NovelToon NovelToon
The Porch Light

The Porch Light

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Penyesalan Suami / Identitas Tersembunyi / Tamat
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Pernikahan mewah Rowan Vale-Knight dan Cathez hampa tanpa kehadiran buah hati.

Terobsesi pada kebebasan, Cathez terus menolak hamil hingga melontarkan tantangan gila: mengizinkan Rowan mencari wanita lain untuk melahirkan keturunannya.

Dikuasai rasa dikhianati, Rowan menerima tantangan tersebut.

Di malam yang sama, takdir mempertemukannya dengan Rossi Widmer—gadis terbuang yang nekat melompati mobil Rowan demi melarikan diri dari jebakan penjualan diri oleh ayahnya sendiri.

Terdesak ancaman bahaya dan pengaruh obat perangsang, penyatuan tak terduga terjadi di antara mereka.

Rowan yang terkesan oleh kemurnian Rossi memboyong gadis itu dalam pernikahan sah demi mendapatkan anak, tanpa menyadari rahasia besar bahwa Rossi sebenarnya adalah adik kandung Istrinya yang diasingkan sejak kecil.

Di antara keputusasaan, perlindungan tulus, dan intrik masa lalu yang membayangi, akankah benih cinta sejati tumbuh di tengah hubungan transaksi mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#9

Keheningan di dalam penthouse terasa kian menghimpit setelah kepergian Rowan ke ruang kerjanya.

Rossi masih mematung di meja makan, menatap mangkuk sup yang perlahan kehilangan kepulan uap panasnya.

Setiap kata yang diucapkan Rowan tadi masih bergema tajam di telinganya—sebuah pengingat yang begitu kejam akan posisinya.

Ia bukan siapa-siapa.

Hanya sebuah sarana sementara, sebuah rahim sewaan yang terbungkus dalam surat nikah formalitas demi ambisi pria kaya yang sedang terluka harga dirinya.

Ketika Rossi memaksakan diri mengangkat mangkuk sup untuk membawanya ke wastafel, dering ponsel yang nyaring tiba-tiba memecah kesunyian.

Langkah kaki tegap terdengar keluar dari koridor ruang kerja.

Rowan muncul, memegang ponsel pintar di tangannya. Layar ponsel itu menyala terang, menampilkan nama yang membuat rahang pria itu mengeras seketika: Cathez.

alih-alih menjauh atau kembali ke dalam ruangan tertutup untuk menjawabnya, Rowan justru berdiri di tengah ruang tengah, tepat di depan area dapur tempat Rossi berada.

Pria itu menekan tombol hijau, lalu mengaktifkan mode speaker tanpa ragu. Rossi yang sedang berdiri kaku di dekat wastafel bisa mendengar setiap gelombang suara yang keluar dari benda pipih tersebut dengan sangat jernih.

"Kau di mana, Rowan?!" Suara seorang wanita meledak dari pengeras suara ponsel.

Senada dengan nada tinggi yang dingin, melengking, dan penuh nada tuduhan. "Kau tidak pulang semalam, dan sekretarismu baru saja memberi tahu bahwa kau tidak menghadiri rapat direksi pagi ini! Apa kau sudah gila? Kau membiarkan jajaran komisaris menunggumu hanya karena amarah konyolmu semalam?"

Rowan tidak langsung menjawab. Pria itu menyandarkan punggungnya pada dinding kaca besar yang memperlihatkan pemandangan pencakar langit kota. Matanya lurus menatap ke depan, namun sama sekali hampa.

"Aku ada urusan pribadi," sahut Rowan dingin, suaranya teratur namun menyimpan tekanan yang pekat.

"Urusan pribadi apa sampai kau mengabaikan perusahaan?!" Cathez tertawa sinis dari seberang telepon—sebuah tawa yang penuh penghinaan. "Jangan berakting seolah kau pria paling tersakiti di dunia ini, Rowan! Hanya karena aku menolak menjadi mesin pencetak anak untukmu, kau kabur seperti remaja frustrasi? Kekanak-kanakan!"

Rossi melirik sekilas dari sudut matanya. Ia bisa melihat bagaimana jemari Rowan mencengkeram ponselnya begitu kuat hingga ruas-ruas jarinya memutih.

Wajah pria itu mengeras, urat-urat halus menonjol di sekitar leher dan pelipisnya. Tampak jelas kemuakan yang sudah mencapai puncaknya—rasa lelah yang teramat sangat atas pernikahan yang telah membusuk di dalam sangkar emas.

"Kau sendiri yang memintaku untuk mencari cara lain, Cathez," kata Rowan dengan nada bicara yang sangat tenang, namun terasa mematikan. "Kau yang menyuruhku mencari wanita lain jika aku sangat menginginkan seorang anak. Jadi jangan mengatur apa yang harus kulakukan dengan waktuku sekarang."

"Apa?!" Suara Cathez menajam, sedikit tertahan di seberang sana. "Kau sungguh-sungguh memikirkan ucapan gila itu? Jangan bermimpi, Rowan! Kau tidak akan pernah menemukan wanita yang cukup pantas untuk membawa darah daging Vale-Knight selain diriku! Kau hanya sedang menggertakku!"

"Pikirkan sesukamu," pukas Rowan tanpa minat untuk memperpanjang perdebatan. "Jangan meneleponku lagi hari ini. Aku sibuk."

Bip.

Rowan mematikan sambungan telepon secara sepihak sebelum Cathez sempat berteriak lebih lanjut.

Pria itu melempar ponselnya begitu saja ke atas sofa empuk di dekatnya, lalu mengusap wajahnya kasar dengan kedua telapak tangan. Desahan napasnya terdengar berat dan sarat akan beban berat yang bertumpuk.

Rossi menundukkan kepala, membalikan tubuhnya membelakangi Rowan, pura-pura menyibukkan diri dengan mencuci mangkuk porselen di wastafel. Ia tidak ingin Rowan merasa dihakimi atau terganggu karena perdebatan rumah tangganya terdengar oleh orang asing seperti dirinya.

Namun, suara langkah kaki perlahan mendekat. Derapnya berirama teratur, berhenti tepat di belakang punggung Rossi. Hawa panas dari tubuh tegap Rowan kini terasa begitu dekat, membayangi tubuh mungil Rossi yang kaku di depan kran air yang mengalir.

"Apa..." Suara Rowan terdengar memecah keheningan di antara mereka, kali ini bernada rendah, serak, dan terkesan hati-hati. "...masih sakit?"

Rossi menghentikan gerakan tangannya di bawah kucuran air. Ia tidak memutar tubuhnya, tetap memunggungi pria itu.

Tangan Rowan terangkat ragu di udara, sebelum akhirnya telapak tangannya yang hangat dan luas hinggap perlahan di pinggang Rossi. Sentuhan itu tidak kasar, melainkan sarat akan desakan kebutuhan emosional seorang pria yang baru saja dihempaskan oleh kekecewaan.

"Boleh aku..." Rowan menggantung kalimatnya, ibu jarinya meraba lembut kain kemeja di pinggang Rossi, memberikan isyarat yang teramat jelas atas apa yang ia inginkan sebelum mereka meresmikan pernikahan ini beberapa jam lagi.

Pria itu butuh kepastian, butuh bukti nyata bahwa impiannya memiliki penerus bukanlah sekadar angan-angan kosong.

Rossi memejamkan mata sejenak. Ia tahu pasti arah dari sentuhan ini. Ia paham betul bahwa inilah harga dari keselamatan dan kehidupan baru yang ia dapatkan. Tidak ada gunanya menolak, tidak ada gunanya bersikap seolah ia memiliki kemewahan untuk menawar martabat.

Dengan gerakan lambat namun pasti, Rossi mematikan kran air. Ia mengeringkan tangannya dengan serbet bersih, lalu membalikkan tubuhnya perlahan hingga berhadapan langsung dengan dada bidang Rowan. Gadis itu mendongak, menatap lurus pada manik mata hitam milik Rowan yang dipenuhi kegelapan dan gairah yang terpendam.

"Lakukanlah," kata Rossi pasrah, suaranya terdengar sangat jelas dan datar tanpa emosi.

Rowan mematung sejenak, terkejut dengan kepatuhan dingin dari gadis di depannya. Namun sebelum pria itu sempat memajukan wajahnya, Rossi mengangkat satu tangannya, menahan dada Rowan secara halus.

"Namun... bisakah aku meminta satu syarat?" tanyanya lugas.

Alis Rowan bertaut halus. Pria itu menghentikan pergerakannya, menatap Rossi dengan pandangan menyelidik. "Syarat apa?"

Rossi menarik napas panjang, mengumpulkan seluruh sisa keberanian yang ia miliki. Pandangan matanya tidak bergoyang sedikit pun, menunjukkan keteguhan hati dari seorang wanita yang tak lagi memiliki apa pun untuk dipertaruhkan.

"Bisakah kau melepaskan aku jika dalam lima bulan ke depan aku sama sekali tidak bisa hamil?" tuntut Rossi tegas.

Rowan diam mendengarkan, matanya mendingin saat mencerna kata demi kata yang keluar dari bibir mungil itu.

"Jika dalam lima bulan rahimku tidak bisa memberikan apa yang kau inginkan..." Rossi melanjutkan, bibirnya mengukir senyum pahit yang teramat tipis, "...kalau kau ingin mengembalikan aku pada tempat itu, membuangku kembali ke klab malam itu, tidak apa-apa. Kau boleh melakukannya. Karena bagiku, tidak ada bedanya."

Kalimat itu menghantam dada Rowan dengan ketajaman yang tak terduga.

Tidak ada bedanya. Gadis ini memandang perlindungan dan pernikahan darinya tak ubahnya seperti sangkar lain—sebuah persinggahan sementara yang tidak memiliki arti masa depan baginya.

Rossi bersedia menyerahkan tubuhnya sepenuhnya, namun ia menetapkan batas waktu untuk kebebasannya.

Rowan menatap dalam-dalam ke dalam manik mata Rossi, mencari tanda-tanda kebohongan atau gertakan. Namun yang ia temukan hanyalah tekad baja yang pasrah dari seorang manusia yang sudah terlalu sering disakiti oleh dunia.

Sebuah kesepakatan tersirat terbentuk di antara mereka. Rowan tidak butuh waktu lama untuk memutuskannya. Jika dalam lima bulan tidak ada benih yang tumbuh, maka hubungan transaksi ini memang dianggap gagal dan tidak perlu diperpanjang.

"Aku terima syaratmu," kata Rowan, suaranya dalam dan bergetar tegas.

Pria itu mendekatkan wajahnya, hingga napas hangatnya berembus menyapu kulit pipi Rossi. "Aku berjanji, jika kau tidak bisa hamil dalam lima bulan ke depan, aku akan membebaskanmu dengan segala permintaanmu. Aku akan mengabulkan semuanya. Kau akan mendapatkan kebebasanmu secara utuh, beserta jaminan hidup yang cukup."

Mendengar kata janji dan kata kebebasan meluncur dari bibir pria yang memegang kekuasaan penuh atas dirinya, sebuah percikan lega meletup di dalam dada Rossi. Syarat itu adalah pegangan hidupnya. Lima bulan. Ia hanya perlu bertahan selama lima bulan.

Tanpa ragu lagi, Rossi menyambut desakan tubuh Rowan. Rossi melingkarkan kedua lengan mungilnya di sekeliling leher tegap Rowan, menarik pria itu mendekat dan menyambut ciuman panas yang dilayangkan Rowan tanpa penolakan sedikit pun.

Bibir mereka bertautan dalam sebuah ciuman yang membakar—sebuah perpaduan antara keputusasaan, ketegangan yang menumpuk, dan negosiasi terselubung.

Rowan menciumnya dengan intensitas yang dahsyat, menumpahkan seluruh rasa muak, amarah pada Cathez, dan kehausannya akan hadirnya seorang keturunan ke dalam setiap lumatan yang mendalam.

Rossi menanggapi ciuman itu dengan kepasrahan penuh, membiarkan dirinya terbawa oleh arus gairah yang menghentak, menjadikan setiap sentuhan panas ini sebagai batu pijakan menuju pintu kebebasannya di masa depan.

Rowan mengangkat tubuh Rossi dengan mudah, mendudukkan gadis itu di atas meja kitchen island berbahan granit yang dingin. Kontras antara granit yang dingin dan hawa tubuh Rowan yang membakar membuat Rossi mendesah halus di sela ciuman mereka.

Tangannya meremas rambut tebal Rowan, membiarkan pria itu menguasai tautan bibir mereka makin dalam, makin menuntut.

Kemeja putih besar yang dikenakan Rossi perlahan terlepas dari bahunya, ditarik turun oleh jemari Rowan yang tangkas dan tak terhalang. Pria itu memutus ciuman mereka sejenak, menyusuri garis leher dan tulang selangka Rossi dengan bibirnya, meninggalkan jejak-jejak kehangatan yang membuat tubuh Rossi gemetar hebat.

...oOo ...

Di bawah pendar cahaya lampu dapur yang temaram, penyatuan itu terjadi bukan atas dasar ikatan cinta yang romantis, melainkan atas dasar dua dorongan besar yang saling bertolak belakang namun saling membutuhkan.

Bagi Rowan, setiap remasan, setiap helaan napas yang memburu, dan setiap guncangan gairah yang ia curahkan adalah bentuk perjuangan demi sebuah impian: mewujudkan hadirnya seorang anak, seorang darah daging yang akan melengkapi kehampaan hidupnya dan membalas pengkhianatan emosional dari istrinya. Ia bergerak dengan ketegasan seorang pria yang ingin menancapkan benih kehidupannya di tanah yang baru.

Sedangkan bagi Rossi, setiap gejolak rasa sakit yang berubah menjadi kenikmatan samar, setiap sentuhan kulit yang terbakar, dan setiap kali ia menatap langit-langit dapur dengan mata berkaca-kaca adalah bentuk pembayarannya demi sebuah masa depan.

Rossi menatap lurus ke depan—menatap bayangan kebebasan yang menunggunya di ujung garis lima bulan. Ia membiarkan Rowan menguasai tubuh dan rahimnya, menyerahkan segalanya tanpa sisa, demi membeli hak untuk lepas dari cengkeraman bayang-bayang ayahnya dan dari cengkeraman Pria Yang menjamahnya.

Gairah di dapur itu memuncak dalam tempo yang intens dan penuh hasrat pasrah. Rowan memeluk tubuh Rossi erat-erat, menyatukan napas mereka yang memburu di udara terbuka, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Rossi saat pelepasan itu akhirnya datang menghantam mereka berdua.

Ruangan itu kembali hening, hanya disisakan oleh suara helaan napas berat bersahut-sahutan di antara mereka.

Rowan masih memeluk Rossi ketat, menyandarkan dahinya di bahu terbuka gadis itu, merasakan detak jantung Rossi yang berdegup kencang beradu dengan dadanya sendiri.

Rossi menyandarkan kepalanya pada dada tegap Rowan, matanya yang redup menatap lurus ke arah dinding kaca penthouse yang menampilkan langit kota yang luas. Di dalam hatinya, hitungan mundur lima bulan itu baru saja dimulai.

1
Nurul
kalau bisa, kehamilan jangan ditunda-tunda
Mia Camelia
hahaa rasaiin ketauan ,rowan ngumpetin anak gadis🤣🤣
Rosdianah 🌷: wkww🤣
total 1 replies
alunanfiksimalam
Wanita jahat
nayla tsaqif
Uhh,, marathon bacanya thor,, tp nyampe jg bab 20🤭
Rosdianah 🌷: Waaah luar biasa kak🫶
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Rossi 😍😍😍
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
bikin semua kejahatan catzhes terbongkar
Rosdianah 🌷: siap kak🤭
total 1 replies
nayla tsaqif
Huwaa😭 knp q ketinggalan notifnya,, tau2 udah bab 20 ajahh,,! Semangat 30 menit pasti selesai baca💪
Rosdianah 🌷: Huhuhu semangat kak reader 🥰🫶
total 1 replies
Mia Camelia
so sweet banget sih mereka brdua🥰🥳
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳
total 1 replies
Mia Camelia
aduh ngenes banget ngliat rowan nanggis ky bgitu🤣🤣🤣
Rosdianah 🌷: hahaha🤣
total 1 replies
Mia Camelia
cathez gak tau diri banget cowo sekelas rowan di sia sia kan😔
Rosdianah 🌷: huhuhu
total 1 replies
Mia Camelia
rowan jahat banget sih cuma mau ngambil anak nya doang🤣🤣🤣🤣
Rosdianah 🌷: perlu digampar anak Daddy satu itu🤣
total 1 replies
Mia Camelia
rosi polos banget yaa, cocok nih sama rowan🥰🥰🥰
Mia Camelia
semua nya mudah klo rowan udh niat 😂🤣
Mia Camelia
hehe rowan kebelet banget pingin anak🤣🤣
Rosdianah 🌷: bisa bayangin lah ka🤣🤣🤣
total 1 replies
Mia Camelia
ehmm pertemuan yg tak terduga😂
Rosdianah 🌷: hihihi🤭
total 1 replies
Mia Camelia
horeee 🥳 akhir nya kisah rowan publish juga🥰😄😂😂
aku pasti baca thor mpe abis🥰🥰🥰
Rosdianah 🌷: Huhuhu terharu, Ma'aciww kak, Semoga suka sama ceritanya.
Happy Reading 🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!