~
Melani, seorang bidan muda yang berdedikasi, harus menelan pil pahit akibat keteguhan prinsipnya. Karena berani menolak lamaran untuk menjadi istri siri dari pejabat Dinas Kesehatan yang berkuasa, ia "dibuang" ke sebuah desa paling terpencil dan terperosok yang nyaris terisolasi dari peradaban.
~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 31
****
Malam kebahagiaan saat pengumuman kehamilan itu berlalu meneduhkan, namun hari-hari berikutnya membawa babak baru yang tak pernah terbayangkan oleh Melani sebelumnya. Memasuki usia kandungan enam minggu, lonjakan hormon kehamilan menghantam tubuh sang Bidan Pelindung secara dramatis.
Pagi itu, pendar keemasan fajar baru saja mengintip di balik bukit. Melani terbangun dengan rintihan kecil yang tertahan di tenggorokan. Gelombang mual yang luar biasa dahsyat mendadak merayap naik dari dasar perutnya.
"Ugh... M-Mas..." bisik Melani dengan wajah yang seketika pucat pasi.
Rangga Wira yang selalu bersiaga penuh dalam tidurnya seketika membuka mata. Sang Ketua Adat langsung duduk tegap, merangkul bahu istrinya dengan raut cemas luar biasa. "Dinda? Ada apa, Sayang?"
Belum sempat Melani menjawab, hawa mual itu tak lagi terbendung. Melani tergesa-gesa menutup mulutnya dan berlari kecil menuju kamar mandi kayu di sudut ruangan. Rangga tanpa ragu melompat turun dari pembaruan, menyusul dan memegangi dahi serta membopong tubuh lemas istrinya seraya mengusap punggung Melani dengan telaten.
"Huekk... ugh... hosh... hosh..."
Melani memuntahkan cairan bening berulang kali hingga dadanya naik turun dengan napas memburu. Air mata bening menetes deras di pipinya yang pucat. Tubuhnya terasa bagaikan diloloskan seluruh tulangnya.
Rangga Wira mengambil kain katun basah, mengusap mulut dan dahi Melani dengan kelembutan mutlak. "Pelan-pelan, Istriku... Tarik napasmu..."
Namun, begitu Rangga memajukan tubuh tegapnya untuk merengkuh Melani ke dalam dada bidangnya, Melani mendadak tersentak mundur. Bidan muda itu menutup hidungnya rapat-rapat, wajahnya makin meringis menahan mual yang kian bergejolak.
"M-Mas... maaf... jauhi saya sedikit..." bisik Melani terbata dengan mata berkaca-kaca.
Dahi Rangga Wira berkerut tipis, terperanjat kaget. "Ada apa, Melani? Apakah tubuh saya kotor?"
"Aroma... aroma tubuh Mas Rangga..." tangis Melani pecah pelan, merasa sangat bersalah. "Aroma maskulin alami yang biasanya sangat saya sukai... sekarang membuat perut saya melilit dan mual sekali... Maafkan saya, Mas... Maafkan saya..."
Rangga Wira terpaku sejenak, menatap istrinya yang terisak pilu di lantai kamar mandi. Pria yang biasanya ditakuti oleh lawan dan disegani seluruh suku itu kini mendadak merasa serba salah dan tak berdaya. Tidak ada rasa amarah sedikit pun di hati Rangga, yang ada hanyalah rasa iba dan kasih sayang yang kian membuncah.
"Ssshh... Jangan menangis, Dinda. Ini bukan salahmu," pukas Rangga lembut seraya melangkah mundur dua tapak, menjaga jarak aman agar istrinya tak mual. "Ini karena calon buah hati kita yang sedang bertumbuh. Kamu tidak perlu meminta maaf."
Sejak pagi itu, kehidupan di Rumah Adat Utama berubah total. Indra penciuman Melani menjadi amat sensitif secara ekstrem. Bukan hanya aroma tubuh suaminya, bau minyak kayu jati yang mengoles Dinding rumah, aroma rempah obat dari Pustu, bahkan uapan nasi hangat pun sukses membuat Melani muntah-muntah hebat.
Kondisi hyperemesis itu membuat fisik Melani drop drastis. Bidan yang biasanya lincah dan bersemangat itu kini hanya bisa terbaring lemas (bedrest) di atas peraduan.
Sore harinya, Mbah Salma dan Mak Senah melangkah masuk membawa baskom kayu berisi uapan air bunga melati dan mawar hutan. Rangga Wira yang sudah mandi air bunga berulang kali hingga tubuhnya menguar aroma kelopak segar, melangkah pelan mendekati pembaruan dengan mengenakan pakaian kain katun tipis yang bersih.
"Bagaimana keadaannya, Mbah?" tanya Rangga berbisik pada Mbah Salma, matanya tak lepas menatap Melani yang terpejam lemas dengan bibir kering.
Mbah Salma mengusap dahi Melani yang hangat, lalu berpaling menatap Sang Ketua Adat dengan senyum teduh. "Ini ujian hormon kehamilan, Ki Rangga. Tubuh Bidan Melani sedang menyesuaikan diri dengan kehadiran benihmu. Tapi karena beliau terus muntah dan tidak bisa kemasukan makanan, fisiknya sangat lemah. Beliau harus istirahat total dan tidak boleh bertugas di Pustu dulu."
Rangga mengangguk mantap, raut tegas di wajahnya memancarkan keputusan mutlak. "Pustu biar ditangani asisten dan dukun beranak dulu. Kesehatan istri dan anak saya adalah yang terutama."
Di luar Rumah Adat, kabar tentang kondisi sang Ibu Pelindung menyebar cepat. Seno dan beberapa pemuda adat menyampaikan pesan warga yang berkumpul di halaman.
"Ki Rangga..." panggil Seno penuh hormat. "Warga desa dan ibu-ibu menyuruh kami menyampaikan pesan. Ibu-ibu bilang, Ibu Pelindung tidak usah memikirkan Pustu atau Kelas Belajar anak-anak dulu. Kami semua berdoa dan ikhlas menunggu sampai kesehatan Ibu Pelindung pulih kembali."
Bu Minah dan Melati bahkan mengantarkan kaldu sup bening tanpa rempah menyengat yang dimasak khusus di pelataran desa agar Melani bisa menelannya sedikit demi sedikit.
"Sampaikan terima kasih saya yang mendalam pada seluruh warga, Seno," balas Rangga Wira tulus, menepuk bahu pemudanya.
Malam harinya, keheningan merayap hangat di kamar pengantin utama. Pendar lampu minyak diredupkan agar tidak silau di mata Melani.
Melani terbangun pelan, lidahnya terasa pahit dan kepalanya masih berputar pusing. Saat ia menoleh ke samping, hatinya seketika teriris haru.
Rangga Wira tidak tidur di atas peraduan bersamanya. Pria tegap itu memilih duduk bersandar di atas karpet halus di samping tempat tidur, beralaskan selimut tipis. Pria yang rela mandi air bunga lima kali sehari itu menjaga istrinya sepanjang malam tanpa memikirkan kenyamanan dirinya sendiri.
"M-Mas Rangga..." panggil Melani lirih, suaranya parau.
Rangga yang memang tak benar-benar lelap seketika mendongak. Manik mata hitamnya menatap Melani dengan pendar kelembutan murni. "Iya, Dinda? Ada yang sakit? Mau minum?"
Melihat suaminya yang begitu tulus, air mata Melani kembali merembes keluar. "Mas... kenapa tidur di bawah? Kenapa Mas harus merepotkan diri seperti ini demi saya?"
Rangga Wira bangkit berdiri, melangkah mendekat namun tetap menahan jarak beberapa jengkal dari bantal Melani, tersenyum amat tampan.
"Saya tidur di sini agar jika kamu membutuhkan bantuan di tengah malam, saya bisa langsung mendengarmu," tutur Rangga tulus. "Dan saya menjarak sedikit agar aroma tubuh saya tidak membuat perutmu mual lagi, Dinda."
"Mas..." Isak Melani kian menjadi, meremas ujung selimutnya. "Saya merasa menjadi istri yang buruk... Saya tidak bisa melayani Mas, tidak bisa memasak untuk Mas, bahkan untuk mencium bau suami sendiri saja saya mual... Maafkan saya, Mas Rangga..."
Rangga Wira tidak bisa lagi menahan kerinduan dan keprihatinannya. Pria tegap itu melangkah maju, duduk di tepi peraduan, lalu merangkul tubuh molek istrinya dari balik selimut tenun tebal, mengunci Melani dalam pelukan hangatnya.
"Dengar suara saya, Melani-ku..." bisik Rangga mesra di tepi telinga Melani, mengabaikan ketakutannya akan rasa mual sang istri. "Kamu adalah permaisuri dan Ibu Pelindung terbaik di dunia ini. Rasa sakit dan mual yang kamu tanggung hari ini adalah bukti betapa mulianya pengorbananmu mengandung buah hati kita. Jangankan tidur di lantai atau mandi air bunga... seluruh harta dan jiwa saya rela saya pertaruhkan demi kenyamananmu."
Melani menghirup napasnya pelan. Ajaibnya, di balik dekapan erat dan kehangatan tulus suaminya, rasa mual itu perlahan meluruh, digantikan oleh rasa tenang dan bahagia yang tiada tara. Melani menyandarkan kepalanya di dada bidang Rangga, mendengarkan detak jantung suaminya yang teratur.
"Mas..." bisik Melani lembut di balik dada Rangga. "Aromanya... aromanya sudah tidak membuat saya mual lagi kalau Mas merangkul saya seperti ini."
Rangga tersentak bahagia, menyunggingkan senyum paling lega dalam hidupnya. Dipeluknya tubuh istrinya kian erat, mengecup puncak kepala Melani dengan penuh kasih sayang.
"Istirahatlah, Dinda..." bisik Rangga penuh kelembutan mutlak. "Saya akan selalu di sini... menjadi tameng dan pelindung untukmu dan calon anak kita."
Di bawah naungan malam Hulu Rawa yang tenang, di tengah ujian hormon kehamilan yang berat, ikatan cinta Sang Ketua Adat dan Bidan Pelindung itu justru terukir kian kokoh, dibalut oleh pengorbanan, kesabaran, dan kasih sayang sejati yang tak tergoyahkan.
Bersambung..
dr. (dokter)
❤️❤️❤️❤️❤️
👍👍👍👍👍
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
🤲