Jika kau berani mengacaukannya... kau tahu apa yang akan terjadi pada ayahmu!"
Tut.
Sambungan telepon diputus sepihak oleh Sean.
Freya menurunkan ponselnya dengan tubuh yang lemas. Ia menunduk dalam, berusaha menahan isak tangisnya di depan mertuanya. Di sampingnya, Rafael tetap berdiri dengan keangkuhan yang mutlak, namun sepasang matanya yang tajam telah menangkap setiap getaran ketakutan dan perubahan raut wajah Freya. Sebuah teka-teki baru kini mulai tersusun di kepala sang Tuan Besar.
*
*
*
JANGAN LUPA LIKE, COMENT, GIFT, DAN VOTE 🙏
🌺🌺🌺
bongkar kebusukan ibu & adik tiri Freya. . udah sabar bgt nih Freya di bully dan diselingkuhi tinggal cerai aja 🔥🔥🔥
semoga aja Freya Nerima Rafael setelah dicerai sean