NovelToon NovelToon
Kebangkitan Sang Immortal

Kebangkitan Sang Immortal

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: BRAXX

Di Kerajaan Awan, Kaisar muda bernama Jing Yan difitnah dan dibunuh secara keji oleh Tang Long, seorang Kultivator Pedang dari Sekte Pedang Roh Biru, dan Fang Zhelan, putri Perdana Menteri yang berkhianat demi merebut takhta. Keluarga Fang lalu mengambil alih kerajaan, mencoreng nama baik Jing Yan selamanya.

Namun, kematian bukanlah akhir bagi Jing Yan. Jiwanya ditarik ke dalam Peti Mati Perunggu Kuno milik seorang Pencipta Immortal yang telah mati. Dengan menggunakan sisa kulit sang Immortal, Jing Yan bereinkarnasi ke dalam tubuh baru yang sempurna. Ia ditemani oleh dua kesadaran dalam satu makhluk kecil bernama Bintang Biru dan Bulan Merah—yang merupakan jelmaan dari peti mati tersebut.

Jing Yan mengetahui bahwa ia mewarisi kekuatan Pencipta Immortal. Untuk menjadi kuat, ia harus mengumpulkan Benih Ciptaan, yaitu fragmen kekuatan sang Immortal yang tersebar di seluruh dunia. Tujuan utamanya: membalas dendam kepada Tang Long dan Fang Zhelan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BRAXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 - Memilih Paviliun Pedang

Saat Tetua Ran berbalik, ia mengira para tetua dari Puncak Pedang lainnya masih menunggu. Namun ternyata mereka semua sudah menghilang. Yang tersisa hanya dirinya dan Ning Ziyi. Rupanya mereka diam-diam melarikan diri karena takut Jing Yan memilih Puncak Pedang mereka.

"Apa-apaan ini...?" Tetua Ran benar-benar tercengang.

Jing Yan tak kuasa menahan tawanya, lalu berpikir.

Masalahnya, Puncak Pedang Ketujuh sudah tidak bisa dipilih, sedangkan puncak-puncak lainnya sudah lebih dulu kabur. Jadi, harus memilih yang mana?

Tatapan Jing Yan tanpa sadar jatuh pada kursi batu terbesar dan paling megah di antara delapan kursi itu.

Paviliun Pedang!

Hari ini, tidak ada seorang pun dari Paviliun Pedang yang hadir.

Sekte Pedang Roh Biru memiliki satu Paviliun Pedang dan tujuh Puncak Pedang.

‘Paviliun Pedang seharusnya merupakan garis keturunan yang paling kuat, bukan?’ Jing Yan teringat.

Saat masih memerintah Negeri Awan, ia sangat gemar mengumpulkan informasi mengenai Sekte Pedang Roh Biru. Sayangnya, saat itu ia tidak memiliki Jiwa Pedang. Karena itu ia bertanya, "Tetua Ran, mengapa tidak ada seorang pun dari Paviliun Pedang?"

"Paviliun Pedang?" Tetua Ran tampak sedikit terkejut mendengar pertanyaan itu. "Sudah tidak banyak yang masih hidup di Paviliun Pedang."

"Tidak banyak yang masih hidup? Maksudnya mereka mati?" tanya Jing Yan dengan bingung.

"Kau ingin memilih Paviliun Pedang?" Tetua Ran bertanya dengan cemas.

Melihat para tetua lain sudah kabur sementara Jing Yan belum menentukan pilihan, orang tua itu khawatir akan terjadi sesuatu yang tidak terduga.

"Aku memilih Paviliun Pedang," kata Jing Yan.

Mendengar itu, Tetua Ran dan Ning Ziyi sama-sama tampak menghela napas lega. Meski tidak mengatakannya, keduanya jelas berharap Jing Yan memilih Paviliun Pedang.

"Aku pernah mendengar bahwa Paviliun Pedang adalah garis keturunan terkuat di Sekte Pedang Roh Biru," ujar Jing Yan sambil menatap kursi batu yang penuh bekas sayatan itu, yang memancarkan aura pedang yang sangat tajam.

"Tiga tahun lalu, terjadi sebuah peristiwa di Paviliun Pedang yang mengguncang ribuan negara. Kau belum pernah mendengarnya?" tanya Tetua Ran.

Jing Yan menggelengkan kepalanya.

"Nanti kau akan tahu sendiri setelah sampai di sana," jawab Tetua Ran sambil mengatupkan bibir rapat.

"Baiklah." Jing Yan mengangguk.

Tetua Ran menepuk ringan bahu Jing Yan. Ia terdiam sejenak sebelum akhirnya berkata, "Setelah kau menjadi murid Paviliun Pedang dan memasuki gunung... pertama-tama, pergilah memberi penghormatan di makam-makam mereka."

"Makam?" Jing Yan terkejut.

"Ya. Mereka semua sudah tiada." Seberkas kesedihan melintas di mata Tetua Ran.

"Sudah tiada?" Jing Yan mengangkat alisnya.

"Ya," jawab Tetua Ran.

Rasa penasaran Jing Yan pun semakin terusik. ‘Tempat seperti apa yang akan kumasuki? Mengapa Tetua Ran berbicara dengan begitu penuh teka-teki?’

"Bisakah kau menemukan jalan menuju Paviliun Pedang sendiri?" tanya Tetua Ran.

Jing Yan mengerti maksudnya. Dalam situasi seperti hari ini, apa yang sudah disampaikan Tetua Ran sebenarnya sudah lebih dari cukup.

"Tidak masalah," jawab Jing Yan, merasakan bahwa Tetua Ran sedang terburu-buru. Orang tua itu mungkin ingin segera meminta maaf kepada Ning Ziyi.

"Satu pertanyaan terakhir. Apa itu Pertemuan Tujuh Pedang?" tanya Jing Yan.

"Singkatnya, itu adalah ajang bagi para Kultivator Pedang untuk memperebutkan sumber daya dan bersaing memperebutkan kedudukan di Sekte Pedang Roh Biru. Yang Mulia Pedang menghadiahkan Pil Laut Ilahi kepada Fang Zhelan juga demi memastikan dia melesat dengan cepat dalam Pertemuan Tujuh Pedang, sehingga Puncak Pedang Pertama tetap mempertahankan kedudukan yang tak tertandingi," jawab Tetua Ran. Ia menghela napas. "Dengan pil seperti itu, siapa yang mungkin bisa menandingi putri langit yang begitu dimanjakan?”

Tetua Ran menatapnya untuk terakhir kalinya. "Nak, hadapilah kenyataan. Satu kemenanganmu atas dirinya dalam hidup ini saja sudah bisa dianggap sebagai berkah dari tiga kehidupan."

Jing Yan tertawa terbahak-bahak.

"Selamat tinggal, Tetua Ran." Ia memberi hormat dengan penuh hormat, lalu tanpa ragu melompat turun dari Platform Warisan Pedang dan menuju Pegunungan Roh Biru.

Ning Ziyi memutar matanya pelan, suaranya dipenuhi sindiran. "Pergi ke Paviliun Pedang, benar-benar seperti ngengat yang terbang menuju api."

~ ~ ~ ~ ~

Beberapa jam kemudian, Jing Yan akhirnya berhasil menelusuri hamparan Pegunungan Roh Biru yang luas dan megah. Setelah beberapa kali bertanya arah, ia akhirnya tiba di kaki Paviliun Pedang.

Paviliun Pedang berdiri menjulang di puncak utama Sekte Pedang Roh Biru, tempat yang memiliki kedudukan paling istimewa di dalam sekte.

Gunung di hadapannya bagaikan sebilah pedang raksasa yang menusuk langit. Pepohonan yang tumbuh di puncaknya lurus dan tinggi seperti pohon pinus, berdiri tegak bak pedang-pedang yang menjulang, memancarkan aura kebenaran.

"Benar-benar pantas menjadi puncak utama, sungguh mengagumkan," gumam Jing Yan sambil berjalan melewati hutan dan mulai mendaki gunung. Ia menarik napas panjang, seketika energi spiritual yang begitu melimpah membanjiri seluruh tubuhnya.

Mata Air Naga di Dantiannya berputar, membuat tubuh dan pikirannya terasa sangat segar.

"Tempat yang diberkahi seperti ini, dipenuhi energi spiritual tanpa batas. Berkultivasi di sini pasti akan memberikan hasil dua kali lipat dengan usaha setengahnya," pikir Jing Yan.

Menjelang senja, Jing Yan akhirnya tiba di puncak gunung. Menatap ke depan, di balik kabut putih yang tebal, ia melihat deretan paviliun yang anggun.

"Hampir sampai," gumam Jing Yan dalam hati sambil menyusuri jalan setapak yang tersusun dari anak tangga batu kebiruan.

Angin sepoi-sepoi yang menyegarkan, awan tipis yang lembut, aroma segar pepohonan, kicauan burung yang jernih, serta kabut yang membasahi rambut panjang dan jubah putihnya membuatnya merasa begitu nyaman. Tempat itu damai, mendalam, sekaligus terasa seperti negeri para Immortal—persis seperti suasana yang dulu ia impikan saat masih kecil ketika membayangkan jalan menuju keabadian.

"Namun perjalanan ini..." Jing Yan menghela napas. "Jauh lebih berdarah dan jauh lebih kejam daripada yang pernah kubayangkan." Ia menggeleng pelan, sorot matanya dipenuhi tekad. "Aku hanyalah seorang pengembara yang hidup tanpa ikatan. Aku sudah pernah menghadapi kematian. Jika ada yang menghalangiku, akan kubunuh satu demi satu. Apa lagi yang harus kutakuti?"

"Sepanjang sisa hidupku, yang kucari hanyalah pencerahan, dan yang kuinginkan hanyalah kebebasan tanpa penyesalan!"

Baginya, Fang Zhelan, Batu Warisan Pedang Tingkat Empat, Pil Laut Ilahi... semuanya serapuh kertas yang dapat ditembus kapan saja.

Jubah putihnya berkibar tertiup angin, membentuk siluet di antara pegunungan hijau.

"Itu apa?" Jing Yan tiba-tiba menghentikan langkahnya, tatapannya menjadi tajam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!